Sesuai rencana, malam ini Ferry, Bayu dan Jonas kembali menjejakkan kaki di kelab yang mereka datangi kemarin malam. Mereka berkumpul tanpa Galih dan Andreas. Kedua lelaki itu tengah ada urusan dan akan ikut bergabung nanti. Entah kapan.
Bayu datang sendiri. Awalnya dia ingin membawa kekasihnya, Fleya. Hanya saja perempuan itu sudah ada janji dengan teman-temannya. Bayu itu tipe kekasih yang setia. Memang selama ini omongan Bayu suka berbau-bau tai kalau sudah berkumpul dengan gengnya ini. Tapi kalau soal hubungan seks, Bayu belum pernah mencoba jalang. Kalau ditanya apakah kekasih Bayu masih perawan? Hanya Tuhan dan mereka berdua yang tahu.
Ferry datang bersama Jonas. Laki-laki itu memang suka sekali menumpang di mobil Jonas. Ferry termasuk laki-laki yang pelit urusan duit. Bahkan untuk bensin mobilnya saja dia perhitungan. Makanya dia selalu menumpang ke mana-mana dengan Jonas. Dan tidak heran kalau Ferry selalu dicampakkan perempuan karena sifat pelitnya itu. Padahal dia tampan. Tidak hanya Ferry sih, semua sahabat Andreas yang di cap bad boys sudah jelas tampan. Hanya beda di kelakuan saja.
Jonas lelaki royal. Mau dimanfaatin seperti apapun, dia tetap tidak akan komplain. Laki-laki tercuek dalam geng Andreas. Jonas sudah bertunangan dengan perempuan yang sengaja dijebaknya untuk melakukan one night stand sehingga perempuan itu hamil. Membuat Jonas harus bertanggung jawab dengan suka rela.
Next, Galih. Lelaki dengan otak m***m seperti Ferry dan Bayu. Hanya saja di sini status Galih yang agak ngenes. Jomlo. Bukan karena Galih tidak digilai kaum hawa. Lelaki itu sangat pemilih. Jika Ferry dan Andreas bisa bebas meniduri siapa saja. Maka Galih tidak. Galih itu gay. Rahasia terbesarnya adalah menyukai Andreas.
"Andreas ke mana?"
Bayu yang tengah menghisap rokoknya menggeleng tidak tahu. Sedangkan Jonas hanya melirik Ferry yang bertanya dengan muka datar.
"Lihat aja. Kalo gue lihat itu cewek ada lagi malam ini, gue tidurin sampe dia lemes."
Bayu mendengkus. "Perbaiki isi otak lo yang perhitungan itu. Mana ada cewek yang mau. Udah dikasih enak, mereka dapet angin lagi. Ck."
Ferry hanya bersiul dengan tampang menyebalkan. Sambil menyandarkan punggungnya di sofa yang mereka duduki, Ferry berucap, "Kalo sampai gue dapetin itu cewek. Gue yang bayarin kelab kalian sebulan full! Sekalian sama jalang-jalangnya."
Bayu bersorak heboh. Laki-laki itu menyenggol lengan Jonas. "Mayan tuh. Hemat duit sebulan," ucapnya tertawa.
"Lo juga yang jemput gue sebulan full ke mana-mana," ujar Jonas membuat tawa Bayu semakin menggelegar.
"Anjing! Bales dendam lu, Jon? Serem banget."
"Mampus lo! Jonas udah mulai sadar. Kalo temenan sama lo banyak ruginya."
Bayu semakin terbahak membuat Jonas terkekeh geli dan Ferry mengumpat berkali-kali.
"Andreas noh."
Bayu dan Ferry menoleh. Benar saja, Andreas memasuki kelab dengan tampang kusut diikuti oleh Galih dibbelakangnya.
"Tumben kalian dateng berdua. Maho ya lo pada?"
Mulut Ferry memang sekurang ajar itu. Galih hanya menaikkan alisnya. Matanya sesekali melirik Andreas yang duduk di sebelah Jonas dan berseberangan dengan dirinya.
"Minta disodok mulut lemes lo anjing!" umpat Andreas sambil meraih gelas berisi alkohol di atas meja dan meneguknya hingga tandas.
Bayu, Jonas dan Galih terbahak. Sedangkan Ferry mendengkus kesal karena ditertawakan.
"Kita taruhan, Dre. Kalo gue bisa nidurin itu cewek malam ini, gue bayar kelab kalian sebulan full!"
Andreas menatap tajam Ferry yang tampak santai sambil memainkan gelas di tangannya.
"Lo tuli, hah? Dia cewek gue!"
Ferry tertawa dan menatap Andreas dengan pandangan mengejek. "Kalo bener cewek lo, bawa itu cewek ke sini. Kenalin ke kita. Baru gue percaya dan gak bakal gue ganggu."
Andreas mengepalkan kedua tangannya. Ingin sekali dia menghajar muka sialan milik Ferry.
"Besok gue kenalin ke lo semua. b*****t!"
***
Sashi menekuni layar laptop di depannya. Sesekali keningnya berkerut karena berpikir. Tangannya dengan lincah menekan keyboard.
"Dek, makan dulu."
Elsha masuk ke dalam kamar Sashi dengan semangkuk bubur dan segelas s**u di atas nampan.
"Gak lapar, Kak."
Elsha menghela napas dan duduk di tepian ranjang milik Sashi.
"Makan sedikit biar enakan lagi badannya. Kamu dari pagi belum makan. Nanti makin sakit."
Seharian ini Sashi hanya berdiam diri di rumah. Padahal tadi siang ada jadwalnya masuk kelas Komunikasi Bisnis dengan dosen killer. Sashi bahkan tidak peduli jika nanti nilainya menurun di mata kuliah yang satu itu.
"Masih sakit perutnya?"
Sashi menggeleng. Perempuan itu memang mengeluh sakit perut sejak tadi pagi. Elsha sampai dibuat khawatir. Pasalnya Sashi sangat jarang yang namanya diserang demam atau sakit-sakit lainnya. Kalau sakit hati sih Elsha tidak tahu.
"Kakak suap. Kamu lanjut aja bikin tugasnya."
Sashi membuka mulutnya sambil menoleh ke arah Elsha. "Manja banget!" lanjut Elsha dan mulai menyuapi adik kecilnya.
"Aku boleh nanya gak, Kak?"
"Apa?"
"Kalau melakukan hubungan intim sekali itu bisa bikin hamil?"
Elsha diam sejenak kemudian memandang Sashi dengan mata melotot.
"Kamu gak aneh-aneh kan, Dek?"
Sashi menelan sisa bubur di dalam mulutnya seperti menelan bongkahan paku. Susah dan sakit.
"Kak..."
"Jujur!"
Sashi memejamkan mata dan mengangguk lemah. "Tadi malem," ujarnya lirih.
Tangan Elsha yang tengah memegang mangkuk seketika terlepas. Membuat mangkuk berisi bubur itu tumpah ke lantai.
Mata Sashi berkaca-kaca. Kepalanya menunduk tidak berani menatap sang kakak.
"Siapa?"
Sashi menggeleng. Perempuan itu tidak ingin menyebutkan laki-laki yang telah memperkosanya. Kalau sampai Elsha tahu, pasti kakaknya itu akan menuntut pertanggung jawaban dan Sashi akan dipaksa menikah dengan lelaki tersebut.
"Jawab! Siapa laki-laki b******k itu?!"
"Gak tahu."
Sashi mulai terisak dan menutup wajahnya dengan kedua telapak tangan. Bahunya bergetar.
"Kamu masuk ke kelab?"
Sashi mengangguk.
"Kakak kan suruh kamu tunggu di luar, Dek. Astaga.... Tuhan.... Kamu minum?"
Sashi menggeleng.
"Lalu kenapa bisa?!"
Sashi semakin terisak. "Maaf, Kak, maaf..."
Kata-kata itu yang terus Sashi ucapkan sehingga membuat Elsha murka.
"Jangan minta maaf! Yang harusnya minta maaf itu b******n sialan itu! Kakak akan cari dia sampai dapat!"
Elsha beranjak dari duduknya dengan wajah merah padam.
"Kak, jangan..."
Sashi menahan tangan Elsha membuat perempuan itu berbalik dan luruh di lantai.
"Gak cukup kakak aja yang rusak?! Kenapa Tuhan juga ngehukum kamu! Apa salah kita? APA?!"
Elsha terisak dan meraung sambil menepuk-nepuk dadanya yang terasa sesak.
"Kak..."
Sashi ikut duduk di hadapan Kakaknya. "Jangan nyakitin diri kakak. Aku yang salah. Aku yang masuk ke dalam sana. Aku yang mencelakakan diriku sendiri. Aku..."
Sashi tidak dapat melanjutkan ucapannya karena Elsha langsung memeluk erat tubuhnya.
"Siapa? Jujur sama kakak. Tolong..."
Sashi menggigit bibir bawahnya. "Adiknya Mas Aris," bisik Sashi membuat tubuh Elsha seketika membeku.