Bab 54

1031 Words
Setelah mengatakan apa yang dianggap benar oleh Nandini. Dia menatap pria itu dengan serius. Namun, pria itu hanya tertawa tidak mempercayai apa yang dikatakan oleh Nandini. "Jangan bercanda kamu ya," ucapnya sembari terkekeh. Nandini mengatakan yang sebenarnya. Tetapi, pria itu memberi respon yang sangat menyebalkan. "Apa? Aku sudah meninggal?" ucap pria itu dengan nada meremehkan kebenaran yang diungkapkan Nandini. "Lalu kamu sendiri gimana?" ucap pria itu. Nandini menggertakan giginya mendengar pertanyaan itu. Dia sangat kesal saat ini. "Aku sudah meninggal 16 tahun yang lalu," ucapnya dengan nada rendah sembari menatap ke bawah. "Pfft... Hahaha..." pria itu tertawa mendengar pernyataan itu keluar dari mulut seorang gadis yang ada di depannya. "Jangan terlalu banyak bicara," ujar pria itu. Nandini menghela nafas gusar. Dia menatap pria itu makin kesal. "Apa bapak buta?" tanya Nandini kemudian. "Apa anda tidak lihat? Sekitar anda banyak orang dengan pakaian mewah?" tanya Nandini menunjuk beberapa wanita yang memakai pakaian modis. "Tempat ini memiliki beberapa lantai di atas sana," ucapnya menunjuk ke atas. "Ini semua mimpi," ucap pria itu tidak ingin percaya. Riuhnya orang-orang yang berbicara sembari berjalam melewati mereka. Membuat suasana semakin runyam. Nandini telah mengatakan hal yang sebenarnya. Tetapi, dia sama sekali tidak ingin mendengarkannya. "Apa anda tidak lihat orang-orang ini?" tanya Nandini. Pria itu menatap sekitarnya. Namun, dia hanya menggedikan bahu tidak percaya. "Ini hanya mimpi... Benar kan?" ucapnya masih teguh terhadap anggapan. Nandini hanya bisa menghela nafasnya panjang. Entah bagaimana caranya agar dia bisa memahami situasi aneh ini. "Anda bukan lagi manusia," ujar Nandini. Lagi dan lagi, pria itu hanya tertawa sembari memegang perutnya. Seolah perkataan Nandini begitu lucu untuknya. Nandini semakin geram dengan sifat keras kepala orang itu. Membuatnya harus berfikir lebih keras. "Sudah berapa lama anda terjebak di sini?" tanya Nandini. Pria itu berhenti tertawa. Dia melihat ke atas sembari memegang dagunya. "Entahlah..." ucapnya. "Apakah anda yang melempar granat di perang terakhir anda?" tanya Nandini mencoba membuatnya mengingat. "Perang terakhir?" ucapnya sembari memandang Nandini. Nandini hanya mengangguk sebagai jawaban. Pria itu nampak memandangnya serius. Nandini mengembangkan senyumnya melihat pria itu seolah mengingatnya. Pria itu tertawa terbahak-bahak melihat senyum Nandini yang mengembang. Melihat itu, senyum Nandini pun menghilang perlahan. Raut wajahnya berubah menjadi kesal. Nandini menautkan kedua alisnya karena kesal. "Keras kepala banget..." gerutu Nandini. Pria itu masih tertawa sembari memegang perutnya. Nandini masih menatapnya dalam kesal. Jika dia masih hidup mungkin saat ini darahnya sudah naik. Nandini menunggu tawa pria itu berhenti. Hingga tawanya pun perlahan berhenti. Tatapannya seolah berubah, bola matanya menatap Nandini. Pria itu membelalakan matanya seperti baru menyadari sesuatu. Dia menggelengkan kepalanya cepat, seperti tidak ingin mengakui sesuatu dalam benaknya. Nandini menjadi terheran melihat kelakuan pria itu. Tatapannya membuat Nandini merasa terintimidasi. Dia mengerjapkan matanya beberapa kali karena tidak memahami apa isi fikiran pria itu. "A-Apa anda mengingat sesuatu?" tanya Nandini ragu. Pria itu masih diam, dia memundurkan langkahnya terbata-bata. Hingga dia salah melangkah dan jatuh terduduk. Senapannya terbentur lantai membuat suara yang terdengar keras bagi Nandini. Tetapi, tidak ada satu pun orang yang menyadarinya. Pria itu menatap lurus dengan bola mata yang berkaca-kaca. Dia memandang Nandini dengan tatapan sendu. Nandini yang menyadari pria itu telah mengingat semuanya. Nandini pun mengubah posisinya menjadi jongkok. Dia menatap pria itu. Nandini berusaha menenangkannya dengan menepuk-nepuk bahunya. Nafas pria itu terlihat tidak teratur. Dia terengah-engah, seolah baru saja mengalami sesuatu yang berat. Namun, seperti s**u yang dibalas tuba. Dimana Nandini yang berniat baik kepadanya. Tetapi pria itu malah menyerang Nandini. Pria itu mendorong Nandini hingga terdorong cukup jauh. Nandini meringis kesakitan karena terdorong agak jauh. Sekitar lima meter dari orang itu. Nandini pun bangkit dari jatuhnya. Dia berjalan di antara para manusia yang melewatinya. Pria itu terlihat kebingungan. Dia memegang kepala dengan kedua tangannya sembari bola mata yang menatap ke segala arah. Nandini kini berdiri di depannya. Bola matanya bergerak perlahan ke arah Nandini. Dia menatap Nandini dengan bola mata yang terbuka lebar. "B-Bangunkan aku," ucapnya terbata-bata. "Apa?" ucap Nandini tidak mengerti. Pria itu menatapnya serius, "Bangunkan aku sekarang juga!" ucapnya meninggikan nada suaranya. Sontak Nandini terkejut dengan suara pria itu. Dia spontan memundurkan kakinya. Pria itu berdiri dan menghadap Nandini. Senapannya diambil dan diarahkan ke arah Nandini. Senapan itu tepat berada di depan wajah Nandini saat ini. Kedua bola matanya terlihat ke tengah melihat senapan yang cukup dekat di antara kedua matanya. Perlahan dia mengangkat kedua tangannya ke atas. "Bangunkan aku sekarang juga!" ucap pria itu lagi. Nandini kembali menatap pria itu. Tentu saja, jika ini adalah mimpi. Dia akan melakukan segala cara untuk bangun. "I-Ini bukan mimpi," ucap Nandini mulai ketakutan lagi. Selang beberapa detik terasa hening di antara keduanya. Meskipun mereka berada pada tempat yang paling ramai sekali pun. Suasana yang riuh tidak dihiraukan oleh mereka berdua. Salah satu dari mereka adalah yang paling benar. Sementara yang lain menganggap dirinya yang paling benar. Senapan itu masih menodong ke arah Nandini. Situasi yang membuat Nandini harus menelan ludahnya sendiri beberapa kali. "Ini bukan mimpi," ucap pria masih berpegang teguh pada pendapatnya. Nandini menggertakan giginya karena geram melihat pria itu. Tangannya memegang senapan apinya. Kali ini dia tidak masuk ke dalam masa lalu si pemegang senapan. Tangan kanannya memegang senapan itu dan menggesernya. Nandini menyingkirkan senapan itu ke sempingnya. Dia menatap tajam pria itu. "Jika anda memang menyayangi istri anda... Maka pergilah temui dia segera," ucap Nandini masih memegang senapannya. Pria itu sontak terkejut melihat tatapannya. Dia menjadi ragu untuk kembali mengarahkan senapannya tepat di wajahnya. "Senapan ini gak ada gunanya," ujar Nandini penuh percaya diri. Meskipun Nandini mengetahui jika dirinya tidak tahu apakah senapan itu berfungsi terhadapnya atau tidak. Tetapi dengan kepercayaan diri yang tinggi membuatnya berhasil membuat pria itu kembali menurunkan senjatanya. "Urusan anda harusnya sudah selesai, karena ini dulunya rumah anda," ucap Nandini sembari menunjuk tempat yang tengah dipijak. "Rumah ini... dulunya rumahku?" ucapnya menatap ke segala arah. "Benar... Sepertinya ini memang rumahku," ucapnya lagi. Pria itu menyadari apa yang telah terjadi pada dirinya dahulu. Membuatnya meneteskan air mata kala mengingat semua kenangan yang ada sebelum gedung ini dibangun. Pria itu memutar tubuhnya agar dia bisa melihat sekelilingnya. Tempat yang amat berbeda dari sebelumnya terlihat jelas. Dia hampir tidak bisa mengenal rumahnya. Hingga ingatannya kembali, dia mengingat bagaimana dirinya mati dan mengucapkan kata terakhirnya. "Urusan anda sudah selesai..." ujar Nandini.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD