9. Jagung Bakar

2144 Words
"Ra, lo jangan deket-deket sama cowok nakal itu, ntar lo ikut-ikutan nakal." ujar Raka pada Raina yang sedang asik meminum jus apelnya dikantin. Raina mencabut sedotannya dari mulut, "Kenapa? Dia nggak ngajarin aku buat nakal kok, dia itu baik sama aku," balas Raina, Raka yang mendengarnya langsung menunjukkan tampang tidak suka. "Baik kalo kelakuannya kaya gitu sama aja. Lo nggak liat tadi dia dihukum?" tanya Raka. "Liat, bahkan yang ngeliat anak satu sekolahan," jawab Raina enteng. "Nah itu lo tau, kemaren dia berantem bikin heboh, sekarang dia dihukum juga bikin heboh, emang apa bagusnya." ucap Raka terdengar cuek. "Ya udaaahhh, jadi maksudnya Raka iri sama Alen? Gara-gara dia banyak yang naksir?" tanya Raina dengan nada jahil. Raka langsung membelalak, "Ya nggak lah! Ngapain juga gue iri sama dia," "Iya iya nggak iri, tapii--" "Tapi apa?!" potong Raka cepat. Raina menggeleng sambil nyegir, "Nggak jadi ah, Raka ntar marah, galak huu." Raka pun hanya mendengus kesal, selalu seperti itu. Sedangkan kini dimeja kantin dekat pintu masuk, ada geng nya Pingkan yang sedang asik menggosipkan mereka berdua. "LISAAAA! GUE ADA BERITA PENTING BUAT LO!!" pekik Retha salah satu teman gengnya, terlihat berlarian heboh menghampiri Pingkan dan yang lainnya. "Apaan? Sepenting apa sampek lo lari-larian kayak gitu?" jawab Lisa yang ingin tahu, begitu pula dengan Pingkan dan Intan. Retha terlihat duduk didepan Lisa sambil mengatur napasnya yang ngos-ngosan, "Si cewek belagu yang namanya Raina itu ternyata bukan pacar atau gebetannya si Raka!" "Lah, terus siapanya?" sahut Lisa semakin penasaran, karena Lisa adalah penyuka berat Raka. "Jangan bilang dia sodaranya lagi." tebak Pingkan asal. "Nah! Iya itu bener banget! Mereka itu ternyata sodaraan guys! Bahkan mereka itu kembar!" cetus Retha terlihat sangat heboh, membuat teman-teman satu gengnya itu melotot tak percaya, apalagi si Lisa. "What the f**k!!? Demi apa lo?! Argh! Kenapa harus sodaraan sama Raina sih tu si Rakaaa!! Gimana caranya buat gue dapetin dia dong!? Rusak semuanya." ucap Lisa dengan frustasi, cewek itu menjambak rambutnya kesal. "Lo tau dari mana?" "Dari anak-anak lah yang sekelas sama Raka." "Disekolah ini cowok masih banyak Sa, nggak cuma dia aja. Kalo misalnya lo mau deketin Raka, jelas-jelas kita nggak bisa bales dendam atau bully si Raina itu lagi! Mending lo buang Raka jauh-jauh." ucap Pingkan yang merupakan ketua geng mereka, cewek itu benar-benar tidak suka jika ada yang menghalangi aksinya untuk membully seseorang. Lisa tampak bimbang, bagaimana bisa ia melakukan itu, ia sudah sangat naksir berat sama Raka. "Akhh gak bisa Ping! Gue tuh udah naksir berat sama itu cowok! Gue rela stalking dia setiap hari! Oh my gosh!" ucap Lisa sambil melihat kearah meja Raka dan Raina. "Terserah lo deh, pilih dia atau keluar dari geng?" ancam Pingkan. "Eh Ping, tapi lo juga jangan gitu, lo masih suka kan sama Alen? Nah si Alen itu sekarang deket sama Raina!" tambah Retha lagi memberi informasi. "Deket doang kan? Nggak pacaran? Gue tau Alen kayak gimana, tuh cowok gampang bosen sama cewek, palingan ntar juga ganti cewek lagi buat diincer ," balas Pingkan santai. "Kalo ternyata si Alen tobat gimana? Kalo dia nggak mau jadi playboy lagi gimana? Ehm mampus kan." sahut Intan, membuat Pingkan memberikannya lirikan tajam. "Impossible!" ✨✨✨ Alen kini sedang melakukan stretching dilapangan yang berada dibagian samping sekolah, ia menggunakan kaos hitamnya dan celana putih longgar karatenya. Setelah selesai melakukan stretching, cowok itu langsung berlari kecil keliling lapangan, tanpa menggunakan alas kaki, padahal semen lapangan itu sedang panas-panasnya saat ini. Seperti biasa, cewek-cewek yang melihatnya langsung berteriak histeris, tapi tidak sebanyak biasanya, karena sebagian sudah pada pulang kerumah masing-masing, karena memang ini sudah jam pulang sekolah. "Alen!" panggil seseorang, saat Alen hendak bersiap memukul samsaknya, jadinya ia urungkan ia menoleh terlebih dahulu. "Raina? Kenapa?" tanya Alen saat mengetahui keberadaan cewek manis itu. "Eum..aku mau ikut ekstra karate," ucap Raina dengan yakin, gadis itu berucap sambil menyembunyikan kedua tangannya dibelakang badan. Ekspresi Alen jauh dari yang di ekspetasikan oleh Raina, gadis itu pikir jika Alen akan terkejut mendengarnya, tetapi cowok itu malah tertawa terbahak-bahak, aneh kan. "Serius Ra? Nggak takut?" tanya Alen disela-sela tertawanya. Raina berdecak kesal, ia merasa sudah diejek oleh seorang Alen, "Enggak! Aku berani kok! Buruan ayo, aku mau latihan sekarang." kekeh Raina pada Alen. Alen yang sudah berhenti ketawa itu akhirnya langsung menunjukkan wajah serius ni cewek? Tampang imut gini mau ikut karate. "Yakin Ra? Nggak mau ikut ekstra cheers aja yang lebih ke cewek dan cibi-cibi?" tanya Alen, sekaligus memberikan usul. Raina mencebik, "Yakin Len pakek banget, aku nggak mau ikut ekstra cheers, aku udah bosen." jawabnya, karena memang saat di California dulu, Raina mengikuti ekskul cheers, bahkan ia sampai les juga. "Ya udah iya," balas Alen. "Jadi latihannya bisa dimulai kapan?" tanya Raina dengan excited. "Besok aja, jadwal latihan ekstranya itu besok," jawab Alen. "Yahhh kenapa nggak sekarang aja sih?" rengek Raina. "Yang bener aja Ra, lo pakek rok sekarang, lo mau salto sama nendang pakek rok? Kalo lo nggak keberatan sih ya gapapa," ucap Alen dengan senyum jahilnya. "Ihh gak mau lah, yaudah besok." balas Raina akhirnya. "Oke. Eh Ra, ntar malem lo ada acara nggak?" tanya Alen. "Eum..nggak ada. Kenapa?" "Ikut gue ya, jalan-jalan." kata Alen, membuat Raina berfikir. "Gimana?" tanya Alen lagi. "Oke bisa. Tapi nanti aku kabarin kamu lagi ya, takutnya ntar Raka nggak ngebolehin," balasnya. "Siap!" Tiba-tiba saja ada langkah seseorang yang datang menghampiri mereka, memasang wajah datarnya seperti biasa. "Pulang Ra, ngapain masih disini?" Raina menoleh, Alen juga ikut. "Eh Raka, iya ini mau pulang kok, sewot amat. Alen, aku pulang duluan ya, semangat latihannya!" pamit Raina pada Alen yang membalasnya dengan anggukan dan senyuman. "Ayo Ka!" ajak Raina yang berjalan duluan menuju parkiran. Tetapi Raka masih berada disana, ia melangkah mendekati Alen sambil mengucapkan, "Jangan coba-coba buat deketin Raina, dia itu anak baik-baik. Jadi jangan harap gue bakalan kasih lo ruang buat deketin dia." ucap Raka dengan ekspresi datarnya, lalu cowok itu pun langsung berbalik dan menyusul Raina yang sudah berada agak jauh didepannya. "Lo pikir gue bakalan langsung nyerah setelah lo ngomong gitu? Nggak akan, gue pasti bisa ngedapetin Raina." desisnya sambil memukul samsak dengan bertubi-tubi yang ada didepannya. ✨✨✨ Jam menunjukkan pukul tujuh malam, Raina sedari tadi bolak balik mengintip ruang tamu yang ada dibawah, ada Raka yang sedang duduk sambil bermain ponsel disana. Dirumah ini hanya ada dirinya dan Raka, Papa nya belum pulang kerja, dan Mama nya tadi sore berpamitan untuk pergi kerumah Aunty nya--Nesya. "Aduhhh gimana nih? Dari tadi Raka diem mulu disitu nggak pindah-pindah, mana bisa aku keluar ishh!" kesal Raina sambil menggigiti kukunya, akhirnya Raina kembali masuk ke kamarnya. Ting! Suara notifikasi pesan masuk dari LINE, Raina pun segera mengambil ponselnya yang sedang ia charger itu, ia duduk dipinggiran kasur. Alen Dirgantara: Ra, gimana? Gue udah didepan rumah lo nih. Raina memelotot seketika saat membaca pesan dari Alen, bagaimana bisa cowok itu mengetahui alamat rumahnya, padahal kan Raina belum pernah memberi tahu. "Duhhh kok malah udah didepan rumah sih?" Raina bingung sendiri, tapi ia langsung membaca chat dari Alen lagi. Alen Dirgantara: Ra, ini beneran rumah lo kan? Kalo iya, coba lo keluar ke jendela kamar, ke balkon. Raina Arkayla: iya bentar. Raina pun akhirnya berjalan menuju jendela kamarnya yang besar, lebih tepatnya itu adalah pintu kaca untuk menuju balkon kamarnya. Ia menggeser pintu kaca itu, lalu ia celingak celinguk mencari keberadaan Alen. "Ra! Disini!" teriak Alen dari bawah sambil melambai-lambai kan tangannya, dan Raina melihat itu. Seketika jari telunjuk Raina terangkat didepan bibir, "Ssssttt!" berdesis seperti itu, memberitahu untuk jangan berisik. "Lompat aja berani?" tanya Alen dengan gestur bibirnya, membuat Raina mendelik, mana mungkin ia melakukan hal bodoh itu. "Nggak lah! Aku masih mau hidup!" balas Raina dengan gestur bibirnya juga, akhirnya anak itu membalas chat Alen. Raina Arkayla: jangan berisik len, nanti raka denger bisa berabe. Alen Dirgantara: iya maap, sekarang lo buruan turun deh, masa gue nungguin lo disini terus udah kayak mau maling aja. Raina Arkayla: iya sabar, bantuin aku dong buat alasan biar bisa keluar rumah:( Alen Dirgantara: bilang aja mau kerja kelompok dirumah temen. Alen Dirgantara: eh tapi itu udh mainstream bgt yak, jangan deh jangan. Alen Dirgantara: bilang aja lo mau beli sesuatu buat tugas sekolah sama temen gitu. Raina Arkayla: okedeh, aku turun skrg, tungguin ya. Alen Dirgantara: siap neng cantik. Raina kembali masuk kedalam kamarnya, gadis itu lalu memakai hoodie nya yang berwarna hitam. Memakai sedikit parfum dan memakai slingbag pink pastel guna menyimpan ponsel dan beberapa lembar uang. Setelah itu, ia pun segera menuruni anak tangga dengan hati-hati, ia mengatur napasnya saat hampir mendekati Raka yang belum menyadari keberadaannya. "Raka." panggil Raina pelan. Raka mengangkat kepalanya, sambil mengerutkan kening, "Mau kemana?" tanyanya. "Mau beli perlengkapan buat tugas sekolah yang harus dikumpulin besok." alibi Raina. "Kenapa malem-malem, tadi pulang sekolah kan bisa sekalian." balas Raka. "Tadi itu lupa, jadi sekarang mau belinya," jawab Raina, berharap jika kakaknya itu percaya. "Yaudah gue anterin," ucap Raka yang hendak berdiri, membuat Raina terkejut mendengarnya, ah s**t bagaimana ini. Raina mengangkat tangannya,"ehh ehh nggak usah Ka, aku udah pesen go-jek kok, abang-abangnya juga udah dateng dari tadi, masa mau dibatalin?" Raka kembali duduk, "Yaudah, sana pergi, jangan lama-lama. Awas aja kalo lama," peringatnya membuat Raina langsung senang mendengarnya. Yessss! Pekik Raina dalam hati. "Oke siap kapten!" balas Raina sambil hormat pada kakaknya itu. Sedangkan Raka hanya bergeming dan kembali fokus kepada ponselnya. Raina pun dengan cepat langsung berjalan keluar rumah, membuka gerbang dan bertemu Alen disana. "Alen!" "Eh udah berhasil?" tanya Alen. "Udah dong, tapi katanya jangan lama-lama." balas Raina. "Ohh nggak lama kok Ra, palingan sampe subuh," kata Alen bercanda, membuat Raina memukul kepala Alen, untuk saja masih ada helm yang bertengger disana, jika tidak pasti Alen sudah meringis sekarang. "Ayo buruan naik, tunggu apa lagi?" setelah Alen mengatakan itu, Raina pun akhirnya segera naik ke jok belakang motor ninja Alen. Tak lama akhirnya motor Alen bergerak dan melaju menembus jalan raya dengan kecepatan sedang, tidak seperti biasanya, karena ini adalah pertama kalinya ia membonceng Raina. "Ra, mau tau rasanya dibonceng sama pembalap nggak?" tanya Alen sambil memiringkan kepalanya agar mendekat ke Raina. "Haah apa? Gak denger Len!" teriak Raina sambil mendekatkan kepalanya ke kepala Alen. Alen akhirnya mau tak mau membuka kaca helmnya, "Mau tau rasanya dibonceng sama pembalap nggak?" tanya Alen sekali lagi. "Emangnya kamu nggak takut?" tanya Raina sedikit berteriak. "Nggak lah. Mau coba nggak?" "Oke siapa takut." jawab Raina dengan yakin. "Pegangan Ra, demi keselamatan lo, dijamin ini bakalan seru." ucap Alen yang kembali menutup kaca helmnya. "Apa Len? Aku kurang denger." ucap Raina, gadis itu belum bersiap-siap. "Pegangan yang kenceng Raaaa!" teriak Alen, bebarengan dengan ia meng-gas motornya itu dengan kecepatan diatas rata-rata, Raina terkejut, gadis itu langsung memeluk Alen dari belakang sambil berteriak kencang. "ALEEENNN! AKU MASIH MAU HIDUPPP!!" ✨✨✨ Raina turun dari motor Alen, memasang wajah pucat bercampur dengan kesal, Alen yang baru saja melepaskan helmnya itu langsung mengerutkan kening tanda bingung. "Wajah lo kenapa Ra? Pengen balon?" tanya Alen dengan bodohnya. Raina mendengus kesal, "Gak!" "Lah kok jutek sih? Gue punya salah apa sama lo?" tanya Alen. Raina semakin dibuat kesal dengan pertanyaan itu, "Salah banyak banget!" "Apa? Ohh gara-gara gue nyuruh lo pegangan tadi? Ya uda--" "Bukan! kamu itu kalo naik motor kayak orang dikejar setan, aku takut tau, aku sampe teriak-teriak kayak orang gila tapi kamu gak dengerin, nyebelin banget!" omel Raina sambil mencebikkan bibirnya, Alen yang mendengarnya langsung meledakkan tawanya. "Ohhh jadi karena itu? Ya ampun Ra, maaf banget gue gak sengaja," tutur Alen yang masih tertawa cekikikan. "Nggak sengaja apanya!? Tadi kamu tiba-tiba langsung gas motornya, Kamu emang seneng banget ya bikin aku marah, resek dasar!" Raina bertambah kesal. "Eh suwer Ra," Alen mengangkat dua jarinya, "tadi gue juga udah teriak-teriak kalo ngomong, lo nya juga gak ngedengerin, maaf deh maaf.." mohon Alen sambil menguyel-uyel pipi Raina. Raina menangkis tangan Alen, "Ihh sakit, udah ah." cewek itu semakin cemberut, membuat Alen gemas. "Iya iya udah. Sekarang kita kesana yuk, gue beliin jagung bakar, habis itu gue bakal kasih tau spot yang menarik disini." ucap Alen sambil menarik tangan Raina untuk menghampiri penjual jagung bakar. Raina pun hanya menurutinya saja, kemudian Alen segera memesan, "Bang, jagung bakarnya dua ya." "Pedes, manis, atau pedes manis mas?" tanya penjual itu. "Saya pedes aja Bang, soalnya disini udah ada yang manis." ujar Alen sambil melirik Raina yang tengah melirik kearahnya juga, gadis itu terlihat malu. "Gak usah malu-malu meong deh, lo mau rasa apa Ra?" tanya Alen pada Raina. "Rasa kesal yang terpendam ada gak mas?" tanya Raina pada penjual itu, bermaksud menyindir Alen. "Aduh, nggak ada neng," balas penjual itu, lalu Alen langsung menjulurkan lidahnya kearah Raina. "Hahaha rasain kagak ada noh," "Ya udah rasa pedes manis!!" kata Raina dengan kesal. Diam-diam Alen menatap Raina dari samping, ia menarik sudut bibirnya hingga membentuk lengkungan senyum. Gue emang bukan orang baik Ra, tapi sama lo, gue berusaha buat belajar jadi orang baik.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD