Setelah pertemuan Robert dengan Jeslyn dan Damien beberapa waktu yang lalu, nyatanya Robert tidak mudah mendapatkan kesempatan itu lagi. Kini Jeslyn kembali jauh dari jangkauannya, bahkan gedung Addison Group kini memiliki penjagaan yang lebih ketat. Padahal Robert begitu merindukan sosok Damien dan juga ibunya. Robert pernah mencoba untuk menemui Jeslyn di kantor Addiosn Group, tapi Robert hanya mendapati penolakan.
Maka kini Robert sampai memberanikan dirinya untuk datang ke mansion Addison. Robert tidak lagi peduli apa yang akan Arthur atau Nelson lakukan padanya. Meskipun Robert tau jika Jeslyn tak lagi tinggal di mansion Addison, tetapi memang tujuan Robert adalah untuk menemui Arthur. Karena Robert yakin jika Jeslyn sekalipun mengizinkan dirinya untuk bertemu dengan Damien tapi Arthur tak mengizinkan pasti dirinya tak akan pernah bisa bertemu dengan Damien. Robert tak peduli dengan konsekuensinya karena Robert hanya ingin meminta haknya sebagai ayah untuk menemui putranya, meskipun Robert sadar betul jika hak istimewa itu tak pantas dirinya dapatkan.
Tapi Robert tetap akan berusaha apa pun hasilnya. Robert datang bahkan tanpa pengawalan, hanya ditemani oleh David yang bersikeras untuk mengantar Robert. Kini sudah satu jam Robert berdiri menunggu di depan gerbang besar itu. Bahkan Robert sudah lelah hanya untuk marah pada interkom yang terpasang di samping pagar. Tapi Robert memilih bertahan. Dia masih menunggu Arthur Addison menunjukkan kemurahan hatinya untuk membiarkan Robert masuk.
"Apa yang kita lakukan hanya akan membuang-buang waktu. Mereka tidak akan sudi membuka pintu untukmu, sadarlah Robert. Ini sudah hampir 2 jam!" ucap David murka. Dirinya benar-benar kesal dengan Robert yang keras kepala dan bodoh secara bersamaan.
"Aku hanya ingin bertemu dengan putraku," jawab Robert lirih.
"Kita masih bisa mencari kesempatan lain. Aku yakin ada jalan untukmu bertemu dengan Damien," jawab David mencoba sabar menghadapi Robert.
"Aku tidak akan lagi melakukan segala bentuk kecurangan. Aku ingin bertemu mereka dengan izin dan restu Daddy Arthur. Aku tidak ingin kebodohanku membuat mereka semakin menjauh dariku," jawab Robert tak mau kalah.
"Tapi sampai kapan kita akan menunggu di sini seperti orang bodoh? Mereka jelas tidak akan membuka pintu untukmu. Jika pun mereka melakukannya, belum tentu juga kamu akan selamat di dalam sana. Apakah kamu lupa apa yang pernah mereka lakukan padamu? Kita tidak membawa persenjataan yang lengkap, apakah kamu ingin mati bodoh seperti itu?!" ujar David mencoba memberikan penjelasan, tapi Robert tidak tertarik sama sekali untuk mempertimbangkan. Robert bersikeras untuk tetap menunggu di depan gerbang mansion Addison.
‘’Aku tau mereka tidak akan melakukan hal itu. aku datang kemari dengan baik-baik,’’ jawab Robert dengan santai.
‘’Dengan baik apanya sampai menunggu seperti orang bodoh di sini selama 2 jam!’’ jawab David tak terima.
‘’Sabar saja,’’ timpal Robert.
"Aku sangat merindukan pria yang selalu berujar jika waktu adalah uang," sindir David sembari menatap Robert dengan sinis.
Setelah menunggu selama 3 jam, Robert juga mulai merasa lelah. Ketika Robert akhirnya menyerah dan akan pergi, pintu gerbang besar di hadapannya itu tiba-tiba terbuka yang membuat Robert dan David mengurungkan niatnya untuk pergi. Harapan Robert yang hampir sirna kini kembali terbit setelah dirinya hampir menyerah.
‘’Masuklah, waktumu 15 menit untuk berbicara.’’ Suara tegas dari seorang pria yang masih sangat segar di telinga Robert itu membuat senyum puas tersungging di bibir Robert. David segera masuk kembali ke dalam mobilnya untuk membawa mereka memasuki mansion Addison.
Setelah sampai di halaman depan dari mansion, ternyata Arthur Addison sudah menunggunya di sana. Arthur lalu berjalan menuju taman mansion yang terlihat begitu indah dengan koleksi bunganya, sedangkan Robert yang baru saja keluar dari mobil dengan peka langsung berjalan mengikuti di belakangnya, meningalkan David yang menunggunya di dalam mobil. Arthur lalu berhenti sembari membalikkan tubuhnya dan menatap Robert dengan dingin.
‘’Aku tidak meminta sesuatu yang aku sadar berada di luar batasku. Aku hanya ingin meminta hakku sebagai seorang ayah, aku tidak mengharapkan Damien mau menerimaku sepenuhnya, aku tidak berharap untuk memiliki Damien seutuhnya. Tapi aku mohon, izinkan aku untuk bertemu dengan putraku secara bebas,’’ ucap Robert membuka pembicaraan.
‘’Apakah kamu pantas untuk bertemu dengan cucuku?’’ tanya Arthur dengan sinis.
‘’Ya, aku pantas. Karena aku adalah daddynya. Aku tidak akan berpisah dengannya jika kalian tidak menyembunyikan Jeslyn dariku. Meskipun kami berpisah setidaknya kami masih bisa berbagi kasih sayang yang sama untuk Damien, tetapi keadaan berjalan sebaliknya,’’ jawab Robert dengan berani.
‘’Damien jauh lebih baik tanpa kehadiranmu. Kembalinya Jeslyn bukan untuk memberikannmu kesempatan untuk mendekati putri dan cucuku dengan bebas. Mereka memiliki tanggung jawab di sini, aku tidak akan membiarkanmu untuk merusaknya!’’ Arthur menatap Robert dengan tajam. Lalu ekspresinya sedikit terkejut namun Arthur bisa menguasai dirinya kembali ketika melihat Robert yang kini berlutut di hadapannya.
‘’Aku bukan orang baik di masa lalu dan aku mengakuinya. Aku melakukan begitu banyak kesalahan pada putrimu dan kamu berhak untuk membenciku. Tapi biarkan aku berusaha untuk berubah, dengan memberikan kasih sayang yang tulus dan pantas Damien terima sebagai langkah awalnya,’’ ucap Robert dengan menatap Arthur lirih. Saat ini bukan saatnya Robert untuk lebih mengunggulkan egonya, bahkan jika perlu untuk bersujut di kaki Arthur, maka Robert akan melakukannya demi Damien.
‘’Aku tidak ingin Damien berharap terlalu banyak padamu!’’ jawab Arthur dengan dingin.
‘’Aku akan berusaha untuk mewujudkan harapannya. Dia juga bagian dari diriku, aku mohon,’’ ucap Robert sembari menundukkan kepalanya.
‘’Waktumu telah selesai,’’ ucap Arthur dengan dingin lalu melangkah meninggalkan Robert yang masih berlutut begitu saja.
Bahkan jika aku melihatmu terbakar api neraka, kamu memang pantas mendapatkanya, Robert. Karena memaafkan tidak semudah membalikkan telapak tangan.
Ketika Arthur kembali masuk ke dalam mansion, Jennifer sudah menunggunya di ruang tamu. Wanita itu menatap suaminya dengan khawatir. ‘’Jangan memaksaku, aku sudah cukup baik membiarkanya bertemu dengan cucuku,’’ ujar Arthur dengan dingin.
‘’Aku melihat ketulusan di sana. Dia hanya ingin bertemu dengan putranya,’’ jawab Jennifer dengan raut sendu.
‘’Aku masih belum bisa memaafkannya. Aku ingin sekali membiarkan Damien bertemu dengan Daddynya, tetapi ketika melihat wajahnya lagi membuatku mengingat semua yang telah dia lakukan pada putriku. Aku marah dan sakit hatiku belum hilang hingga sekarang.’’ Ucap Arthur sembari mengepalkan kedua tangannya.
‘’Lalu kapan?’’ tanya Jennifer yang membuat Arthur menatap istrinya dengan bingung.
‘’Kapan Damien berhak mendapatkan kasih sayang daddynya, kapan Damien bisa bebas memiliki sosok orang tua lengkap di sisinya dan kapan kita akan terus egois dan merenggut kebahgaian Damien.’’ Arthur hanya diam, lalu memilih meninggalkan Jennifer menuju kamarnya.
Jennifer lalu berjalan menuju jendela dan membukanya, matanya mengawasi Robert yang baru berdiri dari posisi berlututnya dengan kepala yang menunduk. Jennifer paham jika mantan menantunya itu pasti tengah sedih dan kecewa. Sebagai orang tua, Jennifer juga pernah merasakan jauh dari anak dan rasanya sangat kesepian. Itu saja ketika anak-anaknya telah dewasa, lalu bagaimana dengan Robert yang bahkan baru pertama kali bertemu dengan putranya.
Dengan memberanikan diri, Jennifer lalu keluar dan menghampiri Robert yang akan memasuki mobilnya. Dirinya tidak peduli jika Arthur akan marah setelah ini. ‘’Robert!’’ panggil Jennifer. Robert sontak menoleh dan terkejut ketika menatap Jennifer. Entah mengapa, Robert merasa malu ketika kembali bertemu dengan mantan ibu mertuanya. Sosok wanita yang selalu baik dan berhati lembut meskipun Robert pernah dengan kejam menyakiti putri kesayangannya.
‘’Mommy,’’ gumam Robert pelan lalu berjalan menghampiri Jennifer dan memeluknya. ‘’Bagaimana kabar Mommy?’’ tanya Robert setelah melepaskan pelukannya.
‘’Mommy baik,’’ jawab Jennifer sembari tersenyum.
‘’Aku datang untuk meminta izin pada Daddy Arthur untuk mengizinkanku bertemu dengan Damien. 2 mingu yang lalu kami bertemu, Jeslyn juga mengatakan jika kita bisa bertemu lagi, tetapi sampai sekarang aku masih belum bisa bertemu dengan Damien lagi. Maka aku berpikir jika semua ini karena Daddy Arthur yang tidak mengizinkan.’’ Entah mendapatkan keberanian dari mana, Robert bahkan berani berkeluh kesah di hadapan mantan ibu mertuanya. Padahal ini adalah pertemuan mereka pertama mereka setelah 5 tahun berlalu.
‘’Daddy hanya masih marah. Semoga segera ada kabar baik setelah ini,’’ jawab Jennifer sebari mengusap bahu Robert dengan lembut.
‘’Aku ingin lebih dekat dengan putraku.’’ Jennifer menatap mata Robert yang berkaca-kaca. ‘’Mommy akan membantu, tapi tidak bisa memberikan kepastian. Kamu hanya perlu lebih banyak bersabar,’’ jawab Jennifer sembari tersenyum lembut.
‘’Mengapa Mommy masih bersikap baik padaku?’’ tanya Robert dengan sendu.
‘’Yang lalu biarlah berlalu, yang Mommy inginkan adalah kamu bisa menyadari kesahanmu dan bisa menjadi pribadi yang lebih baik.’’ Robert ingin menangis mendengar ucapan Jennifer yanag begitu tulus padanya.
Mendengar jika Jennifer akan membantunya sudah membuat Robert senang. Karena memang yang Robert butuhkan sekarang adalah dukungan. ‘’Mommy masuklah, aku tidak ingin jika Daddy Arthur marah,’’ tukas Robert sembari tersenyum lega.
‘’Hati-hati,’’ ucap Jenifer sebelum kembali masuk ke dalam mansion. Meskipun Jennifer tau apa yang sudah Robert lakukan pada putrinya dulu, meskipun Jennifer juga sempat membenci Robert, tetapi entah mengapa dirinya sekarang ini lebih memilih untuk memaafkan Robert. Semua orang jelas pernah melakukan kesalahan, tapi setiap orang juga berhak mendapatkan pengampunan. Terlebih pada Robert, Jennifer juga melihat perubahan.
Ketika masuk, kini Jennifer melihat Arthur yang menunggunya. Keadaan seperti berbalik sekarang. ‘’Kamu berbicara dengannya?!’’ tanya Arthur dengan sarkas.
‘’Hanya menanyakan kabar,’’ jawab Jennifer dengan acuh. Dirinya sedang merasa kesal pada suaminya.
‘’Kamu marah?’’ tanya Arthur sembari mengerutkan keningnya. Bukankah seharusnya sekarang ini dirinya yang harusnya marah pada Jennifer, buka sebaliknya?
‘’Apa aku pernah memiliki hak untuk marah? Bukankah kamu selalu benar?’’ jawab Jennifer lalu meninggalkan Arthur begitu saja. Sama seperti yang suaminya tadi lakukan.
Tidak ada manusia yang selalu benar, Arthur. Kali ini kamu bersalah.