Episode Tanpa Judul

1564 Words
BAB 23 – Dinding yang Mulai Retak Hujan turun pelan di sore itu, tidak deras, tapi cukup untuk membuat semua orang menunduk dan berlari. Liora berdiri di depan halte kampus, mengenakan jaket hitam dan tas ransel yang tampak lebih berat dari biasanya—bukan karena isi, tapi karena tekanan yang menempel di pundaknya. Setelah mediasi kemarin, berita tentang dirinya menyebar lebih cepat dari aplikasi chatting manapun. Di beberapa forum mahasiswa, namanya disebutkan bersama kata-kata seperti “berani,” “pengadu,” “cari sensasi,” hingga “mantan yang nggak move on.” Namun anehnya, Liora tidak gentar. Kalau seminggu lalu dia masih bimbang antara benar dan nyaman, sekarang pilihannya sudah jelas: menjadi tidak disukai karena jujur jauh lebih baik daripada dipuji karena menutup mata. Dan seperti biasa, Raka ada di dekatnya. “Lo udah makan belum?” tanya Raka, berdiri di sebelahnya sambil menutupi kepala dengan tote bag usang bertuliskan Open Your Mind. Liora hanya menoleh sebentar. “Masih kenyang ama gosip hari ini.” Raka tertawa kecil. “Gosip itu kaya kopi sachet. Pahitnya instan, tapi abis itu lupa juga.” “Sayangnya gue bukan penikmat kopi.” “Ada yang lo nikmati akhir-akhir ini?” “Kalau lo nanya gitu terus, gue curiga lo mulai punya tujuan lain,” balas Liora setengah bercanda. Mereka duduk di bangku panjang, sambil memandang hujan yang jatuh di trotoar. Kampus terasa asing belakangan ini. Bukan karena bangunannya berubah, tapi karena orang-orang di dalamnya mulai menunjukkan warna aslinya. “Arka mulai bergerak,” ujar Liora tanpa menatap Raka. “Maksudnya?” “Ada dua dosen yang tiba-tiba minta ketemu gue. Satu ngomong soal etika, satu lagi soal ‘kesempatan kedua’ buat semua orang. Nadanya beda, tapi arahnya sama: suruh gue diam.” Raka mengangguk pelan. “Dia takut. Biasanya orang yang merasa bersih nggak perlu muter-muter kayak gitu.” Liora menatap langit. “Tapi gue juga capek, Rak. Setiap hari gue harus pasang wajah sekuat baja, padahal dalemnya rapuh banget.” Raka tak menjawab, hanya mengambil sebotol teh dingin dari tasnya dan menyodorkannya. “Minum ini dulu. Gue gak janji bisa jadi pelindung, tapi selama lo butuh orang yang gak pergi, gue di sini.” Diam-diam, hati Liora bergetar. --- Sementara itu, di ruang sekretariat, Arka duduk bersama dua rekannya, sambil melihat grafik perkembangan opini publik kampus—ya, bahkan itu ada sekarang. Komentar mahasiswa, unggahan story, cuitan anonim—semuanya menjadi s*****a yang tak kalah tajam dibanding bukti fisik. “Dia makin kuat,” gumam Arka, menutup laptopnya. “Gue kira dia bakal nyerah.” Salah satu rekannya bertanya, “Kenapa sih lo dulu pacarin dia?” Arka tersenyum. “Karena dia pintar. Gue suka yang bisa diajak debat. Tapi ternyata, dia lebih dari itu.” “Dan sekarang dia jadi musuh.” “Gak. Dia belum jadi musuh. Tapi dia satu-satunya orang yang bisa beneran nyakitin gue.” Kalimat itu tidak romantis. Itu ancaman. Arka tahu, Liora bukan perempuan biasa. Dia tidak bisa dikendalikan dengan rayuan, apalagi ditaklukkan dengan tekanan sosial. Dia bukan pion. Dia bidak yang bisa berubah jadi ratu. --- Malam harinya, Liora menulis di laptopnya, bukan laporan, bukan bukti baru, tapi sebuah pengakuan. Dia mengirimkannya ke satu alamat email anonim yang biasa dipakai forum kampus. > “Gue gak peduli lagi lo semua mau bilang apa. Iya, gue pernah pacaran sama dia. Iya, dulu gue percaya sama dia. Tapi sekarang? Gue cuma pengen satu hal: kebenaran berdiri lagi. Bukan buat gue. Tapi buat semua yang pernah dibungkam kayak gue. Karena kalau semua orang diem, kita cuma ngulang sejarah yang sama. Dan gue gak mau itu terjadi.” Saat dia menekan tombol kirim, ada semacam beban yang terlepas. Bukan karena masalah selesai. Tapi karena dia tahu, dia sudah membuat keputusan yang akan mengubah arah permainan. --- Esoknya, tulisan itu viral di lingkungan kampus. Banyak yang mendukung, banyak pula yang mencibir. Tapi ada sesuatu yang tak bisa diabaikan: semua orang mulai bicara. Diskusi di kantin, di lorong, bahkan di kelas. Beberapa orang mulai menghubunginya diam-diam. Cerita-cerita lama yang terpendam muncul. Ternyata Liora bukan satu-satunya korban. Tapi dia yang pertama berani buka suara. Sore itu, saat Liora keluar dari kelas, ada selembar kertas kecil terselip di bawah meja. > “Lo nggak sendirian. Gue siap bantu.” Tidak ada nama. Hanya inisial: A.R. Liora membacanya pelan, lalu melipatnya dan memasukkan ke dalam saku. H ujan kembali turun malam itu. Tapi untuk pertama kalinya, Liora merasa hangat. --- BAB 24 – Taktik di Balik Tatapan Satu minggu setelah pengakuan Liora menyebar, suasana kampus berubah. Tidak lagi sesepi sebelumnya. Banyak wajah yang biasanya acuh, kini menyapa dengan lirikan berbeda—entah kagum, takut, atau sekadar penasaran. Liora tahu betul bahwa sebagian dari mereka masih menimbang: berpihak padanya, atau kembali berlindung di balik nama besar Arka. Hari ini adalah Senin, dan Senin berarti mata kuliah paling membosankan di minggu itu: Filsafat Etika Sosial. Ironisnya, dosennya adalah salah satu yang dulu ikut membela Arka secara tersirat, melalui nada suaranya yang sinis saat menyebut “mahasiswa terlalu sensitif.” Liora duduk di baris kedua dari belakang. Biasanya dia paling depan, tapi sejak semua mata menyorot, dia lebih memilih diam-diam mengamati. “Pagi ini, kita bahas tentang Machiavelli,” ujar dosen itu, sembari menyalakan proyektor. “Siapa yang tahu konsep ‘lebih baik ditakuti daripada dicintai’?” Salah satu mahasiswa menjawab. Diskusi dimulai. Tapi Liora tidak ikut bicara. Matanya justru menangkap sosok Raka yang baru masuk ruangan—telat sepuluh menit, seperti biasa, dengan jaket jeans dan rambut acak-acakan yang malah membuatnya terlihat... berbahaya. Dia duduk di samping Liora tanpa suara, tapi tersenyum kecil saat matanya bertemu dengan milik Liora. “Dapet surat lagi?” bisiknya. Liora mengangguk pelan dan menarik selembar kertas kecil dari saku. > “Jika Arka jatuh, tak hanya dia yang runtuh. Siapkan tameng. Jangan sendirian.” Raka membacanya sekilas, lalu merobeknya jadi dua bagian sebelum menyelipkannya ke buku catatan. “Gue gak suka nada ancamannya,” ucap Raka pelan. “Gue juga. Tapi... entah kenapa, ada bagian dari gue yang ngerasa dia benar. Gue mulai nyeret terlalu banyak orang.” “Lo gak nyeret siapa-siapa. Mereka milih sendiri buat berdiri di belakang lo.” Liora menghela napas. “Tapi kadang gue rindu masa-masa sebelum semua ini.” Raka menatap lurus ke depan. “Masa tenang itu cuma enak karena kita belum sadar apa yang sebenarnya rusak.” --- Usai kelas, Liora berjalan sendirian menuju perpustakaan. Tapi belum sampai di tangga, langkahnya dihentikan oleh sosok yang tak asing—Arka. Dia berdiri mengenakan kemeja abu, rapi dan tampak seperti versi terbaik dari dirinya. Tapi Liora tahu, itu hanya bungkus. “Boleh ngobrol sebentar?” tanyanya. “Ngobrol soal apa?” “Soal yang lo mulai. Dan yang bisa kita akhiri... dengan tenang.” Liora menatapnya tajam. “Tenang? Kayak dulu? Kayak waktu lo nyuruh gue tutup mulut soal apa yang lo lakuin ke adik tingkat itu?” Arka menegang sesaat, tapi wajahnya tetap tenang. “Itu belum tentu terjadi, Liora. Jangan asal nuduh.” “Gue gak nuduh. Dia cerita sendiri. Dan ada dua orang lain yang mulai buka suara.” Arka menarik napas dalam. “Oke. Gue ngerti lo dendam. Gue ngerti lo sakit hati karena hubungan kita dulu. Tapi ini bukan caranya.” “Gue gak balas dendam. Kalau gue mau balas dendam, gue udah post foto lo dengan semua chat lama kita. Tapi enggak. Gue mau ini semua selesai dengan lo tanggung jawab.” Wajah Arka menegang. Matanya yang biasanya memikat kini tampak gelap. “Lo pikir lo pahlawan di cerita ini?” “Enggak. Gue cuma korban yang nolak jadi boneka.” Sejenak, keheningan menggantung di antara mereka. Arka kemudian melangkah lebih dekat, suaranya merendah. “Lo pikir lo bisa jatuhin gue? Gue bukan mahasiswa biasa. Gue punya jaringan. Dosen, pengurus, bahkan alumni. Kalau gue jatuh, gue gak jatuh sendiri. Lo juga bakal ikut kena.” Liora menatapnya lama. “Gue lebih rela jatuh karena kebenaran, daripada berdiri di atas kebohongan.” --- Hari berganti malam. Liora duduk di kamar kosnya, membuka laptop, mencoba menulis laporan tambahan untuk forum independen kampus. Tapi pikirannya kacau. Ancaman Arka masih menggemakan ketakutan lama dalam dirinya. Di tengah kegundahan itu, Raka mengirim pesan: > “Di atap asrama cewek. Sekarang. Sendirian.” Awalnya Liora ragu. Tapi rasa percaya yang perlahan tumbuh membuatnya mengambil jaket dan naik ke atas. Dan di sanalah Raka berdiri, di tengah angin malam, menatap kota dari ketinggian. “Lo kenapa ngajak gue ke sini?” “Karena di bawah terlalu ramai buat mikir jernih.” Mereka duduk di dinding pembatas atap. Liora menarik napas panjang. “Arka ngancem gue.” “Dia selalu pake cara itu. Bikin lo ngerasa lo sendirian.” “Masalahnya, dia gak salah. Kalau dia kena, bisa jadi gue juga diseret. Nama gue juga tercemar. Belum tentu semua orang percaya gue sepenuhnya.” Raka menatapnya. “Gue percaya.” Liora terdiam. “Dan kalau lo jatuh... gue jatuh bareng lo.” Untuk pertama kalinya dalam beberapa hari, Liora ingin menangis—bukan karena takut, tapi karena ada orang yang benar-benar tinggal dan tidak pergi. Raka, si anak bengal yang dulunya dicap tak berguna, justru jadi satu-satunya yang benar-benar hadir di saat sulit. Angin malam membawa ketenangan. Tapi di baliknya, badai baru sedang menyusun langkah. Arka tidak akan diam. Dan Liora tahu, langkah selanjutnya harus lebih ha ti-hati. Karena semakin dekat pada kebenaran, semakin banyak bayangan yang ingin menghentikannya.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD