Bab 41

1174 Words
"Pulang, udah malem..." Begitulah yang diucapkan Devan, ketika melihat Putri bersenang-senang dengan Desi. Mereka berdua menghentikan perang bantalnya sejenak dan melihat ke arah orang yang berbicara. Nandini mendekat ke telinga Putri. Dia terlihat membisikkan sesuatu kepadanya. Devan hanya bisa menduga sesuatu hal yang buruk kepada mereka. "Jangan mulai," ucap Devan. Kemudian Putri membisikkan kepada Desi. Setelah mendengarnya, Desi mengangguk sembari tersenyum. Mereka berdua saling memandang dan mengangguk. Bantal guling yang dipegang keduanya langsung dilempar ke arah Devan secara bersamaan. Devan tidak mampu menghindar. Dia terpaksa menerima pukulan bantal guling itu hingga jatuh terjungkal ke belakang. Bantal guling yang mengenai tepat di wajahnya ia singkirkan dengan kasar. Devan sangat kesal dengan bantal guling yang mengenainya. "Hei! Kalian!" ucap kesal Devan. Tetapi, mereka yang melihat hanya tertawa. Dengan kesal Devan melempar balik bantal guling itu dan mengenai wajah Putri. Desi mampu menghindar, akibatnya bantalnya juga mengenai Putri. "Devan, kurang ajar kamu!" kesal Putri. Nandini berjalan santai keluar pintu. Terlihat Arga yang ikut keluar menghindari pertikaian. Sampai di luar kamar, keributan terdengar sangat berisik. Teriakan Putri membuat yang mendengar harus menutup telinganya. Mereka berdiri beriringan bersender pada tembok. Mereka berdua menghela nafas bersamaan. "Kekanak-kanakkan..." ucap mereka bersamaan. "Kamu kan masih anak-anak," ucap Arga menunjuk Nandini. "Apa? Aku? Jika aku masih hidup, aku sudah lebih dari yang kamu pikirkan," papar Nandini. "Pendek seperti ini?" ucap Arga menyentuh pucuk kepala Nandini. "Singkirkan tanganmu," ujar Nandini. Arga menarik tangannya ragu dari kepala Nandini. Bola matanya bergerak memalingkan pandangannya dan menatap kembali Nandini. "Hei, kalian ngapain dari tadi?" tanya Devan yang berdiri di pintu. "Ah? Aku? Nggak ada," ucap Arga seolah menutupi sesuatu. "Mencurigakan..." ujar Putri yang ikut berdiri di dekat pintu. "Kalian? Arga kan sendirian," ucap Desi tiba-tiba. Mereka langsung menatap Desi yang bicara tiba-tiba. Mereka hampir saja terkejut karenanya. Mereka saling memandang, seolah saling bertanya satu sama lain. "Ah... Biasa, Arga kan bisa lihat hantu," ujar Devan. "Bener banget tuh," ucap Putri membenarkan. Arga menggaruk kepalanya sembari tersenyum tipis. Sangatlah tidak mungkin jika mengatakan bahwa, hantu itu adalah saudara perempuannya Devan yang telah lama meninggal. "Benarkah?" tanya Desi penasaran. "Seperti apa rupanya? Bisa kamu jelaskan?" tanya Desi bersemangat. Arga menatapnya sejenak, dia menatap ke arah sampingnya. Arga menyunggingkan bibirnya melihat Nandini yang menatapnya heran. Bola mata Arga kembali bergerak ke arah Desi. Senyuman dari wajah Arga masih belum pudar. "Dia anak SMP, pendek, cerewet, keras kepala, rambutnya panjang, bajunya putih kayak daster," ucap Arga terlihat senang menjelaskan hal itu. "C-Cerewet? K-Keras kepala? Apa maksudmu," kesal Nandini yang mendengar penjelasan tidak benar menurut dirinya. "Wah... Bisa sampe sifat-sifatnya?" takjub Desi. "Apakah dia baik?" tanya Desi lagi. "Mm... Iya, dia baik. Saking baiknya dia bisa ikut campur masalah orang lain," ucap Arga sembari melirik ke arah Nandini berada. "Wah... Sepertinya menyenangkan bisa punya kemampuan itu," ujar Desi sembari menunduk. Melihat Desi mengucapkan kata-kata itu. Raut wajah Arga menjadi berubah, senyumnya menghilang perlahan. Tatapannya menjadi dingin seketika mendengat kalimat itu keluar dari mulut seseorang yang tidak mengerti apa pun. "Menyenangkan?" ucap Arga dengan nada rendah. Desi yang tadinya menunduk, dia mendongak setelah mendengar kata itu. Dia melihat tatapan yang penuh amarah di sana. "Eh, iya... Aku pikir menyenangkan jika bisa melihat mereka yang sudah tiada," ucap Desi tidak berani menatap matanya. "Begitu, ya?" ucap Arga. "I-Iya," ucap Desi ragu. "Aku pulang duluan," ujar Arga melenggang pergi. "Arga!" panggil Putri yang tidak digubris sama sekali. Putri hendak melangkahkan kakinya mengejar Arga. Tapi, Devan menghentikannya. Putri menatap Devan, seolah butuh penjelasan akan tindakannya. "Dia butuh waktu sendiri," ucap Devan menatap Putri. Nandini menatap Arga yang mulai menjauh darinya. Langkah kakinya begitu terburu-buru. Seolah ada yang mengganggu fikirannya. Kini Nandini yang mencoba mengejarnya. "Kak Nandini!" panggil Devan, tetapi tidak digubrisnya. "Dasar," gumam Devan melihat Nandini menjauh. Mendengar nama itu, Desi mengerutkan dahinya. Dia menatap Devan yang ada di sampingnya. "Siapa Kak Nandini?" tanya Desi. "Ah, itu..." ucap Devan menggantung. "Kami juga harus pulang!" ujar Putri berusaha membantu Devan. "Ah, iya sudah malam. Kami harus pulang," ucap Devan sembari tersenyum yang dipaksakan. "O-Oh... Iya. Sampai jumpa," ucap Desi ragu. Devan dan Putri berjalan cepat menuju ruang tamu. Mereka mengambil tasnya masing-masing. Kemudian mereka berlari kecil keluar dari rumah itu. Hingga langkah Devan terhenti tepat di depan pagar rumah. Tangannya menarik tas yang dikenakannya ke depan. Dia membuka resletingnya mencari sesuatu. Melihat Devan tidak berada di sampingnya. Putri menoleh ke belakang. Dia menemukan Devan yang tengah panik mencari sesuatu dalam tasnya. "Devan, ngapain?" tanya Putri. "Mana bukunya?" tanya Devan panik. Seketika Putri teringat akan sesuatu. Bukunya masih ada dalam kamar Desi. Matanya terbelalak kala mengingat hal sepenting itu. "Bukunya masih di dalam kamar," ucap Putri mengingatnya kembali. Tanpa basa-basi, Devan berlari kencang kembali masuk ke rumah itu. "Devan, mau kemana?" panggil Putri melihat Devan berlari kembali ke dalam rumah Desi. Di sisi lain... Desi terlihat termenung melihat teman-temannya pergi. Dia kembali ke dalam kamarnya. Sebuah buku berwarna merah muda yang asing di matanya. Membuat kakinya melangkah untuk mendekat. Buku itu tergeletak di lantai tepat di bawah foto yang pecah beberapa waktu lalu. Desi mengubah posisinya menjadi jongkok, tangannya hendak meraih buku itu. "Jangan sentuh!" teriak Devan. Teriakan Devan membuat Desi menghentikan tangannya untuk meraih buku itu. Desi menoleh ke belakang melihat Devan yang nampak panik. "Ah, ini bukunya," ucap Desi hendak meraih bukunya. "Kubilang jangan sentuh!" teriak Devan membuat Desi mengurungkan niatnya. Devan berjalan cepat ke arah Desi. Tangan Devan langsung meraih buku itu dan memegangnya erat. "Ah, maaf..." ucap Desi tidak enak. Melihat sikapnya yang sedikit berlebihan. Membuat Devan harus meminta maaf beberapa kali kepada Desi. "Bukan salahmu. Aku yang harusnya minta maaf, maafkan aku," ucap Devan merasa bersalah. Melihat Desi dengan wajah sedih seperti itu. Membuatnya teringat akan suatu benda di sakunya. Tangan kanan Devan meraih suatu benda di saku celananya. Sebuah benda yang digenggam Devan, membuat Desi tidak tahu benda apa itu. Bola matanya terus menatap benda yang digenggam Devan erat. "Aku rasa, seseorang ingin kamu menyimpan sesuatu yang berharga," ucap Devan. Desi kembali menatap Devan yang mengatakan demikian kepadanya. Apa yang Devan maksud membuat benaknya bertanya-tanya. "Apa itu?" tanya Desi. "Tapi, jangan takut..." ucap Devan mengantisipasi ketakutan yang mungkin terjadi. "Memangnya siapa yang memberikan benda itu?" tanya Desi penasaran. "Ibumu," ucap Devan singkat. Seketika Desi menatapnya terkejut. Dia terlihat menatap kosong, membuat Devan ragu untuk memberikannya. "Nggak mau juga gak apa-apa. Aku akan membuangnya jika kamu mau," ucap Devan menghamburkan lamunan Desi. "Eh, jangan!" ucap Desi. "Oh, oke. Ini," ucap Devan sembari memberikan gantungan kuncinya kepada Desi. "Aku pulang, ya!" ujar Devan seraya melenggang pergi. Desi yang tengah menatap gantungan kunci di telapak tangannya kembali menatap Devan yang berjalan makin jauh. Tangannya menggenggam erat gantungan kunci itu. "Devan!" panggil Desi. Devan menoleh ke arahnya, "Iya?". "Terima kasih, ya!" ujar Desi kemudian. Devan tersenyum, "Berterima kasihlah sama Arga, kalau gak ada dia. Entah gimana jadinya nanti," ucap Devan sembari berjalan pergi. Desi menatap Devan yang telah menjauh. Dia baru menyadari kontribusi Arga dalam masalahnya hari ini. Hari yang menyedihkan dan menyenangkan dalam waktu singkat dia lewati hari ini. Desi kembali membuka genggamannya, melihat gantungan kunci di telapak tangannya. "Terima kasih dan Selamat jalan, Bunda..."
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD