Bab 27

1111 Words
Aaa! Gadis itu menjerit histeris dengan menutupi kedua telinganya dengan tangannya sembari memejamkan mata. Gadis itu menjauh Devan hingga ke bawah meja. Kegaduhan yang dibuat membuat penghuni seisi kelas tertuju pada mereka. Devan menjadi kebingungan, gantungan kunci itu dia tarik kembali. "Devan, apa yang kamu lakukan?" tanya seorang gadis yang sedang memakan permen. "Kamu berusaha nembak Desi?" goda seorang gadis temannya dengan rambut dikuncir. "Apa?" "Tidak, aku..." ucap Devan menggantung, dia langsung memasukan gantungan kunci itu ke saku celananya. Pertanyaan itu membuat yang lain menahan tawa. Sementara Devan, kebingungan dengan apa yang harus dia lakukan. Devan menurunkan tubuhnya berusaha menyamai gadis itu yang sedang memeluk lututnya. Devan berusaha menenangkannya, tangannya mengulur ke bahu gadis itu. Devan menepuk bahu pelan Desi beberapa kali, berharap dia akan menatap matanya. Gadis itu mendongak dengan mata yang memerah, Devan terkejut dengan hal itu. Dia terlihat sesenggukan, Devan dan Desi menjadi puaat perhatian. Teman-teman sekelasnya memandang Desi heran, mereka saling berbisik satu sama lain. Membuat Devan semakin panik, karena dia tidak mengetahui jika hal semacam ini akan terjadi. "Hayo loh... Devan, kamu apain dia?" tanya seorang laki-laki di belakang Devan. "Aku... Aku-" ucapan Devan terhenti ketika seseorang mengetuk pintu. Ketukan pintu itu membuat seluruh penghuni kelas melihat ke sumber suara. Setelah mengetahui siapa yang ada di balik pintu. Mereka berbondong-bondong duduk di tempatnya. Termasuk Devan yang langsung berlari kecil menuju tempat duduknya. Pria paruh baya itu berjalan ke depan. Dia adalah Pak Wirjo, guru yang paling ditakuti di sekolah. Entah apa yang terjadi setelah hal membingungkan kemarin. Hari ini bukanlah pelajarannya. Banyak Siswa yang kebingungan dengan kehadiran pria paruh baya yang membawa penggaris kayu panjang itu. "Saya hanya menyampaikan tugas dari Bu Rani, karena dia tidak masuk hari ini. Jadi saya yang mengawasi," ujarnya sembari menarik kursi guru ke tengah. Mereka benar-benar kurang beruntung kali ini. Pelajaran fisika yang banyak dimusuhi ditambah guru yang paling ditakuti. Keduanya ada di depan mata mereka. Sementara Devan menatap bingung gadis yang masih duduk di bawah meja. Dia masih memeluk lututnya dan membenamkan wajahnya. Rambutnya terurai dan sedikit berantakan. Pak Wirjo bangkit dari kursinya, dia berjalan sambil menepukkan penggaris ke telapak tangannya berkali-kali. Suara siulan darinya membuat yang lain hanya bisa menunduk berpura-pura sedang membaca soal. Dia menghentikan siulannya karena melihat tas di bangku yang terlihat kosong. Dia berjalan mendekati bangku itu, tangannya menapak meja. Bola matanya melihat ke segala arah. "Loh... Kamu di sini? Saya pikir kamu gak berangkat," tanya pria paruh baya itu sembari menunduk untuk melihat Desi yang masih dalam posisinya. Seketika banyak pasang mata yang melihat ke arah guru mereka itu. Desi mendongak perlahan ke arah sumber suara. Dengan mata yang memerah, seperti baru menangis. Dalam benaknya menjadi penuh tanya. Pria paruh baya itu pun mengangkat tubuhnya, dia melihat ke berbagai macam orang dalam kelasnya. Setiap orang diperhatikannya tanpa terkecuali. Setiap guru itu melihat ke murid-muridnya, mereka memalingkan wajah. Meski tidak mengetahui apa yang difikirkan gurunya. Mereka hanya berusaha menghindari masalah. "Oke, siapa yang buat Desi begini?" tanya Pak Wirjo. Mereka yang menunduk, seketika mengangkat wajahnya dan melihat ke arah orang yang bertanya. Mereka langsung menunjuk ke arah Devan sembari memanggil namanya serentak, kecuali Arga. Arga masih menunduk, karena dia tidak bisa memahami apa yang dilakukan kemarin. Dengan datang ke rumah guru yang paling dihindari di sekolah dan menggebrak meja ruang tamunya dengan penuh emosi. Hal itu sudah cukup membuatnya tidak berani menunjukkan wajahnya di depan gurunya itu. Devan yang sedang menyibukkan diri mengerjakan tugasnya. Tiba-tiba dipanggil namanya serentak oleh mereka, membuatnya terkejut. "Devan, Pak!" seru salah satu teman sekelasnya. "Eh?" heran Devan dengan melihat ke berbagai orang yang menunjuknya. "Apa? Aku?" tanya Devan sembari menunjuk diri sendiri. Pria paruh baya itu berjalan ke arahnya dengan penggaris panjang di tangannya. Hal itu membuat Devan menjadi takut. Keringat dingin bercucuran di pelipisnya, dia sama sekali tidak menyukai masalah. Sebisa mungkin dia ingin terhindar dari segala masalah yang ada di depan matanya. "Kamu apain Desi?" tanya Pak Wirjo dengan nada rendahnya. "Beneran, aku gak ngelakuin hal aneh," jawab Devan. "Terus kenapa dia nangis?" selidik pria paruh baya itu menepukkan penggaris ke telapak tangannya sesuai dengan detik yang berjalan. Suara penggaris yang sesuai dengan detik waktu. Membuat jantung Devan berdegup kencang, dia mengatur posisi duduknya. "A-Aku cuma mau ngasih ini," ucap Devan sembari menunjukkan gantungan kunci berbentuk hati dari sakunya. Pria paruh baya itu mengerutkan dahinya melihat benda yang ditaruh Devan di meja. Dia mendekati ke arah benda itu berada. Tangannya mengulur, mengambil gantungan kunci itu dari meja. Alisnya bertautan sembari melihat gantungan kunci dari berbagai sisi. Kemudian, bola matanya mengarah ke Devan. "Kamu mau nembak dia?" tanya pria paruh baya itu yang membuat seisi ruang menahan tawa mereka, termasuk Arga. Arga menutup mulutnya mencoba menahan tawa. Hingga sebuah penggaris kayu menepuk bahunya. Arga menghentikan tawa kecilnya, dia membelalakan matanya. Perlahan dia menoleh ke arah samping. Penggaris kayu yang dia ketahui milik Pak Wirjo ada di di bahunya. "Kamu kenapa ketawa?" tanyanya. "Eh, nggak Pak..." ucap Arga sembari tersenyum tipis dan kembali kepada tugas yang ada di depan matanya. Pria paruh baya itu kembali menatap Devan. Gantungan kunci yang ada di tangannya, dia lempar ke meja Devan. "Arga," panggil pria paruh baya itu. "S-Saya?" tanya Arga menunjuk dirinya. "Iya, memangnya ada berapa banyak Arga di kelas ini?" tanya Pak Wirjo. "M-Maaf Pak," ujar Arga. "Bantu temenmu, ya?" ucap Pak Wirjo sembari menepuk bahu Arga dengan tangan kanannya. Arga terdiam, menatap lurus ke depan setelah mendengar kalimat itu. Dia sangat mengerti apa yang gurunya itu maksud. Pria paruh baya itu berjalan ke depan. Sampai di depan kursi guru yang ia pindahkan, tangan kanannya membersihkan kursi dari debu yang tidak terlihat oleh matanya. Dia mengatur posisi duduknya dan kembali menepukkan penggaris ke telapak tangannya. Menyesuaikan detik waktu yang berjalan. Hal itu membuat muridnya kembali memandang tugas mereka. Devan menghela nafas ketika memandang gantungan kunci yang ada di samping buku catatannya. Tangannya meraih benda itu. Gantungan kunci yang bergerak ke kanan dan kiri saat dia mengangkatnya. Berwarna merah dengan bentuk hati, benda kecil ini membuatnya dalam kesalahpahaman yang tidak disukainya sama sekali. Devan kembali menaruh gantungan kunci itu di atas mejanya. Dia kembali mengerjakan tugas seperti biasanya. Arga menatap gurunya itu, dia nampak biasa saja setelah apa yang terjadi kemarin. Tapi, ucapannya tadi seperti menyuruh Arga untuk membantu orang lain agar kejadian yang sama tidak terulang kembali. Kejadian yang membuat orang menyesal di akhir kisah hidup seseorang. Peristiwa yang membuat mereka putus asa selama sisa hidupnya. "Devan," panggil Arga. Devan mengangkat wajahnya melihat ke arah orang yang memanggilnya. Dia menunggu beberapa detik sebelum Arga menjawabnya. "Kenapa?" tanya Devan. "Aku malas untuk membicarakannya tapi," ucap Arga menjeda kalimatnya. Kalimatnya membuat dahi Devan mengerut. Dia menatap serius Arga, menunggu jawaban darinya. "Tapi?" gaung Devan.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD