Rasa Sakit

2254 Words
Tania dan Cycil baru saja datang dan mendengar suara lemparan gelas dan juga suara teriakan Rainy yang begitu besar. Mereka berdua berlari masuk ke dalam rumah Rainy, mencari sumber suara Rainy. Tania dan Rainy sangat kaget melihat situasi di kamar Rainy, pecahan kaca di mana - mana dan juga Rainy yang sudah duduk di lantai sambil menangis. Citra juga terlihat sangat khawatir dan tegang. "Rainy heh Lo kenapa hah?" Tanya Tania sambil memeluk Rainy. "Citra Zaki.. ada sebenarnya? Apa yang terjadi? Kenapa Rainy seperti ini?" Tanya Cycil menatap Zaki lalu Citra. Tapi Zaki dan Citra tidak bisa menjelaskan apa - apa. "Tolong kalian usir kedua orang ini." Kata Rainy ke Tania. "Kenapa Rainy? Memangnya ada apa?" Tanya Tania Lagi. "Tolong pleasee.. gue minta tolong sama kalian. USIR KEDUA ORANG INI DARI RUMAH GUE!" Teriak Rainy sambil menangis. "Oke - oke.. tolong kalian berdua keluar dari sini, sebelum gue sama Tania mengusir paksa kalian." Ucap Cycil. "Rainy Pleasee dengarkan penjelasan gue dulu, gue minta maaf Rainy." Ujar Citra sambil mendekati Rainy lagi. "Tania pleasee.. Bawa dia pergi dari sini." Ucap Rainy menatap Tania yang sedang merangkulnya. Rainy yang sudah kehilangan tenaga dan suaranya mulai hilang karena terus - terusan berteriak. "Oke Rainy.. tenang yah.. duduk dulu." Ucap Tania membantu Rainy duduk di tempat tidurnya dalam keadaan menangis. "Kalian berdua sekarang juga keluar. Tolong selagi gue masih bicara baik - baik." Ucap Tania bertolak pinggang. "Tapi gue masih harus berbicara sama Rainy Tania, Lo nggak bisa ngusir gue seperti ini." Seru Zaki. "GUE BILANG KELUAAAR!! GILA YAH KALIAN BERDUA!! Gue udah bisa ngebaca apa yang terjadi di sini. SEKARANG KALIAN BERDUA KELUAR, KELUAR DARI RUMAH RAINY!!" Teriak Tania yang sudah mulai emosi, Tania menyeret Zaki dan Citra keluar dari kamar Rainy. "Cycil.. Lo Panggil Pak Dani di bawah untuk mengusir kedua orang ini dari rumah Rainy." Ucap Tania lalu menutup pintu kamar Rainy. Cycil berlari menuruni satu demi satu anak tangga memanggil Pak Dani, satpam di rumah Rainy. Cycil menyuruh Pak Dani untuk mengusir paksa Zaki dan juga Citra, meski Cycil masih bertanya - tanya apa yang sebenarnya terjadi antara Rainy, Zaki dan juga Citra. Saat Pak Dani hendak mengusir Zaki dan Citra, kedua orang tua Rainy juga sudah pulang. "Pak Dani ada apa ini? Kenapa Pak Dani mengusir calon menantu saya? Dan Citra? Citra kenapa bapak usir seperti itu juga? Kenapa? Ada apa?" Tanya Ibu Maya yang baru saja turun dari mobil, melihat Pak Dani menarik Zaki dan juga Citra keluar dari rumahnnya. "Maaf bu, saya juga nggak tau kenapa. Saya hanya di suruh sama Mba Cycil, katanya di suruh sama Mba Rainy." Jawab Pak Dani sambil memegang Zaki dengan sekuat tenaga, sedangkan Citra sudah Pak Dani lepas karena Pak Dani tidak ingin kasar dengan wanita. "Pak Dani!! Pak Dani!! Tolong ke sini dulu!” Tiba - tiba Cycil berteriak yang mengangetkan semuanya. "Heh? Kenapa Cycil?" Tanya Ibu Maya. "Ehh Tantee.. tante udah pulang?? tante aduhh itu Rainy pingsan tante." Jawab Cycil terbata - bata. Karena panik, Ibu Maya dan Pak Hadi berlari ke kamar Rainy untuk melihat keadaan Rainy. Sedangkan Pak Dani meneruskan langkahnya membawa Zaki keluar dari rumah Rainy. "Tolong yah Mas Zaki.. mas Zaki pergi dari sini sekarang juga, Mba Citra juga, Mba Citra tolong pergi juga dari sini, jangan mempersulit pekerjaan saya." Ucap Pak Dani sambil mendorong pagar rumah. "Tapi Pak Dani, Rainy pingsan.. saya harus melihat keadaan calon istri saya !!!" Teriak Zaki. "Maaf Mas Zaki.. saya tidak tau apa yang sebenarnya terjadi, tapi tolong jangan mempersulit saya. Silahkan pergi dari sini sekarang juga sebelum saya bertindak lebih jauh lagi." Ucap Pak Dani kemudian menutup rapat pintu pagar rumah Rainy. Sementara itu, keadaan di kamar Rainy sudah tidak terkendalikan. Ibu Maya sangat panik melihat putrinya tiba - tiba pingsan. Pak Hadi segera mengangkat Rainy naik ke tempat tidurny untuk di baringkan. "Pa.. Papaa ini gimana? Kita bawa ke rumah sakit aja atau gimana?" Tanya Ibu Maya. "Maa.. mama tenang dulu, Rainy cuma pingsan. Sepertinya Rainy nggak apa - apa kok. Tania tolong coba carikan minyak anginnya Rainy di sebelah sana nak, tolong yah." Ucap Pak Hadi sambil menunjuk lemari hias milih Rainy. "Ohh iyaa siap om tunggu.. tunggu." Tania segera berlari ke lemari rias milik Rainy untuk mengambil minyak angin. "Tania ini sebenarnya ada apa sih? Kenapa Rainy sampai pingsan begini?" Tanya Ibu Maya yang mencoba menenangkan dirinya. Tania memberikan minyak angin ke Pak Hadi untuk di oleskan di hidung Rainy. "Tante maaf.. tapi sepertinya ini bukan hak aku untuk memberitahukan yang terjadi sama tante dan juga om. Karena Tania juga belum tau pastinya apa yang terjadi tadi, lebih baik kita tunggu Rainy sadar aja tante." Jawab Tania yang berdiri di samping Ibu Maya . Ibu Maya semakin penasaran dengan apa yang terjadi, tapi Rainy tak kunjung sadarkan diri juga. "Aduhh Cycil ini kenapa sih? Apa yang terjadi sebenarnya? Kamu juga tidak bisa menjelaskannya sama tante iyaa?" Tanya Ibu Maya. "Aduh mama tenang dulu kenapa sih? Mama ini jangan terlalu panik seperti itu. Kita lebih baik menunggu Rainy sadar dulu aja, jangan membebani Tania dan juga Cycil. Kasian mereka, mereka juga nggak enak pasti sama Rainy kalau harus menjelaskan apa yang mereka tidak ketahui sebenarnya." Ucap Pak Hadi. "Maaf yahh tante." Ujar Cycil pelan. Rainy perlahan membuka matanya perlahan – lahan disertai batuk pelan. "Rainy.. Rainy sayang.. kamu nggak apa - apakan sayang? Kenapa kamu tiba - tiba pingsan seperti ini sih? Apa yang terjadi?" Tanya Ibu Maya. "Maaa.. Paaa.. maaf tapi Rainy mau ngebatalin pernikahan aku dan Zaki." Ucap Rainy yang masih berbaring dengan sekuat tenaga menahan tangisnya. "Hah? Maksud kamu? Kenapa? Kenapa mau kamu batalin? Persiapan pernikahan kamu semuanya sudah hampir seratus persen loh, kenapa malah mau kamu batalin? Kamu ini ada - ada aja." Kata Ibu Maya dengan raut wajah yang sangat tidak percaya dengan perkataan Rainy. "Rainyy sayang.. kamu tenang dulu yahh. Kamu ceritakan baik - baik ke papa dan Mama. Sebenarnya apa yang terjadi antara kamu dan Zaki? Kenapa kamu sampai mau membatalkan pernikanan kamu nak? undangan kamu juga sudah mau di sebar loh nak." Kata Pak Hadi yang sambil memegang tangan anak satu - satunya itu. "Mama sama Papa tau apa yang terjadi hari ini? Zaki sama Citra Maa.." Rainy tak kuasa membendung air matanya. Rainy bangun dari tempat tidurnya untuk mengambil tisu yang berada di samping tempat tidurnya lalu menyeka pipinya yang sudah basah oleh air mata. "Iyaa Zaki sama Citra kenapa sayang?" Tanya Ibu Maya. "Zaki sama Citra ciuman Maa Paaa.. mereka menghianati Rainy." Jawab Rainy yang sudah sesegukan menangis. Tania dan Cycil langsung memeluk Rainy yang menangis. "Apaaa??? Kurang ajar!! Panggilkan anak itu sekarang juga! Bisa - bisanya dia menghianati anak saya, padahal mereka sudah hampir menikah!" Pak Hadi berteriak berdiri dari tempat duduknya. "Pahh.. tenang Pahh.. nggak usah di cari lagi, aku udah nggak mau berurusan sama mereka berdua." Kata Rainy. "Hah? Maksud kamu apa Rainy? Zaki sama Citra ciuman? Oh Tuhaannn.. kenapa mereka tega sekali sama kamu. Dan Citra? Citra sahabat kamu, kenapa dia tega ngelakuin itu? Kamu nggak salahkan nak? Nggak mungkinlah merek ngelakuin hal itu sama kamu." Ucap Ibu Maya. Ibu Maya berusaha untuk berfikir positif. "Maa.. aku liat dengan mata kepala aku sendiri. Mereka ciuman Maa, dan mereka dengan santainya ciuman di rumah kita .. di kamar aku Maa.. mereka ciuman dengan sangat mesranya Maaa!! apa mereka nggak gila kalau kayak gitu?!!" Ucap Rainy dengan sangat tegas. Matanya masih berkaca - kaca. "Rainy nggak mungkin salah lihat Maa.. Rainy nggak mungkin juga ngomong seperti ini kalau dia nggak ngeliat langsung. Kita semua tau bagaimana Rainy menyayangi Zaki. Haaaaahhhhh.. dasar anak kurang ajarr!" Pak Hadi menghela nafasnya, mondar mandir sambil bertolak pinggang. "Rainy Lo yang sabar yahh.. Lo harus kuat, ingat ada kita di sini.. okeyy?" Kata Tania sambil memegang tangan Rainy. "Kuat yah Rainy.." Cycil kembali memeluk Rainy yang masih berlinang air mata. "Maa Paa.. Maafin Rainy yahh, Rainy nggak bisa melanjutkan pernikahan ini. Aku nggak mungkin melanjutkan ini semua dengan awal yang seperti ini." Ucap Rainy. "Hmm.. kamu tenangin fikiran kamu dulu yah sayang yahh.. mama nggak akan memaksakan apa yang nggak akan membuatmu bahagia. InsyaAllah Mama sama Papa juga ikhlas kalau kamu ikhlas." Ucap Ibu Maya yang berusaha tenang di depan putrinya. "Makasih yahh Maa.. Paa.. aku tau ini juga berat buat kalian dan keluarga kita. Apalagi semua temen - temen mama dan temen - temen Papa juga pasti udah pada tau kalau Rainy akan menikah. Pasti berat juga buat Mama dan Papa ngejelasin sama mereka kalau aku nggak jadi nikah. Maaf yah Maa.. Paa.." kata Rainy menundukkan kepalanya. "Nggak sayang.. nggak apa - apa.. kamu nggak usah memikirkan itu dulu. Yang terpenting sekarang kamu tenangin fikiran kamu dulu, jangan di fikirkan dulu, kamu istirahat dulu yah." Kata Pak Hadi. "Tania.. Cycil.. tolong kalian temani Rainy dulu yahh, kalau kalian lapar kalian tinggal panggil Bi Ica di bawah yah." Kata Ibu Maya hendak berdiri dari tempat duduknya. "Iyaa tante.. om.. tenang aja, biar kamu jagain Rainy dulu. Om sama tante juga tenangin fikiran dulu, minum air putih, jangan terlalu khawatir, karena Rainy anak yang kuat. Iya nggak Cyl?" Kata Tani melemparkan ucapannya ke Cycil. "Iyee bener - bener.. tante sama om istirahat aja." Kata Cycil. "Iya sayang.. kalau gitu tante sama om turun dulu yah.. Rainy istirahat yah sayang.. mama sama Papa turun dulu. Ayo Paa." Ucap Ibu Maya lalu mengambil tangan Pak Hadi di gandengnya. Ibu Maya dan Pak Hadi pun keluar dari tangan Rainy. Ibu Maya berusaha untuk baik - baik saja saat keluar dari ruangan Rainy, tapi apalah daya tangisan yang sudah dari tadi di tahannya akhirnya pecah juga saat sampai di kamarnya. "Maa.. sudahlahh Maa.. Papa tau kalau Mama juga sangat sedih hal ini terjadi, tapi ini semua sudah terjadi. Kita memang sangat mengaharapkan pernikahan putri kita satu - satunya, tapi kitabtidak boleh memaksakan kehendaknya. Mungkin ini jalan yang di berikan Tuhan untuk Rainy, untuk keluarga kita agar kita semua dijauhkan dari orang seperti Zaki sebelum kita menjadi keluarga dengannya." Ucap Pak Hadi sambil mengusap - ngusap pundak ibu Maya agar lebih tenang. "Bukan Paa.. bukan itu yang mama tangisi, Mama sedih karena mama kasihan sama Rainy. Dari dulu dia sangat memimpikan pernikahannya dengannya Zaki, tapi sekarang mimpinya di patahkan oleh sahabatnya sendiri. Mama tahu banget kalau Rainy hanya berusaha tegar di depan kita Paa. Mama sangat tidak tega melihatnya seperti itu. Apa yang harus kita lakukan Papaa???" Ucap Ibu Maya sambil menangis. "Iya Mamaa.. papa juga tahu itu. Yang harus kita lakukan sekarang adalah kita juga harus berusaha tegar di depan Rainy, harus menguatkan dia, kita tidak boleh terlihat sedih di depannya. Kita harus mendukung keputusan yang sudah dia ambil." Jawab Pak Hadi sambil merangkul Ibu Maya yang duduk di sofa pinggir tempat tidur. "Hmm.. iyaa Papa.. Mama akan berusaha, bantu mama juga yah Paa untuk berusaha tidak menangis di depan Rainy." Kata Ibu Maya mengusap air matanya. "Iya Mama.. ya sudah mama istirahat saja dulu yah, mama pasti juga masih syok dengan ini semua. Tenangin fikiran mama yah, tidur dulu aja kalau bisa. Oke." Kata Pak Hadi lalu melepaskan pelukannya dari ibu Maya. Sementara itu di kamar Rainy, Rainy masih terus menangis di hadapan Cycil dan Tania. "Rainy.. Lo mau makan nggak? Kita pesen makan kesukaan Lo yuk? Makan makanan pedes mau nggak?" Tanya Cycil berusaha menghibur Rainy. "Cyciiiilll." Seru Tania melihat Cycil dengan tatapan sinis. "Ih apasih Tania.. galak amat. Gue tuh cuma berusaha menghibur Rainy tau." Ucap Cycil mengernyitkan keningnya. "Iyaa.. tapi nggak makan - makanan pedes juga, makanan pedes itu Lo yang mau kan? Gue tuh udah tau akal - akalan Lo." Ujar Tania. Rainy membuat sedikit senyuman di wajahnya. "Tuh tuh tuh.. Rainy senyumkan? Emang kalau makan makanan pedes pasti Rainy mau juga deh. Iya kan Rainy? Maukan yah? Gue pesenin yah? Nih Lo mau yang mana? Pilih aja apa yang Lo mau." Ucap Cycil lalu memperlihatkan ponselnya ke Rainy. Tapi sebelum Rainy melihat ponsel Cycil, mata Rainy sudah berkunang - kunang, penglihatannya sudah mulai buram. Rainy mulai memegangi kepalanya. "Ehh ehh ehh.. Taniaa.. Taniaaa... Rainy.. Rainy kenapa nih Taniaaa !!!" Seru Cycil memanggil Tania. "Ehh.. kenapa? Rainy! Rainyy! Aduhh Cil cepetan panggil Om Hadi sama tante Maya." Kata Tania sambil memegangi Rainy yang sudah setengah tidak sadarkan diri. Cycil segera berlari turun mencari Pak Hadi dan Ibu Maya. Setelah Pak Hadi dan Ibu Maya ke kamar Rainy, Rainy tidak kunjung sadarkan diri. Rainy segera di bawa kerumah sakit untuk di tangani lebih lanjut. Dan ternyata di depan rumah Rainy, Zaki masih menunggu Rainy untuk di berikan kesempatan menjelaskan semuanya. Zakipun melihat Rainy di masukkan ke dalan mobil dalam keadaan tidak sadarkan diri. Zaki mengikuti mobil kedua orang tua Rainy sampai ke rumah sakit. Saat sampai di rumah sakit, Zaki segera berlari mencari keberadaan Rainy, yang saat itu Rainy masih berada di ruang unit gawat darurat. "Taniaa! Cycil! Mana Rainy? Rainy kenapa???" Teriak Zaki dari kejauhan. "Mau ngapain anak itu datang kesini?" Pak Hadi segera berdiri dari tempat duduknya memasang badannya di depan Zaki. "Mau apa kamu kesini Haa?? Kam sudah tidak ada hubungan apa - apa lagi sama Anak saya!! Pergi kamu dari sini.. PERGI!!" Teriak Pak Hadi. "Om.. maaf om.. maafin Zaki. Zaki mau ketemu sama Rainy om. Zaki minta maaf oooommmm." Ucap Zaki dengan penuh rasa penyesalan sambil berlutut di depan Pak Hadi. "Bangun.. Bangun Saya bilang! Kamu mau saya usir sendiri dari sini atau kamu mau di seret keluar sama satpam hah?" Dengan sangat terpaksa, Zaki berdiri dengan badannya yang gemetaran melihat calon mertuanya marah besar dengannya. Di sisi lain Zaki juga sangat takut kalau masalahnya diketahui kedua orang tuanya.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD