BAB 67 – Mimpi yang Tak Ingin Dikejar Lagi Pagi datang tanpa aba-aba. Langit masih kelabu, seperti hati Arka yang mulai belajar menerima sepi sebagai teman baru. Namun, tidak seperti malam sebelumnya, kali ini ia bangun bukan karena alarm, bukan karena deadline, tetapi karena dadanya terasa ringan. Aneh memang—setelah semua yang ia lalui, justru setelah kehilangan arah, ia merasa lebih manusia. Ia duduk di meja kerja, membuka laptop tanpa niat bekerja. Ia hanya membuka folder-folder lama—presentasi, data, proposal, file Excel yang dulu ia anggap sebagai napasnya. Semuanya terlihat kosong kini, bukan karena filenya hilang, tapi karena semangat di balik itu sudah memudar. “Gue ngapain sih selama ini?” gumamnya lirih. Suara itu hampir seperti bisikan dari masa lalunya sendiri. Dulu ia pun

