Raina tengah melihat gemerlap lampu malam kota Jakarta dari balik kaca mobil, ia sangat suka dengan pemandangan dikota ini pada malam hari, sama seperti halnya saat ia di Los Angeles.
Ciiitttt
Raka menginjak rem mobilnya saat lampu hijau itu tiba-tiba berubah menjadi merah, ia menoleh ke arah Raina.
"Kenapa diem aja? Novelnya kurang?" tanya Raka pada Raina, karena tadi Raina meminta Raka untuk mengantarkannya ke mall guna membeli novel di gramedia.
"Enggak kok, Raina cuma lagi asik ngeliatin mobil lewat aja," balas Raina, Raka pun hanya berdehem.
Raina kembali menoleh kearah kiri, diseberang jalan sana seperti ada keramaian, membuat Raina penasaran. Ia memicingkan matanya, ah ternyata ada segerombolan anak-anak nakal yang terlihat sedang menaiki motornya masing-masing, dan banyak orang yang menonton.
Raina berfikir bahwa mereka akan melakukan aksi balapan liar. Saat fokus melihat keramaian itu, Raina tiba-tiba mengerutkan keningnya, ia semakin memperjelas pengelihatannya saat ada satu orang yang tak asing baginya.
Alen? Dia ikut balapan liar?
Raina tak mengalihkan pandangannya, ia terus memperhatikan laki-laki itu, sampai akhirnya Raka kembali melajukan mobilnya.
Dilain tempat, kini Alen tengah bersiap-siap memakai helm full face nya, sebentar lagi ia akan melakukan aksi balapan liar bersama teman-temannya.
Inilah salah satu kegiatan tidak terpuji Alen saat berada diluar sekolah, ia melakukan balapan ini hanya untuk senang-senang saja, karena dirinya gampang suntuk jika terus-terusan berada dirumah.
"Len!Len!" teriak Devan sambil berlari tergopoh-gopoh menghampiri Alen.
"Apa?"
"Ada geng nya si musuh lo tuh dateng kesini, katanya mau nantangin lo balapan," ucap Devan.
"Siapa?"
"Ya siapa lagi kalo bukan Kenzo sama antek-anteknya," balas Devan.
"Udah terima aja ajakannya, lagian, kita-kita yakin seratus persen kalo lo yang bakalan menang," ujar Reno salah satu anggota geng Alen.
"Oke, gue terima."
Brrmmmm brrmmmm brrmm
"Hei bro, gimana? Lo terima ajakan gue kan?" tanya seorang laki-laki berwajah blasteran bernama Kenzo.
"Apa taruhannya?" tantang Alen.
"Kalo lo menang, gue bakal kasih lo duit lima juta, kalo lo kalah sebaliknya! Deal?" Kenzo mengangkat tangan kanannya, tak butuh waktu lama, Alen pun menjabatnya dan langsung menjawab, "Deal!"
"Yessss! Bakalan seru ini mah anjir!" seru Devan.
"Semangat nyet, gue yakin lo bakalan menang! Lawannya dia doang mah kecil! Lumayan kan lima juta buat jajan," ucap Devan sambil menepuk-nepuk bahu Alen.
"Yoi."
Tak selang lama, akhirnya Alen dan Kenzo sama-sama bersiap, mereka menderumkan suara motornya masing-masing, Alen menutup kaca helmnya, ia menatap lurus kedepan, melihat seorang cewek berpakaian minim tengah berdiri ditengah-tengah garis start sambil membawa sehelai kain.
"Three..two..one..GOOO!!" teriak cewek itu sambil melemparkan kainnya ke udara, bersamaan dengan itu, Alen langsung menancapkan gasnya dengan kecepatan diatas rata-rata.
Posisinya dengan Kenzo saat ini berdampingan, mereka saling salip-menyalip antara satu sama lain, tidak ada yang ingin mengalah dan tidak ada yang ingin kalah atau terkalahkan.
✨✨✨
Jarum jam terus berputar, menunjukkan pukul dua belas malam lebih, Alen baru saja sampai didepan rumahnya, ia memarkirkan motornya itu digarasi luas milik ayahnya.
Setelah itu, ia melepaskan helmnya, dan berjalan santai memasuki rumahnya, pintunya sudah dikunci, tetapi Alen masih bisa membukanya, karena Alen cerdik, dia mempunyai beberapa kunci cadangan.
Setelah Alen masuk dan menutupnya kembali, ia pun segera berjalan kearah tangga untuk menuju kamarnya yang berada dilantai atas. Tetapi langkahnya seketika terhenti saat ada suara berat yang tak asing ditelinganya.
"Dari mana kamu?" tanya pria itu dengan suara beratnya.
"Main sama temen," jawab Alen tanpa menoleh.
"Main sama temen apa balapan sama temen-temen?" tanya pria itu lagi.
"Memang apa urusannya sama Papa?" tanya Alen, kini Alen pun menoleh ke arah pria yang ia sebut dengan panggilan Papa itu.
Papa nya Alen pun menghembuskan napasnya panjang, ia mencoba sabar dengan sikap anaknya ini, "Saya itu orangtua kamu Alen! Coba kamu bersikap lebih sopan," ucap pria itu.
"Sudah Papa bilang berkali-kali sama kamu, jangan ikut balapan liar dan jangan pulang malam-malam," lanjutnya.
"Maaf Pa, Alen capek, Alen mau istirahat," balas Alen tanpa mengindahkan ucapan Papa nya itu.
Alen pun akhirnya melanjutkan jalannya untuk menuju kamar, ia meninggalkan Papa nya itu sendirian.
Alen membuka pintu kamarnya yang tak dikunci, lalu menutupnya kembali, ia pun melepaskan jaket dan sepatunya.
Ia melihat ke sekeliling, kamarnya itu tampak berantakan sama seperti dirinya saat ini. Tidak ada lagi yang mengurusnya dengan baik, tidak ada lagi yang merapikan kamarnya, dan tidak ada lagi usapan lembut yang diberikan oleh kedua orangtuanya.
Dan, Alen sangat benci itu.
Ia harus menerima kenyataan pahit yang diberikan oleh kedua orangtuanya sendiri, mereka memutuskan bercerai saat Alen masih duduk dikelas sembilan SMP, disaat umurnya masih 15 tahun.
Sejak dulu, Alen tidak pernah merasakan kasih sayang orangtua yang benar-benar tulus. Setiap hari dirinya hanya menyaksikan perdebatan Mama dan Papa nya, yang selalu tak mau kalah, mereka semua egois, mereka hanya mementingkan dirinya sendiri, mereka tak pernah memikirkan bagaimana caranya membangun keluarga yang harmonis.
Tetapi, dulu waktu Alen masih tinggal dengan keluarga yang lengkap, Alen tidak senakal ini, Alen tidak se bad ini, karena masih ada Mamanya yang setiap hari selalu me-nasehatinya dengan baik-baik. Tapi sekarang? Sudah tidak ada.
Mama nya itu memilih untuk kembali ke rumah orangtuanya, meninggalkan Alen sendirian bersama ayahnya yang selalu sibuk bekerja. Sampai-sampai ayahnya itu mem-perkerjakan seorang pembantu dirumah ini, agar ada yang mengurus rumah besar ini.
Tetapi, Alen jarang memperbolehkan pembantunya itu untuk masuk ke dalam kamarnya, entah karena apa.
✨✨✨
Raina berjalan menyusuri koridor sambil membawa beberapa tumpuk buku dari ruang guru untuk dipindah ke perpustakaan, ia mendengus kesal, karena cowok menyebalkan itu meninggalkannya terlebih dahulu.
Gara-gara Alen ia dihukum oleh Bu Yuni seperti ini, tadi Alen melemparinya dengan sebuah gulungan kertas yang berisi tulisan "Rain, gue kayaknya harus lapor ke surga deh, gue mau bilangin kalo bidadari nya ada disini lagi sama gue."
"Dasar si Alen, padahal aku nggak ikut-ikutan bisa kena hukuman juga, udah ninggalin aku sendirian, nggak mau bantu bawain lagi!" Raina mendumel sendiri, sambil mengerucutkan bibirnya kesal.
Saat Raina ingin berbelok kearah kanan, tiba-tiba saja ia tak sengaja menabrak seseorang, buku-buku yang ia bawa pun langsung jatuh berserakan kemana-mana. Ia berdecak, kenapa akhir-akhir ini ia sering menabrak orang.
"Maaf kak, aku bener-bener nggak sengaja," ucap Raina.
"Nah! Ini dia nih anaknya!" ucap seorang cewek yang sedang berdiri dihadapan Raina, bersama ketiga teman-temannya dibelakang.
Raina menatap ke empat kakak kelasnya itu satu persatu, ada dua kakak kelas yang pernah ia temui sebelumnya, dan dua orang lagi, Raina tidak pernah melihatnya sama sekali.
"Heh! Lo udah dua kali nabrak gue! Mata lo bener-bener rabun ya!?" teriak cewek yang pernah Raina tabrak beberapa hari lalu, namanya Pinkan, cewek yang terkenal sok berkuasa disekolah ini.
kini cewek itu tak sendirian, ia bersama antek-anteknya, Lisa, Retha, dan juga Intan. Ketiga temannya itu juga sama saja penampilannya dengan Pinkan, berseragam ketat, rok minim, dan polesan make up diwajahnya.
"Alhamdulillah mata saya baik-baik aja kok kak, saya cuma nggak sengaja aja nabrak kakak lagi." jawab Raina dengan santainya.
"Wahhh, ini anak yang waktu itu jalan berdua sama Raka kan? Yang songong sama sok cantik itu kan?" tanya Lisa, seorang cewek yang pernah menyapa Raka tetapi tak digubris olehnya.
"Lo siapa sih sebenernya?! Belagu banget!" ucap Lisa lagi.
"Saya anak baru, pindahan dari LA." jawab Raina sambil berjongkok dan menyelipkan helai rambutnya ke belakang, lalu gadis itu mengambil beberapa buku-buku nya yang berserakan tadi.
"Dih, lagak nya belagu banget, mentang-mentang pindahan dari LA. sok-sok an lo!" tambah Retha.
"Tau nih! Ngajak perang sama lo Ping!" tambah Intan, ikut mengompor-ngompori.
Kini Pingkan semakin merasa panas, ia melihat Raina yang sedang berjongkok dibawahnya sambil mengemasi beberapa buku, lalu ia melihat ada satu buku yang berada didekat kakinya, ia pun langsung menginjaknya saat Raina hendak mengambilnya.
Raina membulatkan matanya, kaget dengan apa yang telah dilakukan oleh kakak kelas nya ini. "Kak, jangan di injek, ini buku punya perpustakaan! Didalemnya ada banyak ilmu," pekik Raina sambil mendongak.
"Bodo amat." balas Pingkan sambil tertawa devil.
Saat tangan Raina hendak berusaha untuk menarik buku itu, tiba-tiba saja sepatu milik Pingkan bergerak menginjak tangannya dengan sengaja. Membuat Raina meringis kesakitan, "Kak, t-tangan ak..ku j-jangan diinjek!" pekik Raina yang hampir mengeluarkan air matanya.
"Kenapa? Enak kan? Sakit nggak gue injek pake sepatu mahal gue? Hahahaha!" Pingkan berucap sambil tertawa, ia semakin menekankan injakannya, membuat Raina memekik dan air matanya pun lolos begitu saja.
Ketiga orang geng Pingkan itu pun ikut tertawa diatas penderitaan Raina, setelah itu, Pingkan langsung melepaskan injakannya ditangan Raina. Raina pun langsung menarik tangannya yang berdenyut-denyut itu, ia memegangnya sambil menangis.
"Lo nangis? Ulu ulu kacian..." ucap Pingkan sambil berjongkok dihadapan Raina, Raina menunduk, rambut panjangnya itu menutupi sebagian wajahnya.
Tetapi Pingkan langsung mengangkat dagunya dengan kasar, Raina menatap mata Pingkan dengan takut, ini baru kali pertama Raina dibully oleh seorang kakak kelas.
"Masih berani ngelawan gue? Lo itu cuma adek kelas disini! Jadi nggak usah sok-sok an, mana pahlawan lo yang kemaren itu? Kok nggak dateng lagi? Kasian...pahlawannya hari ini nggak dateng buat nyelamatin--"
"WOY! MAU NGAPAIN LO?!" teriakan itu menggema keras ditelinga Raina dan yang lainnya. Membuat Raina terkejut bukan main, Pingkan langsung berdiri, wajahnya terlihat pucat seketika saat melihat raut wajah Alen yang terlihat marah.
"Alen.." gumam Pingkan.
Pingkan mundur hingga menabrak ketiga temannya itu, Alen mendekat menatap mata Pingkan dengan nyalang.
"Lo apain Raina?" tanya Alen dingin.
"Nggak gue apa-apa in Len." jawab Pingkan.
"Cih, nggak mungkin kalo lo nggak ngapa-ngapain dia, buktinya dia sampe nangis!" cerca Alen.
"Kenapa sih lo belain cewek kaya dia? Kemaren cowok lain yang belain, sekarang lo, apa sih cantiknya cewek kayak dia?!" seru Pingkan sambil menunjuk Raina.
"Raina emang cantik, nggak kayak lo, busuk! Mentang-mentang kakak kelas jadi sok berkuasa lo!" serang Alen, matanya mengilatkan kemarahan.
"Dia cuma adek kelas yang belagu!" balas Pingkan.
"Gue juga adek kelas! Mau apa lo? Jadi, gue mohon sama lo dan geng lo ini untuk segera pergi dari hadapan gue, atau lo mau..." ucapan Alen terhenti saat Pingkan dan gengnya pergi begitu saja, terdengar suara desisan ditelinga Raina awas aja lo Ra!
Setelah geng Pingkan pergi, Alen segera berjongkok dihadapan Raina dengan raut wajah khawatir, Alen bisa mendengar suara tangisan dari gadis itu, Alen merasa bersalah karena dirinya telah meninggalkan Raina duluan tadi.
"Ra? Are you okay?" tanya Alen sambil menyisihkan helai rambut Raina ke belakang telinga, gadis itu terisak, ia memegangi tangan kanannya.
"Ra, gue minta maaf karena udah ninggalin lo ke perpus duluan tadi..maaf ya?" tanya Alen dengan lembut, Raina pun hanya membalasnya dengan anggukan, Alen mengerti jika Raina masih syok.
"Tangan lo kenapa Ra?" tanya Alen sambil meraih tangan Raina, sang empunya langsung meringis kesakitan.
"Shhh s-sakit.." ringis Raina.
"Ya udah, kita ke UKS ya, gue anterin lo.." ucap Alen sambil membantu Raina berdiri.
"Itu buku-buku nya gimana?" tanya Raina.
Alen tampak berfikir, "Ah gampang, itu biar gue yang tanggung jawab." balas Alen dan langsung memapah Raina untuk menuju UKS.
Setelah sampai, Alen langsung menyuruh Raina untuk duduk dibrangkar, sedangkan Alen kini tengah mencari P3K.
"P3K nya dimana ya?" tanya Alen.
"Jangan pake P3K, ini harusnya dikompres pake air hangat," sahut Raina.
"Oh iya, gue ke kantin dulu sebentar beli air panas, tunggu ya Ra!" Alen pun segera berlari ke kantin untuk menyiapkan airnya.
Tak lama setelah itu, akhirnya Alen pun kembali lengkap dengan air hangat dan baskom, ia mengambil handuk kecil yang digantung ditembok, lalu ia mencelupkannya, memerasnya, dan ia tempelkan pada tangan Raina yang memar.
"Sakit Len, pelan-pelan..nyut-nyutan rasanya.." rengek Raina manja.
"Iya Ra...ini gue udah pelan-pelan kok. Lagian, lo kenapa bisa dibully sama gengnya Pingkan sih?" tanya Alen penasaran.
"Karena aku nggak sengaja nabrak dia dua kali, waktu itu pas berangkat sekolah, dan sekarang yang tadi itu.." balas Raina.
Alen pun hanya mengangguk-anggukkan kepalanya, "Sakit banget ya Ra?"
"Iya, sepatunya tajem,"
Alen tersenyum sambil mengusap sudut mata Raina yang masih ada bekas air matanya, "Bilang sama gue kalo ada yang nyakitin lo ya."
Raina mengangguk sambil tersenyum manis, ia sangat senang karena banyak yang perhatian kepadanya. "Makasih Alen.."
"Makasih aja?" goda Alen.
"Terus mau apa?" tanya Raina dengan polosnya.
Alen hanya tersenyum lalu menggeleng, ia melihat ke bawah, kembali ke baskom airnya, tetapi tiba-tiba dirinya mematung saat...
Cup!
Raina mencium pipi kirinya.