Bab 46

1201 Words
Hari ini adalah hari berbelanja. Terdengar berita tentang diskonan di sebuah mall di kota Semarang. Membuat banyak wanita bersiap untuk menyerbu diskonan itu. Hari ini, wanita paruh baya itu. Terlihat sedang membersihkan lantai dengan penuh semangat. Di rumah ini, dia berjalan cepat kesana dan kemari membersihkan setiap ruang yang ia datangi. Nandini yang duduk sembari menonton televisi yang masih menyala. Melihat Ibunya yang berjalan kesana dan kemari, dan membuat kegaduhan suara yang cukup menganggu saat menonton televisi. Bola mata Nandini bergerak mengikuti kemana Ibunya berjalan. Televisi yang ada di depannya diabaikannya. Kini Ibunya menjadi tontonan baginya. "Bu, pelan-pelan aja... Diskonan masih banyak," ucap Nandini mulai risih melihat sang Ibu terburu-buru membersihkan berbagai tempat. "Misal gak cepet-cepet... Nanti barangnya abis," ucapnya sembari mengepel lantai. "Tapi diskonannya masih ada kok, Bu!" ujar Nandini. "Ah, masa?" tanyanya tidak percaya. "Bener, kok! Kalau barangnya abis, kan tulisan diskonannya masih ada. Terpampang jelas malah," ucap Nandini. "Hahaha... Kamu ini ada-ada aja," ucap sang Ibu disertai tawa yang mengiringi. "Terus liatin tulisannya doang buat apa?" tanyanya kemudian. Nandini menaruh jari telunjuk di dagunya. Dia tersenyum kala menatap sang Ibu. "Gak papa dong! Judulnya kan nyari diskonan," ujar Nandini sembari tersenyum lebar. Mendengar anaknya mengatakan demikian. Membuatnya tidak bisa berhenti terkekeh. "Kamu ini... Masih aja begitu," ucap sang Ibu. "Udah selesai, nih. Sekalian Ibu siap-siap dulu kali, ya?" ucap Nandini. "Iya, nungguin Ibu selesai dandan itu lama banget tau," ujar Nandini. "Ih, nih anak. Ya sudah, Ibu mandi dulu," ucapnya kemudian melenggang pergi. Melihat sang Ibu sudah pergi. Nandini kembali menonton televisi. Dia tidak bisa mengganti channel sesuai keinginannya. Detik waktu terus berjalan. Nandini sangat bosan menonton televisi. Cukup lama baginya menunggu sang Ibu selesai berdandan. Rasanya seperti satu dekade dia menunggu. Detik waktu terasa lebih lama berjalan dari biasanya. "Bu!" panggil Nandini sedikit berteriak. "Apa?" sahut Ibunya. "Masih lama?" tanya Nandini. "Bentar lagi!" seru sang Ibu dari balik kamarnya. Nandini kembali menatap layar persegi yang besar di depannya. Entah waktu yang berjalan lebih lambat, atau memang Nandini yang tidak sabaran. Setiap Nandini bertanya sudah selesai atau belum. Ibunya selalu menjawab 'Sebentar lagi', membuat Nandini merasa lebih lama menunggu. Sudah 10 menit berjalan, baginya seperti tiga kali lipat lebih lama. Sang Ibu masih belum keluar dari tempatnya. "Lama, banget..." gumam Nandini. "Bu, sudah selesai belum?" tanya Nandini lagi. "Iya, tunggu sebentar!" teriaknya dari balik kamar. "Lama..." gerutu Nandini. Beberapa menit kemudian... Sang Ibu keluar dengan pakaian yang rapi dan bersih. Mengenakan pakaian berwarna merah lengan panjang dan rok panjang berwarna hitam. "Gimana... Cantik, gak?" tanya sang Ibu memutar badannya sembari kedua tangan memegang rok layaknya seorang putri kerajaan. "Iya, bagus..." ujar Nandini masih menatap layar televisi. "Ih... Orang Ibunya di sini, liatnya kemana," gerutu sang Ibu. Nandini yang mendengar keluhan Ibunya. Menoleh ke arahnya, dia memasang wajah takjub. "Woah! Ibuku cantik banget," takjub Nandini. "Iya dong," ujar sang Ibu. Wanita paruh baya itu terlihat memperhatikan setiap detail pakaian yang ia kenakan. Tas warna hitam yang ia kenakan menambah kontras warna pakaian yang dikenakannya. Dia membuka tasnya dan mengambil sebuah kaca dari dalam. Tangan kirinya memegang kaca, dan bola matanya melihat dengan teliti riasan yang tidak sesuai di wajahnya. "Akhirnya selesai juga, lama ku menunggu," ucap lirih Nandini. Ucapan itu masih terdengar jelas oleh sang Ibu. Membuatnya mengalihkan pandangan ke arah anaknya itu. "Eh, udah mau tutup mallnya. Ada baiknya pergi sekarang," ujar Nandini sembari tersenyum yang dipaksakan dan berjalan pergi. "Tutup darimana," gerutu wanita paruh baya itu. "Bu, kita jalan kaki?" tanya Nandini mengingat mobil dibawa Ayahnya tadi pagi. "Iya," jawabnya sembari mengunci pintu rumah. Terlihat perumahan yang cukup sepi. Orang-orang masih sibuk di luar rumah meski sudah siang. Hanya sedikit orang yang berlalu lalang. Melihat keadaan sekitar rumahnya yang mengalami perubahan. Membuat Nandini selalu memperhatikan tiap rumah yang ada. Mereka saling berbincang tanpa kenal tempat. Beruntungnya, karena tidak ada orang yang berlalu saat mereka berbincang. Tidak terasa beberapa menit berjalan. Kini mereka berdua sampai di halte. Mereka berdua duduk di kursi. Nandini terus melihat setiap kendaraan yang melaju. Bola matanya bergerak ke kanan dan ke kiri memfokuskan pada salah satu mobil yang melewatinya. Hingga kendaraan umum datang. Sang Ibu berdiri melihat yang ditunggu telah tiba. Mereka masuk secara bersamaan. Nandini masuk menembus bis itu dengan mudahnya tanpa melalui pintu. Terlihat tidak terlalu ramai yang datang. Nandini melihat seorang wanita yang duduk sembari tersenyum ke layar ponselnya. Ide jahil muncul dalam benak Nandini. Dia ingin melakukan percobaan dengan hal itu. Nandini berkali-kali maju dan mundur menembus wanita itu. Hingga wanita itu merasa terganggu dan melihat ke segala arah karena merasa janggal. Wanita itu memegang lengannya merinding. Dia pun berjalan ke belakang menuju kursi kosong. "Psst... Nandini," panggil sang Ibu melihat kelakuan anaknya. Nandini hanya terkekeh ketika percobaannya berhasil. Mungkin dia tidak dapat melihatnya, tetapi dapat merasakan kehadirannya. Nandini duduk di samping Ibunya. Sampai tujuan tepat ada di depan mata. Melihat mall yang begitu besar. Membuatnya merasa nostalgia, sudah sangat lama bagi Nandini untuk pergi ke sana. Bis berhenti di halte, mereka harus beberapa meter berjalan untuk sampai di sana. Sampai tepat di depan pintu mall. Mereka masuk ke dalam, begitu ramai. Nandini terlalu senang melihat banyak barang di mall. "Seneng, gak?" tanyanya. "Woah! Seneng banget!" seru Nandini. Mereka berjalan ke eskalator dan naik ke atas. Mereka saling berbicara saking senangnya. Bahkan sang Ibu sampai tertawa dibuatnya. Hingga Nandini mendengar suara berbisik yang membuat Ibunya menjadi buah bibir di sekitarnya. "Bu, jangan ngomong sama aku dulu. Ibu diomongin banyak orang," saran Nandini. "Ah, kamu ini. Masa ngomong sama anak sendiri dilarang," ucapnya. "Tapi, Bu..." ucap Nandini menggantung. "Udahlah... Kata mereka ya kata mereka, kata Ibu ya kata Ibu," ujarnya. Dengan ragu Nandini hanya mengiyakan perkataannya. Ibunya tidak terlalu mendengarkan perkataannya. Ibunya terus bercerita banyak hal kepada Nandini tanpa jeda. "Devan tuh, waktu kecil nempel banget sama Putri," ujarnya. "Aku bisa paham, sih," jawab Nandini. "Bahkan dia pernah nangis kalo ditinggal Putri waktu kecil, sekarang malah..." ucap sang Ibu menggantung. "Malah Putrinya yang nempel," celetuk Nandini. "Hahaha... Iya bener juga," ucapnya sembari tertawa. Nandini memasang senyumnya kembali kala melihat sang Ibu tersenyum padanya. Perkataan orang yang melihat sang Ibu menjadi sirna. Nandini tidak terlalu ambil pusing, asalkan orang yang dia sayangi senang. Dia fikir itu tidak terlalu masalah. Hingga tidak terasa sudah berada di tempat yang dituju. Lantai atas dimana diskonan berada. Nandini melihat seorang wanita paruh baya dengan pakaian bagusnya, namun ada darah di area keningnya. Nandini memalingkan wajahnya ke arah lain. Dia melihat seorang anak kecil yang memainkan mobil mainan di lantai. Wajahnya tidak terlalu nampak karena dia menunduk sambil memajukan dan memundurkan mainan mobilnya. Sampai dia mendongak dan menatapnya. Mulutnya terlihat berdarah, dan perlahan darah itu menetes ke lantai. Namun, tidak ada yang melihatnya. Anak laki-laki itu tersenyum kepadanya dengan mulut yang berdarah itu. "Kakak main yuk!" ujarnya sembari menatap dirinya. Nandini melihat ke sekelilingnya. Ada beberapa yang lainnya. Membuat Nandini baru menyadari, jika kehadirannya menjadi pusat perhatian juga. Tapi, bukan manusia yang memperhatikannya. Melainkan yang tidak kasat mata. "Nandini, kamu kenapa nak?" tanya sang Ibu melihat anaknya melamun. "A-Ah, gak apa-apa kok Bu. Ya udah yuk, lanjut aja. Keburu abis barangnya," ujar Nandini. Mereka pun berjalan bersama, Nandini tidak memberitahukan apa yang dilihatnya. Karena itu hanya akan membuat Ibunya khawatir kepadanya. "Mereka semua menatapku," batin Nandini.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD