Episode gemuruh dari balik layar

1093 Words
BAB 27 – Gemuruh dari Balik Layar Pagi itu, kampus geger. Bukan karena demo atau aksi teater. Tapi karena satu file rekaman audio berjudul “Arka dan Akademi Gelap” beredar luas lewat broadcast w******p, Telegram, bahkan i********: Story beberapa mahasiswa. > "...Jangan khawatir. Nilai bisa diatur. Kamu tinggal jaga dia tetap diam. Liora itu hanya idealis kosong, seperti yang lain. Dan kamu tahu cara menundukkan orang seperti dia..." Suara Arka. Jelas. Tanpa potongan. Diiringi tawa seorang pria dewasa—suara yang kemudian dikenali sebagai Rendra Santosa. --- Arka menatap layar ponsel di tangannya. Jemarinya gemetar, keringat dingin merembes ke kerah kemeja. Di grup mahasiswa, namanya disebut dengan kemarahan, ejekan, bahkan ancaman. > “Ini Arka yang katanya panutan? Busuk juga ternyata.” “s****n. Dosen-dosen aja ikutan. Gila.” “Eh gua dapet nilai A semester lalu, dia yang urusin. Anjir.” --- Sementara itu, di ruang organisasi, Liora menatap laptopnya. Tubuhnya lelah, tapi matanya menyala. Ia tidak senang atas kehancuran Arka—itu bukan tujuannya. Tapi ia tahu, kejujuran memang datang dengan harga. Raka berjalan masuk membawa kopi. "Lu menang, Li." “Bukan soal menang. Gue cuma pengen orang buka mata. Arka... dia bukan cuma playboy yang nyakitin perasaan orang. Dia perwakilan sistem rusak yang harus disingkirkan.” Raka duduk di sebelahnya. “Tapi lu masih mikirin dia, ya?” Liora terdiam. “Susah ya, kalau pernah sayang.” Ia menatap layar. “Gue gak bisa benci dia sepenuhnya. Tapi gue juga gak bisa pura-pura buta.” --- Di balik gedung rektorat, Arka menemui Rendra. Wajahnya pucat, mata penuh tekanan. "Lo janji semua bakal aman." Rendra mengangkat bahu. “Gue juga gak nyangka lo bisa sebodoh itu. Nyimpen rekaman kayak gitu? Lo pikir lo main drama kampus?” Arka menggebrak meja. “Gue gak pernah nyangka bakal jatuh karena perempuan!” “Karena perempuan... atau karena lo mulai ragu?” tanya Rendra pelan. Arka terdiam. Rendra mendekat, membisik di telinganya: “Kalau lo pengen balikin semuanya... ada satu cara.” --- Hari itu, rektorat mengadakan rapat darurat. Rendra berdiri dengan tenang, menyatakan bahwa semua rekaman bisa saja rekayasa. Namun satu mahasiswa berdiri. Liora. “Kalau itu rekayasa, kenapa Arka belum sekali pun menyangkalnya secara terbuka? Dan kenapa beliau—Rendra—masih terus menemui mahasiswa di luar wewenangnya?” Satu demi satu tangan mahasiswa terangkat. Satu demi satu keberanian tumbuh. Gemuruh muncul bukan dari petasan, bukan dari panggung. Tapi dari su ara yang selama ini diam. Dan untuk pertama kalinya... Arka tidak bisa berbicara. BAB 28 – Titik Balik di Tengah Kaca Pecah Kampus yang biasa ramai dan ceria kini berubah menjadi medan pertempuran tanpa s*****a. Suasana penuh ketegangan dan bisik-bisik yang mengawang di koridor. Setiap sudut terasa seperti tempat pengawasan diam-diam. Arka, yang selama ini dikenal sebagai playboy dan pemuda paling berpengaruh di kampus, kini berubah menjadi bayangan dari dirinya sendiri. Dia duduk terpaku di kamar kosnya, menatap cermin dengan mata yang tak lagi berkilau. Rambutnya yang biasanya selalu rapi, kini berantakan, dan ada lingkaran hitam tebal di bawah matanya. “Gue gak pernah nyangka...,” gumamnya pelan, suara nyaris tak terdengar. “Gue bakal jatuh seperti ini... karena perempuan... dan karena kesalahan gue sendiri.” Dia menyentuh wajahnya, mencoba menepis rasa bersalah yang mulai merayapi hati. Tangan yang biasanya percaya diri kini gemetar saat menggenggam ponsel. Berulang kali dia mencoba menelepon seseorang, tapi selalu batal. Di luar sana, suara bisik mahasiswa terus menggaung, dengan nada penuh kemenangan dan rasa ingin tahu. Di sisi lain, Liora, yang menjadi biang kerok dari kekacauan ini, juga merasakan beban yang tidak ringan. Jadi pusat perhatian memang bukan hal mudah. Selain pujian, dia juga menerima tatapan sinis dan bisik-bisik sinis dari teman-teman sekelas yang mulai berpikir dua kali tentang keberaniannya. Tapi Liora tak pernah menyesal. Dia duduk di perpustakaan kampus, membolak-balik catatan, tapi pikirannya melayang jauh. Raka duduk di depannya, wajahnya serius, mencoba membaca ekspresi Liora. “Li, kita harus siap-siap, ini belum selesai,” kata Raka pelan, matanya menatap penuh kekhawatiran. Liora menghela napas panjang. “Gue tahu, Raka. Tapi gue gak cuma mau ngancurin Arka. Ini lebih dari itu. Ini tentang gimana kita bisa buka mata semua orang tentang apa yang sebenarnya terjadi di balik gemerlap kampus ini.” Raka mengangguk, lalu membuka laptopnya, mempersiapkan dokumen dan data yang akan mereka gunakan untuk mengungkap lebih banyak fakta. Di tengah kesibukan mereka, ponsel Liora bergetar. Sebuah pesan masuk dari nomor tak dikenal yang membuat jantungnya berdetak lebih kencang. > “Hati-hati. Semua bukan seperti yang kalian kira.” Pesan itu seperti angin dingin yang tiba-tiba menerpa. Liora menatap layar, lalu mengangkat kepala, tatapannya menjadi lebih tajam dan waspada. “Ada yang ngintai kita, Raka,” katanya dengan suara rendah. “Ini udah jauh lebih rumit dari yang gue bayangin.” Raka menatap layar ponsel Liora, lalu kembali menatap mata sahabatnya. “Kita harus lebih hati-hati. Mereka gak akan tinggal diam kalau kita terus ngungkap.” --- Sementara itu, Arka duduk termenung di ruang tamu rumahnya, yang tampak mewah tapi terasa dingin. Ayahnya, seorang pengusaha sukses, menatapnya dengan mata yang sulit ditebak. “Lo tau, Arka,” kata sang ayah pelan, “ini bukan hanya soal lo. Nama keluarga kita juga ikut taruhannya.” Arka menunduk, rasa malu dan tekanan memenuhi dadanya. “Gue minta lo pikir baik-baik langkah selanjutnya. Jangan sampai lo bikin masalah yang lebih besar.” Arka mengangguk, tapi dalam hati dia sudah punya rencana. Rencana yang tak hanya akan menyelamatkan dirinya, tapi juga mengubah jalannya permainan ini. --- Hari itu, langit mendung dan angin dingin menerpa kampus. Mahasiswa berkerumun di lapangan utama, membicarakan rekaman yang menyebar luas. Mereka yang sebelumnya diam, kini berani mengeluarkan pendapat. “Lo liat? Arka yang katanya keren malah kayak gini,” celetuk seorang mahasiswa. “Gue sih gak percaya semua itu rekayasa,” sahut yang lain. Liora berdiri di pinggir kerumunan, mengamati dengan hati-hati. Dia tahu, ini baru permulaan. Pertarungan sebenarnya belum dimulai. --- Malamnya, Arka duduk di depan cermin, menatap dirinya sendiri. Refleksi wajah yang lelah dan penuh luka. “Lo bisa pilih, Arka. Jadi korban... atau jadi pemenang,” gumamnya. Dia tahu, selama ini dia salah. Dia tahu, selama ini dia telah menyakiti banyak orang, terutama Liora. Tapi dalam dirinya juga tumbuh tekad untuk membalikkan keadaan. Untuk membuktikan bahwa dia bukan sekadar playboy busuk, tapi seseorang yang bisa berubah dan menaklukkan segalanya. Tiba-tiba ponselnya berdering. Nomor yang tak dia kenal. “Ini Arka,” jawabnya hati-hati. Sebuah suara rendah terdengar di seberang. “Kita harus bicara. Tentang masa depanmu... dan bagaimana lo bisa bertahan.” Arka menatap kosong, rasa penasaran dan ketegangan membuncah.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD