"De, Kakak yakin kamu udah bahagia disana. Tapi Kakak juga ngerti, betapa sedihnya kamu melihat dua orang yang kamu cintai dan kamu sayangi terus berperang dingin. Terus bersikap seolah mereka yang paling benar." Wulan yang sedari tadi diam akhirnya angkat bicara pada makam adiknya tersebut. Refal menengok, karena merasa tersindir.
"Kenapa liatin begitu? Ada yang salah?" Wulan membalas tatapan Refal yang begitu tajam.
"Nggak ada! Gue yang salah. Itukan yang elo maksud?" Masih dengan tatapan dinginnya, Refal menatap Wulan. Wulan tersenyum meremehkan.
"Ck! Bukan cuma elo! Tapi KALIAN!" Desis Wulan yang menekankan kata KALIAN dalam penuturan katanya.
"Gue dan Reza. Bukan kalian!" Refal pun kini berdiri, lalu berbalik arah untuk pergi.
Wulan yang masih berjongkok menatap punggung Refal bingung, karena tiba-tiba langsung saja berdiri tanpa bicara hendak kemana.
"Mau kemana?" Suara lantang Wulan berteriak bertanya kepada Refal, karena jarak antara Wulan dan Refal cukup jauh.
"Balik." Jawab Refal singkat.
"Liat kan, De? Kelakuan pacar kamu itu, dia yang ngajak Kakak kesini, tapi dia malah nyelonong aja mau pulang ninggalin Kaka?" Wulan terlihat masih asik berbicara dengan makam adiknya tersebut. Lalu kemudian Wulan pun ikut bangkit, lalu berlari kecil mengejar Refal.
"Refal! Tunggu!!" Teriak Wulan sambil berlari terpogoh-pogoh mengejar Refal yang jaraknya sudah lumayan jauh darinya.
***
Dengan girang, Alfi terus berlarian menyusuri pesisir pantai. Seolah menjadi pemain sinetron, Alfi berlagak layaknya syuting ftv. Satheo yang berada di belakangnya hanya terkekeh melihat kelakuan sahabatnya itu.
Entah karena lelah, atau bosan berlarian, akhirnya Alfi menghentikan langkahnya. Membanting tubuhnya asal di pesisir pantai tersebut. Terduduk, menatap ombak air laut yang mulai pasang surut, karena hari sudah hampir malam "Huft, berasa baru kemaren ke tempat ini, nemenin si Satheo galau gara-gara Nadya. Sekarang, galau lagi! Gak bosen apa yah itu anak galau mulu?" Dumel Alfi sambil menatap lurus pemandangan pantai yang cukup indah. Menatap matahari yang hampir tenggelam.
"Tau! Kenapa sih dewi fortuna gak pernah berpihak sama gue?" Satheo kini ikut duduk di samping Alfi. "Ehh iya, gue putus Fi sama Lani." cerita Satheo. Alfi pun langsung menengok, lalu tersenyum simpul.
"Gue ngerti kok, sorry ya gue terlalu ngatur lo." jawab Alfi sambil tersenyum manis.
"Oh iya, ini kok mataharinya kagak tenggelem-tenggelem ya, Sat?" mata Alfi kini beralih lagi pada ujung lautan.
"Yaiyalah! Orang masih jam empat Alfi!!"
Gubrakk!! Alfi menepuk jidatnya sambil nyengir. Lalu melirik jam tangan yang tertempel di tangannya. Dan terkekeh geli sendiri.
***
"Refal, potoin gue dong." Wulan menyodorkan handphone nya pada Refal. Dengan malas Refal mengambil handphone Wulan.
"Poto tuh aturan yang pemandangannya bagus, kayak di taman gitu." kometar Refal sambil mengarahkan handphone Wulan pada diri Wulan yang sedang berpose.
Setelah satu gambar berhasil terfoto, Wulan menanggapi sautan Refal. "Ini juga taman kok, Taman pemaman umum." Wulan berbicara sambil menahan tawanya. Refal masih saja bersikap dingin.
"Coba gue liat." Wulan berjalan menghampiri Refal, merebut halus handphone nya.
"Yah, yah, yah? Kok! Aish, lowbet!" Wulan menggoyangkan handhone nya ketika beberapa saat kemudian handphonenya mati.
"Yaudah! Beaguslah, biar cepet pulang. Cepet naek, atau gue tinggal?"
"Ish jangan dulu dong, belom puas gue poto-potonya. Pake hape elo ya??" Wulan memasang tampang penuh harapnya. Sambil terkesan memohon pada Refal.
"Enggak!" Refal tak menggubris, kini Refal sudah memegang gagang pintu mobilnya.
"Dih elo mah gitu, ayolah! Lima kali ajadeh." Wulan terus memohon pada Refal. Akhirnya Refal pun menurutinya.
Berbeda dengan perjanjiannya, Wulan malah keasikan berfoto-foto. Yang awalnya bilang hanya lima, ehh kayaknya inimah lebih dari sepuluh.
***
Keduanya terus bercanda gurau di pesisir pantai tersebut, saling meledek satu sama lain. Keadaan pantai pun mulai ramai di kunjungi pengunjung, karena hari sabtu ini semakin sore, dan bertepatan malam minggu. Banyak pengunjung yang hanya ingin melihat indahnya sunset sore ini.
Setiap lelaki yang berlalu lalang, pandangannya tak lepas dari Alfi yang duduk santai sambil sesekali tertawa riang. Dengan celana pendek selututnya, serta kaos bertangan panjang, bagian tangannya sengaja di gulung hingga siku, rambutnya yang di ikat asal, namun telihat tampak menarik dan menjadi pusat perhatian para lelaki yang melewatinya. Karena penampilan simple nya itu justru mempercantik dirinya.
"Liat deh, Sat. Gue kayak selebritis ya. Setiap orang lewat pada liatin gue terus." tangan Alfi di tempelkan pada pipinya, bergaya ala orang narsis.
"Jiah! Narsis kambuh." komentar Satheo singkat.
"Fi, main ToD yuk?" ajak Satheo kemudian. Alfi mengangguk ragu sambil menatap Satheo sendu.
"Ayuk aja, tapi jangan aneh-aneh ya Dare nya. Nanti kayak waktu itu lagi, malah elo kan yang sengsara gara-gara itu taruhan."
"Iya iya!"
Satheo pun hendak memulai permainannya, di keluarkannya uang 5oo-an logam dari saku celana jeans nya. Lalu kemudian ia menjelaskan cara mainnya.
"Gak usah pake puter-puteran, soalnya kita cuma berdua. Pake gopean aja nih. Kalo keluarnya bunga, gue bebas nanya atau ngasih dare ke elo. Dan kalo keuarnya garuda, ya sebaliknya. Deal?" Satheo menaikan sebelah alisnya, bertanya pada Alfi yang terlihat memperhatikannya.
"Oke, deal!" Alfi tersenyum sambil mengubah posisi duduknya menjadi bersila menghadap Satheo.
Taraa... Setelah uang logaman itu di lempar, ternyata yang terlihat adalah lambang garuda. Alfi tersenyum bangga sambil menatap jail Satheo.
"Truth or Dare?" tanya Alfi begitu bersemangat pada Satheo.
"Truth ajadah."
"Ehm, truth? Nanya apa yah gue?" Alfi memutar bola matanya menatap langit dengan asal. Telunjuknya di ketuk-ketukan pada dagunya seraya berpikir bingung.
"Ohh iya, berapa biji kaset ps yang lo bandit dari kamar gue?"
Satheo terkekeh seketika Alfi melontarkan pertanyaan konyol tersebut. Namun Satheo juga bingung menjawabnya, pasalnya banyak sekali kaset ps yang suka di bawanya dari kamar Alfi. Mungkin hingga tak terhitung.
"10 lebih kayaknya." jawab Satheo sambil terlihat berpikir.
"Apaan? Kayaknya banyak banget juga!" Alfi mendelik, menatap Satheo dengan tuduhan seperti pencuri.
"Yaiya, 10 lebih, lebih 25 maksudnya. Hahaha.." Satheo tertawa puas setelah menjawab pertanyaan Alfi.
Permainan pun di mulai kembali, kini gantian. Alfi yang melemparkan uang logamnya tersebut. Dan.. Kini berbalik, uang tersebut menunjukan logo bunga, dan berarti giliran Alfi yang di tanya ataupun di beri tantangan.
"Truth!" Belum juga Satheo bertanya, Alfi sudah memilih duluan.
"Oke, gak susah kok pertanyaannya. Elo sayang apa enggak sama gue?" Satheo mengedipkan matanya jail pada Alfi. Alfi terkekeh mendengar pertanyaan Satheo.
"Ck! Pertanyaan lo garing. Ya sayang lah, elo kan sahabat gue yang palinggg sialan." dengan gaya bicaranya, Alfi menutup matanya sambil menjulurkan lidahnya pada Satheo. Sungguh lucu sekali wajahnya saat itu. *pasti di praktekin tuh gayanya sama readers :p*
"Haha. Oke, gue terima jawabannya. Mulai lagi, sini gue yang lempar." Satheo merebut uang logam yang tadi di pegang Alfi, lalu kemudian melemparkannya.
Dan???
Lagi! Mata uang logam itu memperlihatnya bunga lagi. Berarti Alfi lagi. Satheo tersenyum girang melihatnya. Sedang Alfi hanya pasrah.
"Dare dong! Jangan truth mulu!" Saran Satheo tanpa bertanya truth or dare.
"Oke, tapi jangan yang aneh-aneh?"
"Iya! Gue mau, lo berdiri terus berteriak bilang. GUE SAYANG SATHEOOO." Satheo nyengir kuda, sambil matanya meledek pada Alfi. Alfi mengerutkan keningnya. Matanya seolah memprotes.
"Gak boleh protes! Dari pada gue suruh mungutin sampah di pinggir pantai?" belum juga Alfi berkomentar, Satheo sudah mengingatkannya.
"Iya iya!" Alfi hanya pasrah lalu kemudian berdiri.
Alfi menarik nafasnya panjang, lalu menoleh kanan-kirinya terlebih dahulu. Terlihat banyak sekali orang sedang asik dengan aktifitasnya masing-masing.
"GUE SAYANG SATHEO!!" dengan suara nyaringnya, Alfi berteriak begitu kencang. Teriakannya sangat memeking telinga, sampai-sampai kini ia menjadi pusat perhatian orang banyak.
Alfi pun langsung terduduk kembai karena malu di tatap seperti itu. Dengan segera tangannya langsung mencubit lengan Satheo. "Aww!" Ringis Satheo saat Alfi mencubitnya.
"Malu-maluin gue, sial!" pekik Alfi.
Permainan mereka pun terus berlanjut, pertanyaan demi pertanyaan saling di ajukan. Dari mulai yang serius sampai yang ngelantur. Tantangan gila pun ikut serta mewarnai permainan mereka, contohnya Alfi yang menyuruh Satheo untuk cium tangan, seperti pada orang tuanya, dengan sepuluh pengunjung pantai. Dan Alfi juga disuruh untuk berofoto bareng dengan lelaki yang sedang lewat.
***