Sorot lampu kendaraan yang berlalu lalang seakan menjadi pemandangan untuk Satheo dan Alfi. Satheo masih terdiam, menatap asal kearah depannya, yang menunjukan banyaknya kendaraan di ibu kota ini. Sedang Alfi? Hanya ikut terdiam menemani Satheo.
Birunya langit yang bertaburan bintang kini di tatap Satheo lekat, pandangannya kini beralih pada langitu malam tersebut. Hatinya yang memang sedang begitu sakit seakan terus menangis.
"Sat, lo nge-galau nggak kreatif tau! Masa di pinggir jalan gini sih?" Alfi pun kini mulai berbicara, sambil duduk diatas kap mobil Satheo. Satheo tak menjawab, masih terus terdiam.
"Mending ikut gue deh, kita cari tempat yang rada enakan dikit." Alfi menarik tangan kanan Satheo dengan paksa. Namun Satheo seolah menahannya, justru kini malah berbalik, Satheo yang menarik Alfi.
"Gak perlu! Dimanapun tempatnya, asalkan ada elo gue seneng kok." Satheo yang sedari tadi terdiampun kini tersenyum manis, sambil menunjukan sederet gigi berbehelnya.
"Ada gue?" Alfi menatap bingung Satheo. Otaknya yang sepertinya sedang sulit untuk mempercerna perkataan Satheo akhirnya langsung bertanya.
"Iya ada elo, Alfi sayang." Tangan Satheo yang tadinya hanya memegang tangan Alfi kini sengaja menarik tangannya, sehingga Alfi malah jatuh kedalam pelukan Satheo.
Alfi yang terlihat masih bingung hanya menatap cengo kearah belakang Satheo. Alfi hanya Bisa terdiam saja di dalam pelukan Satheo. Meskipun terkadang terpikir, mungkin otak sarap Satheo ketuker gara-gara patah hati kali.
"Gue seneng, Fi! Gue seneng karena gue punya sahabat kayak lo. Lo selalu ada disaat gue seneng ataupun sedih. Lo selalu Bisa ngasih bahu lo disaat gue terpuruk." Ucap Satheo masih dalam pelukan Alfi. Suara Satheo memang tidak terdengar begitu keras, namun terdengar amat jelas di telinga Alfi. Karena Satheo berbicara dalam pelukan Alfi, yang berarti dekat dengan telinga Alfi.
"Udah ahh, Sat! Pake peluk-pelukan segala. Udeh kayak teletabis tau." Alfi menarik tubuhnya dari pelukan Satheo. Bicaranya mulai ngawur lagi. "Gue juga seneng, Sat. Gue seneng sampe detik ini masih Bisa jadi sahabat lo. Gue seneng umur persahabatan kita cukup panjang. Dan asal elo tau, gue akan selalu ada buat lo, gak peduli lo lagi susah, seneng, sampe elo gila, atau ayan, bahkan struk sekalipun gue akan tetep ada buat lo." Akhirnya! Sederet kata-kata lumayan bijak terlontar begitu panjang dari mulut Alfi. Alfi tersenyum begitu tulus kepada Satheo. Senyman manisnya tampak mempercantik wajahnya.
"Depannya keren, ujungnya ituloh." Komentar Satheo setelah mendengar penuturan kata Alfi. Alfi pun hanya nyengir kuda, mempelihatkan gigi berwarna putihnya itu.
"Lah, emang kenyataannya lo ayan tingkat akut. Gimana nantinya, mungkin masuknya ke ayan bin struk kali."
"Lo demen banget sih ama dua ntu penyakit, ayan sama struk. Favorit banget kayaknya."
"Iyalah! Secara elo kan pederitanya gitu." Dengan tampang polosnya, Alfi menatap Satheo seolah melecehkan. Satheo terkekeh pelan.
Lalu kemudian, Wajah Satheo seakan mendekat pada Alfi. Alfi pun sontak kebingungan. Ada apa ini? Efek galau kah? Satheo semakin mendekatkan wajahnya, sedang Alfi semakin shock akan tingkah Satheo malam ini yang aneh. Apakah ini yang di sebut, orang galau bebas?
"Sat! Lo mau ngapain? Makin deket gue tendang nih!" Wajah Alfi terlihat semakin panik. Sedang Satheo hanya menyeringai, tanpa memperdulikan omongan Alfi.
***
Masih dalam posisinya, Wulan tampak gelisah. Gelisah akan perasaannya, tentang kisah percintaannya, yang memang terlalu menyiksa batinnya. Wulan merutuki dirinya sendiri, mengapa ia harus menerima Rino? Namun Wulan pun akan semakin tak enak hati jika harus menolak Rino lagi. Terlebih selama ini Wulan hanya mem-php kan Rino.
"No, gue ke toilet dulu yaa." Wulan pun berdiri dari tempat duduknya, sembari meminta ijin pada Rino. Rino hanya mengangguk disertai senyuman kecilnya.
***
Sesampainya Wulan di toilet, Wulan menatap dirinya nanar di depan cermin toilet tersebut. Sorot matanya terlihat begitu hancur. Hatinya seakan terus berteriak, mengamuk tak jelas akan keputusannya.
"Argh! Kenapa harus begini? Gue cinta sama lo, meurut gue lo juga cinta sama gue, tapi gara-gara ego gue kita gak Bisa bersama lagi!" Teriak Wulan kesal. Untungnya di dalam toilet tersebut tak ada orang lain selain dirinya, sehingga Wulan tak perlu menahan emosinya.
Wulan pun merapikan keadaannya, di putarnya keran air pada westafel tersebut. Lalu di basuhnya wajah lesunya itu. Setelah wajahnya agak kering karena di oleskan tisyu, Wulan pun mengoleskan bedak tipis di wajahnya, agar tidak terlalu kelihatan bahwa ia sedang kacau.
***
"Aww!!" Alfi meringis kesakitan, saat tangan Satheo menyentil hidungnya tang terbilang mancung itu.
"Hahaha! Dasar, makanya ngomong lo jangan ngaco mulu!" Satheo tertawa puas tepat di depan wajah Alfi. Wajah Satheo masih dekat dengan wajah Alfi, sehingga Alfi dapat melihat jelas betapa bahagianya Satheo mentertawainya.
"Satheo kurang ngajar!! Lo tuh kan lagi galau, aturan ceritanya sok cuek gitu dong, apa nangis-nangis, atau gimana kek gitu! Bukan nyiksa gue!" Cerocos Alfi. Kedua tangannya di sedekapkan kedepan dadanya. Menatap Satheo jutek. Satheo lagi-lagi terkekeh kecil melihat tingkah Alfi yang memasang wajah kesal itu.
***
Kedua lelaki berjalan beriringan keluar dari sebuah cafe di dalam mall tersebut. Langkahnya kini menuntunnya kearah pintu keluar mall tersebut.
Sepanjang mereka berjalan bersama, sama sekali tak ada percakapan. Bahkan saling mwngucapkan satu kata pun tidak! Keduanya hanya saling diam. Tanpa mengucapkan sepatah katapun.
"Gue disuruh Alfi nganter lo!" Refal pun akhirnya berbicara, setelah mereka telah berada di luar mall.
"Gue Bisa pulang sendiri!" Reza pun langsung berjalan begitu saja, menjauh dari Refal.
"Lo pikir gue mau nganterin lo! Kalo enggak disuruh Alfi juga gue ogah!" Refal melirik Reza yang telah berjalan menjauh darinya. Reza berhenti sejenak, menoleh Refal sekilas. Menatapnya dengan tatapan sinis.
Tanpa berucap sedikitpun, Reza melanjutkan jalannya kembali. Mencari taksi untuk mengantarnya pulang. Sedang Refal, hanya menaiki motor ninja nya itu dan langsung pergi meninggalkan Reza yang sedang menunggu taksi.
***
Hembusan angin malam terasa begitu menusuk batin Wulan. Kulitnya terasa tak mampu melindungi tubuhnya lagi. Namun Wulan tak kedinginan, namun hatinya seakan mendingin, membeku bagaikan es.
Selama perjalanan pulang, yang di antarkan oleh kekasih barunya itu, Wulan hanya terdiam. Terus memikirkan kejadian di cafe tadi, saat Rino menembaknya, dan ia menerimanya, dan Satheo mengetahuinya. d**a Wulan serasa sesak saat melihat tiba-tiba saja Satheo pergi dari meja cafenya, dan gelas yang berada di mejanya terpecah begitu saja.
Wulan mengerti, bahkan sangat megerti, bagaimana perasaan Satheo tadi. Namun ia tak mampu berbuat apa-apa. Apa yang mampu ia lakukan kini? Hati gue selalu berpihak ke elo, tapi batin gue masih ngerasa gak terima lo jadiin bahan taruhan. Batin Wulan.
"Sayang, pegangan dong." Pinta Rino yang mengendarai motornya. Wulan pun tersadar dari lamunannya, dan kedua tangannya langsung melingkar di pinggang Rino.
***
"Yaudah, kamu langsung tidur ya. Besok kan sekolah." Rino mengusap puncak kepala Wulan lembut, saat mereka tengah sampai di depan rumah Wulan. Wulan tersenyum manis.
Cupp
Sebuha kecupan hangat kini mendarat di puncuk kepala Wulan. Wulan pun menutup matanya, meyakinkan perasaannya. Namun sedikitpun tak pernah ada perasaan khusus untuk Rino. Wulan hanya menelan ludahnya kasar, Ludah yang terasa begitu pahit kini.
***