bc

LOVE CARRIED BY GUSTS OF WIND

book_age16+
3
FOLLOW
1K
READ
BE
stepfather
blue collar
drama
secrets
like
intro-logo
Blurb

Anita adalah seorang siswi kelas 2 SMA yang dikenal hampir oleh seluruh warga sekolah. Bukan hanya karena wajahnya yang cantik dan senyumnya yang manis, tetapi juga karena prestasinya yang selalu membanggakan. Setiap semester, namanya hampir tidak pernah absen dari daftar siswa berprestasi. Guru-guru menyukainya karena Anita termasuk murid yang rajin, disiplin, dan bertanggung jawab terhadap tugas-tugas sekolah. Teman-temannya juga merasa nyaman berada di dekatnya karena Anita dikenal ramah dan suka membantu siapa saja yang mengalami kesulitan dalam belajar.

Menjelang ujian kenaikan kelas, kehidupan Anita menjadi semakin sibuk. Hampir setiap hari ia menghabiskan waktu untuk membaca buku, mengerjakan latihan soal, dan membuat rangkuman materi pelajaran. Ia memiliki target untuk mempertahankan nilai-nilai terbaiknya sehingga bisa tetap berada di peringkat atas. Bagi Anita, pendidikan adalah hal yang sangat penting. Ia percaya bahwa usaha yang dilakukan sejak sekarang akan menentukan masa depannya kelak.

Meski dikenal sebagai sosok yang sabar dan baik hati, Anita sebenarnya memiliki satu kelemahan yang diketahui oleh teman-teman dekatnya. Kesabarannya bisa habis dalam hitungan detik ketika berhadapan dengan orang yang sengaja membuatnya kesal. Karena itulah banyak siswa yang mengaguminya dari jauh, tetapi tidak banyak yang berani mengganggunya secara langsung. Mereka tahu bahwa Anita bisa berubah menjadi sangat cerewet ketika sedang marah.

Di sisi lain, terdapat seorang siswa yang memiliki kepribadian sangat bertolak belakang dengan Anita. Siswa itu bernama Febian. Jika Anita adalah simbol siswa teladan, maka Febian bisa dikatakan sebagai kebalikannya. Ia sering datang ke sekolah dengan wajah mengantuk karena terlalu lama bermain game pada malam hari. Saat pelajaran berlangsung, ia lebih sering tidur di meja daripada memperhatikan guru yang sedang menjelaskan materi. Nilai-nilainya juga tidak terlalu memuaskan sehingga sering menjadi perhatian guru.

Walaupun demikian, Febian bukanlah siswa yang dijauhi teman-temannya. Justru sebaliknya, ia memiliki banyak teman karena sifatnya yang santai dan mudah bergaul. Ia selalu berhasil membuat suasana menjadi ramai dengan berbagai lelucon yang dilontarkannya. Namun di balik sikap santainya, terdapat kebiasaan buruk yang tidak diketahui banyak orang. Febian sering bermain-main dengan perasaan beberapa siswi dan tidak terlalu serius dalam menjalin hubungan pertemanan dengan lawan jenis.

Salah satu teman dekat Febian adalah Andi. Berbeda dengan Febian, Andi merupakan siswa yang rajin dan cukup bertanggung jawab. Ia sering menasihati Febian agar lebih serius dalam belajar. Sayangnya, nasihat tersebut jarang didengarkan. Bagi Febian, bermain game jauh lebih menyenangkan daripada menghabiskan waktu untuk membaca buku pelajaran.

Suatu hari, suasana kelas terasa lebih tenang dari biasanya. Bu Ayu, wali kelas mereka, baru saja selesai memberikan tugas kepada seluruh siswa. Setelah memastikan semua siswa mencatat tugas yang diberikan, beliau berdiri di depan kelas dan mulai memberikan pengumuman penting mengenai ujian kenaikan kelas yang akan dilaksanakan beberapa minggu lagi.

Bu Ayu mengingatkan seluruh siswa agar mulai belajar dengan lebih giat. Beliau menjelaskan bahwa ujian tersebut sangat penting karena akan menentukan kelulusan mereka ke jenjang berikutnya. Hampir semua siswa mendengarkan dengan serius, kecuali satu orang yang terlihat menguap berkali-kali di bangkunya. Orang itu tentu saja adalah Febian.

Melihat hal tersebut, Bu Ayu langsung menegur Febian di depan kelas. Teguran itu membuat seluruh siswa tertawa. Anita yang duduk tidak jauh dari Febian pun ikut menertawakannya. Ia bahkan sempat menyenggol lengan Febian dan mengingatkannya agar mendengarkan penjelasan guru.

Namun kejadian yang benar-benar mengejutkan terjadi ketika Bu Ayu meminta Anita untuk membantu membimbing Febian belajar hingga ujian selesai. Seluruh kelas langsung riuh. Anita membelalakkan matanya karena tidak menyangka akan mendapatkan tugas tambahan seperti itu. Sementara Febian terlihat sama terkejutnya.

Bagi Anita, mengajari Febian sama saja seperti mengajari tembok berjalan. Ia sudah membayangkan betapa sulitnya membuat siswa pemalas itu fokus belajar. Di sisi lain, Febian juga merasa tidak senang karena harus belajar bersama seseorang yang menurutnya terlalu cerewet.

Perdebatan kecil langsung terjadi di depan teman-teman mereka. Anita mengeluh bahwa tugas tersebut hanya akan menambah beban pikirannya. Febian pun membalas dengan mengatakan bahwa dirinya bukan beban siapa pun. Adu mulut itu membuat seluruh kelas tertawa karena sudah terbiasa melihat mereka berdua bertengkar hampir setiap hari.

Setelah jam pelajaran selesai, Anita memutuskan pergi ke kantin bersama sahabatnya, Sintia. Mereka berharap bisa menikmati waktu istirahat dengan tenang sambil makan siang. Namun harapan tersebut ternyata tidak berlangsung lama.

Saat sedang membawa makanan, Anita tiba-tiba tersenggol seseorang

chap-preview
Free preview
*SEKOLAH SENIN* BAB I
Senin pagi di SMA Bonje terasa lebih ramai dari biasanya. Hari itu, kelas 11A mendapat tugas menjadi petugas upacara bendera. Anita, yang merupakan salah satu petugas, berdiri bersama teman-temannya dengan wajah yang terlihat cukup panik. Ia ditugaskan sebagai salah satu pemegang bendera. “Aduuhh, gimana yaa... Aku panik nih, Gaes,” ucap Anita dengan wajah cemas. Sintia, teman Anita yang selalu perhatian, mencoba menenangkannya. “Gapapa, Anita. Kita kan sudah latihan kemarin. Jadi jangan panik, ya. Percaya aja, upacaranya pasti berjalan lancar.” Anita menarik napas panjang dan mengangguk. “Iya deh. Semoga lancar.” Tak lama kemudian, upacara pun dimulai. Upacara bendera hari Senin, 10 April 2023, dimulai. — Lewati setelah upacara selesai — “Alhamdulillah, lancar ya, Sin,” ucap Anita lega setelah upacara selesai. “Iya, Nit. Yaudah, yuk ke kelas. Kita belajar buat matematika. Sebentar lagi kan ulangan,” jawab Sintia. “Baiklah. Yuk!” Mereka berdua segera kembali ke kelas. Selain belajar untuk menghadapi ulangan matematika, Anita dan Sintia juga mendapat tugas dari Bu Ayu untuk mengumpulkan buku-buku siswa ke ruang guru sebelum ulangan dimulai. Anita kemudian berdiri sambil melihat ke arah teman-temannya. “Gaes, bukunya disuruh kumpulin sama Bu Ayu!” teriak Anita. Febian yang sedang asyik bermain game hanya melirik sebentar. “Loh, kenapa dikumpulin? Emang ada tugas?” tanyanya santai. Sintia langsung menatap Febian dengan heran. “Kan ada ulangan bentar lagi. Ulangan matematika, kamu lupa, Feb?” Febian langsung terdiam. “Eh, iyaaa! Aku lupa. Bentar, aku belajar dulu. Dua menit doang, ya!” Ia buru-buru mengambil buku matematika dari dalam tas. Anita yang melihat tingkah Febian langsung menggeleng-gelengkan kepala. “Ngapain belajar sekarang? Bukunya kan sudah disuruh kumpulin sama Bu Ayu. Masa aku harus nunggu kamu yang baru mulai belajar? Nanti malah aku yang dimarahin sama Bu Ayu.” “Nyenyenyenye... Sabar dulu, Anita. Aku belum belajar sama sekali. Bentar aja,” jawab Febian sambil tetap membuka bukunya. Anita mulai kesal. “Ya nggak bisa dong! Dari tadi banyak waktu buat belajar. Siapa suruh main game terus?” “Dih, aku lupa, ya! Kalau nggak lupa, aku pasti udah belajar dari tadi. Andi juga kenapa nggak bilang dari tadi? Malah belajar sendiri.” Andi yang sejak tadi duduk tidak jauh dari mereka langsung menoleh. “Nah, kan aku juga kena. Tak kirain kamu memang nggak mau belajar. Yasudah, aku belajar sendiri.” “Lihat tuh! Andi aja sampai males ngurusin kamu,” tambah Anita. Perdebatan kecil antara Anita dan Febian pun kembali terjadi. Sintia dan Andi sebenarnya sudah terbiasa melihat mereka bertengkar seperti itu. Hampir setiap hari selalu ada saja hal yang membuat Anita dan Febian saling berdebat. Namun, suara Anita yang cukup keras akhirnya terdengar sampai ke luar kelas. Tak lama kemudian, Bu Ayu datang. “BERHENTIIII!” Suara Bu Ayu membuat seluruh kelas langsung diam. “Kalian kenapa? Sampai terdengar ke luar kelas suara kalian, Anita!” Anita langsung terdiam. “Ini, Bu... Febian nggak mau ngumpulin bukunya. Katanya dia belum belajar. Saya suruh ambil bukunya, tapi malah diambil lagi sama Febian.” Febian langsung menyela. “Ya, Ibu... dia nggak mau nunggu sebentar. Orang saya mau belajar dulu.” Bu Ayu menghela napas panjang. “Sudah! Sudah! Sekarang ayo mulai ulangannya. Anita, bukunya letakkan di meja guru depan.” “A-ah, baik, Bu.” Anita segera mengambil buku-buku tersebut dan meletakkannya di meja guru. Setelah semuanya siap, Bu Ayu meminta seluruh siswa untuk berdoa sebelum memulai ulangan. Mereka pun berdoa bersama-sama agar ulangan hari itu berjalan lancar. Setelah selesai berdoa, Bu Ayu melihat posisi tempat duduk para siswa. “Rifki, tolong pindah ke tempat Febian, ya. Febian, kamu silakan pindah ke depan, duduk di samping Anita.” Febian langsung memasang wajah tidak terima. “Hah? Kok di samping Anita sih, Bu? Nggak mauu. Nanti Anitanya nyontek.” Anita langsung melotot. “Dih! Siapa juga yang mau nyontek ke kamu? Jangan sok pintar deh!” “Astaga...” Bu Ayu memijat pelipisnya. “Sudah, Febian. Kamu pindah saja. Jangan banyak bicara. Ulangan mau dimulai.” “Suruh siapa nggak belajar,” lanjut Anita sambil mencibir. Andi ikut menyela. “Udah sana pindah, Feb. Daripada tambah dimarahin Bu Ayu.” Namun, Febian masih belum beranjak dari tempat duduknya. Ia masih mengomel sambil sesekali melirik ke arah Anita. “Kenapa sih harus aku?” “Febian!” “Iya, iya!” Akhirnya, setelah mendapat teguran lagi dari Bu Ayu, Febian terpaksa pindah ke tempat duduk di samping Anita. Begitu duduk, keduanya langsung saling melirik dengan tatapan sinis. Bahkan mereka sengaja menjauh sedikit dari meja masing-masing, seolah-olah tidak ingin duduk berdekatan. Bu Ayu mulai membagikan lembar soal ulangan kepada seluruh siswa. “Anak-anak, silakan dikerjakan dengan tenang. Jangan ada yang menyontek.” “Baik, Bu.” Suasana kelas perlahan menjadi sunyi. Semua siswa mulai mengerjakan soal dengan serius. Namun, ketenangan itu tidak bertahan lama. Febian kembali berbisik kepada Anita. “Anitaaa... jangan nyontek, ya.” Anita mengabaikannya. “Apaan sih kamu? Nggak jelas banget.” “Emang berani?” “Yaudah, aku laporin Bu Ayu!” Febian malah tertawa kecil. “Emang berani? Silakan.” Anita langsung mengangkat tangan. “Bu Ayu! Febian, Bu!” Seluruh siswa yang mendengar langsung menahan tawa. Bu Ayu menoleh ke arah mereka. “FEBIAN! BISA DIAM? Apa mau Ibu pindahkan ke ruang guru?” Febian yang tadinya masih berani langsung diam. “B-baiklah, Bu.” Kelas kembali hening. Semua siswa kembali fokus mengerjakan ulangan. Anita pun mulai mengerjakan soal dengan serius. Sementara itu, Febian sesekali masih melirik ke arah Anita dengan senyum jahilnya. Anita yang menyadarinya hanya menghela napas kesal. Beberapa menit kemudian... “Anita... Febian...” suara Bu Ayu terdengar dari depan kelas. Keduanya langsung menoleh. “Mau Ibu pindahkan ke ruang guru?” Anita dan Febian langsung menggeleng bersamaan. “A-ah, nggak, Bu. Maaf,” jawab mereka hampir bersamaan. Bu Ayu menghela napas. “Sudah. Kerjakan ulangannya. Waktu mengerjakan sampai bel istirahat berbunyi.” “BAIK, BU!” jawab seluruh siswa serempak. Kelas kembali sunyi. Namun, bagi Anita, duduk bersebelahan dengan Febian selama ulangan terasa seperti sebuah ujian tambahan yang tidak pernah ia minta.

editor-pick
Dreame-Editor's pick

bc

Putri Haram Konglomerat untuk Tuan Muda Cacat

read
12.7K
bc

Gairah Lama Kembali Membakar

read
2.0K
bc

Kuliah Malam Bersama Dosen Hot

read
156.2K
bc

Orang Ketiga

read
36.6K
bc

B̶u̶k̶a̶n̶ Pilihan Hatimu

read
114.0K
bc

Babysitter Canduku

read
19.8K
bc

Ranting Yang Patah

read
40.2K

Scan code to download app

download_iosApp Store
google icon
Google Play
Facebook