Pertemuan Singkat

1506 Words
Ibu Maya yang saat itu dalam keadaan sedih dan sangat mengkhawatirkan Rainy, mencoba berjalan keluar dari kamar rumah sakit tempat Rainy di rawat. "Pahh sudah.. tidak baik di dengar orang - orang. Ini juga rumah sakit, orang lain bisa terganggu karena keributan yang kita buat." Ucap Ibu Maya lalu menghela nafas. "Kamu dengarkan apa yang istri saya katakan? Saya tidak ingin membuat keributan di sini yah, jadi tolong kalau memang kamu tidak ingin diseret satpam, silahkan pergi dari sini. Jangan muncul dihadapan keluarga saya lagi, jangan harap kamu bisa bertemu dengan Rainy lagi." Ucap Pak Hadi dengan tegas. "Tapi Om." Kata Zaki pelan. Gary dan ... terlihat berlarian mendekati kamar Rainy. "Ahh.. bagus kalian berdua sudah datang. Tolong bawa teman kalian ini pergi dari sini, dan pastikan dia tidak kembali lagi kesini." Ucap Pak Hadi lalu masuk kembali ke kamar Rainy. "Ayo Mah kita masuk." "Om tanteee.." Zaki terlihat tidak rela Pak Hadi dan Ibu Maya masuk begitu saja. "Udahlah Zak.. lebih baik Lo pergi dulu dari sini, nggak enak tuh diliatin banyak orang." Kata Gary merangkul Zaki. "Lo nggak tau apa yang gue rasain woii!!" Teriak Zaki. "Eeittsss santai dong Lo.. gini yah Zaki, kita itu sebagai temen deket Lo juga mengerti keadaan Lo saat ini. Tapi lebih baik untuk sekarang Lo tunggu sampai situasinya tenang dulu deh. Apa Lo nggak kasihan juga sama Rainy? Dia sampai masuk rumah sakit kayak gini, gara - gara ulah Lo tau nggak." Ucap ... menasehati Zaki. "Makanya itu gue kesini mau minta maaf sama Rainy, gue mau ngejelasin semuanya sama Rainy." Balas Zaki yang masih berusaha untuk masuk ke dalam kamar rumah sakit Rainy. "Zaki Please.. dengerin kita!!!" Gary sangat tegas menyeret Zaki menjauh dari kamar Rainy, bahkan sampai keluar dari rumah sakit. Di depan rumah sakit, Zaki bolak - balik tidak karuan, hatinya merasa sangat gusar karena apa yang telah terjadi. "Gue harus gimana? Bagaimana kalau Rainy benar - benar tidak ingin menikah dengan gue lagi? Apa yang harus gue katakan sama orang tua gue? Mereka sudah mengumumkan ke keluarga gue dan teman - teman gue kalau gue akan menikah bulan ini. Bagaimana kalau semuanya batal?" Zaki menutup wajahnya dengan kedua tangannya lalu duduk disalah satu bangku yang ada di taman rumah sakit. "Apa? Lo belum ngasih tau ke orang tua Lo tentang kejadian kemarin?" Tanya Arga memasang kedua tangannya dipinggangnya. "Gue nggak berani Arga. Gue takut penyakit nyokap gue sampai kambuh gara - gara masalah ini. Kalian berdua taukan kalau nyokap gue punya penyakit jantung." Jawab Zaki menundukkan kepalanya. "Lo gila yah Zak? Lo sendiri tau nggak yang nyari masalah, kenapa juga Lo sampai ciuman segala sama si Citra, udah gitu Lo dirumahnya Rainy, dirumah calon istri Lo sendiri." seru Gery. "Ini semua salah Citra, dia yang nyium gue duluan. Kalau dia nggak nyium gue, kejadian itu—" "Sssstttt udah yahh.. stop. Lo lebih baik nggak usah memperjelasnya lagi, Lo juga salah tau nggak. Lo dan Citra sama - sama salah." Belum selesai Zaki berbicara, Gery memotong omongan Zaki. "Kalau saran gue, Lo lebih baik tunggu situasi ini mereda dulu. Lo tunggu Rainy sehat kembali, dan sembari menunggu semua itu, Lo harus menceritakan kejadian ini ke kedua orang tua Lo, biar kalau misal sesuatu yang tidak Lo inginkan terjadi, kedua orang tua Lo nggak akan terkejut lagi." Jelas Gery. "Terus kalau Rainy tetap mau batalin pernikahan gue gimana?" Tanya Zaki menatap tajam Gery. "Ya Lo harus terima keputusannya Rainynya lah, Lo harus hargai apapun keputusannya Rainy. Kita nggak tau bagaimana sakit hatinya Rainy melihat sendiri kelakuan menjijikkan Lo dan Citra kemarin." Celetuk Arga tanpa memfilter kata - kata yang keluar dari mulutnya. "GAA!!!" Seru Gery menghentikan Arga. "Apa?? Emang benerkan? Kelakuan mereka berdua sungguh menjijikkan. Udahlahh.. gue mau jengukin Rainy, tugas kita disini udah selesai yah Zaki, kita sebagai sahabat Lo dan juga sahabat Rainy sudah memberikan nasehat dan saran sama Lo. Jadi kita tunggu saja apa keputusan Rainy dan keluarganya nanti." Kata Arga sembari berjalan meninggalkan Zaki dan Gery yang masih duduk. Melihat Arga yang memasukki pintu rumah samit kembali, Gery juga pelan - pelan berdiri. "Zaki sorry yahh.. apa yang dikatakan Arga tadi emang bener. Lo lebih baik pulang, lakukan apa yang gue katakan tadi. Gue juga harus melihat keadaannya Rainy." Ucap Gery sambil menepuk dua kali pundak Zaki lalu berjalan memasukki pintu rumah sakit. Setelah beberapa hari Rainy menjalani perawatan dirumah sakit, akhirnya Rainy duperbopehkan pulang oleh dokter. Saat Rainy sampai di depan rumahnya, ternyata sudah ada Zaki dan keluarganya yang menunggu di depan rumah Rainy. Kedatangan Zaki beserta keluarganya ingin meminta maaf kepada Rainy atas kelukuan yang dilakukan Zaki. Kedua orang tua Zaki membujuk Rainy agar Rainy ingin memaafkan Zaki, dan bisa melanjutkan pernikahannya. Tapi keputusan Rainy sebelumnya sudah bulat, Rainy tidak akan melanjutkan pernikahannya dengan Zaki. Rainy memutus hubungan dengan Zaki, di hari yang sama Rainy sudah meminta tolong dengan asisten rumah tangganya menyiapkan semua perhiasan dan barang - barang yang telah diberikan Zaki, tak lupa juga uang yang telah ditransfer ke rekening Rainy untuk persiapan pernikahan mereka, Rainy mengembalikkan semuanya dihadapan kedua orang tua Zaki. Rainy tidak akan sanggup menikah dengan Zaki, karena Rainy berfikir pasti dia akan dibayang - bayangi dengan kejadian dimana Zaki dan Citra melakukan hal yang seharusnya tidak mereka lakukan. Dengan berat hati, Zaki dan kedua orang tuanya harus menerima semua keputusan Rainy dan juga keluarga Rainy. Meskipun Zaki masih berusaha untuk terus meyakinkan Rainy, tapi semua itu hanya sia - sia. Hari - hari Rainy berlanjut seperti biasanya, Rainy mulai bangkit dari kesedihannya. Memaksakan diri untuk kembali masuk ke kantor, meskipun tahu semua staffnya akan menggosipkan dirinya yang gagal menikah. Rainy melangkah masuk ke dalam kantornya perlahan demi perlahan. "Welcome back Ibu Rainyyyyyyy !!!!" Teriak semua staff yang berada diloby kantor. Loby kantor yang sudah di dekorasi dengan beberapa bunga dan juga beberapa balon, membuat loby terlihat cantik dengan tulisan welcome back yang sangat besar di dinding kantor. Semua staff Rainy telah mengetahui apa yang telah terjadi, tetapi tidak ada dari mereka satupun yang memberi komen negatif tentang penikahan Rainy yang batal. Mereka justru memberi selamat dan semangat untuk Rainy karena sudah terlepas dari lelaki seperti Zaki. Rainy sangat terharu akan hal yang staffnya lakukan, kekhawatiran akan cemoohan karena dirinya batal menikah tidak akan terjadi karena Rainy sadar betapa baiknya para staffnya. Beberapa minggu berlalu, Zaki dan Citra sudah tidak pernah datang lagi kerumah atau kantor Rainy untuk membujuk Rainy ataupun meminta maaf ke Rainy. Sore itu saat jam pulang kantor, Rainy keluar dari lift dan salah satu staffnya memberikan sebuah undangan. Dan undangan tersebut adalah undangan pernikahan Zaki dan juga Citra. “Rainyyyy.. Rainyyyyy.” Teriak Cycil membuat semua yang berada dilobi melihat kearahnya. Cycil yang juga barusan keluar dari lift bersama dengan Tania. “Yes I know it.” Ucap Rainy pelan. “Gila yah tuh berdua! Katanya dulu khilaf, tapi sekarang apa? Khilaf sampai ke pernikahan? Bener - bener nggak ada rasa bersalahnya sekali mereka. Sampai - sampai mereka ngasih undangan juga ke Lo!” Seru Cycil membuat semua orang mendengar ucapannya dengan sangat jelas. Semua staff kaget dan juga merasa sangat kesal terhadap Zaki dan Citra, bukan karena kasihan dengan Rainy tapi kesal karena sampai mengirimi Rainy undangan pernikahan mereka. “Sssssttt Aduh Cycil! Stop!” Ucap Tania sambil menaruh satu jarinya didepan bibir Cycil agar membuat Cycil diam. “Suara Lo itu jelas banget tau nggak, sampai semua orang mendengarnya.” Ucap Tania kesal. “Nggak apa - apa kok Tania, biarkan Cycil mengekspresikan kekesalannya. Gua juga nggak apa - apa di undang sama Tuh orang, Gue punya rencana yang sangat briliant.” Kata Rainy dengan senyuman licik sambil berjalan meninggalkan Cycil dan Tania yang masih berdiri di depan Loby. “Hah? Rencana apaan Rainy? Tunggu.” Teriak Cycil mengganggil Rainy. “Waahh gue punya firasat buruk nih.” Ucap Tania. “Kalian tungguin aja, udah jangan ngikutin gue, gue mau pulang.” Kata Rainy lalu berjalan menuju parkiran mobil. Didepan kantornya, Rainy tidak sengaja melihat seorang lelaki yang baru saja di tampar oleh seorang perempuan, dan perempuan yang menampar lelaki tersebut langsung pergi begitu saja meninggalkan lelaki tersebut. “Yahh lelaki emang pantas digituin kalau membuat hati wanitanya menangis.” Celetuk Rainy. Rainy tidak sadar betapa keras volume suaranya sampai lelaki itu mendengar ucapannya. “Lo nggak tau apa - apa yah, soal hubungan gue. Lo nggak seharusnya ngomong seperti itu tanpa tau apa yang sebenarnya terjadi.” Lelaki itu berjalan ke depan Rainy dengan wajah yang kesal. Tetapi dia mengatakannya tidak membentak Rainy. Setelah mengucapkan hal itu, lelaki itu berjalan meninggalkan Rainy. “Dih apaan sih, galak amat.” Ucap Rainy pelan. “Ehh apaan tuh yang jatuh, ehh itu dompetnya kan?” Rainy berlari mengambil dompet tersebut, dan tidak sengaja dompet itu terbuka. Rainy melihat kartu identitas lelaki itu, lalu menutup dompetnya kembali. “Wooii Randyyyy !” Teriak Rainy sambil mengangkat, memperlihatkan dompet Randy. Randy adalah nama dari lelaki yang baru saja bertemu dengan Rainy. Randy merupakan seorang pemuda tampan, yang satu tahun lebih muda dari Rainy, seorang pengusaha muda yang sangat sukses di Jakarta.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD