Sudut Pandang
Arsa Byantara Saputra
Setelah mendatangi seminar, aku langsung bergegas ke sebuah cafe yang menjadi tempat pertemuan antara aku dengan Pak Ghali. Sesampainya di sana, aku langsung memarkirkan mobil, mengambil tas laptop dan membawanya masuk ke dalam cafe.
Pak Ghali belum datang sehingga aku memilih membuka laptop lalu membuka file yang nanti akan aku bahas bersama beliau.
Sepuluh menit berlalu, orang yang aku tunggu akhirnya datang. Aku mempersilahkannya untuk duduk tepat di depanku kemudian berbasa-basi sebentar dan dilanjutkan membahas projek desain kami.
"Masih—" ditengah diskusi kami, ucapku terputus ketika deringan ponsel terdengar. Begitu aku melirik ke arah benda tipis itu, kontak Devira terpampang di sana, "Pak, maaf. Istri saya telepon. Saya boleh angkat dulu?"
Pak Ghali mengangguk. "Boleh. Angkat aja, Sa. Nanti kita lanjut lagi."
"Saya pamit sebentar ya, Pak," Pak Ghali mengangguk lalu aku berlalu dari hadapannya, "Halo, Adek. Kenapa? Udah sampai kantor belum?"
"Mas. Aku kecelakaan."
Aliran darah seolah-olah berhenti. Pikiranku mendadak kosong. "Terus? Gimana? Sekarang di mana? Kok bisa kecelakaan? Adek, enggak apa-apa kan?"
Aku tidak bisa menyembunyikan bahwa aku benar-benar khawatir dengan keadaannya.
"Mas jangan panik. Jangan khawatir. Aku baik-baik aja, enggak kenapa-kenapa. Kepalaku cuma diperban. Oh iya, nanti ada yang bawa mobil aku ke rumah, Mas jangan tanya-tanya lagi ya. Suruh diparkiran aja."
"Kepala diperban?" aku menarik napas berat, "kamu berarti enggak baik-baik aja, Dek."
"Baik. Aku baik-baik aja. Kepalaku cuma bocor, dikit. Dikit doang. Udah ya, teleponnya aku tutup. Aku cuma mau ngabarin tentang mobil aku aja sih."
"Adek, jangan ditutup dulu," aku memindahkan ponselku dari telinga kiri ke telinga kanan, "cuma tergores aja? Atau gimana?" tanyaku cepat.
"Hmm," dia bergumam sebentar, "kemeja putih aku jadi merah karena kena darah, tapi enggak apa-apa. Aku baik-baik aja."
"Ya, ampun, Adek," aku menggeram, "itu enggak baik-baik aja. Sekarang kamu di mana?"
"Di rumah sakit Sahari. Jangan disusul, aku udah mau langsung balik ke kantor."
"Kok jauh banget rumah sakitnya? Kamu kan enggak melewati daerah itu kalau ke kantor."
"Tadi ada urusan. Udah ya, aku tutup. Aku mau pesan taksi, balik ke kantor."
Panggilan telepon langsung dia tutup sepihak meninggalkan aku yang masih dalam keadaan panik dan juga khawatir.
Aku kembali mendatangi Pak Ghali lalu meminta izin agar meeting kami ditunda. Kalau tetap dipaksakan pun enggak bisa, pikiranku benar-benar keruh. Yang terpikir hanya keadaan Devira sekarang, hanya itu. Untungnya Pak Ghani memaklumi dan dia mengizinkan aku untuk menunda diskusi kami.
Aku memilih pulang ke rumah terlebih dahulu dan ketika sampai di sana, kekhawatiranku bertambah saat mobil yang tadi pagi dibawa Devira, dikembalikan ke rumah. Bemper mobil ringsek, tepat di bagian depan dan kiri.
Napasku semakin sesak.
Keadaan mobil ringsek, kepala diperban, tapi masih bisa mengatakan bahwa dia baik-baik aja. Yang lebih parahnya lagi, Devira masih memutuskan untuk masuk kerja.
Aku langsung mengambil kunci mobilku dan bergegas untuk menjemput Devira di kantornya.
Cerita ini sudah tersedia versi lengkap, untuk kalian yang mau baca duluan, dapat diakses di k********a.
Cara belinya:
1. Masuk ke aplikasi k********a bisa melalui web atau aplikasi.
2. Cari nama kreator (TheDarkNight_) dan cari judul karya (Independent Wife)
4. Ubah harga jika kamu ingin memberi apresiasi lebih.
Pilih metode pembayaran: GoPay, OVO, s****e Pay, Indomart, Alfamart, atau transfer bank.
5. Ikuti petunjuk pembayaran (lihat bagian-bagian yang menerangkan pembayaran dengan Gopay, OVO, Virtual Account BNI, dan Pembayaran QR).
6. Kembali ke laman k********a dan ke karya tadi. Pastikan kamu sudah login, ya. Kalau transaksi sudah berhasil, Karya yang sebelumnya bertuliskan "terkunci" akan ganti jadi "terbuka".