Bab 4. Alibi Rio

1140 Words
Malam hari, Rio baru sampai di rumah dan mendapati Lyra tidak menyambutnya dengan hangat, entah di mana keberadaannya, sudah mencari ke setiap sudut rumah namun tidak ada istrinya, lalu akhirnya Rio menghubungi istrinya. Lyra: Halo, Mas? Rio: Halo, kamu dimana sayang? Mas sudah pulang dan mencarimu. Lyra: Aku lagi keluar sebentar membeli makanan, sebentar lagi pulang. Rio: Kenapa tidak meminta tolong suamimu ini untuk membelikan? Bisa sekalian ketika perjalanan pulang sayang. Lyra: Aku pikir mas Rio gak pulang lagi makanya lebih baik beli sendiri. Panggilan langsung terputus dan hal itu cukup membuat tamparan untuk Rio karena sikap Lyra tidak seperti biasanya, tidak mau berpikir berlebihan akhirnya ia memutuskan untuk mandi terlebih dahulu sambil menunggu istrinya pulang ke rumah. Ternyata Lyra sudah menunggu di meja makan, langsung saja ia menuju ke sana dan memeluk istrinya dari belakang. "Hai sayang, I miss you," "Makan dulu mumpung masih hangat, maaf aku gak masak karena aku gak tau kalau kamu pulang, takut makanannya mubazir jadinya aku seharian jajan," ucap Lyra ketus dan tidak menatap wajah suaminya. "Hai, sayang, apa kamu marah?" tanya Rio memastikan dan jawaban yang diberikan istrinya hanya menggelengkan kepala saja setelah itu makan dengan lahap tanpa mempersiapkan untuk suaminya lebih dulu. Melihat suaminya seperti gelisah membuat Lyra bertanya, "Kenapa gusar begitu? kalau belum siap membicarakan alibimu lebih baik segera makan dan istirahat, aku tidak menuntut penjelasan," ucapan istrinya sukses membuat Rio tertunduk malu dan tidak bisa berkata apa-apa sedangkan istrinya hanya tersenyum tipis saja. Apa yang menjadi firasatnya ternyata benar, jika suaminya berbohong jika mengerjakan pekerjaan kantor dan kemungkinan besar juga ada wanita lain di hatinya. "Sayang, maafkan aku kalau kemarin gak bilang padamu, aku ada urusan mendadak yang harus segera ditangani, memang kemarin tiba-tiba aku izin cuti sama sekretarisku, ini semua karena urgent sayang," ucap Rio memasang wajah sedih. "Apakah itu proyek penting sampai kamu membohongiku? Dari mana kamu tau kalau aku datang ke kantor lalu menanyakan pada sekretarismu?" tanya Lyra semakin membuat Rio terjebak jawabannya sendiri. "Penting sekali sayang, ada proyek di kantor cabang yang bermasalah dan mau gak mau aku harus turun sendiri, kalau gak percaya bisa aku telepon kan kepala cabang sana," ucap Rio hendak menelepon anak buahnya. "Untuk apa, Mas? biar aku percaya? kalau memang kamu benaran ada proyek di kantor cabang seharusnya sekretarismu itu tau, mana ada sekretaris sampai luput dari masalah pekerjaan, masalah proyek merupakan masalah pekerjaan dan berlaku di jam kerja, jadi masalah seperti ini harusnya dia tau," sindir Lyra tersenyum kecut. "Aku sudah menjelaskan padanya, apa dia tidak memberitahu?" tanya Rio dengan sedikit gugup sedangkan Lyra menggelengkan kepalanya. "Berarti dia ingin merusak rumah tangga bosnya sendiri jelas-jelas aku mengatakan kalau cuti karena ada masalah proyek malah dia tidak mengatakan apa pun, besok aku pecat dia," ucap Rio geram. "Mau kamu punya seribu sekretaris kalau dia memang tidak kamu sampaikan sesuatu ya mereka akan berkata demikian, jangan mengambinghitamkan orang lain, kerja dia bagus bahkan aku suka sama kinerjanya. Aku sudah bilang kalau kamu belum bisa memberikan alibi juga tidak masalah karena aku tidak menuntut penjelasan," ucap Lyra menahan emosi lalu pura-pura tidur. Merasa jika istrinya kini membelakanginya membuat Rio menghela nafas secara kasar setelah itu diam. Tidak menyangka jika istrinya ternyata pandai membuatnya kalah telak membuat Rio kini berpikir untuk bertindak lebih hati-hati lagi. Diam-diam mengirimkan pesan kepada Cecillia untuk memberitahu apa yang baru saja terjadi. Rio: Ini gawat ini! Lyra ternyata tidak semudah itu dibohongi. Sisil: Istrimu kenapa lagi, Mas? Rio: Dia selalu menyindir aku bahkan sanggup membuatku kalah telak. Sisil: Istrimu ribet sekali, sih! Biarkan saja nanti juga baik sendiri. Aku gak mau mendengar keluh kesahnya tentangnya lagi ya, Mas! Setelah itu Rio memutus panggilan teleponnya karena merasa ada suara langkah kaki yang mendekat, ketika menghadap ke belakang rupanya Lyra sudah ada di sana. Hal itu semakin membuat Rio kikuk dan gugup, “Sa-sayang, sejak kapan ada di sini?” Rio berusaha bersikap tenang meski perasaannya tengah gusar dan ketakutan jika istrinya mendengar pembicaraannya dengan Cecillia. “Memang kenapa, Mas? Apakah penting?” tanya balik Lyra penuh selidik. “Apa kamu mendengar pembicaraanku dengan klien tadi?” tanya Rio harap-harap cemas. “Memang apa yang kalian bahas sampai membuatmu memastikan seperti itu padaku?” tanya balik Lyra mengintimidasi suaminya. Rio tidak tau lagi harus bersikap bagaimana sampai akhirnya memilih mengalihkan obrolan dan mengajak istrinya untuk tidur. Lyra hanya menuruti saja apa perkataan suaminya meski di dalam hati ingin sekali mencecar banyak pertanyaan. **** Hari-hari mereka lalui dengan penuh kecanggungan, Rio yang berusaha selalu romantis seperti biasanya selalu mendapatkan penolakan dari Lyra. “Apa kamu tidak capek terus menerus mendiamkan aku?” keluh Rio. “Apa Mas Rio tidak juga ingin menjelaskan mengapa sampai membohongiku? Dengan siapa kamu pergi, Mas? Wanita mana yang sudah mengusik hatimu untuk berpaling dariku?” cecar Lyra sudah tidak bisa menahan diri lagi untuk tidak mencecar suaminya. Rio tersinggung dengan ucapan istrinya, memang dia menghabiskan waktu bersama Cecillia dan itu bukanlah wanita lain karena sejak awal hanya Cecillia yang ingin dinikahinya, jika bukan karena musibah kecelakaan waktu itu, tidak akan ada Lyra di hidupnya. “Kamu menuduhku memiliki wanita lain? Punya bukti apa? Aku ingin melihatnya.” “Aku memang tidak ada bukti tetapi memiliki feeling yang di mana jarang meleset apalagi sekarang aku menjadi seorang istri. Jika memang ada wanita lain di hidupmu, katakanlah sekarang juga sebelum pernikahan kita semakin jauh dan nantinya ada anak antara kita.” Sindir Lyra dengan sangat tegas membuat Rio naik pitam. “Aku tidak suka dituduh tanpa alasan yang jelas seperti ini, jika kamu meragukan suamimu sendiri, ayo ikut bekerja di kantor atau mulai hari ini kamu menjadi sekretarisku biar sekretaris yang lama aku pecat,” tantang Rio dengan suara sedikit meninggi. “Baiklah, ayo kita ke kantor dan biarkan aku menjadi sekretarismu tanpa memecat yang lama. Jika keyakinanku ini benar, selesaikan pernikahan ini dengan segera karena sampai kapan pun aku tidak menerima perselingkuhan!” tantang balik Lyra membuat Rio kelimpungan. “Ba-baiklah, sebentar lagi kita berangkat,” jawab Rio seadanya bahkan makanan yang sudah tersaji di meja rasanya tidak membuatnya berselera. Melihat istrinya ke kamar untuk bersiap-siap, membuat Rio segera mengirimkan pesan kepada Cecillia. Rio: Jangan lagi ke kantor selama beberapa waktu ini karena Lyra akan menjadi sekretarisku. Cecillia: Apaan sih! Kenapa bisa jadi begini? Tugas dia hanya menjadi rahim penggantiku bukan sepenuhnya menjadi istrimu, Mas! Rio: Dia mencurigaiku, daripada ketahuan sebelum ada anak yang lahir lebih baik aku turuti saja semua kemauannya. Aku harap kamu sabar. Cecillia: Ini keterlaluan namanya! Kantor tempat paling aman untuk kita bertemu juga akan dikuasainya, jangan sampai besok kamu juga dikuasainya, Mas! Rio: Itu tidak akan terjadi, percayalah. Nanti aku hubungi lagi ya. Cecillia yang merasa kesal langsung menjatuhkan ponselnya di kasur, hal ini tidak bisa diterimanya karena Lyra mulai menguasai apa yang seharusnya menjadi miliknya. “Jika ini semakin kelewatan, jangan salahkan aku membongkar semua sebelum waktunya! Sabarku juga memiliki batas!”
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD