Aku menarik napas panjang. "Kemarin kamu iya iya aja. Bilang paham," aku menggeser dokumen ke arah Elna, "tapi masih berantakan gini. Ini jumlah produknya belum sesuai."
Elna mengangguk. "Baik, Bu. Saya akan revisi segera."
"Ya. Saya tunggu sampai jam makan siang nanti ya."
"Baik, Bu. Saya akan usahakan selesai."
"Ya."
Elna pergi keluar dari ruanganku, sedangkan aku mengambil ponsel dan bergegas untuk ke pabrik produksi. Di mana gedungnya berada di sebelah gedung perkantoran.
Aku mengeratkan blazerku sebelum akhirnya berjalan keluar ruangan. Aku berjalan ke arah lift lantas masuk ke dalamnya. Tidak menunggu waktu yang lama, pintu lift pun terbuka tepat di lantai bawah.
"Ibu manager, ke mana aja kemarin?" celoteh Zila saat aku berpapasan dengannya.
Aku mengangguk. "Urusan keluarga," sebelum Zila kembali membuka suara aku buru-buru melanjutkan ucapanku, "saya mau pamit dulu. Mau ke pabrik.
"Oh, iya," Zila menggeser tubuhnya memberi ruang agar aku bisa melewatinya, "silakan, Bu."
Aku mengangguk pelan lantas kembali melanjutkan langkahku. Sejujurnya aku emang enggak mau bahas soal topik itu, aku takut keceplosan kalau aku kemarin menikah.
Aku sudah membuat keputusan bahwa aku akan menyembunyikan status pernikahanku dari rekan-rekan kantor. Aku tahu sih, cepat atau lambat pasti nantinya juga akan ketahuan, tapi biarlah itu jadi urusan nanti. Sekarang ini aku cuma mau fokus dulu dengan target dan urusan lain perusahaanku.
Aku masuk ke dalam gedung pabrik, pandangan mataku menyapu ke berbagai sudut ruangan. Seperti pada aktivitas biasanya, mereka sibuk mengurusi kegiatan produksi perusahaan kami yang bergelut pada produk makanan.
"Ini kenapa? Kok enggak lanjut kerja?" Aku melirik ke arah jam, "masih jam kerja ini kok pada diam?" tanyaku.
"Mesinnya rusak, Bu. Didi lagi manggil teknisi," ucap Gita selaku kepala tim.
Aku melihat kondisi mesin dan mengganti bagian-bagiannya. "Enggak rusak parah ini," aku menoleh ke arah Gita, "boleh minta tolong ambilkan alat perkakas?"
"Boleh, Bu. Sebentar," ucap Gita dan tidak lama kemudian dia memberikan aku sekotak alat perkakas lengkap.
Aku menarik lengan bajuku kemudian mengambil alat yang aku butuhkan. Aku membutuhkan waktu sekitar sepuluh menit untuk membenarkan dan akhirnya mesin ini kembali menyala.
"Sudah. Kalian lanjut kerjanya," ucapku sambil memanjangkan lagi lengan bajuku.
"Baik, Bu. Terima kasih."
"Ya," ucapku kemudian kembali mengurusi kegiatan produksi.
Berjam-jam berlaku sampai akhirnya tiba juga jam istirahat. Aku berjalan keluar dari pabrik dan masuk ke dalam ruanganku. Aku mengambil ponselku yang sedari tadi berada di kantung kemudian menyalakan layarnya.
Ada sebuah pesan dari Mas Arsa yang baru saja dia kirim, sekitar dua menit yang lalu.
Arsa Byantara Saputra
Sudah masuk jam
istirahat ya?
Tadi dia sempat menanyakan kapan jam aku istirahat dan menanyakan jam pulangku. Aku awalnya enggak mau ngasih tahu, tapi Mas Arsa memaksa.
Aku menjatuhkan tubuhku di kursi lantas mengetikkan balasan untuknya.
Arsa Byantara Saputra
Sudah masuk jam
istirahat ya?
Udh
Baru aja
Kenapa?
Mas tadi udah pesankan kamu gofood, sekarang delivernya sudah sampai di lobby
Ambil gih, terus
langsung makan ya
Hah?
Gimana?
Lobby mana?
Lobby kantor Adek
Ambil dulu, delivernya
udah sampai, Dek
Aku buru-buru kembali ke lantai bawah dan benar saja ada deliver di sana yang mengantarkan aku paket makanan. "Terima kasih ya, Pak."
Aku speechless, soalnya aku enggak dipernah dikirimkan makanan seperti ini.
Biasanya aku kalau istirahat beli makanan sendiri. Jarang pesan online, biasanya langsung ke kantin atau ke restoran dan tentunya menunggu lama.
Begitu aku kembali ke ruangan, Mas Arsa menelepon. Aku meletakan bungkusan makanan itu di meja sebelum mengangkatnya.
"Suka nggak menunya?"
Aku membuka kotak makan itu lalu melihat isinya yang ternyata bebek goreng. "Suka, makasih ya."
"Sama-sama, Adek. Selamat makan ya."
"Iya," ucapku dan tidak lama kemudian sambungan telepon kami terputus.
Begini ya rasanya diperhatikan.
Soalnya selama ini jarang banget ada yang ngasih aku perhatian.
Rasanya aneh, asing, tapi cukup membuat aku senang.