Begitu sampai di depan rumah, Mas Arsa melambaikan tangan. Senyum manisnya dia tampilkan untukku.
"Mobilnya biarin aja di situ." Samar-samar aku mendengar ucapan itu keluar dari mulutnya.
Aku membuka kaca mobil lantas menatapnya. "Apa, Mas?"
"Mobilnya biarin aja di situ. Nanti Mas yang masukkan ke garasi."
Aku menggeleng cepat. "Aku bisa sendiri kok. Biasanya juga sendiri."
"Yaudah."
Mas Arsa menungguku sampai akhirnya aku turun dari mobil. Kami masuk bersama-sama ke dalam. Begitu sampai di ruang televisi, aku langsung menjatuhkan tubuhku di sofa.
"Adek," Mas Arsa mendekati lantas duduk di sebelah kiriku, "mandi dulu sana."
Aku mengangguk, mengambil bantal sofa lalu memeluknya. "Nanti aja."
"Sekarang."
"Nanti," aku memejamkan mataku, "cape. Sebentar dulu."
Aku merasakan pergerakan dari sebelah kiriku kemudian ada lagi pergerakan dari sebelah kanan. Rupanya Mas Arsa menarikku untuk tidur di pahanya. "Tadi kerjanya gimana?"
Aku membuka mataku dan langsung bertatapan dengannya. "Baik."
Aku bukan perempuan yang akan bercerita panjang lebar, jadi jika ditanya seperti itu pastinya aku akan menjawab dengan jawaban yang singkat dan langsung pada intinya.
Mas Arsa bergumam kemudian tangannya bergerak mengelus puncak kepalaku. Nyaman banget. Terakhirnya kali aku diperlakukan seperti ini ketika aku masih kecil sama Papa kemudian setelah itu enggak pernah lagi.
"Nanti setelah kamu udah ganti baju, udah bersih-bersih. Temani Mas ya?"
Kedua alisnya langsung menekuk. "Temani ke mana? Udah malam, Mas. Aku cape. Besok kerja pagi."
Mas Arsa tersenyum. Dia mengusap pipiku pelan. "Temani makan doang kok. Enggak pergi ke mana-mana."
Aku bergumam lantas kembali menutup mata. "Emangnya belum makan malam?"
"Belum."
"Kenapa enggak makan? Ini udah lewat jam makan malam."
"Nunggu kamu. Biar kita makan bareng. Kamu udah malam belum?"
"Udah tadi. Sama rekan kerja."
"Oh, yaudah. Enggak apa-apa. Temani Mas makan aja ya."
"Iya."
Beberapa saat kemudian, aku keluar dari kamar mandi dengan pakaian yang sudah berganti. Aku berhenti di depan meja rias, memakai handbody agar kulitku tidak kering setelah selesai aku bergegas turun ke lantai bawah. Lebih tepatnya ke meja makan.
Mas Arsa sudah menungguku di sana. Dia memainkan ponselnya dan berhenti ketika aku sudah duduk di hadapannya. "Mau makan sekarang?"
"Iya."
Aku mengambil piring mengisinya dengan nasi dan juga lauk. Rupanya pria ini sudah memesan makanan untuk kami berdua, tapi aku udah makan.
"Ini, Mas," ucapku sambil menyerahkan piring itu.
Mas Arsa mengangguk lantas mengambilnya. "Kamu beneran enggak mau? Mas beli dua porsi."
"Aku kenyang banget, Mas."
Mas Arsa tidak menjawab lagi, dia menyendok makananya lantas memasukan ke dalam mulutnya. Melihatnya yang begitu lahap, aku jadi merasa bersalah.
Seharusnya tadi aku enggak makan di luar, seharusnya aku makan di sini bersama Mas Arsa. Dia sudah menungguku untuk makan bersama, tapi aku malah makan dengan rekan kerja.
"Maaf ya."
Kegiatan makan Mas Arsa terganggu. Dia langsung menoleh ke arahku. "Enggak apa-apa. Kan makannya bisa di makan besok. Atau nanti Mas yang habiskan."
"Bukan itu."
"Maaf kenapa, Adek?"
"Maaf aku enggak bilang mau makan di luar. Mas Arsa jadi nungguin aku."
Mas Arsa tersenyum lalu sebelah tangannya menarik tanganku agar di genggamnya. "Enggak apa-apa."
"Besok-besok aku pasti makan malam di rumah bareng Mas."
Senym pria itu lebih lebar. "Kalau mau makan di luar bareng rekan kerja juga boleh, tapi kabarin ya Dek. Tadi Mas pikir kamu lama di jalan karena macet, tapi ternyata makan di luar dulu."
Aku mengangguk. "Iya. Sekali lagi maaf ya."
"Iya, iya. Udah. Enggak apa-apa."