Semoga like bisa semakin banyak!!! Biar aku semangat update-nya hahahaha
Jelita
10 Hari Sebelum Pernikahan
Barusan saja Mas Andrian menghubungiku dan mengabari bahwa dia akan menjemputku di tempat aku mengajar. Hari ini kami harus melakukan fitting baju pengantin. Mama sudah menunggu di butik, tetapi aku memang harus mengajar dulu sebelum ke sana.
Walau aku bisa pergi sendiri, tetapi Mas Andrian berkeras ingin menjemput dan kini aku akan kembali bertemu dengannya.
Tok tok
Aku mengetuk mobil Mas Andrian. Seketika itu juga, Mas Andrian keluar dari mobil dan mengecup bibirku.
"Hai," sapanya dan aku tertunduk malu.
Tapi tidak lama, Mas Andrian kembali mengangkat daguku. Lagi dia akan menciumku. Aku yang masih belum terbiasa kembali menutup mata.
Lama menunggu bibir lembut Mas Andrian tidak kunjung menyentuh bibirku. Akhirnya aku membuka mata dan saat itulah Mas Andrian menyatukan bibir kami. Penyatuan yang sangat dalam dan membuat sesak nafas.
Sesak nafas ini tetapi berbeda, ini sesak yang menyenangkan. Aku mulai menyukai ciuman Mas Andrian ini. Bagaimana ini?
Butik Pengantin
Aku baru saja selesai mencoba baju pengantin yang akan kukenakan nanti. Namun aku merasa sedih dan malu untuk keluar dari ruang ganti ini.
"Gak cocok Ma. Jadi kelihatan tua dia. Gak ada gaun yang biasa-biasa aja apa?" ucap Mas Andrian sebelumnya.
Benarkah aku sangat tidak cocok mengenakan baju yang mahal ini? Pasti memang hanya gaun biasa yang cocok kukenakan.
Biar bagaimanapun memang aku tidak akan pernah cocok dengan Mas Andrian. Jadi aku akan mengikuti keinginan Mas Andrian saja. Aku tidak ingin membuatnya merasa malu.
Sepulang dari butik, sebelum diantar oleh Mas Andrian pulang Mama mengajakku untuk bicara berdua saja.
"Ta, nanti 7 hari sebelum hari pernikahan kalian kamu dijemput sama Anita ya," ucap Mama.
"Oh mau ke mana Ma?" tanyaku penasaran.
"Kalian dipingit jadi gak boleh ketemu dulu," jawab Mama kembali.
"Tapi kamu gak usah kasih tau Mas Andrian dulu ya. Nanti dia bantah lagi sama Mama," bujuk Mama kembali.
"Iya Ma," jawabku patuh.
*****
6 Hari Sebelum Pernikahan
Sejak kemarin Mas Andrian tidak berhenti juga menghubungiku. Aku takut Mas Andrian marah besar karena ini. Walau dipingit seharusnya tidak masalah bukan hanya mengangkat teleponnya saja?
Ini sudah hari keduaku tinggal di sebuah hotel bersama Anita. Aku resmi dipingit sejak kemarin dan sejak saat itu juga aku tidak berkomunikasi sama sekali dengan Mas Andrian.
Akan tetapi kali ini aku mengangkat teleponnya "Halo Mas ...."
"Jelita kamu di mana?" tanya Mas Andrian di seberang sana.
"Aku sama Anita Mas. Kan gak boleh ketemu dulu," jawabku ragu-ragu.
"Kenapa gak boleh?" Mas Andrian kembali bertanya.
"Aku ...." jawabanku terputus saat Anita meraih handphone dan menjawab sebagai gantiku.
"Kenapa gak boleh? Ya gak bolehlah. Jadi suami sah dulu baru ketemu."
Sambungan telepon sudah diputus begitu saja oleh Anita. Ada sedikit rasa kecewa di hatiku karena belum berbicara terlalu lama dengan Mas Andrian.
"Lo kenapa ngangkat telepon Mas sih Ta?" tanya Anita.
Aku tak menjawab, lebih tepatnya tidak tahu ingin menjawab apa.
"Kalian tuh lagi dipingit. Lagian ya memang sih telponan gak masalah. Tapi biar si kunyuk itu tau sedikit rasa butuh lo. Jangan dia kira lo yang butuh dia."
Aku mengangguk setelah Anita menasehatiku.
"Pokoknya gak ada ngangkat telepon lagi ya Ta. Gue marah nanti sama lo," Anita sekali lagi memperingatkanku.
*****
3 Hari Sebelum Pernikahan
Jelita sedang menikmati perawatan kecantikan yang dikirimkan oleh calon mertuanya saat tiba-tiba sebuah pesan masuk ke handphone-nya.
From: Mas Andrian
Aku sudah di lobby hotel. Anita gak ada di atas kan? Nanti aku kirim SMS kamar aku, kamu ke sana segera. Aku tunggu.
Sekarang Mas Andrian mau apa lagi? Kenapa lagi ya? Aku tidak ingin menemuinya tapi aku sudah berjanji akan selalu menurutinya. Jadi cepat-cepat aku meminta para pekerja yang merawat tubuhku untuk meninggalkan kamar hotel.
Setelahnya aku membersihkan diri dan menunggu pesan Mas Andrian berikutnya datang.
Ting...
From: Mas Andrian
Ke kamar 805 sekarang!
*****
Kamar 805
Aku termenung di depan pintu kamar hotel ini. Aku kemudian mengetuknya perlahan dan saat itu juga Mas Andrian nampak membukakan pintunya.
Tangan kokohnya kemudian menarik lenganku masuk ke dalam.
"Mas ada apa?" tanyaku sambil mengikuti tarikannya.
Mas Andrian menoleh dan kemudian berhenti. Dia mengamati wajahku beberapa saat dalam diam. Aku sempat sesaat memandang matanya yang penuh dengan kekhawatiran.
Tak lama Mas Andrian kebali menarikku dan kali ini menjatuhkanku di atas ranjang empuk kamar hotel ini.
"Mas kenapa? Mau apa ini?" aku masih membeokan pertanyaan untuknya.
Sesaat sunyi tak ada jawaban. Mata kami beradu dan ... "Aku kangen sama kamu," jawab Mas Andrian sambil menangkup kedua wajahku dengan kedua telapak tangannya.
Deg...Deg...Deg
Bersambung