Bab 56

1142 Words
Sebuah rumah dengan pintu tertutup. Devan berjalan ke arah rumahnya. Pintunya nampak tertutup rapat. Senja menampakkan dirinya sebagai tanda bergantinya waktu. Langit biru yang dia lihat saat pagi tadi. Kini berubah warna seperti buah jeruk yang sudah matang. Kini Devan berada di depan pintu rumahnya. Tangannya mendorong pintu perlahan. Pintu yang bergesek dengan lantai membuat suara berdecit yang khas. Ruang nampak masih terlihat gelap. Devan menggerakan bola matanya ke segala arah. Dia mendorong pintu agar lebih memudahkannya dalam melihat ke berbagai arah. Ruang yang gelap dan nampak sunyi. Membuat Devan sedikit merinding. Dia melangkahkan kakinya masuk ke dalam. Bola matanya terus bergerak ke berbagai arah sembari kedua tangan yang memegang ranselnya. Dia terus berjalan, hingga sampai di ruang keluarga. Dia mendengar suara aneh yang cukup panjang. Di balik sofa itu, terdapat kain yang menutupi sesuatu. Devan mendekat, sampai tiba di depan sofanya. Suara makin terdengar jelas di telinga kala dia berada di depan sofa. Kain berwarna merah muda dengan belang warna putih yang menutup sepanjang sofa. Membuat Devan terheran akan siapa di balik selimut ini. Tangannya bergerak menarik kain itu perlahan. Namun, setelah membuka kainnya. Dia mengeluarkan suara yang lebih keras. "Aa!" teriak Devan sembari jatuh terduduk. Suara dengkuran keras yang tiba-tiba membuat Devan terkejut. Orang yang ada di balik kain itu adalah Ibunya Devan. Dia nampak lelah, terlihat saat dia mendengkur cukup keras. Matanya masih menutup dan terlihat pulas. Devan memegang d**a kirinya. Detak jantungnya begitu kencang tadi. Devan mengatur nafasnya. Perlahan detak jantungnya berdegup secara normal. Setelah detak jantungnya kembali normal. Devan menghela nafasnya panjang. Dia kembali menatap sang Ibu yang terlihat kelelahan. Devan berdiri kemudian. Saat dia berbalik hendak pergi ke kamarnya. Sang Ibu terbangun dari tidur pulasnya. Dia membuka mengerjapkan matanya untuk menyesuaikan cahaya yang masuk ke dalam retina. Dia bangkit dari posisi tidurnya. Bola matanya langsung terfokus kepada Devan yang baru saja hendak pergi. "Devan? Sudah pulang?" tanya Ibu. Devan menoleh ke arah Ibunya. Dia menatapnya sembari mengangguk perlahan. Devan berjalan ke kamarnya. Pintunya masih terlihat tertutup rapat. Dia melangkahkan kakinya hingga di depan pintunya. Tangannya memutar gagang pintu perlahan. Dia mendorong pintunya kemudian. Dari celah pintu yang dibuka nampak seorang gadis yang sedang duduk menyilang di tempat tidur milik Devan. Melihat hal itu, Devan membuka pintunya lebar-lebar. Hingga Nandini tersadar akan kehadiran Devan. Nandini menoleh ke arah sumber suara. Dia melambai ke arah Devan sambil tersenyum. Devan menaruh tasnya tanpa membalas lambaian atau pun senyuman yang diberikan Nandini. Melihat hal itu Nandini menurunkan tangannya perlahan. Senyumnya pun berubah seketika. "Nggak sopan banget sama kakaknya," sindir Nandini. Devan menatap Nandini sejenak, "Sana pergi!" usir Devan. Nandini terkejut dia mengusir kakaknya sendiri. Nandini pun menurunkan kakinya dari tempat tidur. "Bisa-bisanya ngusir kakaknya sendiri..." ucap Nandini kesal. "Aku mau ganti pakaian... Sana pergi!" usir Devan. Mendengar hal itu sontak Nandini menutup mulutnya terkejut. Dia pun berjalan perlahan keluar pintu. Devan menatap tajam kakaknya itu. Melihat Nandini sudah keluar dari kamarnya. Devan menutup pintunya rapat. Devan duduk di tempat tidurnya. Dia membuka kaos kakinya. Baru saja berhasil melepas satu. Tiba-tiba Nandini memunculkan kepalanya di pintu. Kepalanya menembus pintu itu. "Eh, Devan. Ada yang mau aku ceritain," ujar Nandini. Devan mendongak melihat kepala Nandini menembus pintu kamarnya. Kaos kaki yang dipegang tangan kanannya, dia remat hingga membentuk bulatan. "Pergi!" usir Devan sembari melempar kaos kakinya ke pintu. Tentu saja, kaos kakinya tidak dapat mengenai Nandini. Kaos kaki itu hanya dapat menembus Nandini dan mengenai pintunya saja. Nandini melihat kaos kaki itu jatuh ke bawah. Bola matanya mengikuti kemana kaos kaki itu berguling. "Pergi, gak!" usir Devan untuk yang kesekian kalinya. Melihat kemarahan Devan yang memuncak. Nandini malah tersenyum lebar sembari menarik kepalanya keluar perlahan. Senyumnya tidak luntur sedikit pun hingga wajahnya benar-benar tidak terlihat lagi. Sangat menyebalkan bagi Devan. Devan menghela nafas panjang melihat kelakuan kakaknya yang menyebalkan itu. Dia kembali melakukan aktivitasnya. Sementara itu... Nandini terkekeh melihat wajah kekesalan Devan. Dia berjalan pergi sebelum Devan menemukannya di depan pintu. Jika Devan melihatnya masih di depan pintu, entah apa yang akan terjadi. Mungkin saja dirinya akan dimarahi habis-habisan. Nandini melangkahkan kakinya menjauh dari kamar Devan. Ruang nampak gelap di sini. Nandini berinisiatif mencari Ibunya yang tidak ada di sofa. Dia berjalan melangkahkan kakinya ke dapur. Dia menemukan sosok yang ia cari. Wanita paruh baya itu nampak sibuk dengan wajan penggorengannya. Tangannya amat lihai dalam membolak-balikkan masakannya. Bau harum masakan sangatlah terasa. Membuat Nandini sangat ingin menyicipinya. "Ibu..." panggil Nandini lembut sembari tersenyum. Mendengar suara yang sangat tidak asing di telinganya. Ibu menoleh ke arah Nandini. Dia membalas senyum anaknya itu. "Eh, ada Nandini anak Ibu..." ucap sang Ibu menatapnya sembari tersenyum simpul. Nandini pun melangkahkan kakinya mendekat ke arah Ibunya. Dia berdiri di samping sang Ibu. "Harum banget..." ujar Nandini sembari menatap masakam yang tengah dibuat. "Iya dong..." ujar sang Ibu percaya diri. "Eh, Bu... Devan kok tinggi ya?" ucap Nandini mengganti topik pembicaraan. "Iya lah..." balas Ibu sembari mengambil sejumput garam dari toples kecil. "Kok cepet banget?" ucap Nandini tidak terima. Sang Ibu hanya terkekeh mendengar pertanyaan yang sama dengannya keluar dari mulut anaknya sendiri. Tangannya masih sibuk dengan masakan yang ia buat. Sementara pendengarannya sibuk mendengarkan celotehan Nandini seperti kereta yang terus melaju. Sementara dari kejauhan, Devan yang hendak mengambil di dapur. Menghentikan langkahnya sejenak, melihat mereka berdua nampak menikmati perbincangannya. Suara ketukkan pintu dari luar terdengar pelan. Mereka pun memasang telinganya baik-baik. "Ada orang? Ayah pulang, nih!" serunya dari balik pintu luar rumah. Mendengar hal itu, sontak Nandini berlari kencang menuju ke sumber suara. Dia melewati Devan begitu saja dengan wajah sumringah. Devan hanya bisa menatapnya hingga tidak terlihat oleh matanya lagi. Dia menoleh ke arah dapur dan berjalan santai. Dia membuka pintu kulkasnya. Devan mengambil air dingin dalam botol. Dia menutup kulkasnya kemudian. "Jangan lupa... Bawa lauknya nanti," suruh Ibu sembari mengambil piring di lemari. "Iya..." ucap Devan kecewa. "Yang ikhlas dong," ucap Ibunya sembari tersenyum simpul. Setelah Devan meminum airnya. Dia pergi membawa beberapa lauk ke meja. Di sana sudah terdapat sang Ayah yang duduk dengan senyuman melihat makanan di depan matanya. Setelah semuanya siap di meja makan. Mereka pun menyantap makanannya. "Habis makan... Nanti kita nonton film horor, yuk!" ajak Ayah. Mendengar itu, Devan langsung menolaknya cepat. Dia tidak bisa menontonnya sekarang karena beralasan akan bersekolah besok. "Ayo Devan, sekali aja," pinta Nandini. "Nggak mau, tanya Ibu sana," ucap Devan menunjuk sang Ibu dengan menggunakan dagunya. Tetapi, jawaban tidak terduga muncul. Ibunya yang biasa menyuruhnya tidur lebih awal. Malah menyuruhnya ikut menonton film bersama. "Tapi," ucap Devan menggantung. "Udah, sekali doang kok. Besok pulangnya kan cepet," bujuk Ibu. Mendengar hal itu, Devan pun menghela nafasnya panjang. Melihatnya Nandini terlihat senang dan bersorak. "Nonton film horor tentang setan bareng setan," gumam Devan. "Apa kamu bilang?" tanya Nandini yang masih dapat mendengarnya. "Ah, nggak kok..." ucap Devan sembari tersenyum. Kedua orang tuanya pun hanya bisa terkekeh melihat kelakuan anak-anaknya. Entah sampai berapa lama hal semacam ini berlangsung.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD