✨✨✨
Pukul 17.15 WIB.
Cherry sedari tadi mondar mandir didepan pintu rumahnya yang besar, wanita cantik itu sedari tadi memasang wajah cemas sambil mencoba menelfon Raina berkali-kali, namun juga tak diangkat. Padahal ini sudah sore dan diluar sana hujan, tetapi anak perempuannya itu tak kunjung pulang.
Cherry lagi-lagi berusaha menelfon Raina, beliau menempelkan benda pipih itu disamping telinganya, sambil menggigit bibir bawahnya, tanda jika beliau sangat khawatir.
"Ayo Rara, angkat telfon Mama." ucap Cherry saat nada diponsel itu hanya berdering saja tanpa adanya jawaban.
"Ma." panggil Raka yang langsung membuat Cherry menoleh.
"Mending Mama masuk aja ke dalam rumah, disini dingin Ma, nanti Mama bisa masuk angin," kata Raka.
"Tapi adik kamu enggak pulang-pulang Raka. Dia kemana? Kenapa tadi kamu nggak pulang sama dia?" tanya Cherry suaranya serak, tanda menahan tangis.
"Maaf Ma. Tadi Rara bilang dia mau nonton pertandingan basket di Gor Lumintang sama temannya, tadi Raka udah ngelarang buat jangan ikut. Tapi Rara nggak mau dengerin, dia malah langsung pergi gitu aja." jelas Raka panjang lebar membuat Cherry langsung memegang kepalanya.
"Sama cewek atau sama cowok?" tanya Cherry.
"Cowok Ma."
Mendengar itu, Cherry langsung bertambah cemas dan panik, pikirannya langsung melayang kemana-mana, ia takut jika anak perempuannya itu kenapa-napa, apalagi yang sedang bersama Raina saat ini adalah seorang cowok. Mengingat jika Raina masih harus beradaptasi di kota Jakarta yang luas dan keras ini.
✨✨✨
Sementara itu, dilain tempat kini Raina dan Alen tengah melihat senja yang tak begitu kentara karena masih ditutupi oleh awan berwarna abu-abu. Hujan sudah mulai reda, orang-orang yang tadinya berteduh kini kembali beranjak dan melanjutkan perjalanannya. Alen dan Raina kini duduk dikursi besi yang ada dipinggir pembatas jembatan, setelah selesai bermain hujan dan kejar-kejaran tadi akhirnya mereka beristirahat karena merasa kelelahan.
Alen bisa melihat gerak gerik Raina yang ada disebelahnya, gadis itu gemetaran, bibirnya pucat, dan ia kini sedang memeluk dirinya sendiri, Raina kedinginan.
"Ra?" panggil Alen, Raina menoleh sambil bergumam.
"Lo kedinginan?" tanya Alen, terlihat bodoh jika menanyakan hal itu, tanpa ditanya pun ia juga sudah tau jika Raina sedang kedinginan.
Raina mengangguk, membuat Alen melihatnya terus-menerus. "Gue ada jaket didalem jok motor, gue ambilin ya?" tawar Alen.
"Enggak usah, Len." tolak Raina halus.
Alen tambah bingung, apa yang harus ia lakukan? Apakah harus ia memeluk gadis ini, atau langsung mengajaknya pulang saja? Kok gak sweet banget.
Akhirnya Alen menghembuskan napasnya pelan, tanpa berpikir panjang lagi kini cowok itu langsung menarik tubuh Raina ke dalam dekapannya, Raina yang diperlakukan seperti itu langsung tersentak kaget, ia mendongak menatap wajah Alen yang sangat dekat dengannya.
"Biar lo enggak kedinginan." empat kata itu keluar dari mulut Alen, perkataan yang sederhana dan biasa, tetapi mampu membuat jantung Raina berdetak lebih cepat, ia juga tak berontak atau pun menolak, ia menerima perlakuan manis Alen.
Gadis itu kini langsung melemaskan tubuhnya, ia memejamkan matanya, menghirup dalam-dalam aroma tubuh Alen yang menenangkan. Mereka memang sama-sama basah kuyup, tetapi karena pelukan yang Alen berikan membuat tubuh Raina seketika menjadi hangat.
Alen tersenyum melihat Raina yang tengah memejamkan matanya, ia tidak tahu apa yang sedang dipikirkan oleh gadis itu sekarang, yang penting dirinya sangat senang hari ini karena bisa sedekat ini dengan Raina, jangan tanya bagaimana degup jantung Alen saat ini, wajahnya memang hanya menunjukkan tampang biasa saja, tetapi tidak dengan jantungnya.
Raina menahan senyumnya saat dirinya mendengar suara detak jantung Alen yang berdetak sangat cepat, ternyata Alen juga bisa deg-degan ya?
"Jantung kamu kenapa Len?" tanya Raina yang kini sudah membuka matanya, gadis itu melepaskan pelukan Alen.
Alen tampak gelagapan, cowok itu terlihat panik, "E--emangnya j-jantung gue kenapa?" tanya Alen berusaha tak gugup tapi tidak bisa.
"Bunyinya dug-dug-dug gitu, cepet lagi." kata Raina dengan wajah polosnya, membuat Alen semakin tak karuan.
"Masa sih? Enggak kok. Perasaan lo aja kali," elak Alen.
Kemudian Raina hanya menanggapinya dengan mengangguk pelan berkali-kali. Gadis itu lalu kembali menatap wajah Alen yang juga sedang menatapnya.
"Ra." panggil Alen.
"Iya."
Alen mengambil tangan kanan Raina, menggenggamnya dengan erat dengan kedua tangannya, halus dan lembut itulah yang Alen rasakan.
"Makasih ya, lo udah mau berbagi kebahagian lo itu buat gue, baru kali ini gue bisa ngerasain rasanya ketawa selepas tadi. Lo beda dari cewek-cewek yang pernah gue kenal Ra," kata Alen tanpa beralih sedikit pun dari mata coklat itu.
"Maksudnya?" tanya Raina.
"Lo itu istimewa, Ra." balas Alen, membuat jantung Raina kembali berdegup cepat, rasanya diperutnya saat ini seperti ada ribuan kupu-kupu yang terbang.
"Hidup gue yang selama ini suram rasanya kaya kembali berwarna setelah gue kenal sama lo. Lo itu cantik, baik, pinter, siapa sih yang nggak mau sama lo Ra? Sedangkan gue, gue itu nakal, urakan, nggak bisa diatur--"
"Kamu ganteng, banyak yang ngerebutin--" potong Raina.
"Cuma modal tampang doang Ra, apa sih bagusnya gue?" tanya Alen, ia merasa rendah saat ini dihadapan Raina.
"Kamu pinter, kamu jago karate, jago main basket, banyak Len hal-hal positif yang ada didalam diri kamu. Tapi itu semua nggak kamu anggap, kamu cuma nganggap kalo diri kamu itu nakal dan nggak bisa diatur," Raina menjedanya sambil menggelengkan kepalanya pelan, "Salah Len, kamu itu orang baik, dan--"
"Gue bukan orang baik Ra, gue bahkan jauh dari kata baik. Gue itu sampah," ucap Alen yang kini langsung memalingkan wajahnya dari Raina.
"Jangan bilang kaya gitu, kamu itu manusia, sama kaya aku. Semua orang itu pasti punya kekurangan, jadi kamu enggak boleh ngomong kaya gitu." ujar Raina, tangannya masih digenggam oleh Alen.
Kini Alen kembali menatap wajah Raina, ia menelusuri mata gadis itu, tatapannya sangat meneduhkan. Selama ini cuma Raina lah yang berhasil membuatnya sadar.
"Cuma lo cewek yang berani nasehatin gue, selama gue deket sama banyak cewek, cuma lo aja yang bener-bener perhatian, dan itu yang buat gue makin suka sama lo Ra." kata-kata itu menceletus keluar dari mulut Alen, ini kedua kalinya ia mengatakan jika ia menyukai Raina tepat dihadapannya langsung.
Tetapi ini adalah pertama kalinya Raina mendengarnya benar-benar sangat jelas, karena pada saat malam itu, Alen langsung mengalihkan pembicaraannya.
"Gue sayang sama lo Ra." ucap Alen.
Jantung Raina rasanya langsung mencelus ke dalam, darahnya berdesir hebat, tubuhnya terasa panas seketika.
Jadi, Alen nembak Raina?
"K-kamu barusan nembak aku?" tanya Raina dengan wajah yang sangat kentara jika ia sedang gugup.
Alen terkekeh geli, ia sebenarnya juga deg-degan sama seperti Raina, tapi cowok itu pintar menyembunyikan itu semua dibalik wajah coolnya. "Enggak, gue gak nembak lo." balas Alen.
Ih gak lucu banget sih.
"Trus?"
Alen tiba-tiba tertawa, ia mengacak-acak rambut Raina yang masih basah, "Emangnya lo mau pacaran sama cowok kaya gue?" tanya Alen, memancing gadis itu.
"Kenapa kamu tanya kaya gitu?" Raina balik bertanya.
"Kan gue kaya gini, berantakan." jawab Alen.
"Semua orang kan enggak ada yang sempurna, Len. Cuma Tuhan yang sempurna." balas Raina.
"Jadi?"
"Jadi apa?" tanya Raina.
"Apa lo mau jadi orang yang istimewa dihati gue? Apa lo mau nyalurin kebahagian lo buat gue? Apa lo mau buat hari-hari gue yang suram jadi berwarna?" Alen berucap sambil menggenggam dan menatap kedua bola mata milik Raina sangat dalam.
"Gue enggak pernah suka sama cewek sampe kaya gini Ra." jujur Alen.
"Kenapa kamu bisa suka sama aku?" tanya Raina.
"Gue enggak tau Ra, rasa itu datang secara tiba-tiba." jawab Alen, kini ia memejamkan matanya sebentar, lalu membukanya lagi dan menarik napas dalam-dalam, lalu Alen mengucapkan...
"Do you want to be my girl?" tanya Alen lekat-lekat, cowok itu sudah menembak Raina, kini ia tinggal menunggu jawabannya.
Raina sedikit merundukkan kepalanya, cowok yang ada dihadapannya saat ini berhasil membuatnya seperti terombang-ambing dilautan. Jika boleh jujur, sebenarnya Raina juga sudah menyimpan perasaan pada Alen, tetapi ia tak tau kapan perasaan itu muncul.
"Gimana Ra?"
Raina mengangkat kepalanya perlahan, lalu ia langsung menganggukkan kepalanya beberapa kali, "Iya." ucapnya pelan.
"Iya apa?" goda Alen sambil menyeringai.
"Iya aku mau." Raina berucap malu-malu, wajahnya sudah memerah seperti kepiting rebus.
"Apa Ra? Enggak denger nih gue," Alen kembali menggoda, padahal Alen sudah sangat jelas mendengar jawabannya.
"Ihh! Enggak jadi nih?!" ancam Raina kesal sendiri.
"Ehh ehh jangan dong. Nanti gue gagal jadi punya pacar cantik." Alen terkekeh.
"Apaan sih!" Raina blushing, ia menampol pelan pipi Alen.
"Jadi kita sekarang pacaran nih?" tanya Alen.
"Iya Alen." Raina menjawab dengan menyebut nama panggilan Alen dengan lengkap, membuat cowok itu merasa adem mendengarnya.
Alen pun nyengir, menunjukkan deretan giginya yang putih, lalu tiba-tiba saja ia mengeluarkan sesuatu dari saku celana abu-abunya. Ada dua buah gelang berwarna hitam dengan bandul bulan dan matahari.
"Sini tangan kanannya," Alen meraih tangan kanan Raina, lalu cowok itu memasangkan gelang berbandul bulan pada Raina.
Gadis itu tersenyum melihatnya, ia sangat suka dengan gelangnya, "Suka atau enggak Ra?" tanya Alen.
"Suka banget, bagus." puji Raina.
"Sekarang yang ini pakai in ke tangan gue," suruh Alen sambil memberikan gelang satunya. Raina pun mengambilnya dan langsung ia pasang dipergelangan tangan kanan Alen, sama seperti dirinya.
"Kenapa bandul gelangnya Bulan dan Matahari, lo mau tau?" tanya Alen.
"Kenapa?"
"Karena ini ngelambangin kita yang beda. Lo bulan dan gue matahari, kita beda tapi kita satu, tanpa cahayamu malam adalah gelap, tanpa cahayaku siang adalah malam, begitu jauh jarak namun tetap bersinar. Lo itu bulan buat gue Ra," kata Alen beranalogi.
Raina terenyuh mendengarnya, Alen sangat pintar merangkai kata-kata analogi seperti itu, "Kamu itu matahari buat aku Len," balas Raina.
"I love you Ra."

Gelangnya Rara sama Alen.
✨✨✨
Jam sudah menunjukkan pukul tujuh malam, dan Raina baru sampai didepan rumahnya sekarang. Tadi sebelum pulang Alen mengajak Raina untuk makan mie ayam diwarung pinggir jalan, karena cowok itu tau jika Raina kelaparan karena belum makan tadi siang.
"Buruan masuk sana," ucap Alen.
"Ini jaket kamu gimana?" tanya Raina, karena tadi Alen meminjamkan jaketnya yang ia simpan di jok motor untuk dipakai Raina agar tak kedinginan.
"Udah besok-besok aja." jawab Alen.
"Makasih ya!"
"Iya sama-sama."
"Aku masuk ke dalem dulu ya? Kamu hati-hati dijalan, jangan ngebut-ngebut, kalo udah sampe rumah jangan lupa chat aku." ujar Raina sambil mengeratkan jaket yang kebesaran itu.
"Iya sayang." balas Alen terdengar sangat lembut, dan lagi-lagi itu membuat jantung Raina tak karuan. Sudah cukup hari ini Alen membuatnya terbang sampai ke awang-awang, sudah cukup. Ia tidak akan bisa tidur jika terus seperti ini.
"Ya udah sana pulang." usir Raina.
"Lo masuk dulu ke dalem rumah, baru gue pulang." ujar Alen.
"Iya."
"Iya apa?" desak Alen.
Raina menghela napas, "Iya Alen."
"Kok iya Alen? Sayangnya mana?" tagih Alen merasa kurang puas.
Lagi-lagi Raina menghela napasnya, ia kesal. "Iya Alen sayang." ucap Raina pelan sekali, hampir seperti bisikan.
"Enggak ikhlas banget sih Ra bilang sayangnya, lagi dong agak kerasan dikit." tagih Alen lagi sambil menahan senyumnya, Raina langsung mendengus sambil memasang wajah kesal.
"Iya Alen sayaaaaannngggg!" teriak Raina cukup keras.
Alen langsung cengar-cengir sendiri, ia tersenyum penuh kemenangan. "Nahhh gitu dong, udah sana buruan masuk." perintah Alen.
"Oke." tanpa berbicara panjang lagi, akhirnya Raina langsung membuka gerbangnya dan masuk ke dalam rumahnya yang besar itu.
✨✨✨
Raina masuk dengan keadaan badan yang masih basah, ia menggendong tasnya diluar jaket yang ia kenakan. Merasa ada seseorang yang datang, Cherry yang tadinya duduk disofa sambil menahan air matanya yang ingin tumpah sedari tadi, kini langsung menoleh dan berdiri. Beliau menghampiri Raina dengan wajah syok, Cherry langsung memeluk putrinya itu.
"Ya Allah Rara..kamu dari mana aja sayang? Mama khawatir karena kamu nggak pulang-pulang." ucap Cherry masih memeluk Raina.
Raina langsung sangat amat merasa bersalah karena dirinya tidak berpamitan dulu tadi pada Mama nya. "Maafin Rara Ma, Rara tadi lupa nggak ngabarin Mama dulu, Rara bener-bener minta maaf Ma.." ucap Raina.
Cherry melonggarkan pelukannya, lalu menatap putrinya itu, "Iya sayang, tapi lain kali jangan sampai kaya gini lagi ya? Kalau kamu mau main sama teman-teman kamu, terus pulangnya nggak bareng sama Raka, kamu harus tetep pamitan sama Mama, biar Mama nggak khawatir. Tadi Mama udah nelfonin kamu berkali-kali tapi nggak kamu angkat." kata Cherry.
"Iya maaf Ma, tadi handphone Rara disilent, jadi Rara nggak tau." balas Raina.
"Lihat ini, pasti kamu habis main hujan-hujanan ya? Nanti kalau kamu sakit gimana Ra?" tanya Cherry.
"Enggak akan sakit, kalau Rara suka." jawab Raina.
Cherry menghela napas, ia tau jika anaknya ini memang menyukai hujan sejak kecil, "Ini jaketnya siapa yang kamu pakai?"
Raina menunduk sebentar melihat jaket besar yang ia kenakan, "Jaketnya Alen Ma. Tadi dia minjemin jaket ini buat Rara, baik kan?"
Cherry hanya diam saja, tak membalas. "Ya udah sekarang kamu cepat-cepat mandi, nanti Mama nyusulin kamu ke kamar." ucap Cherry sambil mengelus rambut Raina.
"Iya Ma." Raina pun naik ke lantai atas, tempat kamarnya berada.
Saat sudah sampai didepan kamar, tiba-tiba saja Raina melihat Raka yang baru membuka pintu kamarnya, cowok itu langsung menatap Raina dengan mengintimidasi.
"Ra."
"Kenapa?"
"Dari mana aja sih lo? Mama khawatir nyariin lo." ucap Raka.
"Dari nonton pertangan basket, kan tadi Rara udah bilang waktu diparkiran." balas Raina.
"Ya tapi Mama sampe bingung kaya gitu, lo nggak kasihan apa?" tanya Raka terdengar jengkel pada Raina.
"Rara udah minta maaf kok, Mama juga udah maafin." balas Raina.
Raka menghembuskan napasnya gusar, "Lo kenapa nggak mau dengerin gue sih? Kenapa masih main sama dia?" tanya Raka.
"Kenapa emangnya?"
"Dia itu nggak baik buat lo Ra. Percaya sama gue," ucap Raka.
"Kak. Tolong sekali ini aja ngertiin Rara, jangan ngehalangin Rara buat berteman dengan siapa pun. Rara udah besar, jangan sampe teman-teman Rara ngejauh kaya teman-teman Rara yang di LA dulu, karena Kak Raka." balas Raina.
"Tapi--"
"Maaf kak. Rara lagi nggak pengen adu argumen sekarang." balas Raina dan langsung melenggang masuk ke dalam kamarnya, dan langsung menutupnya dengan rapat.
Setelah berada didalam kamar, Raina langsung melepas sepatu, tas dan jaket milik Alen dari tubuhnya. Ia langsung mengambil handuk yang ada didekat kamar mandi, setelah itu ia pun masuk dan melakukan ritualnya.
Lima belas menit berlalu, Raina keluar dari kamar mandinya dengan menggunakan piyama berwarna kuning bermotif spongebob, Raina memang mempunyai banyak piyama bergambar kartun seperti itu. Rambutnya ia gulung dengan handuk, karena Raina habis keramas menggunakan shampoo beraroma buah-buahan yang segar, agar rambutnya tidak bau apek.
Gadis itu duduk dipinggiran kasur, ia mengambil ponselnya yang ada didalam tas, lalu ia segera mengecek beberapa akun sosial medianya.
Ada pesan masuk dari Alen delapan menit yang lalu.
Alen dirgantara:
Gue udah sampe rumah Ra:)
Raina langsung membalas pesannya.
Raina:
Iya. Kamu udah mandi?
Langsung dibalas cepat oleh Alen.
Alen dirgantara:
Belum. mager akut.
Raina:
Ih jorok banget, habis hujan"an langsung mandi dong.
Mandi.
Pokoknya buruan mandi len.
Mandi.
Harus mandi.
Sekarang juga.
Denger?
Eh maksudnya lihat dan baca.
Mandi.
S
E
K
A
R
A
N
G
!
Raina menspam chat Alen, gadis itu menyuruh Alen agar cepat mandi.
Alen dirgantara:
Iyaaa sayangnya alen
Raina yang melihat balasan pesan itu langsung bergidik geli sendiri melihat emotikonnya.
Raina:
Apaan sih emotnya jijik banget tau.
Alen dirgantara:
Kiss jauh itu.
Raina:
Gak ada. Udah ah jijik.
Alen dirgantara:
Ohhh jijik ya?
❤
❤
❤
Raina:
Udaaaahhh
Alen dirgantara:
Eh jarinya astagfirullah.
Raina:
Ehhh itu salah emot. Gak sengaja kepencet. Serius deh. Beneran.
Raina menepuk jidatnya, bagaimana bisa ia mengirimkan emot jari tengah.
Alen dirgantara:
Wkwkwk
Ya udah gue mandi dulu yaks, nanti lagi chatan nya.
Raina:
Okeeee.
Setelah itu Raina pun senyam-senyum sendiri, ia tak bisa menyembunyikan rasa itu, ia masih tidak menyangka jika hari ini ia telah resmi berpacaran dengan seorang Alen.
Cklek
Pintu kamar Raina terbuka, menampakkan Cherry yang baru saja datang sambil menatap putrinya itu dengan jahil.
"Hayooo kamu kenapa senyum-senyum kaya gitu? Habis chatan sama siapa sih?" goda Cherry sambil mengintip ponsel Raina, namun Raina segera menyembunyikannya.
"Apa sih Ma." balas Raina sambil menahan senyumnya.
Cherry pun hanya terkekeh geli, ia juga pernah merasakan apa yang dirasakan Raina sewaktu remaja. "Sini sayang," Cherry memanggil Raina agar duduk disebelahnya, didekat meja rias.
Raina pun menurutinya, ia datang dan duduk didekat Mamanya itu, lalu Cherry langsung melepas handuk yang ada dikepala Raina, beliau mengambil sisir dan menyisiri rambut Raina pelan-pelan.
Raina yang sebelumnya hanya diam saja, kini mulai mengambil moisturizer yang ada diatas meja riasnya, ia langsung mengaplikasikannya diwajah. Raina memang disuruh Cherry untuk menggunakan skincare, agar wajahnya selalu sehat dan terawat, tetapi Cherry tidak memberikannya yang berlebihan, beliau hanya menyuruh Raina untuk menggunakan facial wash, moisturizer, sunscreen, dan masker seminggu sekali.
"Rara nggak ada PR?" tanya Cherry yang masih menyisiri rambut Raina.
"Enggak ada Ma. Enak kan? Jadinya habis ini Rara bisa langsung rebahaaannn." ucap Raina sambil memejamkan matanya membayangkan betapa enaknya rebahan itu.
"Hmm iya deh, tapi Rara kan belum makan," ujar Cherry.
"Rara udah makan kok tadi, sebelum pulang ke rumah." balas Raina.
"Oh ya? Diajak makan sama teman kamu itu?"
"Iya Ma."
"Tapi tadi Mama udah buatin kamu salad kesukaan kamu loh," ucap Cherry.
"Iya kah? Nanti bakalan Rara makan kok, tenang aja." balas Rara sambil menatap dinding kamarnya yang berwarna gradasi abu-abu dan pink.
Raina memang suka sekali dengan warna-warna pastel, ia banyak mengoleksi barang-barang yang berwarna seperti itu. Kamarnya pun penuh dengan warna pink pastel, mulai dari meja belajar, kursi, bed cover dan lain sebagainya.