Mas Arsa menggeleng-gelengkan kepala. "Kalau bos atau klien kamu ngeliat kamu begini, bakal ilfeel kali ya," cibirnya.
Aku memotong roti lantas melirik tajam ke arahnya. "Ilfeel kenapa sih? Emang aku kenapa?"
"Ya itu, belum mandi, udah langsung sarapan. Masih ada kotoran di mata. Masih bau. Bikin orang ilfeel aja."
Mendengar kalimat tersebut sontak aku langsung mencium tubuhku. "Ngarang! Enggak bau tuh."
"Masa? Orang belum mandi, baulah."
"Enggak! Ga percaya banget. Cium aja sendiri."
Mas Arsa yang sedari tadi berdiri agak jauh dariku ini mulai mendekat. Tanpa aba-aba dia langsung mencium keningku lama.
"Eh! Apaan? Kaget. Jangan cium-cium sembarangan," ucapku sambil bergerak menjauh.
Mas Arsa terkekeh lantas dia duduk di sebelahku. "Kamu yang nyuruh."
"Maksud aku bukan cium itu. Dari jarak segini, juga kecium kalau aku wangi."
Mas Arsa mengangguk-angguk. "Setelah dicoba langsung, iya. Kamu enggak bau. Cuma," tangannya mengusap kening dan pipiku, "wajahnya berminyak."
Ngeselin ini suami.
"Biarin aja. Mas Arsa doang yang ngeliat," ucapku sambil memotong roti, bersiap untuk memasukkannya ke dalam mulut. Namun, tangan Mas Arsa menarik tanganku sehingga aku memasukan potongan roti itu ke mulutnya.
Ngatain aku, tapi dia mau juga makan dari satu garpu sama aku. Padahal dia tahu kalau aku belum sikat gigi.
"Kalau mau sarapan, mandi dulu, Dek."
"Nyuruh?"
Mas Arsa menggeleng. "Ngasih saran aja. Biar suaminya ngeliatnya enak gitu. Bangun tidur ngeliat istrinya udah cantik, segar, dan wangi."
"Emang sekarang aku enggak cantik?"
Mas Arsa kembali mengusap pipiku. "Mukanya berminyak."
Aku bergumam aja, enggak usah meladeni dia lagi. Mendingan aku fokus menghabiskan sarapanku agar aku bisa segera untuk bersiap-siap.
"Dek," mata Mas Arsa melirik ke piringku, "Mas mau, Dek."
"Mau apa?"
"Roti."
"Bikin sendiri aja," aku menunjuk ke arah tengah meja makan, "roti sama selainya udah ada. Bikin sendiri gampang."
"Enggak mau."
Aku meliriknya dengan tatapan malas. "Mau aku buatin?"
Mas Arsa menggeleng. "Mau roti kamu aja. Kita makan berdua. Rasanya enak."
Aku menggeser piringku sehingga berada tepat di tengah-tengah kami. "Suapin atuh, Dek. Kaya tadi."
"Mas," aku berdecak sebal, "please. Masa aku suapin. Ngelama-lamain aja. Aku mau kerja ini."
"Mas makannya cepat. Lagian masih juga pagi. Jangan alasan, Dek."
Aku menujukkan garpuku. "Aku belum mandi. Masa mau satu garpu sama aku yang belum mandi."
"Gapapa. Kan istri sendiri. Ayo suapin."
Argh!
Tolong!
Ketenanganku diganggu terus. Semalam ketenangan tidurku, sekarang ketenangan sarapanku. Nanti apa lagi.
Beberapa saat kemudian, aku sudah siap untuk pergi ke kantor. Aku mengambil tas lantas mencari Mas Arsa untuk berpamitan. "Mau jalan sekarang?"
"Iya. Ini aku udah rapi."
"Mas antar ya?"
Aku menggeleng cepat. "Enggak usah. Aku bisa bawa mobil sendiri."
"Mas antar aja."
"Enggak usah, Mas."
Mas Arsa mengeluarkan kunci mobil dari kantungnya. "Yuk, Mas antar."
Kedua alisku langsung mengerut. "Kok maksa? Aku dari tadi bilang enggak. Aku bisa sendiri, Mas."
"Tapi Mas mau antar kamu."
"Lain kali aja," aku menatap ke arah laptopnya menampilkan aplikasi adobe illustrator draw, "lanjutin aja ngedesainnya. Aku mau pergi dulu."
Mas Arsa terdiam sambil menatap ke arahku. Tidak mau berlama-lama aku langsung mengambil tangannya lalu mengecupnya. "Aku jalan ya."
Mas Arsa mengangguk kemudian aku bergegas untuk pergi keluar. "Dek," panggilnya yang membuat aku memutar tubuhku dan kembali menatapnya.
"Apa?"
"Udah pakai minyak wangi belum?"
Aku langsung mencium bajuku. "Wangi kok."
"Emang wangi."
Aku memutar mataku. "Enggak jelas."
"Dek," panggilnya lagi.
Aku menarik napas lantas memberikannya tatapan sebal. "Apa lagi?"
"Semangat kerjanya ya. Hati-hati di jalan."
"Oke," ucapku sambil melanjutkan langkahku.