Perjumpaan Rey dengan hantu cantik yang telah lama tinggal di kampus membuat ia penasaran dengan sosok hantu itu. Ada sesuatu yang membuat ia jadi tertarik dengan hantu itu. Bukan karena parasnya yang ayu tapi lebih ke suatu hal yang belum dapat terungkap. Rey jadi penasaran kenapa ia harus di hubungkan dengan si demit. Sebelumnya ia tak pernah mau ngurusi dunia sebelah yang penuh dengan magis membuat Rey ogah berurusan dengan mereka. Buatnya ngurus hidupnya sendiri saja ia sudah ribet, ngapain harus ngurus yang lain.
“Bantu aku, Rey. Mereka terus menyiksaku jika tak mau mengikuti perintah mereka.”
“Bantu apa, mereka siapa maksud kamu? Aku ga ngerti.”
“Mereka anak buah Dajjal.”
“Dimana mereka? Aku merasa ga pernah melihat mereka kok?’
“Bantu aku lepas dari belenggu mereka, Rey.”
“Tapi … “
Belum selesai ia bicara, sosok hantu gadis cantik itu segera berlari dan menghilang. Tampak dari raut wajahnya ia begitu ketakutan. Rey lalu menoleh ke belakang dan ternyata sudah ada beberapa sosok aneh yang sangat besar besar. Semua tidak memakai baju dan berkepala gundul. Tak lupa gigi taring yang memanjang. Badan mereka berwarna kemerahan seperti api.
“Oh ini anak buah Dajjal itu. Baru paham ane.”
“Siapa kamu, kok bisa melihat kami!”
“Ane cuma orang biasa mbah.”
Dalam batin, Rey sudah mulai membaca basmallah. Ia sudah merasakan aura yang sangat tidak enak saat si hantu gadis tadi menghilang. Rupanya ini yang di maksud hantu gadis tadi, anak buah dajjal.
Tiba tiba salah satu dari mereka sudah mulai menyerang dengan menjentikkan jarinya menuju Rey. Sebuah jarum yang sangat tipis langsung meluncur deras ke arah mata Rey.
“Aduh, aduh, sakit, sakit …” rey sambil menutupi matanya. Sesaat kemudian ia membuka matanya. Ternyata ia membuat prank, jarum tadi ternyata tidak mengenai matanya. Berjarak sisa semeter jarum itu langsung hancur lebur tanpa sempat mengenai tubuh Rey.
Melihat tingkah Rey, mereka jadi makin bernafsu ingin melanjutkan serangannya. Dua sosok lalu maju berbarengan. Sambil membawa gada (senjata sejenis palu besar) mereka menghunuskan ke arah Rey. Sayang baru beberapa langkah saja ingin menyerang, tiba tiba dari belakang Rey bermunculan sosok sosok pasukan kerajaan zaman dahulu. Mereka lengkap menggunakan zirah perang dan membawa senjata. Semua yang hadir berbaris rapi di sisi kiri dan kanan Rey.
Pemuda ini lalu tersenyum, ia merasakan hawa aneh yang membuat mood boosternya semakin meningkat. Ia begitu bersemangat untuk melawan musuhnya. Sontak anak buah dajjal tadi terkejut melihat siapa yang hadir di hadapan mereka. Tampak wajah mereka sedikit panic, tapi sudah kepalang basah juga jika harus mundur. Sekujur tubuh mereka seperti tak memperbolehkan mereka untuk mundur.
Enam sosok maju sekaligus menyerang Rey. Tapi reaksi pemuda ini hanya pasrah sambil tersenyum melihat mereka menyerang. Tanpa di nyana beberapa sosok di belakang Rey langsung menutupi tubuh Rey dan menahan serangan mereka serta menyerang balik dan menghancurkan mereka dengan sekali tebasan senjata yang mereka gunakan.
Tersisa satu sosok lagi yang masih terlihat angkuh. Rey masih menunggu ia menyerangnya. Baru saja ia ingin menyuruh sosok itu untuk maju, tiba tiba kepalanya sudah terpisah dari badannya dan jatuh menggelundung ke lantai. Rey jadi sedikit terkejut melihat kejadian itu. Ia tak menyangka bisa sekejam itu.
Setelah itu sosok yang ada di belakang yang telah hadir dan membantunya semua menghilang entah kemana. Begitu juga dengan anak buah dajjal tadi semuanya hangus tak bersisa. Rey sedikit takjub dengan apa yang ia lihat.
Tak berapa lama muncul kembali si hantu gadis.
“Rey terima kasih ya.”
“Terima kasih apaan?”
“Sekarang bantu aku dengan doa mu, Rey.”
“Eh, aku bukan ustadz lho, untuk apa kamu minta doa ku?”
“Please, Rey. Hanya ini satu satunya jalan agar matiku jadi sempurna.” Sang hantu menunjukkan wajah yang memelas. Rey yang melihatnya jadi tak tega untuk menolak permintaan gadis itu.
“Ini permintaan terakhirku Rey. Bantu aku dengan doa mu.”
Mata Rey mulai berkaca kaca melihat ketulusan gadis hantu itu. Ia lalu bertanya kembali pada sang hantu.
“Agama kamu apa?”
“Agama? Apa itu agama, Rey?”
“Agama itu ajaran, sistem yang mengatur tata keimanan (kepercayaan) dan peribadatan kepada Tuhan. Dan Tuhan ku adalah Allah SWT. Dia yang maha segalanya di dunia ini. Aku, kamu dan semua seisi dunia ini Dia yang ciptakan.”
“Aku ga ngerti Rey. Aku ga punya ajaran sewaktu hidup, jadi aku ga tau apa itu agama.”
Rey kemudian membuka kedua telapak tangannya.
“Kamu bisa menyentuh tanganku?”
“Aku ga berani Rey, dekat denganmu saja aku merasa panas, apalagi sampai menyentuh tubuhmu, bisa terbakar aku, Rey.”
“Insya Allah kali ini semua baik saja. Dengan seizin Allah, kamu bisa menyentuh tanganku, Bismillah … Nah coba kamu sentuh.”
Sang hantu tampak ragu ragu untuk menyentuhnya tapi ia yakin Rey takkan membohongi dirinya. Ia taruh kedua tangannya di atas telapak tangan Rey secara perlahan lahan. Ternyata benar apa yang di katakana Rey, tidak ada terjadi apapun. Kekhawatirannya seketika hilang. Ia bisa tersenyum melihat Rey.
Ya Allah manis beud senyumnya nih demit.
“Aku bisa tahu isi hatimu Rey.” Si gadis hantu setelah ia mendengar kata batin seorang Rey. Wajah pemuda ini langsung memerah padam setelah sadar kata hatinya kepergok oleh si gadis hantu.
Rey lalu membimbing gadis itu untuk memeluk agama islam. Setelah selesai hantu itu langsung berubah lebih cantik dengan pakaian yang lebih tertutup dan berhijab. Semua putih dan bercahaya, begitu juga dengan aura yang di pancarkan begitu bercahaya. Seketika raut wajahnya berubah lebih manis lagi dari yang semula.
“Terima kasih Rey. Aku mohon maaf telah menyusahkanmu. Aku pamit pergi karena sudah di tunggu.”
Rey hanya menjawab dengan senyuman. Lalu si gadis hantu melayang ringan dan melempar senyum pada Rey. Ia senang akhirnya bisa menemukan kesempurnaan yang selama ini ia idamkan. Namun di sisi lain ada yang sedikit sedih dengan kepergian si gadis hantu. Melihat ia yang sudah tampil beda dari sebelumnya membuat Rey sedikit ada rasa sayang harus berpisah dengan hantu itu. Tapi dunia mereka sudah berbeda, ia menyadari posisinya.
Rey kemudian pulang ke kos. Selama perjalanan ia tersenyum senyum sendiri membayangkan gadis hantu tadi. Ia tidak menyangka bisa membantu hantu. Selama ini ia tak pernah menghadapi hantu yang begitu cantik. Saat ia sudah semakin dekat dengan kosnya, tampak dari kejauhan ada sesuatu yang terlihat sedang berkerumun di depan kosnya.