Tidak terasa kini hari pernikahan mereka sudah tiba. Sesuai perkataan Sri waktu itu jika suami serta kakaknya Lyra akan hadir di acara pernikahan kini nyata sudah, mereka memakai jas mahal berwarna hitam dan terlihat sangat gagah. Dito-kakaknya Lyra merasa terharu karena adiknya lebih dulu menemukan jodohnya apalagi dilihat jika adiknya sangat terlihat bahagia, hal tersebut sangat cukup membuat sang kakak bahagia karena setelah ini tugas untuk menjaga adiknya akan digantikan oleh pria pilihan adiknya sendiri yaitu Rio.
Awalnya Dito merasa ada sesuatu yang janggal ketika sempat berbicang dengan Rio tetapi tidak tau apa sampai akhirnya perasaan tersebut dibuang jauh-jauh demi kebahagiaan adiknya.
“Tolong jaga adikku dengan sangat baik seperti aku selama ini menjaganya, jika dia bahagia maka kami semua akan turut merasakan kebahagiannya begitu juga ketika merasakan kesedihan atau tersakiti maka kami akan jauh lebih merasa sakit. Tidak akan ada seorang kakak yang nantinya ikhlas melihat adiknya sengsara.” Ucapan Dito sempat menyinggung perasaan Rio karena seolah menyindirnya.
“Saya mencintai Lyra dan memang sudah sepantasnya kebahagiaan selalu ada di dalam hidupnya. Terima kasih atas wejangan berharga anda, hal tersebut akan selalu saya ingat dan terima kasih sudah menyempatkan waktunya hadir menyaksikan kami menikah.” Jawab Rio berusaha tetap tenang dan menepuk bahu Dito pelan sembari tersenyum bahagia.
Pernikahan akhirnya diselenggarakan secara mewah serta banyak kolega yang datang membuat Lyra merasa kelelahan karena dari pagi sampai hampir jam sepuluh malam masih ada saja tamu yang terus berdatangan.
Setelah acara selesai kini Rio mengajak istrinya pulang ke rumah orang tuanya sembari menunggu proses renovasi rumah baru yang dibelinya selesai. Di sana menjadi saksi bisu malam pertama serta malam di mana bagi Lyra melepas mahkotanya untuk seutuhnya menjadi milik suaminya. Rio yang mengetahui jika istrinya masih per*awan merasa semakin bahagia dan bangga karena Lyra bukan sisa dari pria lain dan di satu sisi semakin merasa menang karena benar-benar tidak salah memilih istri.
Sudah enam bulan mereka merasakan mahligai rumah tangga, selama itu pula Rio bersikap manis, lembut dan meratukan Lyra. Perempuan mana yang tidak tersentuh hatinya diperlakukan seperti itu pada sang suami?
Seperti pagi hari ini, Lyra bangun kesiangan karena kurang enak badan, buru-buru bangun dan ingin menyiapkan sarapan untuk suaminya sebelum berangkat kerja tetapi Rio sudah lebih dahulu bangun kini menyambut dengan sebuah ciuman lembut di kedua pipi sembari tersenyum manis. Mengetahui jika istrinya sedang tidak enak badan membuat Lyra merasa bersalah karena belum membuatkan sarapan padahal sebentar lagi harus berangkat ke kantor.
Rio justru malah meminta istrinya untuk beristirahat saja biar nanti ia bisa beli makan di luar, mendengar itu semakin membuat Lyra merasa bersalah karena merasa tidak becus menjadi istri. Rio meyakinkan istrinya jika itu bukanlah masalah besar, setelah bisa menerima, barulah suaminya pamit untuk bekerja dan Lyra mengantar sampai halaman depan sambil membawakan tas kerja Rio. "Hati-hati Mas," ucap Lyra lalu Rio hanya tersenyum sekilas dan bergegas masuk ke mobil.
Yang ia tahu suaminya hari ini bekerja dan sarapan di luar padahal sedang perjalanan menuju rumah kekasihnya-Cecillia untuk berjalan-jalan ke area puncak. "Hahaha memang dasarnya punya istri baperan. Memang gak salah memilihnya jadi pengganti rahim," gumam Rio tersenyum licik.
Rio sudah tiba di kediaman Cecillia dan langsung disambut pelukan hangat oleh kekasih tercintanya. "Mas Rio, I miss you so much,"
Sambil membalas pelukan, Rio mengucapkan, "I miss you too sayang.”
"Masuk yuk, udah sarapan belum?" tanya Cecillia memastikan dan Rio menggelengkan kepala.
"Tugas istrimu itu apa, Mas? Bikin sarapan aja gak becus! Kasihan kamu kelaparan, sarapan bareng yuk kebetulan aku masak makanan favoritmu, udang asam manis," ajaknya lalu mengajak Rio ke ruang makan.
Di sana ada Mamah Ira sehingga kini mereka bertiga sarapan bersama. "Rio? Tumben kamu pagi-pagi udah datang."
"Kita mau ke Puncak, jadi memang sengaja berangkat pagi. Kebetulan belum sarapan jadinya aku ajak makan sekalian. Harusnya pagi hari itu suaminya di urus dengan baik bukannya malah dibiarkan makan di luar," ucap Cecillia penuh perhatian.
"Wah, kalian mau ke Puncak gak ajak Mamah? nanti kamu mau alasan apa ke istrimu?" tanya Ira penasaran.
"Hmm itu nanti bisa dipikirkan lagi yang terpenting hari ini waktuku khusus untuk Cecillia," ucap Rio menatap kekasihnya dengan senyum.
"Kamu memang yang terbaik, Mas," puji Cecillia tersipu malu.
"Apa pun untukmu sayang, karena kamu sudah berkorban demi keselamatan mamahku," ucap Rio menatap mesra Cecillia.
"Aku bersyukur, setidaknya kamu masih ada di sini dan menerimaku apa adanya," ucap Cecillia bahagia lalu mereka sarapan dengan tenang.
Setelah selesai sarapan kini mereka memutuskan segera berangkat ke puncak, di sana akan menikmati waktu hanya berdua tanpa diganggu siapa pun termasuk Lyra-istri sah Rio.
Tiba-tiba, Lyra berinisiatif ingin mengantarkan makan siang untuk suaminya sebagai menebus kesalahan karena lalai menyiapkan sarapan. Setelah selesai memasak dan berdandan kini bersiap melajukan mobil menuju kantor suaminya.
****
Di kantor Rio yang sangat megah dan menjulang tinggi membuat siapa saja berbondong-bondong menjadi karyawan di sini karena terkenal perusahaan yang memiliki jenjang karir serta gaji yang tinggi. Karena tidak tau di mana ruangan suaminya membuatnya kini bertanya kepada salah satu karyawan yang kebetulan berjalan searah dengannya.
Awalnya karyawan tersebut sempat bertanya-tanya untuk apa Lyra menemui bosnya apalagi membawa bekal makanan tetapi tidak berani menanyakan karena tidak mau ikut campur terlalu dalam dan memilih untuk memberitahu di mana ruangannya.
Tiba di ruangan suaminya ternyata ada perempuan cantik serta berpenampilan seksi yang ingin masuk ruangan, melihat ada orang asing juga masuk ruangan bosnya membuatnya segera menanyakan dengan sopan karena penampilan Lyra sangat terlihat wanita berkelas dan kecantikan alaminya membuat siapa saja merasa kagum. "Maaf, mencari siapa?"
Dengan sopan pula Lyra menanyakan apakah benar jika ini ruangannya Rio serta memperkenalkan dirinya sebagai istri dari pemilik perusahaan ini yang membuat sekretarisnya sangat terkejut karena setaunya Rio hanya memiliki satu wanita yaitu Cecillia tetapi menikah dengan perempuan lain? Apa berita jika bosnya sudah menikah beberapa bulan lalu itu benar? Dirinya memang diundang tetapi tidak bisa hadir karena harus menemani ibunya yang sedang operasi sehingga baru hari ini mengetahui secara langsung wajah dari istri bosnya.
Melihat perempuan seksi didepannya seperti terkejut membuat Lyra bertanya-tanya apakah ada yang salah dengan ucapannya? Sampai akhirnya perempuan tersebut memperkenalkan diri sebagai sekretaris dari suaminya setelah itu memberitahu jika suaminya sedang tidak ada di kantor bahkan mengajukan cuti untuk beberapa hari.
Jawaban dari sekretaris suaminya membuat Lyra merasa terkejut, jika benar mengajukan cuti kenapa pagi tadi berpamitan ke kantor? Untuk memastikan kini dirinya memasuki ruang kerja Rio dan benar saja, tidak ada suaminya di sana.
"Maaf, Nyonya, bukannya saya berbohong atau apa, tadi memang Pak Rio berpesan begitu, maka dari itu saya terkejut ketika anda datang kemari menanyakan, sekali lagi saya meminta maaf.”
"Tidak apa, kamu sudah menjalankan tugasmu dengan baik, kalau boleh tau apakah suami saya memberitahu di mana dia pergi dan dengan siapa?" tanya Lyra memastikan dengan penuh harap.
"Pak Rio tidak bilang apa-apa, hanya mengatakan jika mengambil cuti," ucap Sekretaris dengan sopan.
Lyra hanya bisa memendam rasa kecewanya setelah itu menatap kotak makan yang sudah sepenuh hati dimasaknya sebagai rasa minta maaf, tidak mau jika terbuang begitu saja membuatnya memilih menyerahkan bekal untuk suaminya kepada sekretaris."Kalau begitu ini makanan untukmu saja soalnya saya membawanya kebanyakan daripada dibawa ke rumah nanti mubazir," ucap Lyra lalu menyerahkan kotak makan.
Sekretaris menerima kotak makanan tersebut dengan senang hati terlebih memang dirinya belum makan siang. Sebelum pergi, terlebih dahulu Lyra mencatatkan nomornya di selembar kertas supaya nanti sekretaris menghubunginya dan kelak suatu saat bisa dimintai informasi perihal suaminya.
Setelah memastikan pergi, barulah sekretaris membuka kotak makanan yang berisi banyaknya masakan yang pastinya menggugah selera terlebih masih hangat. Ada rasa tidak tega ketika mengetahui Pak Rio membohongi istrinya, tetapi dia tidak punya hak apa pun untuk ikut campur karena itu merupakan masalah pribadi rumah tangga bosnya. Ia hanya bisa berdoa supaya bosnya sadar jika kelakuannya itu salah.
****
Setibanya di rumah, Lyra menelepon suaminya beberapa kali tetapi tidak kunjung dijawab sehingga membuatnya semakin cemas memikirkan di mana keberadaan suaminya. Rio hanya cuek saja ketika mengetahui istrinya menelepon karena baginya ini waktu khusus bersama Cecillia, sudah lama mereka tidak bermesraan seperti ini.
"Mas, siapa sih yang telepon?" tanya Cecillia kesal.
"Biasalah, Lyra," jawab Rio enteng lalu kembali meletakkan ponselnya di meja.
"Baru berapa jam sudah telepon terus, takut kehilangan banget sih! Aku yang berbulan-bulan dianggurin nyatanya sabar tuh gak pernah bawel," keluh Cecillia kesal.
"Namanya juga pengantin baru gak perlu di ambil pusing, ini waktuku bersamamu," rayu Rio dan akhirnya mereka melakukan penyatuan dengan penuh gairah.
Di satu sisi Lyra terus memikirkan ke mana suaminya pergi sampai tega berbohong dan takut jika memiliki wanita lain, membayangkannya saja sudah tidak mampu.
Hingga tengah malam, suaminya tidak kunjung pulang sehingga membuatnya semakin khawatir. Tidak ada pilihan lain akhirnya ia nekat kembali menelepon suaminya, kali ini panggilannya berhasil dijawab.
Dengan perasaan berdebar dan was-was Lyra menanyakan suaminya berada di mana denga suara bergetar. "Halo, Mas, kamu di mana saja?"
Seperti biasa, suaminya selalu menjawab dengan lembut, "Maaf, Sayang. Aku lagi di kantor karena ada beberapa dokumen penting yang harus diselesaikan."
"Biasanya kamu bawa ke rumah," jawab Lyra merasa mulai curiga.
"Nanggung sayang, sudah dulu ya biar cepat selesainya, jangan tunggu aku pulang karena kemungkinan pulangku bisa pagi hari,"
Dengan suara sedikit penekanan, Lyra berharap semoga Rio tidak berbohong yang tentu saja membuat suaminya merasa tersinggung. "Apa maksudmu mengatakan itu, Lyra? Kamu mulai mencurigai suamimu sendiri?"
"Aku hanya mengutarakan isi hatiku saja, kalau kamu tidak mau diganggu aku matikan teleponnya yang penting kamu di sana baik-baik saja." benar saja, setelah mengatakan itu kini panggilan diputus sepihak yang membuat Rio seketika mengumpat dan kesal.
Melihat kekasihnya terus menerus mengumpat setelah menerima telepon membuat Cecillia merasa penasaran, apa yang sebenarnya terjadi. "Kenapa jadi marah-marah?”
"Lyra tahu kalau aku berbohong, apa dia tadi ke kantor ya? coba aku tanyakan sekretarisku dulu," jawab Rio lalu menghubungi sekretarisnya, apa yang dipikirkan benar jika Lyra datang ke kantor ketika jam makan siang, hal itu langsung membuat emosi karena semuanya kacau padahal selama ini istrinya tidak pernah datang ke kantornya.
Cecillia mencoba untuk menenangkan tapi nyatanya tidak semudah itu, seperti melihat raut ketakutan serta gelisah di wajah Rio. Tidak mau jika kelak kekasihnya dikuasai oleh Lyra seutuhnya, dengan cepat ia memikirkan cara untuk mempengaruhi Rio. "Sudah ketahuan bohong maka lanjutin saja kita menginap di sini, masalah alasan pikirkan besok, ayo dong tepati janjimu."
"Apa nanti alasanku padanya?" tanya Rio bingung.
"Itu mudah, yang terpenting kita saling memuaskan dulu, apa kamu gak merindukan aku?" goda Cecillia membuat Rio akhirnya luluh, mereka kembali melakukan penyatuan dengan penuh gairah dan sangat panas.
Setelah selesai dengan penyatuan yang sangat hebat dan b*******h, kini mereka terkulai lemas di ranjang dan saling berpelukan tanpa sehelai benang pun."Momen seperti ini yang aku inginkan, Mas. Tapi sayangnya harus bersabar dan relain kamu sama si Lyra itu, pokoknya aku gak bisa membiarkan mereka bersama terlalu lama karena Mas Rio harus tetap menjadi milikku," batin Cecillia tersenyum licik.