Maaf

1041 Words
Sashi membuka mata saat terdengar suara ribut-ribut di luar kamarnya. Dengan mata yang setengah mengantuk dan sesekali menguap, Sashi berjalan pelan ke arah pintu. Perempuan itu membuka sedikit pintu kamarnya dengan hati-hati. Dari celah kecil itu dia dapat melihat apa yang terjadi di ruang tamu yang berada persis di depan kamarnya. "Aku gak mau tahu! Pokoknya adik kamu harus minta maaf dan sujud di kaki adikku! b******k! Beraninya dia merusak adikku." Elsha terlihat murka. Langkah kaki wanita itu bolak-balik seperti setrikaan di depan pria yang menunduk dengan siku yang bertumpu pada paha dan jemari yang meremas kasar rambutnya sendiri. "El, duduk dulu. Kita bicarakan ini baik-baik." Elsha menoleh dengan wajah merah padam. Sashi dapat melihat dengan jelas ekspresi kakaknya. Tadi, setelah menangis bersama di dalam kamar Sashi, Elsha langsung kembali ke kamarnya. Wanita itu tidak memikirkan apapun selain kemarahan yang memuncak terhadap b******n yang sudah merusak adik manisnya. Sesampainya di kamar, Elsha meraih ponsel dan mendial nomor Aris. Duda yang selama ini selalu menggilainya. Dan beginilah yang terjadi. Elsha dengan raut tidak bersahabat. Sedangkan Aris dengan raut frustasi. "Kalau sampai adikku mengalami trauma dan semacamnya, adik kamu gak akan pernah aku maafkan. Inget itu." Elsha berjalan dengan cepat menuju kamarnya. Sashi segera menutup kembali pintu kamarnya dengan pelan. Air matanya kembali menetes saat melihat Elsha sempat mengusap air mata sebelum hilang di balik pintu kamar. "Maaf, Kak," lirihnya sambil jatuh terduduk bersandar di pintu kamar. Di luar, Aris mendial nomor Andreas. Tidak ada jawaban dari sang adik. Hanya berakhir dengan suara operator. "Sial!" Aris berdiri dan melangkah memasuki kamar Elsha yang memang pintunya terbuka. "Sayang..." Aris memeluk Elsha dari belakang saat melihat wanita itu berbaring di atas ranjang. Karena posisi Elsha membelakangi pintu, Aris mengira Elsha tertidur. Rupanya wanita itu menangis tanpa suara. Aris dapat merasakan tubuh Elsha bergetar di pelukannya. "Aku gak mau nikah sama kamu kalau Andreas gak mau tanggung jawab." Aris menenggelamkan wajahnya di ceruk leher Elsha. Memberikan kecupan-kecupan kecil di sana. "Mas pastikan Andreas akan berlutut di depan Sashi. Kamu tenang aja." Elsha masih saja menangis. Kini suara isakannya mulai terdengar. "Maaf," lanjut Aris mengeratkan pelukannya. *** Sashi meneliti kembali penampilannya di cermin meja rias. Saat dirasanya wajahnya cukup fresh pagi ini, perempuan itu segera meraih tas dan kunci mobil di atas meja. Pagi ini dia harus ke kampus. Karena akan ada UTS dan Sashi tidak mungkin melewatkannya. "Kamu ada jadwal, Dek?" Sashi duduk di sebelah Elsha yang tengah memakan buah sambil menonton tayangan televisi. "Iya. UTS. Aku boleh minta duit, Kak?" Elsha menoleh dan tersenyum. "Berapa?" tanyanya sambil beranjak ke dalam kamar. Tidak lama wanita itu kembali dengan dompet di tangannya. "Hm, sejuta. Ada yang mau aku beli." Elsha mengeluarkan sepuluh lembar duit pecahan seratus dan memberikan pada Sashi. "Cukup?" Sashi mengangguk dan berdiri. "Makasih, Kak. Aku berangkat dulu." Elsha mengikuti langkah kaki sang adik menuju ke pintu utama. Saat Sashi sudah memasuki mobil dan mulai meninggalkan perkarangan rumah, Elsha segera masuk ke dalam rumah dan menghubungi seseorang. "Aku tunggu kabar dari kamu." *** Andreas berdiam diri di dalam mobil sudah hampir dua jam. Sejak kemarin dia mencari Sashi. Bahkan mengecek langsung jadwal kuliah perempuan itu. Namun hasilnya nihil. Sashi tidak ada di mana pun. "Sial!" Andreas menelungkupkan wajahnya di setir mobil bertepatan dengan melintasnya Sashi di depan mobilnya. Perempuan itu berjalan tergesa dengan menunduk. Sepertinya dia sedikit terlambat pagi ini karena terjebak macet barusan. Sashi mengikuti beberapa mahasiswi yang berjalan tergesa memasuki ruangan nomor 12 di mana UTS akan dilangsungkan. Seperti biasa, perempuan itu memilih tempat duduk yang tidak terlalu mencolok. Sembilan puluh menit UTS berlangsung dan Sashi bisa menghela napas lega saat kertas jawabannya selesai di isi dan diambil oleh pengawas ujian. Membereskan barang-barangnya, Sashi segera berjalan keluar ruangan. Setengah jam lagi dia akan ada kelas di ruangan berbeda. Sashi memilih menuju parkiran dan akan menunggu setengah jam ke depan di dalam mobil saja. Namun dering ponselnya menghentikan langkah Sashi saat berada di sebelah mobilnya. "Halo?" "..." "Baik, Pak." Sashi menghela napas berkali-kali. Otaknya berpikir keras tentang hal apa yang akan dosennya katakan sehingga menyuruh Sashi untuk ke ruangannya sekarang juga. Menghela napas kembali, Sashi akhirnya memutar tumitnya dan berjalan memasuki gedung tempat ruangan dosen berada. "Masuk." Sashi berkeringat gugup saat sahutan di dalam sana membalas ketukannya di pintu. Baru kali ini dia ke sini. Di sini tempatnya dosen dan petinggi fakultas berada. Dengan jantung yang berdentum tidak karuan, Sashi membuka pintu. "Selamat pagi, Pak." Sashi berjalan mendekat ke arah sofa yang tengah di duduki oleh Pak Arjun, dosen sekaligus Dekan yang menelponnya tadi. "Duduk, Sashi." Sashi menoleh pada sofa di sebelahnya yang berhadapan dengan sang dosen. Matanya membeliak. Sashi menahan napas saat mata keduanya bertemu. Kenapa bisa ada Andreas di sini? "Sashi?" Sashi tersentak saat Pak Arjun memanggil namanya. "I-iya, Pak." Sashi memilih duduk di sofa single. Kepalanya menunduk dengan tangan saling meremas. "Sashi, kata yang pantas saya ucapkan untuk pertama kali adalah maaf. Saya minta maaf atas kelakuan adik saya. Aris sudah menceritakan semuanya." Pria yang bernama Arjun itu menghela napas membuat Sashi semakin gugup dan kembali menunduk. "Saya dan keluarga akan ke rumah kamu. Saya akan..." "Tidak, Pak!" Andreas sontak menatap Sashi dengan intens. Banyak pertanyaan yang berkecamuk di dalam benaknya. "Andreas harus bertanggung jawab. Dan dia sudah mengatakan iya. Kenapa kamu menolak? Saya tahu adik saya b******n. Tapi saya jamin dia tidak akan melukai perempuan." Sashi menggeleng. "Saya gak butuh tanggung jawab. Saya permisi..." Sashi beranjak dengan tergesa dan berlalu keluar dari ruangan. Napasnya memburu saat menekan tombol lift. Saat pintu lift terbuka, Sashi segera masuk dan menekan dengan panik angka 1 saat dilihatnya sosok Andreas berlari ke arahnya. "Tidak," lirih Sashi. "Tunggu!" Sashi jatuh terduduk dan menutup telinganya dengan kedua tangan. "Jangan mendekat!" Andreas terpaku saat pintu lift yang memang sempat ditahannya kembali terbuka. Namun saat melihat Sashi berteriak nyaring berkata demikian membuat hati Andreas mencelos. "Pergi! Jangan mendekat!" Andreas berjalan masuk dan berjongkok di depan tubuh Sashi yang kini bergetar pelan. "Sashi..." "PERGI!" Sashi meraung dan mendorong tubuh Andreas hingga laki-laki itu terduduk di depannya. "b******n!" desis Sashi menatap Andreas dengan pandangan yang buram karena genangan air mata. "Sashi... Maaf..." Sashi menggeleng dengan air mata berurai dan isakan mulai terdengar. Andreas menumpu kedua lututnya dihadapan Sashi dengan masing-masing tangan di atas paha. Kepalanya menunduk dalam. "Maaf. Maaf. Maaf."
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD