Aku terbangun saat merasakan sesuatu yang mengusap-usap kepalaku. Aku membuka mata dan wajah Mas Arsa langsung terpampang di depanku. "Selamat pagi."
Aku bergumam lantas kembali menutup mataku. "Iya."
"Ayo bangun. Mas hari ini juga ada seminar ," ucap Mas Arsa dengan tangan yang masih mengusap-usap rambutku.
"Yaudah. Mandi duluan aja."
Mas Arsa mengecup kedua mataku bergantian. "Lepas dulu tangannya."
"Tangan siapa?" tanyaku sambil membuka mata.
"Tangan kamu," dia mengusap tanganku, "nanti lagi peluknya ya."
Eh?
Apaan sih.
Kedua mataku terbuka lebar, aku langsung shock begitu melihat tanganku bertengger di pinggang Mas Arsa. Ditambah lagi, aku peluknya erat banget.
Bikin malu aja pagi-pagi.
"Maaf, aku enggak sengaja," ucapku sambil menarik tanganku.
"Sengaja juga enggak apa-apa. Mas senang," dia mengecup pipiku, "nanti malam peluk lagi ya."
Dih.
Demen dia.
"Enggak. Kalau aku sadar, aku enggak mungkin peluk-peluk. Aku dari dulu kan emang enggak suka pelukan."
"Iya, iya. Mas aja yang peluk kamu."
Mas Arsa memajukan wajahnya kemudian berbisik di telingaku. "Adek. Weekend nanti, kita honeymoon ya."
Masih pagi, aku sudah dibuat serangan jantung.
"Kok mendadak? Aku belum siap."
"Enggak mendadak. Masih ada beberapa hari lagi. Kamu bisa siapkan diri," ucapnya setelah itu meninggalkanku.
Enggak jelas banget Mas Arsa.
Mau nolak, tapi ini kewajibanku.
Sebagai perempuan yang berintegritas aku enggak boleh lari dari kewajiban.
???
"Nanti jam pulangnya sama?" tanya Mas Arsa sambil memakai kaus kaki.
Aku yang berada di sampingnya mengangguk. "Iya, kenapa?"
"Nanti dinner yuk. Nanti Mas jemput."
"Kan kita masing-masing bawa mobil."
"Oh iya," Mas Arsa mengambil sepatu lantas dia memakainya, "enggak apa-apa. Kita masih bisa bareng, walaupun di mobil masing-masing."
Aku berdiri lantas mengambil kunci mobilku dari kantung. "Ribet, Mas. Enggak efisensi. Buang waktu dan tenaga."
Mas Arsa yang baru saja selesai mengikat sepatunya ikut berdiri. "Kamu enggak mau kita dinner?" tanyanya.
"Aku mau dinnernya, tapi kalau sistem jemput-jemput enggak efisien."
"Kan Mas yang jemput kamu, Dek."
"Kita harus efisien, Mas. Waktu dan tenaga sangat berharga."
Mas Arsa mengusap rambutku pelan. "Iya, iya. Adek maunya gimana?"
"Kita ketemuan di tempatnya langsung. Enggak usah jemput-jemput. Langsung ketemuan aja."
"Boleh. Nanti kamu kirim restoran yang jadi favorit kamu ya. Nanti kita dinner di sana."
"Oke," aku mengambil tangan Mas Arsa lalu mengecupnya, "aku pamit ya. Aku mau jalan buru-buru, takut macet."
"Enggak mau bareng aja?"
"Enggak efisien, Mas. Jalur tujuan kita beda."
Mas Arsa tertawa sambil mengangguk-angguk. "Iya, iya. Bu manager. Efisiensi penting ya dalam segala hal."
Aku bergumam. "Udah ya, aku duluan."
Baru saja aku melangkah, Mas Arsa sudah menarik tanganku sehingga aku kembali memutar tubuhku menghadapnya.
Belum sempat aku bersuara, Mas Arsa langsung mengecup keningku lama. "Ini tindakan yang efisien," ucapnya.
Aku mengerutkan keningku, tetapi tidak membalasnya dengan kata-kata.
"Efisien karena berguna untuk menaikan semangat dan mood seharian," lanjutnya.
Aku tertawa pelan.
Bisa sih bisa.
Cerita ini sudah tersedia versi lengkap, untuk kalian yang mau baca duluan, dapat diakses di k********a.
Cara belinya:
1. Masuk ke aplikasi k********a bisa melalui web atau aplikasi.
2. Cari nama kreator (TheDarkNight_) dan cari judul karya (Independent Wife)
4. Ubah harga jika kamu ingin memberi apresiasi lebih.
Pilih metode pembayaran: GoPay, OVO, s****e Pay, Indomart, Alfamart, atau transfer bank.
5. Ikuti petunjuk pembayaran (lihat bagian-bagian yang menerangkan pembayaran dengan Gopay, OVO, Virtual Account BNI, dan Pembayaran QR).
6. Kembali ke laman k********a dan ke karya tadi. Pastikan kamu sudah login, ya. Kalau transaksi sudah berhasil, Karya yang sebelumnya bertuliskan "terkunci" akan ganti jadi "terbuka".