Episode semuanya mulai pecah

1611 Words
BAB 21 – Hari Ketika Semuanya Mulai Pecah Hari itu sebenarnya dimulai biasa saja. Langit kampus mendung seperti biasa, jam-jam kuliah berjalan monoton, dan lorong-lorong fakultas dipenuhi mahasiswa yang terlalu sibuk mengejar absen dan tugas. Tapi di antara semua rutinitas itu, ada sesuatu yang berubah di wajah-wajah orang yang Liora temui. Pandangan mereka sudah tidak lagi sekadar lewat. Ada sorot yang lebih dalam—antara penasaran dan curiga. Liora melangkah cepat di koridor gedung utama, mengenakan jaket almamater yang sedikit kebesaran. Tangannya menggenggam erat map berisi beberapa dokumen penting yang berhasil ia susun sejak dua minggu lalu. Hari ini adalah hari dia akan bicara. Bukan sekadar celetukan di belakang layar, bukan sindiran di story media sosial, bukan pula percakapan setengah berbisik di kantin. Hari ini, dia akan berdiri di depan rapat terbuka kampus, dan menyuarakan semuanya—tentang Arka, tentang pengkhianatan, dan tentang skema organisasi yang sudah terlalu lama menyimpan busuk di bawah meja. “Aku nggak yakin ini keputusan yang aman,” bisik Tasha, sahabatnya, yang berjalan di sebelahnya. “Mereka bisa bener-bener balas, Li.” Liora menoleh. “Aku tahu. Tapi kalau kita diam terus, kapan semuanya berhenti?” Mereka tiba di aula tempat rapat senat mahasiswa digelar. Ruangan itu tidak terlalu besar, tapi cukup untuk membuat siapa pun yang masuk merasa seperti sedang diadili. Di tengah ruangan ada podium, di sisi kiri kanan duduk para ketua organisasi, anggota senat, dan beberapa dosen pembina. Suasana mencekam—bukan karena tegang, tapi karena semua tahu, hari ini akan berbeda. Liora duduk di bangku belakang, menunggu giliran. Raka belum datang. Ia mengirim pesan singkat: “Macet. Tapi gue bakal dateng. Lo tungguin.” Jantungnya berdetak makin kencang. Dia bukan tipe yang suka jadi pusat perhatian. Bahkan saat menjadi ketua panitia acara besar tahun lalu pun, Liora lebih suka bekerja di balik layar. Tapi semua ini bukan lagi soal zona nyaman. Ini soal apa yang benar dan apa yang terus dibiarkan salah. Beberapa nama sudah maju ke depan, membacakan laporan, menyampaikan program kerja, dan mengumbar keberhasilan organisasi yang nyatanya tidak seindah itu di lapangan. Liora mendengar semuanya dengan kepala tertunduk. Lalu tiba-tiba, namanya disebut. “Liora Maheswari, dari Fakultas Psikologi. Silakan.” Suasana langsung berubah. Beberapa orang langsung menoleh. Ada yang mendesah, ada pula yang tersenyum sinis. Arka, sang ketua BEM yang selama ini menduduki posisi ‘tak tergoyahkan’ itu, menatap Liora dari kursi depan. Ekspresi wajahnya datar, tapi mata itu—mata yang dulu ia tatap dengan rasa suka—kini dingin seperti batu. Tidak ada sisa manis dari masa-masa ketika mereka masih dekat. Hanya sisa dendam dan ancaman tak terucap. Liora berdiri. Suaranya bergetar saat pertama kali berbicara. Tapi seiring ia mulai menyampaikan data—tentang dana kegiatan yang tidak sesuai laporan, proyek fiktif, pemalsuan tanda tangan—suaranya mulai tegas. Ia buka satu per satu berkas yang disalin dari laporan keuangan organisasi, mencocokkan dengan bukti dari mahasiswa lain, bahkan menyelipkan rekaman suara rapat informal yang sempat bocor. Beberapa orang mulai resah. Ada yang langsung mengangkat tangan protes, ada pula yang mencoba menyanggah. Tapi Liora tidak goyah. Di detik-detik seperti ini, dia ingat kenapa ia mulai semua ini—bukan karena patah hati, bukan karena ingin balas dendam, tapi karena dia muak. Muak melihat banyak yang pura-pura tidak tahu, muak karena banyak yang takut, dan muak karena dia sendiri pernah jadi bagian dari kebohongan itu. Saat Liora selesai berbicara, suasana ruangan menjadi sunyi. Bahkan pembina organisasi terlihat gugup menatap meja. Liora kembali ke bangku, napasnya masih memburu. “Gila lo, Li,” bisik Tasha. “Gue baru lihat lo kayak gini.” Liora menatap lurus ke depan. “Baru mulai, Tash.” Beberapa menit kemudian, Arka maju. Dengan wajah yang masih santai, ia mencoba membantah semua tuduhan. Dia menampilkan gaya tenang, seperti biasa. Tapi kali ini, tidak semua mata memihaknya. Suasana berubah. Di antara mereka, kini muncul celah. Tidak ada lagi loyalitas mutlak. Apa yang Liora lakukan baru saja membuka lubang besar—dan sekali terbuka, tidak ada yang bisa menutupnya kembali. Sore harinya, Liora duduk sendirian di bangku taman kampus. Angin lembut bertiup, dan beberapa daun jatuh di kakinya. Dia membuka ponselnya, membaca ratusan pesan yang masuk. Sebagian berisi dukungan, sebagian lainnya ancaman. Tapi yang membuatnya berhenti adalah satu pesan pendek dari Raka: > “Gue bangga sama lo. Tapi mulai sekarang, kita harus siap perang. Lo nggak sendirian.” Liora menghela napas. Perang belum dimulai, tapi dia tahu, malam ini dia takkan bisa tidur dengan tenang. Dunia kampus yang dulu tenang, kini sudah menjadi ladang pertempur an. Dan dia… sudah berada di tengahnya. BAB 22 – Tumbuh Di Tengah Bahaya Ada yang berubah di koridor kampus. Bukan cat dindingnya, bukan susunan papan pengumuman yang makin usang, tapi suasananya. Tatapan orang-orang kini terasa seperti bisikan yang belum terucap. Sebagian memuji, sebagian membenci, sebagian lagi diam dan menunggu angin berbalik arah. Liora berjalan sambil menunduk. Bukan karena takut—lebih karena lelah. Setelah hari kemarin, hidupnya seperti dilempar ke medan penuh ranjau. Setiap langkah terasa salah. Setiap senyum seperti jebakan. Dan setiap orang yang menepuk pundaknya bisa jadi sedang memegang pisau di balik punggung. Di kelas, dia masih duduk di tempat biasa, di barisan kedua dari belakang, dekat jendela. Tapi hari ini tidak ada yang duduk di sampingnya. Bahkan teman-teman satu kelompoknya dulu pun mendadak "sibuk", tidak menyapa. Guru besar yang mengajar hanya memberi lirikan sesaat—takut, atau mungkin enggan terlibat. Namun dia tetap menulis. Di dalam buku catatannya, Liora menggambar skema. Nama-nama, koneksi, kemungkinan-kemungkinan. Raka yang duduk dua bangku di depan menoleh beberapa kali. Dia ingin bicara, tapi menahan diri. Bel istirahat berbunyi. Suara bangku berderak, sepatu berderap. Tapi tak ada satu pun yang menyapa Liora. Dia berdiri, melangkah ke luar kelas. Tapi baru lima langkah, dua mahasiswa dari fakultas hukum berdiri menghadangnya. “Liora Maheswari?” salah satu dari mereka bertanya, dengan suara terlalu ramah untuk dipercaya. “Iya,” jawabnya singkat. “Kami hanya menyampaikan surat undangan mediasi dari organisasi. Formal. Lo wajib hadir.” Liora menerima amplop cokelat yang disodorkan. Tidak membuka isinya. Dia hanya menatap mereka sejenak. “Ini intimidasi atau cuma formalitas?” “Formalitas,” jawab mereka serempak. Tapi mata mereka tidak bisa berbohong. Setelah mereka pergi, Raka langsung menghampiri. “Surat apa?” “Mereka undang aku buat mediasi. Bahasa lembut dari interogasi, ya.” “Lo nggak harus dateng sendiri.” Liora menatap Raka. “Gue nggak takut sendiri, Rak. Tapi... capek.” Raka tersenyum kecil. “Capek karena ini bukan cuma tentang lo. Ini udah jadi perang, Li.” --- Di malam hari, Liora duduk di kamarnya, membaca isi surat. Isinya seperti yang dia duga—undangan “diskusi” soal laporannya, dengan beberapa nama dari badan organisasi, pembina, dan dua perwakilan kampus. Tempatnya di ruang sekretariat pusat. Waktu: besok, jam dua siang. Di layar laptopnya, beberapa file laporan terbuka. Ia membaca lagi, menyusun argumen, menyiapkan semuanya. Tapi pikirannya melayang. Bukan ke berkas-berkas, tapi ke masa lalu—ke semester lalu, ketika semuanya masih sederhana. Saat dia masih percaya pada Arka. Saat hubungan mereka belum berubah jadi abu-abu kelam. Bagaimana ia bisa jatuh pada orang seperti itu? Apakah karena karismanya? Cara bicara yang tenang tapi tegas? Atau karena dalam kebohongannya, Arka selalu punya kemampuan menyihir semua orang di sekitarnya? Malam itu ia tidak tidur. --- Keesokan harinya, Liora datang tepat waktu. Dengan pakaian hitam sederhana dan map yang sama, ia masuk ke ruangan sekretariat. Di dalam, sudah ada beberapa orang—Arka, dua pengurus inti, pembina organisasi, dan satu perwakilan dari pihak kampus. Suasana tidak formal, tapi juga tidak bersahabat. “Terima kasih sudah hadir, Liora,” kata pembina, seorang pria paruh baya dengan kacamata bulat. “Hari ini kita di sini bukan untuk menghakimi, tapi mencari titik tengah.” Liora duduk, membuka mapnya, dan langsung menatap mata Arka. “Saya tidak di sini untuk kompromi. Kalau tujuannya mencari damai, saya keluar sekarang juga.” Arka tertawa kecil. “Kamu masih sama ya. Idealis banget.” “Sama seperti kamu yang masih pura-pura polos,” balas Liora cepat. Pembina berdehem. “Liora, tolong tahan emosi. Arka juga. Kita bahas data dulu.” Satu per satu, data yang ia bawa dibuka, disangkal, dibantah. Tapi Liora siap. Ia tidak datang untuk kalah. Setiap angka punya rujukan. Setiap pernyataan punya bukti. Mereka mulai goyah. Tapi Arka tetap tenang. Dia tahu, dalam dunia seperti ini, yang benar tidak selalu menang. “Kalau kamu bener, kenapa kamu baru bicara sekarang?” Arka bertanya di tengah mediasi. “Kenapa setelah hubungan kita selesai, baru kamu angkat semuanya?” Pertanyaan itu memukul, tapi Liora tidak gentar. “Karena saat itu aku belum sadar bahwa aku hanya pion. Bahwa kamu bukan cuma bohongin aku, tapi juga semua orang di sistem ini. Dan gue muak jadi bagian dari kebusukan itu.” Ruangan sunyi. Pembina hanya bisa mencatat. Dua perwakilan lain mulai sibuk menahan diri untuk tidak berpihak. Pertemuan itu berakhir tanpa keputusan. Tapi semua tahu: keretakan sudah terjadi. Dan Liora baru saja membuka celah paling dalam. --- Sore itu, Raka menunggu di luar. “Gimana?” tanyanya. Liora menghela napas. “Belum pecah. Tapi retaknya makin dalam.” “Gue liat lo. Dari luar.” Liora tersenyum. “Lo nguping?” “Enggak. Tapi gue bangga.” Mereka berjalan keluar kampus. Di kejauhan, matahari mulai turun. Jalanan penuh mahasiswa, tapi mereka berdua seperti berjalan di dunia sendiri. “Rak,” kata Liora. “Kalau nanti semua ini berbalik ke gue, lo bakal tetep bantuin?” “Gue nggak di sini buat bantuin,” jawab Raka. “Gue di sini buat berdiri bareng.” Liora terdiam. Untuk pertama kalinya dalam beberapa minggu, hatinya sedikit l ebih tenang. Bukan karena masalah selesai, tapi karena dia tahu, dia nggak benar-benar sendirian.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD