12. Kamu dan Hujan

2939 Words
CHAPTER 12: KAMU DAN HUJAN Pahami dan baca baik-baik, jangan sampai kalian kelewatan satu pun partnya, kalau misalnya ada typo tolong kasih tau ya, happy reading! ✨✨✨ Raina berjalan dilorong sekolah dengan membawa novel kesayangannya, gadis itu tersenyum membalas sapaan-sapaan dari teman-teman dan adik kelasnya. Namanya langsung melonjak saat mengetahui jika dirinya adalah sosok perempuan yang dekat dengan Alen saat ini, apalagi kemarin gara-gara Alen menggendongnya, heboh satu sekolahan. "Raaaa! Yaampun kok gue ditinggal sih?! Padahal tadi kan gue suruh tunggu duluuu!" omel Via yang terlihat ngos-ngosan karena ia mengejar Raina. "Eh ya ampun Piaaa. Aku lupa kalo tadi aku sama kamu hehehehe, maaf yaaa? Please jangan maraahhh," pinta Raina memelas sambil menyatukan kedua tangannya didepan d**a. "Enggak kok. Gak papa, udah biasa ditinggal, jadi selow aja." balas Via dengan wajah masam, membuat Raina terkekeh geli. Mata Raina kini terarah ke lapangan bola basket yang tengah ramai dikerubungi oleh para murid-murid, yang sedang meneriaki nama Alen dan juga teman-temannya. Raina penasaran, ia akhirnya menjinjitkan kakinya berusaha melihat namun tak kelihatan. "Kenapa Ra? Pengin ngeliat? Ayo deh gue temenin," Via menawari, membuat Raina berfikir sebentar. "Ya udah ayo.." Raina berjalan berdampingan bersama Via, kedua gadis itu menaiki tempat duduk bertingkat yang disediakan untuk menonton latihan atau pertandingan seperti ini. Ditempat ini tidak terlalu ramai, karena mereka semua menonton dipinggir lapangan agar terlihat lebih dekat. Raina terlihat sangat serius memperhatikan Alen yang tengah mendribble bola untuk dimasukkan kedalam ring. Gerakannya yang lincah itu membuat mata Raina harus bergerak kesana-kemari untuk mengikuti arah geraknya. Raina bisa mendengar suara teriakan histeris dan heboh yang keluar dari mulut para kaum hawa yang sudah jelas mengidolakan Alen, ia juga melihat beberapa diantara mereka ada yang membawakan air mineral dingin dan handuk kecil yang jelas-jelas akan diberikan pada Alen nanti. "AYO KAK SEMANGAT MAINNYA!!! AKU DUKUNG KAK ALEN TERUUUSS! SAMPAI KAPAN PUN!" "KAK KENZOOOO! GILA KEREN BANGET! BIAS GUE ITUUUU!" "KAK DEPAAANNN OMAYGAT LO KENAPA CAKEP SIH KALO LAGI BEGITU?!!" "SEMUANYA GANTENG UDEH! BUAT GUE AJA! GUE KARUNGIN BAWA PULANG HWAAAA!!!" "ALEN FOREVER!!!" "APAAN DAH LO? ALEN POREPER-ALEN POREPER! ALEN TUH PUNYA GUE!" "EHH ENAK AJA LO KALO NGOMONG! PUNYA GUE! CALON SUAMI GUE ITU!" "Apaan sih lo pada! Udah jelas-jelas Alen sukanya sama gue! Jadi kalian semua gak usah mimpi! Apalagi ketinggian. Ntar jatoh mampus!" sahut Pingkan dengan sinisnya, ia juga menonton Alen yang sedang berlatih bersama Lisa, Retha dan Intan. Alen yang mendengar suara itu mencoba menulikan indera pendengarannya, agar fokusnya tidak buyar kemana-mana. Kini ia tengah berebutan bola dengan Kenzo, ya Kenzo, ia adalah ketua ekstra basket disekolah ini. Ia memang jago bermain basket, membuat dirinya menjadi orang ter-famous kedua setelah Alen, wajahnya yang blasteran itu membuat banyak kaum hawa tertarik dan mengidolakannya sama seperti Alen. Jadi bisa dibilang mereka itu adalah dua manusia yang susah untuk dipilih jika sudah bersanding seperti saat ini. Semua anak SMA ini juga tau bahwa mereka adalah musuh sejak kelas X, dengar-dengar berita katanya mereka bisa bermusuhan karena rebutan tahta dan cewek. Sebenarnya tadi Alen hanya mengajak teman-temannya latihan berlima untuk persiapan bertanding melawan anak-anak SMA Buana nanti sore. (bukan pertandingan lomba antar sekolah, tapi pertandingan tantangan yang diberikan oleh anak SMA Buana yang tidak terima atas kekalahannya kemarin). Tetapi tiba-tiba saja tadi Kenzo menantangnya untuk bermain, dan jadilah seperti sekarang, tim Alen dan tim Kenzo, kedua tim yang sama-sama jago. Tim Alen terdiri dari: Alen, Devan, Yuda, Liam dan Zio. Mereka merupakan teman-teman sekumpulan Alen ketika diluar sekolah maupun didalam sekolah, tetapi Alen jarang berkumpul bersama mereka didalam sekolah, karena mereka beda kelas, dan hanya Devan yang satu kelas dengannya. Tim Kenzo terdiri dari: Kenzo, Aldo, Bian, Erik, dan Riko. Mereka merupakan teman sekumpulan Kenzo, yang suka menantang Alen untuk balapan, berantem, dan bermain basket seperti ini. Kenzo juga sangat suka memancing amarah Alen, ia suka jika Alen marah dan menantangnya. "Lo gak akan menang lawan SMA Buana kalo lo gak ngajak gue juga." ucap Kenzo dengan lagaknya yang sombong, kini bola sedang berada ditangannya. Alen berdecih, "Jangan sok jago mentang-mentang lo ketua tim basket di SMA ini. Gue sama temen-temen gue juga bakalan menang lawan mereka tanpa lo!" balas Alen yang masih terus merebut bola dari Kenzo. "Ngimpi aja sana lo! Jangan sampe lo malu-maluin nama baik SMA Galaksi didepan anak-anak Buana. Sampe aja lo sama temen-temen lo itu malu-malu in gue hajar lo!" Kenzo berucap dengan nada mengancam, tetapi Alen tidak takut atau merasa rendah sama sekali. "Yang ditantang dan yang mau main itu gue sama temen-temen gue, ngapa lo yang bacot?!" Alen bertanya sambil merebut bola yang ada ditangan Kenzo dengan sigap. Hap! Sekali loncatan, Alen berhasil memasukkan bola basket itu ke dalam ring, membuat teman-teman dan para penontong langsung bersorak senang. "Gotcha! Hahahaha!" Alen tertawa sambil melirik Kenzo dengan tatapan meremehkan, ia memang bukan anak basket, tetapi ia jago dan lihai dalam permainan ini. Wajah Kenzo langsung berubah masam dan tidak suka. "YESSS!! KAK ALEN JAGO BANGETTTT!" "Yahhh Kak Kenzo gak dapet masukin bolanya, padahal dia ketua looohhh..!" "Hust! Jangan ngomongin dia kayak gitu, ntar berabe urusannya!" bisik salah satu anak perempuan. "Puas lo? Sekarang, gue minta dengan hormat. Tolong lo pergi dari lapangan ini, karena gue sama teman-teman gue mau latihan!" usir Alen pada Kenzo. "Cih, baru juga masukin satu kali, belagu banget lo," balas Kenzo sambil mengajak teman-temannya pergi dari lapangan ini, tak lupa juga matanya yang menyorot tidak suka pada Alen. ✨✨✨ "Ra!" panggil Alen pada Raina yang sedang berjalan dilorong sekolah yang sepi, karena ini sudah jam pulang. Yang merasa dipanggil pun langsung menoleh, "Iya?" "Lo udah mau pulang ya?" tanya Alen sambil membenarkan letak tas sekolahnya yang ia pakai dipundak kanan. "Iya Len, kenapa?" "Gue mau ngajak lo buat nonton pertandingan basket sore ini, lo mau ikut?" tanya Alen. Raina nampak berfikir, ia takut jika Raka akan melarang dan memarahinya lagi seperti kemarin, Raka sudah menunggunya diparkiran saat ini, "Mau, tapi Raka gimana?" "Oh itu, gampang, gue ijinin aja gimana?" "Yakin?" "Yakin banget." setelah itu, Alen langsung menarik tangan Raina untuk menuruni tangga, dan menuntunnya menuju ke parkiran. Langkahnya berhenti saat mereka sudah sampai didepan mobil sport warna hitam milik Raka. Cowok itu nampak sedang bersandar dipintu mobil, wajahnya langsung berubah sinis saat tau Alen menggandeng tangan Raina. "Ngapain lo?" tanya Raka datar. "Gue mau ngajak adek lo buat nonton pertandingan basket di Gor Lumintang, gak jauh-jauh kok." ucap Alen dengan santai. "Nggak, pulang Ra. Lo nggak boleh ikut dia," ujar Raka terdengar dingin. "Lo kenapa larang-larang si Raina? Dia nya aja pengin ikut gue kok. Jadi abang itu jangan terlalu posesif, gak betah ntar adek lo dirumah," celetuk Alen, terdengar menusuk dihati Raka. Raka terlihat menegakkan tubuhnya, ia maju ke depan, matanya menatap Alen dengan nyalang, "Lo siapa? Raina itu adek gue! Gue itu abangnya, dan lo gak punya hak apa-apa sama Raina." ucap Raka. Alen menghembuskan napasnya malas, ia muak jika harus bertele-tele dan membuang waktu seperti ini, "Gue gak bakalan ngapa-ngapain adek lo, gue gak makan orang, dan gue juga gak bakalan kurangajar sama dia," kata Alen. "Please Ka, jangan larang aku untuk hari ini, aku juga mau ngerasain keseharian anak-anak SMA kayak biasanya," Raina membuka mulutnya, akhirnya gadis itu berbicara juga. "Ayo Len." ajak Raina sambil menarik tangan Alen menuju parkiran motor. "RA!" panggil Raka, namun gadis itu tak mengindahkannya. ✨✨✨ Pertandingan hari ini cukup sengit, membuat kedua kubu mengobarkan apinya masing-masing. Alen dan teman-temannya sudah berhasil mencetak 3 poin, sama rata dengan musuhnya. Di Gor ini banyak sekali yang menonton, mulai dari anak-anak SMA Galaksi dan anak-anak SMA Buana, apalagi saat tau kalau itu Alen yang main. Satu shoot lagi maka tim Alen akan memenangi pertandingan ini, dan... "DAMN IT!" Gehan mengumpat dengan kesal, lagi-lagi dirinya kalah melawan Alen. Cowok itu dan teman-temannya kemarin sudah pernah bertanding melawan Alen, dan kalah, kini ia menantang Alen lagi, dan ternyata kalah lagi, sial. "YOOOIII LENNN! MANTUL! GILEEE!" teriak Devan sambil berhigh five ria bersama Alen dan teman satu timnya. "Kalah lagi kan mereka, sok-sok an nantangin sih!" ucap Yuda yang langsung didukung oleh teman-temannya. Gehan dan timnya maju mendekat ke arah Alen dan teman-temannya berdiri, laki-laki itu memasang wajah merah tanda marah karena ia kalah lagi dalam pertandingan ini. "Gimana? Masih mau nantangin?" tanya Alen dengan nada menantang. Gehan berdecih, "Oke. Gue akuin kalo gue emang kalah, tapi gue nggak akan nyerah gitu aja, gue belum pernah nantang lo buat balapan." ucapnya. "Trus?" "Ya gue nantang lo buat balapan sama gue, gue mau tau seberapa jago nya lo." ucap Gehan. "Lo gak takut kalah lagi? Ntar malah malu tiga kali," Alen berucap sambil tertawa meremehkan, membuat Gehan dan teman-temannya menggeram kesal. "Gak usah sok lo!" "Lah, siapa yang sok? Perkataan gue emang bener kan? Gue nanyain lo supaya lo ntar gak malu kalo kalah lagi," balas Alen dengan santainya. "Lo gak malu apa didepan banyak temen-temen sekolah lo, lo bolak balik kalah lawan gue? Apalagi itu lo sendiri yang nantangin," tambah Alen, membuat Gehan menggertakkan giginya. "Maksud lo apa?! Lo ngeremehin gue?" tanya Gehan sambil maju dan menarik kerah baju Alen, membuat semuanya langsung bersikap was-was. Alen lagi-lagi tertawa meremehkan, "Kalo iya kenapa?" "Anjing lo!" satu pukulan berhasil mengenai wajah Alen, membuat semua teman-temannya kaget, membuat Devan dan Yuda yang ada dibelakangnya refleks menahan tubuh Alen yang terhuyung ke belakang karena tidak siap. Alen merasakan panas yang menjalar disudut matanya, Gehan sudah menyerangnya secara spontan, dan itu membuatnya tersulut emosi. Dengan cepat Alen langsung membalas pukulan Gehan dengan keras. Suara teriakan histeris terdengar dari kursi penonton, Raina juga melihat itu, gadis itu terkejut bukan main. Ia ingin menghentikan dan melerai, tapi ia takut untuk mendekat. "LEN! LEN! UDAH LEN!" teriak Devan dan teman-temannya sambil berusaha menjauhkan Alen dari Gehan. Kedua cowok itu kini malah keterusan berantem, membuat semuanya panik karena ulah mereka. "Dia nonjok gue duluan! Lo gak usah ikut campur!" sentak Alen pada Devan yang ingin melerainya. Gehan tersungkur diatas lantai Gor, cowok itu terus mendapatkan serangan dari Alen yang tak kunjung berhenti, Alen sudah terlanjur murka. Sampai-sampai Gehan menutupi wajahnya sendiri dengan kedua tangan guna melindungi wajahnya yang sudah bonyok oleh pukulan Alen. Teman-teman Gehan juga sudah berusaha melerai, tetapi mereka juga tak bisa. "Udah Len! Udah! Lo udah kelewatan! Anak orang ini lo buat babak belur!" Devan lagi-lagi berteriak. "Gue gak bakal berhenti sebelum dia bilang ampun sama gue!" kata Alen. "Ampun Len!" teriak Gehan dengan keras, cowok itu sudah kewalahan dengan pukulan yang diberikan Alen secara bertubi-tubi, tubuhnya sudah lemas, dan kepalanya pun berkunang-kunang. Setelah itu, Alen langsung menghentikan aksinya, ia berdiri dengan tegap dan memasang wajah garangnya. Ia melihat Gehan yang tengah dipapak oleh teman-temannya, wajahnya benar-benar babak belur, hanya karena ia menyerang Alen dengan sekali pukulan tadi. Alen menyeringai, "Sok-sok an mukul gue, baru gitu aja lemah!" ejek Alen saat Gehan sudah dibawa pergi menjauh oleh teman-temannya. Setelah kejadian itu, sudah pasti Gehan malu bukan main, sudah kalah tanding basket, diremehkan oleh Alen, dan dihajar oleh Alen didepan teman-teman sekolahnya dan teman-teman sekolah Alen juga. "Pulang guys! Pulang!" ucap Devan pada teman-temannya. Setelah itu, Alen langsung menghampiri Raina yang sudah berdiri dipinggir garis lapangan, ia bisa melihat wajah kesal dan bercampur khawatir gadis itu. "Kenapa berantem lagi?" kalimat itu terlontar dari mulut Raina. "Dia udah nyerang gue duluan Ra, masa gue diem aja." jawab Alen. "Yaudah ayo pulang," ajak Alen. Raina menghembuskan napasnya gusar, "Itu sudut mata kamu lebam, harus diobatin dulu," kata Raina sambil melihat luka itu. "Enggak usah, nanti aja gue obatin dirumah," balas Alen. "Ayo." Alen menarik tangan Raina, ia mengambil tasnya yang ada dikursi panjang, setelah itu mereka langsung bergegas keluar dari Gor. ✨✨✨ Sore ini langit tampak mendung, awan-awan terlihat bergerombol diatas sana, hawa menjadi terasa dingin karena matahari sudah tak nampak diatas sana. Jika Raina ramal sepertinya sebentar lagi akan turun hujan, dan Raina akan sangat suka itu. "Alen." panggil Raina dari balik helm Alen, cowok itu fokus mengendarai motor. "Kenapa Ra?" sahut Alen. "Jalan-jalan yaa! Jangan pulang dulu!" ucap Raina sedikit berteriak, agar Alen mendengarnya. "Tapi ini mendung Ra. Nanti kalo hujan gimana?" tanya Alen dengan memiringkan kepalanya mendekati Raina. "Nggak papa, aku malah pengen hujan-hujanan!" pekik Raina terdengar bersemangat. "Tapi---" ucapan Alen terpotong saat Raina bersorak histeris. "Yeayyyy hujaaaaannnnnn!!!" pekiknya sambil merentangkan kedua tangan diatas motor Alen, hujan memang baru saja turun, dan itu sangat deras, membuat seragam Raina dan Alen langsung basah dalam sekejap. "Ra, pegangan! Jangan kayak gitu!" peringat Alen saat melihat tingkah Raina lewat kaca spionnya. "Gak papa Aleeeennn..yang penting kamu naiknya jangan ngebut-ngebut." balas Raina. "Sembunyi dibelakang punggung gue Ra, jangan malah dongak natap keatas!" peringat Alen lagi, tetapi gadis itu tak mau menuruti. "Gak mau! Ini itu lagi hujan, seru tauuu!" teriaknya. Alen menghembuskan napasnya, cewek yang sedang duduk di jok motornya ini sangat keras kepala, baru kali ini ia dekat dengan seorang perempuan penyuka hujan, biasanya kebanyakan perempuan yang pernah dekat dengan Alen itu takut dengan hujan, takut sakit, takut make up nya luntur, dan takut rambutnya lepek. Alen benar-benar dibuat kagum oleh seorang Raina. Tiba-tiba saja motor Alen berhenti ditaman pinggir kota, membuat Raina yang tadinya sedang asik menikmati hujan diatas motor, kini langsung tersadar karena motornya berhenti dan derai hujan tak begitu terasa karena motornya terparkir dibawah pohon rindang. "Kenapa berhenti? Ini dimana?" tanya Raina sesaat setelah Alen menyuruhnya untuk turun. Alen yang baru saja melepas helm nya itu pun langsung menjawab, "Mau ngajak lo ke pinggir danau, disana ada jembatannya bagus." kata Alen. "Wahh iya kah? Ayo kalo gitu." wajah Raina langsung berubah bahagia berkali-kali lipat, Alen tersenyum melihat itu, ia pun langsung menggenggam tangan Raina untuk menuju ke sebuah danau yang ada disini. "Ini beneran gak papa lo hujan-hujanan? Ntar kalo lo sakit gimana?" tanya Alen dengan suara yang agak keras, karena suaranya tertutupi oleh derasnya air hujan. "Nggak bakalan, aku kan suka sama hujan, jadinya hujan tau dan dia gak bakalan nyakitin aku!" teriak Raina sambil tersenyum lebar, kini mereka sudah sampai dijembatan yang Alen bilang tadi. Kalo lo suka sama gue, gue juga bakalan sama kaya hujan Ra, nggak akan nyakitin lo. "Alen sini!!" Raina menarik tangan Alen untuk menuju ke tengah-tengah jembatan, disini hanya ada mereka berdua, karena sudah jelas yang lain pasti akan memilih berteduh ketimbang bermain hujan-hujanan seperti ini. Raina melepaskan tangan Alen, gadis itu kini sedang asik memutar-mutarkan badannya, ia menari-nari ditengah guyuran hujan deras seperti ini. Seragamnya sudah basah total, mulai dari ujung rambut hingga ujung sepatu pun juga sudah basah. Alen tetap berdiam diri sambil membentuk lengkungan senyum melihat aksi Raina yang sepertinya benar-benar menyukai hujan. Gadis itu sangat berbeda dari gadis-gadis yang lain, bahagianya Raina itu sederhana, begitu pikir Alen. "Alen kenapa cuma diem disitu? Alen gak suka hujan ya? Atau takut hujan?" tanya Raina saat melihat Alen yang hanya berdiam diri saja menatapnya sedari tadi. Alen langsung menggelengkan kepalanya, dan menghampiri Raina, "Lo ngejek gue ya?" tanya Alen dengan wajah kesal yang dibuat-buat. Raina langsung menggeleng cepat, "Enggak kok!" balas Raina sambil mengusap wajahnya yang terguyur hujan. Alen langsung terkekeh geli, ia kini sedang berdiri tepat didepan Raina, gadis itu mendongak menatapnya, karena Alen lebih tinggi darinya. Alen mengusap wajahnya, seperti Raina tadi, "Kayaknya gue tau kenapa nama lo itu Raina." ucap Alen. "Kenapa?" "Karena lo suka hujan, nama lo kan Rain, rain kan artinya hujan." kata Alen sudah seperti ahli mengartikan nama seseorang. Raina tertawa mendengarnya, "Iya, Papa juga pernah bilang kayak gitu ke aku." Alen langsung mengacak rambut Raina yang basah dengan gemas, tangannya langsung terulur didepan Raina, membuat gadis itu mengernyit bingung. "Hold my hand, salurin kebahagiaan lo itu buat gue juga Ra." ucap Alen, terdengar seperti meminta. Raina menatap tangan itu kemudian bergantian menatap Alen, Raina pun tersenyum dan langsung meraih tangan Alen, menggenggamnya dengan sangat lembut, ia tau bahwa Alen ingin merasakan kebahagiaannya yang sederhana ini, dan Raina akan menyalurkannya sekarang. Seketika saja ada rasa aneh yang menjalar didalam tubuh Alen, darahnya terasa berdesir hebat. Rasanya sangat hangat, tangan itu menggenggamnya dengan penuh kehangatan dibawah derasnya air hujan yang dingin ini, Alen bisa merasakannya. "Ayooo! Aku bakalan ngasih tau kamu rasa bahagia yang sesungguhnya!" kata Raina yang langsung menarik tangan itu, mengajaknya untuk menikmati hujan sore ini. Tanpa sepengetahuan Raina, tiba-tiba saja Alen langsung menggendongnya seperti saat Raina pingsan. Raina yang diberi perlakuan secara tiba-tiba itu pun langsung terkejut dan berteriak histeris. "ALEEENNN!!" teriak Raina. Tapi Alen tak mengindahkannya, cowok itu malah makin menjadi, ia langsung memutar-mutarkan tubuhnya bersama Raina yang sedang ia gendong. Membuat Raina memejamkan matanya erat-erat karena takut. "ALEENNN! IHHH TURUNINNN! TAKUT TAUUU! PUSIIINGGG!" teriak Raina dibeberapa putaran. Alen malah tertawa sangat lepas, tak lama kemudian akhirnya Alen menghentikan aksinya dan langsung menurunkan Raina dari gendongannya. Raina mencebik kesal, ia merasa sedikit pusing karena ulah Alen. "Alen ih! Gak lucuuuu!!!" "Yang bilang ini lucu juga siapa? Wleee!" Alen menjulurkan lidahnya dengan ekspresi annoyingnya, membuat Raina makin kesal. Akhirnya Raina langsung mencubiti perut Alen, tetapi jatuhnya malah menggelitiki dan membuat Alen tertawa karenanya. Alen pun tak mau kalah, cowok itu langsung membalas Raina tanpa ampun, ia menggelitiki perut Raina sampai gadis itu lonjat-lonjat sendiri. "Rasain tuh rasain, siapa suruh gelitikin? Hahahahah!" Alen semakin tertawa lepas. "Ampunnn Alennnn! Geliii!" Raina mencoba menghindar dari Alen, ia berucap sambil ketawa-ketawa karena kegelian, bahkan Raina sampai menginjak genangan air dan membuat air itu menyiprat tinggi. Setelah itu Raina cepat-cepat kabur dari Alen, dan Alen langsung mengejarnya. Dan terjadilah aksi kejar-kejaran diantara mereka. Berlari-lari dan asik menggelegarkan tawa dibawah hujan, semua itu Alen rasakan. Rasa bahagia, rasa senang, rasa nyaman, dan rasa yang tak pernah Alen temukan sebelumnya. Gue enggak tahu kapan terakhir kali gue bisa ketawa selepas ini. Dan sekarang lo yang udah berhasil buat gue ketawa selepas ini, Ra. -Alen Dirgantara. ✨✨✨
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD