💍Thirteenth💍

613 Words
"Aman, Mas. Aman. Enggak ada yang perlu dikhawatirkan, semuanya baik-baik aja." Aku berdecak sebal. "Turun dulu sini, Adek. Mas mau lihat keadaan kamu." "Nanti, Mas. Aku lagi di ruang produksi ini. Nanti aku turun pas jam pulang kerja. Kalau Mas nunggu kelamaan, enggak apa-apa. Aku pulangnya bisa naik taksi." Aku mengusap wajahku kasar. Aku sudah menyusulkan ke sini, tapi Devira malah tidak mau menemuiku. "Adek," ucapku setelah menarik napas panjang. "Tunggu ya, sabar. Tenang. Semuanya aman." "Yaudah," ucapku akhirnya. Mau bagaimana lagi, dia enggak mau keluar dan aku enggak bisa masuk ke dalam ruangannya sekarang. Aku enggak punya akses. Jadi, aku hanya berdiam di lobby sambil menunggunya selesai bekerja. Beberapa jam kemudian, dari kejauhan Devira berjalan mendekatiku. Dia melepas maskernya kemudian memberikan aku senyum lebar. Masih bisa-bisanya senyum padahal itu kepala masih diperban. "Lama ya nunggunya?" "Lumayan." "Udah makan malam belum?" Aku terdiam. "Kalau belum, kita beli makanan dulu sebelum pulang." Aku menarik tangannya dengan gemas. Dia akhirnya terduduk tepat di sebelahku. "Adek, keadaan kamu tuh gimana? Masih sakit nggak? Istirahat dulu, Adek. Kamu jago banget bikin orang panik. Udah dibikin panik terus susah ditemui." "Sakit sih," dia menyentuh perbannya, "dikit. Tapi enggak apa-apa." Aku menggeram gemas. "Dari tadi bilang enggak apa-apa, enggak apa-apa. Ngeliat keadaan kamu yang kaya gini, kamu lagi kenapa-kenapa." Devira menatapku dengan datar. "Mas, apa sih," dia berdiri lebih dahulu kemudian melangkah menjauh, "udah, ayo pulang." ??? Saat aku membuka perban di kepala Devira dan terlihatnya goresan luka yang cukup besar. Karena melihat luka itu, tubuhku mendadak menegang. "Tuh kan tangan gemeteran. Udahlah aku aja yang gantiin perban. Aku bisa sendiri kok, tenang." Aku enggak tega. Ngilu. Takut jika tanpa sengaja aku menyakitinya. "Enggak, Mas aja," dia bergumam sambil sesekali menatapku dengan tatapan datarnya, "sabar ya. Ini Mas pelan-pelan banget. Takut kamu kesakitan." "Paling sakitnya enggak seberapa. Luka kecil doang, Mas. Ayo, cepat, aku mau langsung tidur." Aku menatap matanya lekat. "Adek, tadi kenapa tetap memaksakan pergi ke kantor? Takut dimarahin atasan? Padahal tadi kan Mas ada di kantor kamu, kalau kamu takut minta izinnya, biar Mas yang bilang." Devira menggeleng lalu memutuskan kontak mata kami. "Aku maksain kerja bukan karena takut sama atasan. Aku maksain kerja karena aku punya tanggung jawab." "Tapi keadaan kamu enggak memungkinkan. Seharusnya langsung balik ke rumah, istirahat." Aku memasukan alat-alat ke tempat P3K kemudian meletakan kotak itu di pinggir ranjang. "Enggak memungkinkan kan bagi Mas Arsa. Bagi aku memungkinkan. Lagi juga aku kan yang menjalankan, aku merasa aku sanggup," jawabnya sambil bersandar di kepala ranjang. Aku terdiam lalu berbalik ke arah ranjang dan ikut bersandar di sebelahnya. "Aku manajer, Mas. Aku punya banyak bawahan. Tanggung jawab aku besar atas mereka. Aku merasa bersalah aja kalau satu hari aku enggak masuk kerja, leha-leha di rumah, sedangkan di pabrik mereka harus kerja keras. Bagi aku itu enggak adil." "Tapi kamu bikin Mas khawatir." "Ya, maaf," Devira menoleh sebentar ke arahku, "aku juga enggak bakal menduga kalau reaksi Mas Arsa bakal berlebihan kaya gini." Berlebihan? Bagiku, rasa khawatirku enggak berlebihan. Ini masuk akal apalagi khawatir sama istri sendiri yang habis kecelakaan. Cerita ini sudah tersedia versi lengkap, untuk kalian yang mau baca duluan, dapat diakses di k********a. Cara belinya: 1. Masuk ke aplikasi k********a bisa melalui web atau aplikasi. 2. Cari nama kreator (TheDarkNight_) dan cari judul karya (Independent Wife) 4. Ubah harga jika kamu ingin memberi apresiasi lebih. Pilih metode pembayaran: GoPay, OVO, s****e Pay, Indomart, Alfamart, atau transfer bank. 5. Ikuti petunjuk pembayaran (lihat bagian-bagian yang menerangkan pembayaran dengan Gopay, OVO, Virtual Account BNI, dan Pembayaran QR). 6. Kembali ke laman k********a dan ke karya tadi. Pastikan kamu sudah login, ya. Kalau transaksi sudah berhasil, Karya yang sebelumnya bertuliskan "terkunci" akan ganti jadi "terbuka".
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD