8. Kak Raja

2003 Words
Raina duduk didepan Alen dengan kapas berisi obat merah ditangannya, gadis itu terlihat sangat telaten dalam mengobati luka-luka Alen. Sesekali Alen meringis karena perih, membuat Raina ikut-ikutan meringis juga karenanya. "Gimana tadi diruang BK?" tanya Raina pada Alen. "Di poin 15, terus dihukum suruh bersihin toilet lagi, tapi kali ini toilet yang ada di seluruh sekolah, mulai dari ujung atas sampe ke ujung bawah, parah gak tuh." ujar Alen sambil memperlihatkan wajah masamnya. "Rasain," ejek Raina dengan entengnya. "Loh, kok malah bilang gitu sih Ra?" "Siapa suruh kamu berantem, lagian apa gunanya sih berantem kayak tadi?" tanya Raina dengan nada sedikit jutek. "Kan si Kenalpot yang mulai duluan, dia nonjok gue ya gue nggak terima lah," balas Alen membuat Raina menghentikan aktivitasnya. Raina menatap Alen dengan serius, membuat Alen bertanya, "Kenapa ngelihatinnya sampe kayak gitu Ra? Lo marah? Kenapa?" tanya Alen. "Karena aku khawatir!" ceplos Raina, gadis itu langsung berubah panik, ia merutuki ucapannya. Setelah itu, dengan cepat ia langsung menaruh kapas yang ia pegang tadi disebelah Alen, gadis itu langsung berdiri dari duduknya, "Kamu obatin sendiri aja," dan Raina pun langsung pergi meninggalkan Alen sendirian. "Eh Ra!" ✨✨✨ Raka memarkirkan mobilnya didalam garasi rumahnya yang luas, Raina mengernyit heran saat melihat ada sebuah mobil merah yang terparkir didepan rumahnya. Itu bukan mobil milik Arka atau pun milik Cherry, tetapi jika dilihat-lihat Raina tidak asing dengan mobil itu. "Ada siapa ya Ka?" tanya Raina pada Raka saat mereka sudah keluar dari mobil. Raka hanya mengedikkan kedua bahunya, pura-pura tidak tahu. Akhirnya mereka berdua pun langsung masuk kedalam rumah, Raina berseru dengan lantang. "Assalamualakum!!Ma, Pa, Raina pulaaaangg!" serunya. "Loh? Beneran ada tamu ya?" ucap Raina setelahnya saat ia melihat ada ramai-ramai diruang tamunya. "Wa'alaikumsalam, sini sayang," balas Cherry dan juga yang lainnya. "Halo Raina sayang," ucap seorang wanita yang tak asing bagi Raina. "Ehh! Aunty Nesyaaaaaa!!!" seru Raina dengan ekspresi yang sangat gembira, gadis itu langsung berlari dan menghampiri Nesya, ia memeluknya. Sedangkan Raka hanya tersenyum geli, melihat kelakuan adiknya itu, Raka pun menyalami Cherry. "Onti pulang ke Indonesia kok nggak bilang-bilang Raina?" ucap Raina saat sudah melepaskan pelukannya. "Kan mau buat kejutan buat Raina," balas Nesya sambil mengelus rambut gadis itu. "Om Nata? Kak Raja? Dimanaaa?" tanya Raina dengan tidak sabaran, ia celingak celinguk melihat rumahnya. "Ada tuh, lagi dibelakang sama Papa kamu juga," balas Nesya, Raina pun langsung ngibrit begitu saja untuk menuju rumah bagian belakangnya. Saat Raina sudah sampai, ia hanya melihat dua orang saja yang ia tebak itu adalah Arka dan Nata yang sedang asik berbincang sambil meminum coffe. "Halo Pa, Halo Om Nata!!" sapa Raina yang langsung membuat Arka dan Nata menoleh. "Eh sayang, kamu udah pulang? Gimana sekolahnya? Udah satu minggu disana, betah?" tanya Arka sambil merangkul putrinya itu. "Betah banget kok Pa, sekolahnya bagus, temen-temennya juga pada baik," balas Raina. "Om Nata gimana kabarnya?" tanya Raina sambil menyalami tangan Nata. "Alhamdulillah selalu baik, keponakan Om ini makin cantik aja di Jakarta, " puji Nata sambil tertawa ringan. "Ah, Om mah bisa aja! Cantikan juga Onti Nesya sama Mama, Raina mah kalah," kata Raina. "Kalo sama bunga ini gimana Ra?" suara itu terdengar dari belakang Raina, membuat Raina menoleh, dan disusul juga oleh Arka dan Nata. "KAK RAJAAAAA!!!" teriak Raina sangat kencang, gadis itu langsung berlari dan menghampiri laki-laki itu. Arka dan Nata hanya geleng-geleng kepala, tingkah Raina yang lucu dan menggemaskan itu tak hilang sejak ia masih kecil. "Anak lo lucu banget Ka, persis kaya Cherry dulu, bedanya anak lo lebih ramah dan ceria, kalo Cherry kan galak-galak jutek gitu," kekeh Nata saat mengingat sifat adiknya itu dulu. "Gitu-gitu juga adek lo Bang," balas Arka yang ikut terkekeh. Raina yang tadinya berlari itu langsung memeluk Raja dengan erat, gadis itu benar-benar rindu pada sosok lelaki ini. "Erat banget Ra, kaya nggak ketemu berapa tahun aja," ucap Raja sambil membalas pelukan Raina. "Satu bulan itu serasa satu tahun buat Raina," ucap Raina dan langsung melepaskan pelukannya. "Iyaaa. Nih bunganya buat kamu" Raja memberikan sebuket bunga yang didalamnya juga berisi beberapa coklat. Mata Raina berbinar, ia sangat suka dengan berbagai macam coklat, setiap hari tidak pernah bosan dengan makanan manis itu, sampai-sampai Cherry selalu mengomelinya karena kebanyakan makan coklat, ia takut jika anaknya itu nanti bisa gendut, dan kenyataannya tubuh Raina tetap saja kecil. "Makasih kak! Tuhhh Rakaa! Dengerinnn, harusnya Raka itu kayak Raja, selalu ngasih Raina coklat," sindir Raina sedikit berteriak sambil mengintip ke arah Raka yang kini sudah berganti baju dan makan dimeja makan. Namun yang sedang disindir tetap asik menikmati makanannya, beranggap bahwa tadi itu hanya angin lewat. Raja yang melihatnya hanya terkekeh, ia sudah biasa melihat itu, "Ke belakang yuk, ada yang mau aku tunjukin," ajak Raja sambil menarik tangan Raina. "Ada apa emang?" Raja hanya diam, cowok itu tetap berjalan sambil menggandeng Raina, setelah sampai dibawah pohon yang cukup besar, akhirnya Raja langsung menunjuk kearah atas dengan dagunya. "Liat deh," Raina mendongak, sudut bibirnya langsung terangkat ke atas, matanya yang bulat itu langsung berbinar, "Wahhhh! Rumah pohon!! Sejak kapan disini ada rumah pohon? Siapa yang buat?" tanya Raina. "Serius kamu nggak pernah tau beberapa hari ini ada yang bangun rumah pohon disini?" tanya Raja dan Raina pun menggeleng. "Aku yang ijin ke Papa kamu buat bangun rumah pohon disini, tapi yang buat orang lain, bukan aku," ucap Raja. "Ohhh gitu, yesss! Aku suka banget, bisa deh baca novel sama latian dance disini!" "Ekhem," terdengar suara deheman dari belakang mereka, Raja dan Raina pun menoleh, ehh ternyata ada Raka yang berdiri sambil menyilangkan kedua tangannya didepan d**a. "Ada kakak jutek dateng kesini, kenapa?" tanya Raina. "Mama manggil, disuruh makan." ucapnya sangat cuek. "Asik amat berduaan disini," lanjutnya. "Bilang aja lo cemburu kan?" tebak Raja. "Lah, ngapain gue cemburu sama lo, sama-sama adek juga." "Udah-udaaahh jangan pada berantem ya kakak kakak, Raina sayang sama kalian semua kok." balas Raina sambil merangkul kedua kakak cowoknya itu, membuat dirinya jadi berada ditengah. "Kak Raja juga sayang Raina," ucap Raja, namun Raka hanya diam saja, membuat Raina mencebikkan bibirnya kesal. "Sayang nggak Ka?" tegur Raja, membuat Raka hanya berdehem malas, tanpa ditanya pun Raka sudah jelas sayang pada adiknya itu, hanya saja cara menunjukkan rasa sayangnya itu berbeda. "Ihh! Sebenernya saudara kandungnya Raina itu Kak Raja apa Kak Raka sih?" kesal Raina saat sudah melepaskan rangkulannya. "Mau jawaban? Nanti deh gue liatin di KK." balas Raka yang langsung membuat Raina mendelik. "Udah-udah, sekarang ayo balik ke rumah." ujar Raja berusaha menyelesaikan perdebatan antara Raina dan Raka. Dari dulu selalu Raja lah yang menjadi penengah diantara mereka jika dalam situasi seperti ini. Raina sendiri merasa bahagia karena dihidupnya ia dikelilingi oleh para laki-laki tampan yang di idam-idamkan oleh para wanita diluaran sana. Raka, Raja, Alen, tiga cowok itu yang sangat melekat dikehidupan Raina saat ini. *belum lagi si Devan, Kenzo, sama temen-temen cowoknya yang lain disekolah, enak amat ya jadi Raina:) ✨✨✨ Alen duduk dipinggir pembatas rooftop, sambil menghisap sebatang rokok yang ia apit diantara kedua bibirnya, lalu ia mengepulkannya diudara, seperti itu terus, sampai habis. "Woy Len! Lo kalo mau bolos pelajaran ngajak-ngajak gue dong! Main tinggal-tinggal ae lo!" ucap Devan yang baru saja sampai ditangga paling atas, cowok itu langsung berjalan menghampiri Alen, dan duduk disebelahnya. "Lagian siapa suruh lo tepe-tepe sama adek kelas tadi, ya gue tinggal lah," balas Alen, karena tujuan Alen pergi ke rooftop ini adalah untuk menghindari pelajaran sejarah umum  yang membuatnya ngantuk saat guru menerangkan. "Eeeh enak aja, gue kaga tepe-tepe, mereka pada ngejer-ngejer gue minta nomor hape gue," Devan membela dirinya. Lalu Alen membuang putung rokoknya kebawah, dan langsung ia injak menggunakan sepatunya, ia menoleh kearah Devan sambil mengangkat satu alisnya, "Sok cakep lu!" ejek Alen, membuat Devan memelototkan matanya kesal. "Gue tau kalo wajah gue sama wajah lo tuh cakepan wajah lo, tapi gak usah bilang kayak gitu juga kali!" kesal Devan sambil memutar bola matanya. "Nah, itu lo sadar." sahut Alen, membuat Devan semakin kesal. "Bangke lo Len!" "Canda Van," balas Alen sambil tertawa, dan memukul lengan Devan. "Candaan lo bikin gueh sakit hati bwang!" ucap Devan membuat Alen jijik mendengarnya. "Dih, najis." "ALEN! DEVAN! SEDANG APA KALIAN DIATAS SANA?!!" teriak Bu Yuni dengan merdunya, membuat Alen dan Devan terlonjak kaget. Mereka sama-sama melihat kebawah, dimana ada Bu Yuni yang sedang berkacak pinggang sambil menunjukkan tampang murkanya. "Kabur Len! Kabur!!" pekik Devan sambil menepuk-nepuk lengan Alen, dengan cepat akhirnya mereka turun dari rooftop dan mencari tempat yang jauh dari jangkauan Bu Yuni. ✨✨✨ "Hayo! Mau kemana kalian anak-anak ganteng? Hm?" tanya Bu Yuni saat memergoki Devan dan Alen yang tengah berjalan mengendap-ngendap untuk bersembunyi dibelakang sekolah. Alen dan Devan yang mendengar suara itu pun langsung menoleh ke belakang secara bersamaan, mereka sama-sama memberikan cengiran khasnya saat melihat wajah Bu Yuni yang menyeramkan. "Ehh Ibuk." Kedua tangan Bu Yuni langsung terangkat untuk menjewer telinga kanan Alen dan telinga kiri Devan, mereka sama sama meringis dan menjinjitkan kakinya. "Aduh duh Bu! Jangan dijewer bu sakit!" rintih Alen memohon. "Tau nih, Bu Yuni pakek cara kekerasan, jadi nggak cinta deh." ucap Devan membuat Bu Yuni langsung melotot. "Kalian kenapa sih kalau nggak buat masalah sehariii aja! Ibu tuh pusing ngurusin kalian!" omel Bu Yuni masih tetap dengan jewerannya. "Lah, saya jarang buat masalah buk. Yang paling sering si Alen tuh," tunjuk Devan, membuat Alen langsung menendang kakinya dengan kejam, membuat Devan terkejut. "Apaan lo kompor!" tajam Alen. "Ya Allah, dosa apa hambamu ini? Udah dijewer, ditendang pula, habis ini cobaan apa lagi yang engkau berikan?" kata Devan sangat mendramatis, nadanya sok disedih-sedihkan. "Kalian, ibu hukum! Keliling lapangan 20 kali setelah itu push up 50 kali dan jalan jongkok keliling lapangan 10 kali!" perintah Bu Yuni, membuat kedua cowok itu melongo tak percaya. "Banyak amat bu!" protes Alen tak terima. "Alen tambah push up jadi seratus kali!" tambahnya, membuat Alen mendengus kesal, sedangkan Devan ia langsung cekikikan, "Kenapa Devan?! Kamu pengen juga hukumannya ibu tambahin?" tanya Bu Yuni. "Ehh ehh! Enggak bu! Enggak mau banget! Biar si Alen aja, dia kan anak karate jadi kuat." balas Devan. "Ya sudah, Cepat sekarang kalian ke lapangan!" perintah Bu Yuni yang akhirnya melepaskan jeweran mautnya itu, membuat Alen dan Devan langsung berjalan meninggalkan Bu Yuni sambil mengelus telinganya yang memerah. Setelah sampai dilapangan, Alen langsung berlari tanpa banyak berfikir, dan disusul juga oleh Devan dibelakangnya. Anak-anak SMA Galaksi yang melihatnya sontak saja langsung berteriak histeris saat tau idolanya dihukum ditengah lapangan. Membuat yang ada didalam kelas juga penasaran dan mereka pada menyembulkan kepalanya lewat jendela kelas. Teriakannya semakin histeris saat melihat Alen mengeluarkan keringat dari pelipis dan dahinya, aneh kan? padahal cuma keringet. Eitss tapi itulah yang membuat aura ketampanan Alen meningkat lima kali lipat dari sebelumnya. "KAK ALEEEN KAK DEVAAANNN!! SEMANGAAAATTTT! WE LOVE YOUUU!!" "GILAKK CALON-CALON SUAMI GUE PADA GANTENG-GANTENG BET YAKKK!" "Leeennn! Dihukum begini terus gapapa Len! Asupan buat gueee! Hwaaa!!" "Ahh gilak cool bangeett! Gue makin nge fans sama lo Len!" Saat Alen mendengar teriakan histeris itu, ia hanya diam tak menanggapi, setelah larinya genap 20 kali akhirnya Alen langsung mengambil posisi push up nya ditengah lapangan, namun sebelum itu ia melepas dasi dan seragam putihnya itu terlebih dahulu, meninggalkan kaos hitam polos yang melekat ditubuhnya, karena ia merasa gerah. "AHH GILAK GILAK! PINGSAN GUEEEE!! KENAPA HARUS LEPAS SERAGAM SIH LEEENNN!!?" "Lemes adek liatnya bwanggg!" "Gue butuh oksigen! Oksigen mana oksigeeennnn!??" "Alen tanggung jawab Len! Mata gue yang suci ini jadi ternodai!" Teriakan-teriakan alay dan histeris itu semakin memenuhi lapangan ini. Membuat anak-anak yang tadinya berada dikelas langsung keluar berhamburan untuk melihat pemandangan itu, termasuk Raina. "Wah salah nih Bu Yuni kalo ngasih hukuman kaya begini, anak-anak seantero sekolah yang ada malah pada ikutan bandel gara-gara keluar kelas buat nontonin lo." ujar Devan yang sedang ikut push up juga sekarang. "Bodo amat, kan gue bandarnya." jawab Alen sekenanya. "Lo n*****a Len?" tanya Devan dengan tampang polosnya. "Gak lah njing, ngawur lo kalo ngomong!" balas Alen sambil menoyor kepala Devan dengan sadis, yang diperlakukan seperti itu hanya bisa diam saja. Devan sudah sangat pasrah jika Alen meledekinya atau menganiayanya. Demi kebahagiaan teman, dan demi sebuah contekan.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD