Tujuh Belas

850 Words
Tangan Satheo dengan lembut terus menggenggam tangan sang kekasih. Sambil terus berjalan, Satheo sama sekali tidak melepaskan tangan Lani. Mereka berjalan menyusuri jalanan taman di pinggir kota. Dengan mengenakan dua seragam sekolah yang berbeda, mereka terus saja berjalan sambil sesekali mengobrol. Sampai akhirnya, Satheo mengajak Lani untuk duduk di salah satu bangku yang tersedia di taman tersebut. "De," Panggil Satheo. Lani pun menengok. "Kenapa, Ka?" Tanya Lani lembut. "Maafin Kakak ya?" Lani menatap Satheo bingung yang tiba-tiba meminta maaf. Tanpa bertanya terlebih dahulu, akhirnya Satheo yang mengerti maksud Lani pun mulai menjelaskan. "Kakak emang sayang sama kamu, De. Tapi perasaan Kakak nggak Bisa dibohongin, kalo cinta Kakak itu buat orang lain." Dengan hati-hati Satheo menjelaskan. Berusaha untuk tetap menjaga perasaan Lani. "Buat Wulan kan?" Tebak Lani. Tapat! Memang itu jawabannya. "Kamu tau?" "Alfi pernah cerita. Alfi minta aku buat bikin Kakak move on dari Wulan. Tapi ternyata aku nggak Bisa. Namanya cinta, nggak Bisa di paksain ya. Aku ngerti kok. Terus Kakak maunya gimana?" Meskipun hati kecilnya agak sakit mengetahui kenyataan pahit ini. Lani berusaha tegar dan memajang senyum manisnya di hadapan Satheo. Yaa, karena baru saja Lani mulai mencintai Satheo. "Kakak tau kamu baik, tapi mau gimana lagi, De. Kalo kayak begini terus Kakak takut Kakak malah nyakitin kamu. Dengan status kita yang masih pacaran, tapi Kakak masih ngejer Wulan. Kesannya Kakak tuh b******n banget." "Yaudah kita putus aja kak, aku ngerti kok." Senyum Lani tampak begitu lebar. Memang terkesan di paksakan. Jika saja hal ini terjadi pada Alfi. Mungkin Wulan sudah di mutilasi kali. Untungnya Lani tidak seperti Alfi yang langsung menyimpulkan sikap orang. "Maafin Kakak yah, De. Kakak seneng Bisa kenal kamu. Walaupun kita udah nggak pacaran, kita Kakak-Adean juga gapapa kok." *** Taman pemakan umum di bilangan Jakarta Barat itu tampak sepi. Hanya terdengar simpang siur angin melewati Pemakaman tersebut. Daun berguguran seolah menjadi baground pemakaman tersebut. Di depan nisan bertuliskan nama Fika Nurhayati, seorang remaja berbalutkan kaos berwarna kuning, dengan celana jeans panjang tampak berjongkok, sambil sesekali tangannya mengusap nisan tersebut. "Aku takut, Fik. Aku takut permasalahan ini semakin bertambah besar." Ucapnya sambil menatap tajam nisan tersebut. "Sebenernya aku sama sekali nggak mau ini berlanjut. Tapi dia yang mulai. Dan yang aku benci dari semua ini adalah. Sekarang aku malah jatuh cinta lagi, Fik. Sama pacarnya Refal pula!" Ia bercerita layaknya pada orang hidup. Matanya menatap lirih nisan tersebut. "Ohh! Jadi ternyata lo juga suka sama Alfi! Mau lo tuh apasih? Lo selalu mau ngambil apa yang udah jadi milik gue!" Refal yang sudah tampak berdiri di belakang lelaki itupun dengan emosi berteriak. Reza tersentak kaget, saat mengetahui ternyata Refal di belakangnya. Sontak Reza pun langsung berdiri, berhadapan dengan Refal. Saling menatap satu sama lain. Tatapan dingin, seolah tersirat sesuatu yang besar. "Gue nggak pernah ngerebut apa yang udah lo milikin!" Tegas Reza. Suaranya memang tidak terdegar terlalu keras, namun suaranya tampak membentak. "Nggak usah muna LO! Kemarin, mungkin Fika cinta mati sama lo. Dia nggak Bisa cinta sama orang lain selain elo! Gue terima, oke fine! Tapi sekarang! Gue nggak akan ngebiarin Alfi lo ambil lagi!" "Gue nggak akan pernah ngerebut Alfi dari lo! Tapi kalo lo nggak Bisa jaga Alfi, jangan salahin gue kalo suatu saat gue bakal ngambil Alfi!" Mata Refal sontak menatap Reza dengan tatapan kebenciannya. Rasa tak percaya masih menyelimutinya. Sempat terheran, mengapa Reza hobi sekali merusak hidupnya. "Enggak! Gue nggak akan ngebiarin Alfi lo ambil. Demi apapun gue akan ngejaga Alfi, dan lo gak akan punya kesempatan buat ngerebut Alfi dari gue." Mata sipit Refal kini melotot begitu besar. Tatapannya begitu seram menatap Reza. Namun Reza seolah telah terbiasa dengan tatapan itu, hanya menanggapinya biasa saja. "Gue nggak yakin!" "Stopp!! Kalian nggak malu apa ribut di depan makam Fika!" Tiba-tiba saja, seorang cewek datang dari belakang Refal. Melerai pertengkaran dingin antara Refal dan Reza. Mempertengkarkan sebuah permasalahan masa lalu, yang masih berlanjut hingga detik ini. "Gue duluan yah, Lan." Reza menepuk pundak Wulan akrab yang barusan melerai pertengkarannya dengan Refal. Dengan santai Reza pun pergi dari pemakaman tersebut, meninggalkan Refal dan Wulan yang masih terdiam atas kepergian Reza dari tempat itu. Pandangan Wulan kini beralih pada Refal, Refal hanya memandang asal. Sambil pikirannya terus melayang entah kemana. Perlahan, Refal pun maju beberapa langkah, mendekati makam Fika. Refal pun berjongkok, di ikuti dengan Wulan. Refal mengusap lembut nisan makam tersebut, persis dengan hal yang di lakukan Reza. "Kenapa sih, Fik? Kamu harus cinta sama pengkhianat itu, kamu cintanya harus sama pencuri itu. Aku Bisa aja suka dengan 1000 hal yang kamu sukai, tapi aku nggak akan pernah lagi sama satu hal itu, sama sesuatu yang amat kamu cintai itu, sama dia! Dia selalu ingin ngerebut apa yang aku punya, apa artinya persahabatan kita yang kemarin?" Kini gantian, Refal yang mengoceh panjang. Berceloteh ria pada satu makam tersebut. Wulan yang mengantar Refal hanya terdiam, mendengarkan cerita Refal. "De, Kakak yakin kamu udah bahagia disana. Tapi Kakak juga ngerti betapa sedihnya kamu meliha dua orang yang kamu cintai dan kamu sayangi terus berperang dingin. Terus mementingkan egonya masing-masing, bersikap seolah mereka yang paling benar." Wulan yang tadinya diam kini ikut berbicara pada makam adiknya itu. Mendengar perkataan Wulan, Refal menengok. Refal seperti merasa tersindir dengan perkataan Wulan barusan. "Kenapa liatin gue begitu? Ada yang salah?" Wulan pun membalas pandangan Refal yang begitu tajam itu.  
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD