Bab 4 - Jadi Suami Sah

1090 Words
Aku tunggu like yang banyak ya!!!!!! Andrian "Jadi kamu mau daftar di jurusan apa?" tanyaku pada si Jelita yang terus mengalihkan pandangannya. "Aku ...." Jelita terlihat masih ragu untuk menjawab. "Kamu masih bercita-cita jadi dokter?" pertanyaan ini sengaja kuberikan. "Masihhhh," tebakanku tepat, jawabannya sangat bersemangat. "Mau daftar di kedokteran berarti?" lagi aku mengarahkannya untuk jujur. "Tapi Mas ... kuliah dokter itu mahal ... lama lagi ... kita ...." jawabannya terputus-putus karena keraguannya. "Gak masalah. Biaya aku yang tanggung. Waktu gak perlu dipikirin, asalkan kamu tetap jadi istriku yang nurut nantinya," jawabku sambil mengambil formulir pendaftaran mahasiswa kedokteran di kampus ini. Seluruh proses pendaftaran kuliah Jelita telah selesai. Aku sudah mengatakan padanya, setiap kali dia menuruti keinginanku sebagai gantinya aku akan menuruti keinginannya. Aku tahu keinginan terbesarnya adalah kuliah dan menjadi dokter. Tugasku mewujudkan apa yang diinginkannya tersebut, walau dengan sedikit memaksa seperti ini. ***** Sepanjang perjalanan aku mengantar Jelita ke rumahnya, tidak ada perbincangan yang terjadi di antara kami. Aku memang sudah mengejutkannya dengan apa yang kulakukan di malam sebelumnya. Malam itu, aku berhasil memastikan bahwa Jelita pun memiliki ketertarikan yang sama padaku. Walau dia menikah denganku karena terpaksa, paling tidak reaksi tubuhnya padaku tidak dipaksakan. Akhirnya kami sampai di gang rumah kontrakan ini. Aku mengikuti Jelita berjalan menuju rumahnya. Hari ini aku akan menemui ibunya dan akan meminta izin untuk menikahinya. "Eh Jelita sudah pulang. Loh ini nak Andrian kan?" aku mendekatinya sambil mencium tangan ibu. "Iya bu. Saya Andrian. Ibu gimana keadaannya? Sehat?" tanyaku. "Ibu sehat nak. Oh iya ibu belum sempat bilang terima kasih sudah membantu ibu dan Jelita di kejadian waktu itu. Ibu takut sekali nak, Jelita bisa diambil sama mereka." Penjelasan ibu Jelita sudah mulai mendatangkan air mata di pelupuknya. "Ibu gak usah terima kasih bu. Saya merasa bertanggung jawab untuk Jelita, karena itu juga sebenarnya saya datang hari ini," aku mencoba memulai penjelasan. "Maksudnya apa ya nak?" ibu Jelita mulai terlihat bingung. "Saya berencana menikahi Jelita bu. Secepatnya. Saya harap bisa di minggu depan." Mata ibu Jelita membelalak terkejut. Jelita terlihat ketakutan untuk mengangkat wajahnya. Aku mendekati Jelita dan menggenggam tangannya sambil berkata, "Saya ingin bertanggung jawab atas hidup Jelita mulai sekarang bu. Saya ingin menikahinya dan menjadi suaminya. Saya mencintainya." Jelita mengangkat wajahnya mencari mataku. Aku tahu dia mencoba mencari kebohongan di mataku. Sayangnya si cantik ini tidak akan menemukannya, karena aku memang mencintainya. Selanjutnya, ibu Jelita menginterogasiku dengan beberapa pertanyaan. Seluruh pertanyaan tersebut berhasil kujawab dengan mudah. Hingga akhirnya, ibu Jelita pun berkata, "Ibu merestui kalian menikah. Ibu bahagia Jelita bisa kembali bahagia. Terima kasih nak Andrian." ***** 10 Hari Sebelum Pernikahan Harapanku ingin menikah dengan Jelita dalam waktu satu minggu tidak berhasil dilakukan. Mama yang sangat gembira dengan keputusanku menikah ini ingin pesta pernikahan dipersiapkan dengan baik. Jadi Mama meminta paling tidak diberikan waktu dua minggu. Seluruh persiapan kemudian diambil alih oleh mama. Hingga di 10 hari sebelum pernikahan kami ini, kami harus melakukan fitting baju pengantin. Aku sudah menghubungi Jelita untuk berangkat bersama. Namun dia masih harus mengajar les di pagi hari. Akhirnya, aku memutuskan menuju ke rumah di mana dia mengajar les pagi ini. Tok tok Aku mendengar kaca mobilku diketuk. Saat aku menoleh, dia telah menunggu di sana. "Hai ...." sapaku sambil keluar dari mobil dan mengecup bibir mungilnya. Wajah Jelita kemudian memerah dan langsung menunduk. Aku ingin mengerjainya lagi jika terus seperti ini. Aku pun menarik dagunya ke atas dan bersikap seolah akan menciumnya lagi. Jelita telah menutup matanya. Aku pun tersenyum melihat wajah cantik ini. Setelah cukup lama terpejam, Jelita pun kembali membuka matanya. Saat itulah aku kembali mengecup bibirnya. Kali ini tidak kecupan singkat. Lebih tepatnya, aku menikmati koneksi yg terjalin itu. Butik Pengantin Mama sudah menunggu kami saat kamu memasuki butik ini. Terlihat juga beberapa pegawai butik yang sudah bersiap di sekitar Mama untuk membantu kami mencoba baju pengantin yang akan dipakai nanti. "Mana baju yang harus dicoba Ma?" tanyaku pada Mama. "Baju untuk Jelita nanti dibantu sama mba-mba ini ya sayang," jawab Mama sambil merengkuh Jelita ke pelukannya. Mama memang sangat gembira dengan keputusanku menikahi Jelita. Beliau merasa Jelita adalah pilihan yang tepat, karena Mama sudah mengenal sifatnya sejak kecil. Walaupun saat ini dia pun masih kecil. "Lalu untuk aku?" tanyaku lagi pada Mama. "Oh yang untuk kamu? Sudah pasti pas lah, kan memang kamu sudah sering pesan jas di sini. Sudah kamu tanya sendiri sana. Mama mau nemenin Jelita dulu," jawab Mama sambil berlalu pergi. Dasar Mama dan semangatnya yang menggebu-gebu. Jelita pasti akan sangat kelelahan meladeni kemauan Mama dalam hal baju pengantin ini. Setelah beberapa menit menunggu, tiba-tiba Jelita keluar dengan gaun yang sangat cantik. Tidak, maksudku sangat terbuka. Gaun itu memang cantik, tapi terbuka di bagian d**a dan tungkai kakinya. Apa ini gaun pernikahan yang akan dikenakannya? Aku mengalihkan pandanganku, mencoba mengendalikan diri. Mama kemudian menarik perhatianku kembali dengan berkata "Gimana Mas? Cantik kan Jelita?" "Gak cocok Ma. Jadi kelihatan tua dia. Gak ada gaun yang biasa-biasa aja apa?" jawabku ketus. Wajah Jelita menunduk malu. Biarlah dia tidak merasa percaya diri mengenakan gaun itu. Aku tidak suka jika orang lain melihatnya begitu cantik. "Masa sih kelihatan tua? Malah menurut Mama Jelita jadi kelihatan sangat segar dan menarik dengan gaun ini. Menurut Jelita gimana? Jelita mau yang ini atau mau coba yang lain?" "Jelita ... Jelita ... terserah Mas Andrian aja Ma," Jelita menjawab sambil melihatku. "Kalau terserah aku, kita nikah di catatan sipil aja. Habis itu kamu gak perlu pake baju sampe seminggu," aku mengucap kesal hingga kemudian Mama memukul lenganku karena sembarangan berbicara. Wajah Jelita yang ternganga dan memerah di ujung ruangan, membuatku tak bisa menahan tawa. ***** 7 Hari Sebelum Pernikahan Mulai hari ini kami dipingit. Gila saja Mama dan semua rencana pernikahannya. Tidak pernah terbayangkan olehku bahwa untuk menikahi Jelita, aku tidak boleh menemuinya selama seminggu. Akan tetapi semua orang telah bersekongkol untuk memisahkan aku dan Jelita mulai hari ini. Sejak kemarin malam bahkan Jelita sudah tidak ada di rumah kontrakannya. Ke mana mereka menyembunyikannya? Aku mencoba menghubungi Anita tadi malam dan saat itu aku baru tahu jawabannya, "Loh Mas, kan kalian dipingit. Ya Mas gak bisa ketemu Jelita dulu dong." Jawaban Anita itu membuatku geram. Aku kemudian menghubungi Jelita sepanjang malam, tetapi tidak diangkat. Pagi ini aku mencoba menghubunginya kembali. "Halo Mas ..." diangkat teleponku akhirnya diangkat oleh Jelita. "Jelita kamu di mana?" tanyaku penasaran. "Aku sama Anita Mas. Kan gak boleh ketemu dulu." "Kenapa gak boleh?" tanyaku tak sabar. "Aku ...." jawaban Jelita terputus kemudian digantikan dengan suara Anita. "Kenapa gak boleh? Ya gak bolehlah. Jadi suami sah dulu baru ketemu." Tut Tut Tut Bersambung
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD