7. Berantem

1957 Words
Raka duduk didepan meja kantin, menatap dua manusia yang ada dihadapannya saat ini, Alen dan Raina. Mata Raka menatap Alen dengan tatapan mengintrogasi, terlihat tidak suka dengan laki-laki itu. "Tangan kamu kenapa Ra?" tanya Raka pada Raina, kini Raka memfokuskan dirinya pada Raina. Raina terlihat berfikir, ia menggigit bibir bawahnya karena panik, jika ia jujur pasti masalahnya akan tambah rumit. "Eumm itu..tadi Raina habis dihukum sama Bu Yuni buat mindahin buku-buku ke perpustakaan, terus Raina kesandung, dan tangannya ketatap ujung meja," balas Raina berusaha meyakinkan Raka. "Kamu dihukum? Kenapa bisa dihukum?" tanya Raka, memberi pertanyaan lain. Raina memejamkan matanya, ia merutuki dirinya sendiri karena telah keceplosan mengatakan bahwa dirinya baru dihukum. "Jawab Ra..kenapa diem?" tegur Raka, membuat Raina kembali membuka matanya. Ini lah hal yang paling tidak disukai oleh Raina, dimana Raka mengintrogasinya seperti polisi. Sedangkan Alen, cowok itu sedari tadi hanya memperhatikan mereka berdua, sebenarnya mereka berdua ini ada hubungan apa sampai-sampai ada acara introgasi seperti ini. Mulai muncul dipikiran Alen bahwa cowok itu adalah pacar Raina, apakah iya? Disekolah ini, Alen juga baru pertama kali melihat Raka, apakah ia juga murid pindahan seperti Raina? "Sebenernya lo itu siapa nya Raina sih?" tanya Alen, ia akhirnya mengeluarkan suaranya karena rasa penasaran. Raka mengalihkan pandangannya ke Alen, "Lo nanya siapa gue? Nggak salah? Harusnya gue yang nanya, lo itu siapa?" "Gue? Gue manusia lah, udah tau masih aja nanya." balas Alen, dengan tampang annoyingnya. Raina yang ada disampingnya pun langsung mencubit paha Alen, membuat sang empunya meringis sambil memelototi gadis yang ada disampingnya itu. "Ya gue tau lo itu manusia njing, mata gue gak rabun." Raka menyahut dengan tidak santai. "Raka kasar ihhh ngomongnya.." gumam Raina tetapi tak digubris oleh Raka. "Oh yaudah njing, biasa aja, gue santuy ngapa lu ngegas anjing?" Alen kembali berucap dengan menekankan kata 'anjing', ia mulai kesal dengan cowok didepannya ini. "Lo ngajak berantem?" tanya Raka dengan nada sedikit tinggi. "Mau? Ayok! Siapa takut!" balas Alen yang hampir mau berdiri dari duduknya, namun ditahan oleh Raina. "Ihhh apaan sih kalian berduaaaa! Masa cuma masalah gitu doang mau berantem?" tanya Raina pada Raka dan Alen, ia menatap kedua cowok itu bergantian. "Yaudah, lo sebenernya siapa nya Raina? Pacar? Sodara? Bokap? Bodyguard? Siapa?" Alen bertanya kembali pada Raka, kini terdengar lebih baik. "Tanya sendiri aja ke Raina, gue mau balik ke kelas. Engep liat muka lo," balas Raka yang langsung bangkit dari duduknya dan pergi meninggalkan mereka berdua. "Raka! Mau kemana? Kan belum makan!" panggil Raina. "Nanti aja makan diluar," balas Raka tanpa menoleh ke belakang. Raina kemudian hanya menghembuskan napasnya panjang, "Kumat deh juteknya,," "Kenapa tuh? Dia PMS?" celetuk Alen, membuat Raina langsung memukul lengannya. "Ngawur banget kalo ngomong! Dia itu emang kaya gitu sifatnya!" Raina nampak kesal pada Alen. "Emangnya dia siapa nya lo?" tanya Alen. "Mau tau banget apa mau tau aja?" "Mau tau banget deh, soalnya songong amat tu orang," tambah Alen. "Dia itu kakak aku, lebih tepatnya saudara kembar," balas Raina, membuat mata Alen melebar seketika saat mendengar jawaban dari gadis itu. "What the fucek!" "Hehhh! Mulutnya," Raina langsung menampar mulut Alen pelan. "Kenapa emang?" Alen mendengus, kenapa cowok itu bisa menjadi kakak Raina? Adiknya selucu ini, sedangkan kakaknya--- songong. "Jadi, foto pegangan tangan lo di i********: itu sama dia?" tanya Alen, Raina pun mengangguk. "Iya." "Gue pikir dia itu pacar lo tau Ra, tadi tiba-tiba dateng nyamperin ke UKS, terus ngajak ke kantin, terus ngintrogasiin lo, possesive amat jadi kakak," ucap Alen pada Raina membuat gadis itu terkekeh mendengarnya. "Raka emang kaya gitu, dia cuek tapi perhatian," balas Raina. Alen hanya mengangguk-anggukkan kepalanya, "Kalo gue gimana menurut lo Ra?" tanya Alen sambil menaikkan satu alisnya. "Gimana apanya?" "Yaa gue itu kayak gimana orangnya dimata lo?" "Kamu? Kamu itu nyebelin, nakal, sok ganteng," jawab Raina sangat jujur. "Kok jelek-jelek semua sih?" protes Alen. "Ya emang gitu kannnn?" "Oke, gue akuin kalo gue nyebelin, gue nakal, tapi-- gue itu nggak sok ganteng Ra, palingan gue cuma sok ganteng didepan lo doang," goda Alen, membuat Raina menunjukkan ekspresi gelinya. "Idiiihhhh, hueeekkk!" canda Raina. "Kemarin aku nggak sengaja ngeliat kamu, mau--- balapan ya?" Alen terdiam, ia menatap Raina yang juga sedang menatapnya, lalu Alen mengangguk. "Kenapa kamu ikut balapan kaya gitu? Kan bahaya Len.." "Karena gue suka Ra, bisa nyenengin diri gue sendiri, gue gampang suntuk kalo dirumah terus," balas Alen, kemudian Raina hanya diam, tapi sedetik setelah itu Raina langsung membuyarkan diamnya. "Ehh tapi ada deskripsi yang bagus juga kok buat kamu," "Apa?" "Pertama, kamu itu pinter, kedua, kamu itu care, ketiga, kamu itu asik, keempat kamu itu populer, banyak kan yang kenal sama kamu? terus yang kelima...eumm..kamu itu.." Raina menggantungkan ucapannya, membuat Alen menunggu dan penasaran. "Apa hayoo?" "Ganteng," lanjut Raina, wajahnya seperti menahan senyum. Kalian tau apa yang dirasakan Alen saat ini? Jantungnya tiba-tiba saja berdegup lebih cepat, raut wajahnya berubah seketika, ayoolah! Ini bukan Alen yang sesungguhnya. Sudah banyak perempuan yang mengatakan itu, tapi kenapa saat Raina yang mengatakannya rasanya jadi berbeda? s**t. Sedetik kemudian Alen akhirnya bisa bersikap biasa lagi, ia mencoba menetralisirkan detak jantungnya, rasanya hampir sama saat Raina tiba-tiba menciumnya di UKS tadi. "Alahh! Apaan! Tadi lo bilang gue sok ganteng," tembak Alen membuat Raina tertawa. "Nggak kok, nggak. Bercanda doang Aleeennn," balas Raina, dan Alen langsung mengacak rambut Raina dengan gemas. Membuat para murid yang ada dikantin ini merasa iri, terutama bagi para kaum hawa. Mereka sedari tadi melakukan aktivitas makan sambil mengamati Alen dan Raina yang asik berbincang berduaan. Dorrrr!!! Raina terjingkat, saat Via dan Devan datang tiba-tiba sambil menepuk bahu Alen dan Raina dengan cukup keras, tetapi yang kaget hanya Raina saja. Raina mengumpat dalam hati, ia mengelus dadanya dengan sabar, untung saja masih ia anggap teman. "Kaget tau Viii!" rengek Raina pada Via yang kini duduk dihadapannya. "Ehh bukan gue lo yang ngagetin lo, tapi si Devan tuh," balas Via membela dirinya. "Ehehehe maap ya Raina," "Van!" panggil Alen. "Ha?" "Pesenin makanan dong, buat kita berempat." ucap Alen. "Oke, tapi ada ongkos kirimnya nih!" "Iya tenang aja." balas Alen, Devan pun langsung sumringah, ia langsung bergegas menuju stand kantin. "Vi!" panggil Alen pada Via yang asik bermain ponsel. "Apaan." "Pesenin minuman," suruh Alen. "Dih, ogah banget," tolak Via. "Buruan, ntar gue kasih ongkir lebih banyak dari pada Devan." ucap Alen, membuat Via langsung bersemangat. "beneran nih?" "Iya." "Oke, cuss!" Via pun langsung berdiri dan bergegas pergi ke stand minuman. Raina melirik Alen, "Enak ya mentang-mentang wokay," "Anggap aja sedekah." ✨✨✨ Raina kini tengah asik membaca novelnya dibangku panjang pinggir lapangan, angin semilir membuat rambut panjangnya itu bergerak kesana kemari, ia duduk sendirian dibangku ini, Via? Via asik tertidur dikelas, karena kebanyakan makan tadi di kantin. Raina lebih memilih kesini ketimbang didalam kelas, karena ia bosan saat-saat jamkos seperti ini, tidak ada pelajaran gurunya rapat. "Halo Raina!" sapa seorang cowok berwajah blasteran yang membuat Raina langsung menoleh. Raina mengerutkan keningnya, ia tak kenal dengan cowok itu. "Siapa ya?" "Gue Kenzo," ucap cowok itu sambil mengangkat tangan kanannya, dengan ragu-ragu Raina pun membalas ulurannya. "Raina." "Iya gue udah tau, siapa sih yang nggak tau lo." "By the way, boleh gue duduk?" tanya Kenzo. "Boleh, kok." Kenzo pun duduk disamping Raina, ia mengeluarkan sebuah coklat panjang, lalu ia berikan kepada Raina. "Nih buat lo, nyokap gue baru pulang dari swiss, dia bawa coklat banyak," Kenzo berucap membuat Raina langsung sumringah, ia sangat suka dengan coklat. "Wah beneran?" Kenzo mengangguk. "Makasih ya," "Sama-sama," "Lo pindahan dari mana?" tanya Ken. "Dari California," "Ohhh." Ken hanya berohria. "Ngapain lo disini?" suara berat itu membuat Raina dan Ken menoleh, ternyata ada Alen yang datang dengan raut wajah datar. "Sekolah ini kan umum buat murid-muridnya," balas Ken. "Emangnya gak ada tempat lain buat lo nyampah kayak gini?" tanya Alen, terdengar dingin. "Maksud lo apa?" Ken berdiri, membuat Raina tiba-tiba panik. Alen berjalan mendekat, dirinya dan Ken kini berhadapan tepat didepan Raina duduk. Alen tertawa miring,"mau coba deketin Raina? Mau mainin cewek lagi?" "Kenapa lo bilang kayak gitu? lo sendiri nggak ngaca? Lo gimanaa?! Cewek lo ada dimana-mana, sok-sok an bilangin gue," balas Ken. "Yang bener kalo ngomong! Cari tau dulu kebenarannya, baru ngomong! Gue emang player, gue emang b******k, tapi gue gak se-b******k lo!" ucap Alen. "Gak usah songong lo, mentang-mentang kemaren menang balapan sama gue!" sahut Ken mulai emosi. "Nggak ada hubungannya!" "Ra, buang coklatnya, jangan dimakan, najis makan coklat dari dia," ujar Alen pada Raina, cowok itu langsung menarik tangan Raina untuk berdiri dan meninggalkan Kenzo sendirian, tetapi tiba-tiba saja... Kenzo menarik kerah seragam belakang milik Alen, ia langsung memberikan bogeman keras dirahang Alen, membuat Raina berteriak. Bugh! "ALEN!!" Alen terhuyung kebelakang, karena ia sedang tak siap, ia mengusap sudut bibirnya, ada darah segar mengalir disana. Alen pun tersulut emosi, ia sudah naik pitam, tanpa ragu Alen pun langsung membalas pukulan Ken. Dan lagi-lagi membuat Raina berteriak, semua murid yang ada disekeliling mereka langsung datang menggeromboli mereka. Bugh! "Maksud lo apa nyerang gue dari belakang! Payah lo!" teriak Alen didepan wajah Kenzo, kedua cowok itu masih saling melawan satu sama lain. Bugh! Bugh! Bugh! Alen dan Kenzo sama-sama tersulut emosi, mereka seimbang, wajahnya sudah sama-sama babak belur, Raina dan anak anak lain yang menyaksikan tidak bisa menghentikan aksi mereka, bahkan Raina sudah berteriak cukup keras. "ALEN! KENZO! UDAH!!!" "Lo pikir setelah lo menang kemarin gue bakalan nyerah? Nggak! Nggak akan pernah!" sentak Kenzo yang sudah mengeluarkan darah dari bibir, pelipis dan juga hidung. Mengerikan. Kini diantara mereka yang masih terlihat kuat adalah Alen, cowok itu tak kalah dari Kenzo. Keadaannya kini adalah Kenzo yang lebih babak belur ketimbang Alen. Jangan lupakan jika Alen adalah pemegang sabuk hitam di ekstra karate, jadi jangan heran. "Jadi lo nggak terima gitu kalo gue menang?! Kenapa? Gara-gara duit lima juta lo itu? Bokap lo marah karena anaknya udah ngabisin uang lima juta? Nanti gue balikin uang lo!" ujar Alen disela sela pukulannya. "b*****t!" umpat Kenzo. "ADA APA INI?!! SIAPA YANG BERANTEM?!!" suara keras itu menggema dilapangan ini, Bu Yuni dan beberapa guru lainnya datang, berusaha memisahkan perkelahian diantara mereka. "ALEN! KENZO!! CUKUP!! KALAU KALIAN TIDAK BERHENTI, IBU AKAN MENGELUARKAN KALIAN DARI SEKOLAH INI!!!" teriak Bu Yuni lagi, suaranya sangat keras dan memekikkan telinga, Alen dan Kenzo akhirnya menghentikan aksinya, mereka sama-sama diam, mengatur napasnya yang tak beraturan. Raina yang hampir menangis itu kini berjalan menghampiri Alen, ia meringis sendiri saat melihat luka-luka Alen. "Kalian berdua, ikut Ibu ke ruang BK! SE KA RA NG!!" perintah Bu Yuni dan berbalik badan. "Kalian semua, masuk ke dalam kelas masing-masing, jamkos bukannya dipakai buat belajar, malah keluyuran!" omel Bu Yuni pada siswa-siswi nya yang masih bergerombol. "Ra, lo masuk ke kelas duluan aja ya, gue mau nyelesaiin masalah gue dulu." ucap Alen pada Raina. "Tapi luka kamu Len.." "Nanti bisa diobatin Ra, tenang aja, biasa ini mah..kecil.." kata Alen terlihat menyepelekan, ia tau bahwa gadis itu khawatir padanya. "Yaudah," Alen dan Kenzo pun berjalan mengikuti Bu Yuni yang sudah berjalan duluan didepannya. Mereka berdua saling menatap sinis satu sama lain, jarak mereka juga terbilang cukup jauh. "Kak Aleennn! Sakit ya kak? Yaampun kasiannnn :(" "Kenzo kamu kenapa sama Alenn? Oh my god, pacar-pacar gue pada babak belur gini sihhh..." "Alen astagaaa! Muka lo kenapaaa? Jangan berantem berantem atuhhh," "Aleeeeennnn! Muka lo yang ganteng itu jadi ketutupan sama bonyokkk!" "Oh my goshhh! Pacar gue kenapa jadi begitu woooyyyy!" "Len sini gue obatin looo." "Kenzo mancing Alen sih, jadinya bonyoknya lebih parah kannn! Kayak gak tau aja si Alen itu master fighting." Begitulah seruan dari para penggemar Alen dan Kenzo saat mereka berjalan melewati koridor, tapi lebih banyak Alen lah jelas. Tetapi yang dikomentari dan diperhatikan hanya diam saja memasang wajah datar. "Aleeeennnn! I still love youuu! Lo tetep ganteng kok! Suwer!" "Keju mozarella khas malangnya kakak." "Itu lagi itu lagi, gedeg gue dengerinnya!" omel Alen. 
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD