Bab 43

1029 Words
Devan berjalan sembari melihat beberapa orang yang lewat di depannya. Hingga dia kembali menunduk dan mengingat keluh kesah Putri Senyum yang dia lihat saat berjumpa tadi. Membuatnya bingung dengan raut wajah yang dia lihat tadi malam. Putri seolah tidak merasakan sedihnya hari ini. Keresahan yang dia lihat tadi malam. Seolah sirna begitu saja oleh berjalannya waktu. Kemarin malam... Devan baru saja memberikan gantungan kunci kepada Desi. Dia berpamitan lalu pergi, baru saja sampai di depan pintu kamar Desi. Devan melihat Putri yang tengah bersender di tembok sembari memainkan jarinya. Kepalanya menunduk, seperti tenggelam dalam fikirannya sendiri. Devan meraih pundaknya, hingga dia terkejut dibuatnya. Putri menatap Devan sembari tersenyum ragu dan menggaruk kepalanya. Tidak ingin ambil pusing, Devan berjalan mendahuluinya. Sementara Putri, hanya mengekor kepadanya di belakang. Putri terlihat terdiam seribu bahasa. Membuat malam yang sunyi sedikit menakutkan bagi Devan. Embusan angin yang menerpa, membuat Devan harus melipat tangannya di depan d**a untuk menghangatkan dirinya. Ditambah gelapnya malam di jalanan yang sepi. Devan memundurkan langkahnya agar bisa sejajar dengan Putri. Bola matanya masih bergerak ke sana dan kemari melihat daerah sekitarnya. Terasa sunyi, hanya ada suara kicauan burung pada malam hari yang sangat jarang Devan dengar. Meskipun bulan menyinari gelapnya malam, tetapi bagi Devan tetap saja masih membuatnya merinding. Bola mata Devan terus bergerak melihat ke segala arahnya. Mengawasi setiap tempat yang terjangkau oleh pandangannya. Berharap tidak ada sesuatu yang bergerak atau muncul dan tertangkap oleh indera penglihatannya. Devan menyadari jika kejanggalan itu berada di dekatnya. Dia menoleh ke arah Putri yang terlihat terdiam. "Putri?" panggil Devan. Namun, Putri seolah tidak mendengar panggilannya dan tetap diam. Dia berjalan sembari menunduk. Tubuhnya mungkin bergerak, tetapi isi otaknya berjalan kemana-mana. Membuat Devan heran melihatnya. Rasa takutnya akan kegelapan malam, perlahan hilang oleh diamnya Putri yang menbuatnya penasaran. Namun, diamnya Putri malah membuat Devan ketakutan. Putri sudah kerasukan hantu wanita paruh baya itu. Membuatnya berfikir, jika hantu itu bisa saja kembali ke tubuh Putri. "P-Put?" panggil Devan sembari menelan salivanya. Devan memberanikan diri menyentuh bahunya. Namun, bukannya Putri yang terkejut. Devan malah terkejut karena respon Putri yang perlahan menoleh ke arahnya seperti kerasukan hantu. "Putri, ini kamu bukan?"tanya Devan terlihat menjauhkan diri dari Putri. Putri menoleh perlahan tanpa menggerakan bola matanya untuk melihat ke arah Devan. Dia menoleh dengan tatapan lurus yang membuat Devan ketakutan. "Hei! I-Ini Putri bukan?" ucap Devan terbata-terbata. Putri hanya mengangguk dan kembali berjalan. Membuat anggapan Devan semakin kuat. Bahwa dia bukanlah Putri. Dengan keberanian untuk menyelamatkan temannya. Devan berlari untuk menghadang jalan Putri. Devan membentangkan tangannya agar Putri tidak pergi ke rumahnya. Putri melangkahkan kakinya ke sisi kanan dan kiri. Menghindari Devan yang menghalangi jalannya. "Ck, kamu ngapain sih?" tanya Putri kesal. Devan menurunkan kedua tangannya melihat Putri kembali seperti semula. Dia memperhatikan lekat-lekat orang yang ada di hadapannya. "Kamu ngapain?" tanya Putri dengan kesal. "A-Aku pikir tadi... Kesurupan," ucap Devan sembari menunjuk Putri. Tangan Putri mengulur dan meraih tangan Devan yang menunjuknya. Dia menurunkan tangannya perlahan sambil berjalan mendekat. "Kesurupan dari mana?" tanya Putri dengan kesal. Devan memundurkan langkahnya. Kemudian Putri berjalan melewati Devan sembari menggerutu akan kelakuan teman masa kecilnya itu. "Eh? Gak kesurupan, toh?" gumam Devan. Devan berbalik dan berjalan cepat mengejar Putri. Di samping orang yang menggerutu tentang dirinya, membuat Devan tidak merasa ketakutan lagi. Aneh memang, tetapi setidaknya Devan tidak merasa ketakutan lagi. "Bisa-bisanya mikir kalo aku lagi kesurupan!" gerutu Putri. "Emangnya aku ini apa?" ucap Putri berbicara sendiri. "Lanjutkan..." gumam Devan sembari tersenyum menatap ke depan. Putri yang mendengar langsung menatap Devan yang berjalan di sampingnya. Putri terlihat kesal dengan perkataan yang diucapkan Devan. "Apanya yang dilanjutkan," ucap Putri dengan tatapan tajamnya. Devan menoleh mendengar perkataan Putri. Melihat tatapan tajamnya, membuat Devan terkejut. "Eh... Apanya?" tanya Devan tidak berani menatap matanya. "Apanya, apanya... Tadi bilang 'lanjutkan'. Emang 'lanjutkan' apa?" tanya Putri sembari menghadap Devan. "A-Apa ya..." ucap Devan ragu. "Ck," decak kesal Putri. Melihat Putri berjalan menjauh darinya. Devan mengekor di belakang Putri. Devan masih memandang tas punggung berwarna biru yang dikenakan Putri. Melihatnya berjalan di depan, membuatnya bertanya-tanya apa yang difikirkannya sehingga bisa diam seperti bukan dirinya. "P-Putri..." panggil Devan ragu. "Hah? Apa?" ucap tanpa menoleh ke arahnya. "Apa yang kamu pikirkan tadi?" tanya Devan. Pertanyaan itu berhasi membuatnya berhenti melangkah. Putri menoleh ke arahnya, dia memutar badannya agar sehadap dengan lawan bicaranya. "Aku hanya... teringat ibu aku aja," ucap Putri sembari tersenyum kecut. Setelah mengatakannya dia kembali berbalik dan berjalan terlebih dahulu. Melihat raut wajah yang sedih setelah mengatakannya. Membuat Devan berempati dan kembali berjalan di sampingnya. "Kamu merindukannya?" tanya Devan sembari menoleh ke lawan bicaranya. "Entahlah..." ucap Putri sembari menunduk perlahan dan tersenyum. Devan merasa salah dalam berkata, dia menyalahkan dirinya dalam benaknya. Putri terlihat semakin sedih mendengar pertanyaan yang keluar dari mulutnya sendiri. Senyuman itu bukan senyuman kebahagiaan, tetapi senyuman yang miris nampak jelas dari wajah Putri. "Kejadian yang terjadi hari ini..." ucap Putri sembari menatap jalanan. Ucapannya itu membuat Devan menatap Putri. Jeda kalimatnya membuat Devan harus menunggu. "Sudah kuduga, harusnya kamu jangan ikut!" ujar Devan percaya diri. "Bukan, sok tau!" kesal Putri. "Maaf..." ucap Devan sembari menunduk karena menyesal. "Hah..." Putri menghela nafas gusar. Suasana semakin hening, kala Putri tidak melanjutkan perkataannya. Membuat Devan terheran dengan apa yang ada dalam otaknya. "Lalu... Ada apa?" tanya Devan penasaran. Putri menatapnya sekilas, berjalan sembari menatap lurus ke jalanan. Malam dengan angin yang dingin, menambah kerinduan akan sosok yang dia ingat. "Pernah gak kamu berpikir..." ucap Putri menggantung. "Ibunya Desi masih tetap berada di sisinya dan ingin tetap menemani anaknya, Kakakmu berada di sini karena ingin bersama keliuarganya," papar Putri. "Lantas apakah..." ucap Putri sembari menghela nafas gusar. Putri memijat keningnya sembari menutup matanya. Ketika matanya terbuka, matanya berkaca-kaca. Putri menarik nafasnya panjang, dan tersenyum. "Apakah... Ibuku tidak merindukan anaknya?" ucap Putri dengan senyum yang masih terukir di wajahnya. Devan terdiam, dia juga tidak tahu harus mengatakan apa untuk menenangkannya. Hingga Putri mengusap air matanya yang hampir jatuh dan tertawa hambar. Devan hanya bisa menatapnya dalam diam. Putri semakin jauh darinya. Setelah kejadian itu, Devan merasa bersalah karena telah menanyakan pertanyaan semacam itu. Kini Devan menunduk merenungkan semua hal itu dalam otaknya. Saat Devan memasuki kelasnya. Dia menemukan Desi dan Arga yang tengah berbincang. "Cepet banget baikannya," gumam Devan.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD