💍Sixth💍

530 Words
Aku menarik selimutku bersamaan dengan suara petir di luar sana. Saat ini Jakarta sedang di guyur hujan sehingga suhu di ruangan ini bertambah dingin. Aku menoleh ke arah bawah, di mana tempat Mas Arsa berada. Aku melirik ke arah kasurnya, tidak terlalu tebal. Aku jadi khawatir, dia kedinginan enggak ya. "Mas," panggilku sambil terus menatapnya yang sedang memejamkan mata, "udah tidur ya?" Mas Arsa langsung membuka katanya dan membalas tatapanku. "Baru mau tidur. Kenapa? Kamu mau apa?" Aku menggeleng. "Enggak mau apa-apa," ada jeda sebentar sebelum akhirnya aku kembali membuka suara, "dingin nggak?" "Iya dingin." Kan, dia kedinginan. Jadi kasihan. "AC-nya besarin ya, Dek? Jangan enam belas." "Jangan!" ucapku cepat, "aku enggak bisa tidur kalau AC-nya enggak dingin." Mas Arsa bergumam. "Tapi ini kan lagi hujan, tetap dingin." "Aku suka begini." Mas Arsa kembali berguman. "Yaudah," ucapnya lalu menutup matanya. Aku kasihan sih dia kedinginan, tapi aku enggak bisa tidur kalau enggak dingin. Nanti kalau hujannya reda, terus AC-nya enggak dingin karena dibesarkan, aku bisa kebangun. "Mas," panggilku lagi. "Apa, Adek?" tanyanya dengan mata yang masih tertutup. "Mau tidur di sini nggak?" "Di mana?" Aku menepuk sisi sebelah ranjangku. "Di sini, sebelah aku. Kita tidur satu ranjang," aku mengigit bibir dalamku, "mau nggak?" cicitku pelan. "Ya, mau!" jawabnya bersemangat. Dia melempar bantalnya ke arah ranjang dengan cepat kemudian begitu dia ingin menaikinya ranjang, aku langsung menghentikannya. "Kenapa? Berubah pikiran?" "Enggak. Mas," aku menatapnya malu-malu, "aku kalau tidur posisinya suka berantakan. Aku tidurnya suka bermutar. Pas malam kepala masih di bantal, besok paginya kaki aku yang di bantal." Mas Arsa terbahak-bahak. "Waduh, repot ya. Nanti kepala Mas kamu tendang." Aku tertawa pelan. "Kayanya sih." Mas Arsa menjatuhkan kepalanya di bantal kemudian dia menepuk bantalku. "Yaudah, enggak apa-apa. Gimana nanti aja, sekarang, sini tidur." "Aku enggak enak. Serius. Aku takut beneran ke tendang." "Enggak apa-apa," Mas Arsa menarik tubuhku sehingga aku menjatuhkan tubuhku di ranjang kemudian Mas Arsa langsung memeluk pinggangku, "Mas peluk aja ya, biar kamu tidurnya aku enggak mutar." "Tapi kalau pelukan, aku jadi gerah." "Adek," panggil Mas Arsa dengan suara yang frustasi. "Aku gerah. Soalnya enggak terbiasa tidur sambil pelukan." "Yaudah, mulai sekarang, dibiasakan ya," ucapnya lantas kembali memelukku, kali ini tidak terlalu erat hanya tangannya saja yang melingkar di pinggangku. "Kalau begini, nyaman nggak?" tanyanya setelah beberapa saat terdiam. "Nyaman." "Nanti kalau Mas terlalu erat peluk kamu dan buat kamu enggak nyaman. Bilang ya." "Iya," aku menyentuh tangannya di pinggangku, "ini nyaman kok." "Oke. Good night." "Night," balasku sambil memejamkam mata. Ternyata enak juga tidur dalam posisi begini. Aku jadi merasa lebih terlindungi. Cerita ini sudah tersedia versi lengkap, untuk kalian yang mau baca duluan, dapat diakses di k********a. Cara belinya: 1. Masuk ke aplikasi k********a bisa melalui web atau aplikasi. 2. Cari nama kreator (TheDarkNight_) dan cari judul karya (Independent Wife) 4. Ubah harga jika kamu ingin memberi apresiasi lebih. Pilih metode pembayaran: GoPay, OVO, s****e Pay, Indomart, Alfamart, atau transfer bank. 5. Ikuti petunjuk pembayaran (lihat bagian-bagian yang menerangkan pembayaran dengan Gopay, OVO, Virtual Account BNI, dan Pembayaran QR). 6. Kembali ke laman k********a dan ke karya tadi. Pastikan kamu sudah login, ya. Kalau transaksi sudah berhasil, Karya yang sebelumnya bertuliskan "terkunci" akan ganti jadi "terbuka".
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD