EpisodeNama yang jatuh di kertas

1262 Words
BAB 25 – Nama yang Jatuh di Kertas Sudah tiga hari sejak pertemuan Liora dengan Arka di tangga perpustakaan. Dan sejak hari itu pula, tekanan makin terasa. Bukan dari luar. Tapi dari dalam—dari pikirannya sendiri. --- Pagi itu, kampus terasa terlalu ramai untuk sebuah Selasa. Di mading jurusan, ada selebaran besar dengan judul “Pernyataan Terbuka Mahasiswa: Kita Butuh Keadilan”. Di bawahnya, nama-nama mulai dicantumkan. Termasuk nama Liora. Beberapa mahasiswa berhenti membaca. Ada yang berbisik. Ada yang mengangguk pelan. Tapi Liora? Ia berdiri agak jauh, menatap tanpa reaksi. Seolah sedang menghitung detik sebelum segalanya runtuh. Raka datang dari arah kantin. Matanya langsung tertuju ke selebaran itu. “Lo siap?” tanyanya. Liora menelan ludah. “Enggak. Tapi siapa sih yang pernah siap?” Raka menarik tangannya. “Lo ikut gue.” --- Mereka berjalan cepat ke taman belakang kampus—tempat yang jarang dilalui. Di bawah pohon flamboyan yang meranggas, mereka duduk. “Lo tahu kan, dengan nama lo dicantumkan di mading, artinya lo bukan bayangan lagi?” kata Raka. “Gue tahu. Dan itu yang bikin napas gue kayak kecekik.” Raka mengeluarkan sesuatu dari saku jaketnya—sebuah foto lama. “Gue simpan ini sejak awal masuk kampus. Foto pas kita sama-sama jadi peserta ospek. Lo masih culun banget waktu itu. Pakai sweater tiga lapis.” Liora menatap foto itu, tertawa kecil. “Lo juga gak keren waktu itu. Rambut kayak orang abis bangun tidur sebulan.” Mereka tertawa. Tapi tawa itu cepat menghilang, digantikan tatapan serius. “Gue simpan karena sejak dulu, entah kenapa... gue tahu lo beda,” ucap Raka. Liora menunduk. “Dulu gue juga tahu, lo itu bukan sekadar playboy yang sok rebel. Tapi... cowok yang gak pengen dilihat orang. Dan sekarang, malah lo yang terus bantuin gue.” Raka menatapnya. “Karena lo layak. Lo bukan cuma berani, tapi juga sabar. Dan di dunia ini, dua hal itu gak banyak dimiliki orang.” --- Sementara itu, di tempat lain... Arka duduk di ruang sekretariat BEM. Wajahnya datar. Di hadapannya, tiga mahasiswa senior sedang membacakan berita terkini dari forum kampus. Nama Liora kembali muncul, kali ini didukung oleh dua pengakuan baru. “Gimana?” tanya salah satu senior. Arka menatap layar laptop. “Kita harus bikin narasi baru. Biar semua ini kelihatan... rekayasa. Gue gak bisa jatuh sekarang.” Salah satu senior mengangguk. “Tapi lo juga harus bersih-bersih. Yang di file lama lo, itu bahaya kalau jatuh ke tangan orang yang salah.” “Udah gue buang semua. Kecuali satu. Yang bisa gue jadikan Pertahanan terakhir.” --- Malam hari. Liora duduk di kamar kosnya. Sebuah email masuk. Tidak ada subjek. Tidak ada pengirim. Isi pesannya hanya satu kalimat: > “Kalau lo terus maju, lo bakal tahu siapa yang benar-benar berdiri di belakang Arka.” Liora gemetar. Ia membuka kembali daftar nama yang pernah dia curigai. Tapi makin dia baca, makin banyak pertanyaan muncul. Arka terlalu tenang belakangan ini. Seolah tahu sesuatu yang tidak dia tahu. Pintu diketuk. Raka masuk, membawa kopi dan wajah serius. “Gue nemu sesuatu,” katanya sambil meletakkan flashdisk kecil ke meja. “Apa ini?” “Rekaman. Seseorang di jurusan hukum ngasih ke gue. Isinya... percakapan antara Arka dan salah satu dosen pembimbing.” Liora langsung membuka laptopnya. Jari-jarinya gemetar saat memutar file audio itu. > “Mahasiswi itu gak tahu batas. Kalau dia terus buka suara, saya minta bantuan Bapak buat nahan dia lewat jalur akademik.” > “Saya ngerti, tapi kalau terbongkar, saya juga kena.” > “Saya pastikan aman. Yang penting, dia gak lulus semester ini.” Liora menutup laptopnya. Jantungnya berdegup kencang. Tidak hanya Arka yang kotor. Tapi sistem di dalamnya. “Ini... bukan cuma tentang Arka,” bisiknya. “Ini lebih dalam dari yang gue pikir.” Raka duduk di sampingnya. “Makanya lo harus hati-hati.” Liora menatap ke luar jendela. Angin malam membawa suara pelan dari kejauhan. Tapi suara dalam dirinya makin keras. “Kalau ini lebih besar dari Arka, berarti... lawan gue bukan cuma satu orang.” “Dan itu artinya, lo gak bisa lawan sendirian.” Liora mengangguk pelan. “Tapi gue gak bakal mundur.” Untuk pertama kalinya, kata-kata itu tak lagi sekadar tekad. Tapi sumpah. Dan malam itu, di bawah lampu kos yang redup, perjuangan Liora baru benar-benar dimulai. --- BAB 26 – Pecahan di Balik Wajah Arka Kampus mendung hari itu, tapi mendung di wajah Arka lebih kelam dari langit mana pun. Ia duduk sendirian di lorong fakultas, menunduk pada layar ponselnya yang gelap. Pesan dari nomor tak dikenal mengacaukan pikirannya sejak semalam. > “Kamu pikir kamu aman? Aku tahu isi flashdisk itu.” Ia menggeram. Tak ada nama pengirim, tapi Arka tahu arah ancaman itu. Dan yang paling membuatnya gila—dia tidak tahu siapa musuhnya sekarang. --- Sementara itu, Liora duduk bersama Raka di ruang kecil milik LPM kampus. Di depannya, dua mahasiswa senior dari organisasi itu sedang menjelaskan soal rencana investigasi terbuka. Salah satunya menunjuk beberapa data di layar. “Kalau kita buka semua ini, kita bisa nyalain bukan cuma Arka, tapi juga dosen-dosen yang pernah ikut dalam jaringan manipulasi nilai. Tapi... ini berbahaya.” Raka melirik Liora. “Gue tanya sekali lagi. Lo yakin mau terusin?” Liora menatap lurus. “Gue gak akan pernah dapet ketenangan kalau mundur sekarang.” Mahasiswa di sebelah kanan mengangguk. “Oke. Tapi lo harus tahu... Arka bukan cuma cowok sok keren yang manipulatif. Lo pikir lo tahu siapa dia, tapi lo cuma lihat yang dia mau lo lihat.” Liora menyipit. “Lo tahu sesuatu?” Yang satu menoleh cepat. Terlalu cepat. Liora menangkap kegugupan itu. “Siapa lo sebenernya? Apa hubungan lo sama dia?” tanya Liora tajam. Sunyi. Raka berdiri. “Gue tanya baik-baik. Jawab sebelum kami anggap lo bagian dari masalah.” Akhirnya, satu dari mereka bicara. Pelan. “Gue dulu sahabat deket Arka, SMA sampai awal kuliah. Tapi dia... dia berubah. Dan perubahan itu terjadi setelah dia mulai deket sama seseorang dari dosen-dosen lama. Nama dosennya: Rendra Santosa.” “Siapa Rendra?” tanya Liora. “Dosen lama, sekarang jadi pejabat kampus bagian akademik. Banyak kasus manipulasi nilai, pengalihan beasiswa. Semua jalan lewat dia. Dan Arka... anak emasnya.” Liora mencatat nama itu. Perlahan, puzzle mulai membentuk gambar. “Kalau begitu, kita gak cukup cuma buka aib Arka,” ucap Raka. “Kita harus cabut akar dari semua ini.” --- Sore menjelang, Arka menemui Rendra di parkiran dosen. “Gue dapet pesan. Ada yang tahu isi flashdisk,” kata Arka tanpa basa-basi. Rendra, lelaki berusia 50-an dengan jas hitam dan mata penuh kelicikan, menatapnya sinis. “Anak-anak kampus sekarang gampang panik. Padahal baru digertak. Tapi lo, Arka... harusnya gak semudah itu goyah.” “Gue gak bisa main-main. Kalau rekaman itu bocor, bukan cuma gue yang jatuh.” Rendra menepuk bahu Arka. “Lo tahu kenapa lo gue pilih dari dulu? Karena lo tahu caranya nyari celah di hati orang lain. Termasuk cewek-cewek idealis kayak Liora.” “Dia bukan cewek biasa. Dia ngelawan gue, dan dia... tahu banyak.” Rendra mendekat. “Kalau lo gak bisa jinakin, singkirin.” --- Di tempat lain, Liora mendapat email. Kali ini bukan ancaman. Tapi satu foto. Foto Arka, duduk di ruang dosen, berbicara dengan Rendra. Caption-nya hanya: > “Dia bukan cuma mahasiswa. Dia alat.” Liora menatap foto itu lama sekali. Kemudian ia membuka folder laptopnya. Menarik file audio rekaman, dan mengetik satu kalimat: > "Buka mata. Biar kampus ini ta hu siapa yang mereka idolakan." Dia upload. Klik. Dan dunia pun mulai berguncang.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD