10. Marah

2737 Words
Happy satnight para kaum rebahan, quarantine day ...? selamat membaca ✨✨✨ Raina mengatur napasnya yang ngos-ngosan, pasalnya Alen mengajaknya untuk menaiki gedung bertingkat yang ada ditengah kota Jakarta. Setelah selesai memakan jagung bakar tadi, Alen langsung meraih tangan Raina untuk ia genggam dan menggiringnya sampai keatas sini. Alen berdecak kagum pada gadis ini, pasalnya walaupun Raina sedari tadi mengeluh capek dan gerah ia tetap bisa dan berhasil mencapai gedung ini, padahal Alen juga sedari tadi menawarkannya gendong, tetapi Raina tidak mau. Raina yang tadinya menekuk wajahnya, kini pun langsung berubah menjadi sumringah, ia menatap kagum pemandangan lampu malam kota Jakarta dari gedung ini, sangat indah dan menakjubkan. "Wahhh bagus banget kalo diliat dari atas sini," kata Raina sambil membenahi rambutnya yang bergerak kesana-kemari karena angin. "Lo suka?" tanya Alen sambil menoleh kearah gadis itu. "Suka banget," jawabnya, "Kamu tau dari mana ada tempat ini?" "Dari gue sendiri, waktu itu gue lagi bosen dirumah, terus akhirnya keluar cari angin, dan nggak sengaja nemuin tempat ini," balas Alen dan kembali menatap ke depan. Raina hanya mengangguk tanda mengerti, ia melihat Alen tengah melangkahkan kakinya kedepan, cowok itu kini sudah berdiri didekat pagar pembatas, tangannya ia senderkan disana. Raina pun akhirnya juga ikut-ikutan, gadis itu berjalan maju dan berdiri disebelah Alen. Hembusan angin malam yang menerpa wajahnya, membuat ia terlihat semakin cantik, karena rambut panjangnya yang bergerak kesana kemari. "Alen kenapa diem aja?" tanya Raina sambil mendongak menatap Alen yang lebih tinggi darinya, ia merasakan perubahan sikap dan ekspresi Alen saat sampai disini, cowok itu lebih terlihat diam. "Nggak papa." "Bohong banget, aku bisa ngelihat perubahan raut wajah kamu, kamu kenapa?" tanya Raina. "Gue nggak kenapa napa, Ra." balas Alen terdengar cuek, cowok itu tetap menatap kedepan. Raina berdecak kesal, "Kayak gini aja semuanya, Raka cuek, Alen cuek, cuma sisa Kak Raja yang nggak cuek." cetus Raina tanpa menoleh kearah Alen, gadis itu melihat kearah bawah, dimana ada banyak kendaraan berlalu lalang. Alen akhirnya menoleh ke arah Raina, ia mengernyitkan dahinya, "Raja? Siapa tuh?" "Kepo banget jadi orang," balas Raina, tanpa menatap Alen. "Orang nanya dibilang kepo, dasar cewek," balas Alen. "Ya udah pengen tau aja apa pengen tau banget?" tanya Raina. "Yi idih pingin tii iji ipi pingin tii bingit, hu itu terus yang ditanyain setiap gue penasaran sama lo," balas Alen dengan nada mengejek, sambil memutar bola matanya malas. Raina mendengus kesal, gadis itu tampak mengerucutkan bibirnya kesal, "Aku pulang aja deh kalo kayak gini." ucap Raina yang hendak berbalik badan dan melangkahkan kakinya, namun lengannya langsung ditarik oleh Alen, membuat gadis itu menabrak tubuh Alen. "Aww! Sakit tau!" ringis Raina saat dahinya menatap dagu Alen. "Mau kemana? Enak aja main pulang gitu aja." ucap Alen. "Lagian kamu dari tadi ngeselin jadi orang, nggak kayak biasanya!" balas Raina kesal. Alen tampak memejamkan matanya sejenak lalu ia langsung membukanya lagi, "Iya Ra...maaf." "Iyi Ri, miif. Inik bingit yi ngiming miif kiyik giti, iming disir-- (enak banget ya ngomong maaf kayak gitu, emang dasar--)" "Kalo gue suka sama lo gimana Ra?" tanya Alen tiba-tiba, membuat Raina yang tadinya nyerocos langsung terbungkam seketika. Alen menatap Raina yang juga sedang menatapnya, gadis itu terlihat sedang syok atas pertanyaan Alen barusan, apakah ia tak salah dengar? "Ra?" tegur Alen, membuat Raina langsung mengedipkan matanya berkali-kali. "E-Eh iya. T-tadi kamu bilang gimana?" tanya Raina dengan gugup. Alen tampak tersenyum kecil, cowok itu tau bahwa Raina sedang salah tingkah, "Tadi gue bilang, kalo gue tanding karate lo mau nonton nggak?" tanya Alen, dengan pertanyaan yang berbeda. Raina yang mendengarnya langsung nampak malas, bahunya menurun, ia pikir ia memang terlalu pede dan salah dengar tadi. Mana mungkin Alen suka padanya. Lagian kalau mereka sama-sama suka, apakah mereka bisa menjalin hubungan, mengingat Raka yang melarang keras dirinya untuk dekat dengan Alen. "Emang kapan tandingnya?" tanya Raina setelah agak lama ia terdiam. "Minggu depan, ngelawan SMA Angkasa." balas Alen. "Ohhh, mau aja sih," ucap Raina. "Oke." Akhirnya mereka kembali menghadap ke depan, sama-sama terdiam dan bergelut pada pikirannya masing-masing.  ✨✨✨ Raina turun dari motor Alen, gadis itu melirik jam tangannya, sudah jam sembilan malam, ia pulang terlalu malam. "Kenapa Ra? Kok wajahnya kayak takut gitu?" tanya Alen saat melihat raut wajah Raina. "Ini udah malem banget buat aku, biasanya aku nggak pernah keluar malam sampek jam segini, kecuali kalo sama keluarga." ucap Raina. "Ya udah kalo gitu lo buruan masuk gih, ntar si Raka keburu marah-marah kalo tau gue ada disini," kata Alen. "Iya, makasih ya Len. Aku masuk dulu ke dalem," pamit Raina pada Alen. "Oh iya, hati-hati" "Iya Ra, buruan masuk jangan lama-lama diluar," balas Alen sambil menghidupkan kembali motornya, dan segera pergi dari pekarangan rumah Raina. Setelah Alen pergi akhirnya Raina langsung membuka pintu gerbangnya yang besar dan tinggi itu secara perlahan, agar tidak menimbulkan suara yang berisik, setelah ia masuk, ia pun menutupnya kembali. Raina masuk kedalam rumahnya, ternyata lantai bawah sepi, tidak ada orang, sepertinya Mama nya belum pulang, dan Papa nya sudah jelas masih pulang nanti jam 10. Raina sedikit bernapas lega karena tidak ada Raka disini, ia pikir bahwa kakaknya itu sudah tidur didalam kamarnya. Lalu Raina segera menaiki tangga untuk menuju kamarnya yang bersebelahan dengan kamar milik Raka. Langkahnya terhenti seketika saat melihat Raka yang tengah berdiri dan bersandar dipintu kamarnya dengan bersendekap didepan d**a. "Jam berapa nih?" tanya Raka pada Raina, membuat gadis itu kembali takut. "Kenapa baru pulang? Katanya tadi mau beli perlengkapan buat tugas, mana?" tanya Raka lagi. Raina menggigit bibir bawahnya, gadis itu tak berani menatap mata Raka yang sangat mengintimidasinya. Raina dibuat takut, ia tidak tahu harus menjawab apa. "Kenapa diem Ra? Jawab pertanyaan gue." desak Raka lagi. "T-tadi e-e itu, b-barang-barangnya yang diperluin nggak ada ditokonya, jadi aku harus keliling-keliling buat nyari, tapi tetep aja nggak ada," balas Raina, jelas berbohong. "Sampai segini lamanya?" "Iya, kan nyari barangnya susah," jawab Raina. Raka terdengar sedang berdehem, tapi seperti mengejek, "Udah berani bohong ya sekarang?" "Tadi pulang naik apa?" tanya Raka lagi. "Naik go-jek." ucap Raina. "Ohh go-jek ya? Sejak kapan ada go-jek yang naik motor ninja? Keren amat go-jek nya," ucap Raka, membuat Raina meneguk ludahnya dengan susah payah, sepertinya tadi Raka melihat seseorang yang mengantar Raina pulang. Saat Raina hendak mengeluarkan suaranya, tiba-tiba saja Raka langsung menyambar duluan. "Lo tadi pergi nya sama Alen kan? Lo nggak nyari perlengkapan buat tugas kan, lo nggak naik go-jek, iya kan?" tanya Raka dengan nada rendah, tapi ditekankan disetiap kalimatnya. Jantung Raina berdegup cepat, bibirnya seketika terasa kelu untuk mengucapkan sesuatu, ia menundukkan kepalanya takut kepada Raka. "Jawab Ra! Gue nggak nyuruh lo diem!" sentak Raka yang sudah kehilangan kesabaran, membuat Raina terkejut bukan main, ia jarang bahkan mungkin tidak pernah disentak seperti ini oleh Raka. Raina hendak mengangkat wajahnya, namun ia tidak bisa, ia terlalu takut untuk menatap mata itu. "Bener kan apa yang gue bilang, kalau lo deket-deket sama cowok kayak dia, lo bakalan ikut-ikutan nakal!" ucap Raka lagi. "Sekarang aja udah berani bohong, besok apa lagi?" "Tapi Alen itu baik Ka.." kata Raina, masih menunduk, mata gadis itu memerah, ia menahan air matanya yang ingin tumpah. "Baik lo bilang? Baik dari mana nya? Cowok bandel sok berkuasa kayak dia lo sebut baik?" Raka tertawa miring, "Buka mata lo, jangan mau dibuat buta sama dia!" lanjutnya. Akhirnya Raina memberanikan diri mengangkat wajahnya, gadis itu menatap mata Raka yang juga sedang menatapnya dengan garang, ia tau bahwa kakaknya ini sedang marah padanya. "Terserah apa kata kamu! Mau sampai kapan aku terus dikekang kayak gini Ka? Dari dulu kamu selalu ngekang aku! Kamu selalu ngelarang aku buat temenan atau deket sama temen-temen aku! Kenapa sih sebenernya?! Kamu nggak pernah ngasih kebebasan buat aku berteman atau deket sama siapa pun?!" mata Raina yang tadinya berkaca-kaca kini sudah tumpah begitu saja, air mata itu mengalir dikedua pipi Raina. Raka sedikit tertegun saat melihat adiknya itu menangis, ia merasa tidak tega jika seperti ini. "Kenapa setiap aku mau pergi keluar, jalan sama temen-temen, kamu selalu ngelarang? Kenapa aku jarang boleh keluar sendirian? Kenapa harus selalu diawasin dan harus sama kamu?! Aku itu udah besar! Aku bisa jaga diri aku sendiri Ka! Nggak di LA nggak di Jakarta sama aja!" tambah Raina, ia semakin terisak, gara-gara ia mengingat bagaimana Raka yang menjaganya terlalu over. "Lo mau tau jawabannya apa?" tanya Raka terkesan dingin. "Apa?" "Karena gue nggak mau ngulang kesalahan yang sama kayak dulu Ra! Lo hampir kehilangan nyawa karena gue! Karena gue nggak bisa jagain lo dengan baik, gue nggak becus jadi kakak lo." balas Raka, kini cowok itu terlihat melemah. Raina mengusap air matanya, ia masih menangis sesegukan, "Karena kecelakaan sembilan tahun lalu? Itu udah lama Ka, lagian itu waktu aku masih kecil, kita sama-sama belum ngerti apa-apa, beda sama sekarang!" balas Raina. "Waktu itu lo koma tiga bulan! Lo bikin Mama sama Papa bener-bener khawatir, begitu pun juga gue. Gue ketakutan saat tau lo ditabrak, gue nggak tahu Mama sama Papa bakalan nganggap gue sebagai anak mereka lagi atau nggak." kata Raka mengingat kejadian sembilan tahun lalu, saat umur mereka masih tujuh tahun. "Tapi itu kan bukan salah kamu Ka..jadi jangan sampai kamu sangkut pautin sama sekarang, sekarang kita udah sama-sama dewasa, enggak kayak dulu lagi. Dulu aku selalu nurutin omongan kamu, tapi sekarang aku udah jengah, karena kamu selalu ngelarang-larang aku!" ucap Raina. "Karena Mama sama Papa yang nyuruh gue buat ngejagain lo terus Ra," "Tapi mereka nggak nyuruh sampai segini nya juga! Aku tau kamu kayak gini karena kamu sayang sama aku sebagai kakak. Tapi nggak gini caranya, malahan dengan sikap kamu yang terus-terusan kayak gini, aku bisa lebih melanggar larangan kamu!" tegas Raina, kini ia melangkah maju ke depan, hendak membuka pintu kamarnya. Tetapi Raka malah menghalanginya, membuat Raina berdecak, "Minggir!" usir Raina. "Maaf udah buat lo nangis, gue kayak gini karena nggak mau ngulang kesalahan yang sama." ucap Raka, suaranya terdengar sangat rendah dan lembut. "Permisi Ka, aku ngantuk mau tidur." balas Raina, tanpa menatap mata Raka. Akhirnya cowok itu menggeser tubuhnya ke samping, memberi Raina jalan untuk lewat dan masuk ke kamarnya. Setelah masuk, Raina langsung menutup kembali kamarnya, dan langsung ia kunci begitu saja. Lalu gadis itu melempar sling bag nya asal, dan langsung menjatuhkan tubuhnya diatas kasur. Ia menyembunyikan wajahnya dibawah bantal, tangisnya tak kunjung reda, ini merupakan perdebatan antara Raka dan Raina yang cukup besar, biasanya mereka tak pernah bertengkar sampai seperti ini. ✨✨✨ Raka menoleh kearah kiri, dimana tempat Raina duduk, sedari tadi gadis itu tak berbicara, ia hanya memalingkan wajahnya untuk melihat jalanan lewat kaca mobil, enggan melihat Raka. "Ra." panggil Raka, namun gadis itu tetap tak menoleh. "Sorry kalau misalnya kemarin gue udah kasar sama lo," ujar Raka terdengar pelan dan rendah. Raina mendengarnya, tetapi ia enggan membalas, gadis itu malah mengeluarkan airpods nya dari dalam tas, ia memakainya dikedua telinga, lalu menyetel musik dari ponselnya. Sikap Raina itu membuat Raka menghembuskan napasnya berat, beginilah Raina jika sedang marah, ia lebih terlihat diam, dan tak akan bisa senyum. Sepuluh menit kemudian akhirnya mereka sampai disekolah, Raka memarkirkan mobilnya diparkiran khusus murid, setelah itu Raina langsung beranjak meninggalkan Raka dimobil sendirian, tanpa mengucapkan sepatah kata pun. "Ra!" panggil Raka, ia langsung cepat-cepat keluar dari mobilnya dan mengejar adiknya itu. "Jangan kaya gini lah Ra, gue nggak suka ngelihatnya, nggak nyaman." ucap Raka yang kini sudah bisa mensejajari langkah Raina yang sedikit cepat. Dikoridor banyak pasang mata yang melihat mereka, bahkan ada yang memekik tertahan karena baru pertama kali melihat seorang Raka membujuk cewek. "Ya udah nggak usah dilihat!" sahut Raina tanpa menoleh, ia tetap pada pendiriannya. "Nggak bisa." Tiba-tiba saja saat dipersimpangan jalan, ada seorang gadis berpakaian minim menghentikan Raka, gadis itu langsung bergelayut manja dilengan Raka, membuat Raka geli sendiri. "Apaan sih lo?! Lepasin gak?!" sentak Raka pada Lisa. "Ihhh gak mau! Kamu ngapain ngejar-ngejar Raina? Mending disini aja sama aku!" ucap Lisa dengan gaya genitnya, sementara Raina sudah berada jauh didepan sana. "Najis! Lo gatel banget jadi cewek!" kata Raka sambil mencoba melepaskan tangannya dari gelayutan Lisa yang centil ini. "Gak mau! Gue tuh suka sama lo Ka! Please deh ngertiin! Lo pokoknya harus jadi pacar gue! Titik!" Lisa berucap sambil mengeratkan gelayutannya pada Raka. "Ogah!" tolak Raka mentah-mentah. Mereka saat ini sedang menjadi tontonan gratis pada pagi hari ini, membuat Raka geram bukan main, jika saja yang ada dihadapannya saat ini seorang cowok, sudah jelas akan ia  hajar sedari tadi. "Ihh kenapa sih? Gue kurang apa? Cantik? Seksi? Terkenal? Apa Raka?!" tanya Lisa pada Raka, gadis ini benar-benar gila. "Lo kurang waras!" balas Raka sambil berteriak, cowok itu langsung menyentak tangannya dari Lisa, dan langsung pergi meninggalkan cewek itu begitu saja. Lisa langsung berteriak, "Rakaaa!!! Gak mau tau pokoknya lo pacar gue!" Gila tuh cewek. ✨✨✨ Raina kini baru saja mengganti pakaiannya ditoilet siswi bersama dengan Via dan teman-temannya yang lain. Karena hari ini adalah jadwal kelas Raina untuk berolahraga, dan merupakan kelas olahraga pertama bagi Raina disekolah ini. "Ayo Rain, buruan, anak-anak yang lain udah pada banyak yang baris dilapangan tuh," ujar Via sambil menengok ke arah lapangan. "Iya-iya Pi, sabar, aku masih nguncir rambut nih," kata Raina yang sedang sibuk menguncir rambutnya seperti kuda, membuatnya terlihat semakin imut. "Udah, ayo naruh baju dikelas." ajak Raina akhirnya. Setelah mereka berdua menaruh seragam diloker masing-masing, akhirnya mereka pun menyusul teman-teman sekelasnya yang sudah berkumpul ditengah lapangan. Prittt prittt pritttt Suara peluit berbunyi, seorang guru laki-laki berumur sekitar tiga puluhan itu menghampiri para murid-muridnya, namanya Pak Hendra. "Baris semuanya!" perintah Pak Hendra kepada semua murid-muridnya. Semuanya pun langsung berbaris rapi, Raina berbaris tepat didepan Via, dan disamping Alen. Setelah itu, Pak Hendra menyuruh ketua kelas untuk memimpin doa dan memimpin pemanasan sebelum olahraga dimulai. Lima belas menit setelah pemanasan, akhirnya Pak Hendra menyuruh mereka semua untuk berlari keliling lapangan sebanyak lima kali untuk cowok, dan tiga kali untuk cewek. Raina nampak ngos-ngosan, padahal ini masih putaran satu setengah, tapi lapangan ini memang terbilang luas. Tiba-tiba saja ia mendapati Alen yang sedang berlari disebelahnya, cowok itu sudah dua kali menyalip Raina, tetapi sekarang Alen ingin menyamai langkah kecil Raina, bermaksud menemani gadis itu. "Capek Ra?" tanya Alen masih sambil berlari, lebih tepatnya jogging. "Iya." "Mau gue gendong larinya?" tanya Alen, membuat Raina membelalak tak percaya. "Eh ya nggak lah, ngapaiiin? Tinggal satu setengah putaran lagi," jawab Raina sambil mengusap peluhnya yang ada didahi. "ACIKIYEEE! IHIRRR! PDKT NIH LEN CERITANYAAA???" teriak Devan yang sudah leha-leha dibawah pohon sambil menselonjorkan kakinya. "Iya lah! Lo pengen juga? Ada Via tuh kasian lari sendiri nggak ada temennya!" seru Alen membalas perkataan Devan. "Neng Piaaa! Mau Abang Devan temenin gak nih larinyaaa?!!" teriak Devan pada Via yang terlihat sudah sangat kelelahan. Dari jauhan, Via membalas, "OGAHHHH GUE SAMA LO!" teriaknya sambil memutar bola mata malas. Namun Devan malah ketawa cekikikan, emangnya ada yang lucu? "Yahhh padahal Abang Devan kan pengen nemenin Neng!" ujar Devan. "Dih, najooonggg Vaaannn!" teriak Via. Alen Raina dan teman-temannya yang menyaksikan langsung tertawa mendengarnya. Setelah selesai berlari, akhirnya Pak Hendra menyuruh kembali murid-muridnya itu untuk berkumpul, guna memberitahu materi apa yang akan dipraktek an pada hari ini. "Jadi anak-anak, hari ini kita akan mempelajari tentang teknik dasar bermain bola basket, seperti yang pernah kalian dapatkan dikelas sepuluh dulu. Jadi saya akan mengambil nilai keterampilan kalian, sebelum itu kalian boleh berlatih terlebih dahulu." ujar Pak Hendra menjelaskan dengan panjang lebar. "Oke Pak siap!" Setelah itu, semua murid pun memencar dan membuat kelompok sendiri bersama teman-temannya. "Ayo main Len!" ajak Devan. "Yoi bentar," "Ra, ikut main yuk sama gue," ajak Alen pada Raina yang sedang duduk dibawah pohon bersama dengan Via. "Aku enggak bisa main basket," balas Raina sambil mendongak menatap Alen yang sedang berdiri. "Gue ajarin sampek bisa," ucap Alen dengan yakin, karena selain jago karate, Alen juga jago bermain basket, karena itu adalah salah satu hobinya dari kecil. Alen mengulurkan tangan kanannya dihadapan Raina, akhirnya gadis itu menggenggamnya, Alen pun langsung menarik tangan Raina agar mudah berdiri. "Via, ayo ikutan main," ajak Raina pada temannya itu. "Iya Ra." Via pun langsung berdiri mengikuti Raina dan Alen. Mereka menghampiri Devan yang sedang asik bermain basket bersama teman-teman sekelasnya yang lain. "Van! Bola dong!" teriak Alen, Devan pun menoleh ia langsung melemparkan bola yang sedang ia pegang ke arah Alen. Namun nahasnya, bola itu tak bisa Alen tangkap, bola itu melayang melenceng dan tak sengaja mengenai kepala Raina. Buk! "Astaga Ra!" Raina langsung jatuh tersungkur diatas tanah, ia mendengar suara pekikan dari Alen dan teman-temannya, tapi lama-kelamaan pandangannya itu mengabur, kepalanya berdenyut pusing, efeknya baru terasa sekarang. 
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD