Empat Belas

1346 Words
Bintang yang bertaburan indah di langit yang biru itu tampak menjadi sesuatu yang begitu nyaman untuk di pandang. Di temani dengan angin malam yang cukup sejuk, Refal masih setia menatap birunya langit malam itu. Refal tersenyum ketika melihat salah satu bintang sedang berkelip. Ia selalu menganggap bahwa jika ada satu bintang yang berkelip, itu adalah kekasihnya yang telah tiada itu. Karena Fika, nama kekasihnya itu selalu berkata. "Jika nanti aku pergi, kamu liat aja indahnya langit malam. Nanti kamu akan lihat sebuah bintang yang akan berkelip, dan itulah aku, Fal. Itu tandanya aku lagi merhatiin kamu dari atas sana." Itulah kata yang pernah di ucapkan Fika. Maka dari itu, setiap malam Refal selalu dengan senantiasa menatap langit yang bertaburan bintang ini. Meskipun ia tau kata-kata Fika ada yang sedikit berdusta. Fika bilang jika bintang itu berkelip, itu tandanya Fika sedang memperhatikan Refal. Tidak! Kata-kata itu seakan mengganjal dihati Refal. Rasanya Fika tak mungkin hanya memperhatikan Refal. Pasti Fika pun akan memperhatikan dia! Dia yang hingga akhir hayat Fika selalu di cintai Fika, dan akan selalu di cintai Fika. "Aku tau itu kamu, Fik. Fika, sekarang aku udah nemuin seorang yang mampu buat aku tersenyum lagi. Dia emang beda sama kamu, bahkan sangat berbeda. Tapi aku selalu nyaman kalo sama dia, senyaman aku berada di sisi kamu. Tapi asal kamu tau, sampai kapanpun aku akan selalu cinta sama kamu, meskipun kamu nggak akan pernah Bisa cinta aku. Tapi karena kini aku sudah mulai Bisa mencintai orang lain, aku akan mencintai dia sepenuh hati, Fik. Aku sayang dia, aku nggak akan ngelepasin dia. Karena dia juga cinta aku." Refal berbicara sendiri di balkon kamarnya itu. Refal tersenyum menatap bintang yang sedari tadi di perhatikannya. "Tapi akupun nggak akan pernah Bisa untuk berhenti mencintai kamu." Lanjut Refal di sertai dengan senyuman manisnya. Lelaki ini memang tampak pernah merasakan luka yang begitu dalam di hatinya, hingga ia selalu bersikap menutup dirinya untuk siapapun. Ia lebih memilih untuk berdiam diri selama bertahun-tahun. Hingga akhirnya kehadiran Alfi dengan fisik yang cacat serta wajah yang sengaja di buat berantakan itu, justru malah membuat Refal begitu nyaman dengan Alfi. Alfi adalah orang pertama yang mampu mengembalikan senyumnya. Tingkahnya yang polos, serta tak pernah menyerah untuk membuat Refal dapat berbicara dengannya yang membuat hati Refal sekan luluh karena kegigihannya. Meskipun pada akhirnya Refal tau jika dirinya tak lebih dari sekedar bahan taruhan, namun mau di apakan. Perasaannya benar-benar nyata, Refal tak mungkin rela kehilangan orang yang di cintainya lagi. Terlebih Alfi berkata bahwa Alfi pun mencintainya. *** Degg.. Detak jantung Satheo lagi-lagi berdetak begitu kencang. Tanpa Satheo menolehpun Satheo tau, pasti ada dia di sekitar sini. Satheo berusaha untuk menampik perasaan itu. Karena kini dirinya sudah menjalin hubungan dengan cewek lain. Namun tak Bisa di pungkiri, perasaan itu tak dapat di hentikan begitu saja. Perasaan itu tetap hadir dihati Satheo, bahkan tanpa harus melihat ada dia pun Satheo dapat merasakan kehadirannya. Satheo memang percaya bahwa inilah cinta. Tapi ia tak Bisa jika harus berlarut dengan perasaannya. "Hey, Sat." Suara itu akhirnya menyapa Satheo. Mau tak mau Satheo pun harus menoleh padanya. "Ehh Wulan." Satheo pun menyapa balik Wulan. Satheo berusaha untuk menetralisirkan perasaannya. Ia tak Bisa jika harus selalu seperti ini. "Kemarin cewek lo ya? Anak Lesa Niaga?" Wulan bertanya tentang pertemuannya kemarin. Hati Satheo seakan sesak harus membicarakan Lani pada Wulan. Satheo seakan tak sanggup mengatakan bahwa ia telah memiliki seorang kekasih pada Wulan. "I..ii..iya, kalo cowok lo anak mana?" Dengan ragu akhirnya Satheo menjawab. Bahkan kini ia memberanikan untuk bertanya tentang pacarnya Wulan. "Anak sini kok, cuma dia anak Bahasa. Yaudah gue duluan yaa.." Wulan pun berlalu pergi meninggalkan Satheo. Satheo hanya tersenyum. Wulan berjalan sambil terus merutuki dirinya, tanggapan semua orang yang mengatakan bahwa Rino adalah cowoknya itu salah. Astaga! Ternyata lelaki yang kemarin membonceng Wulan bukan kekasih Wulan? Lalu dia siapa? Mengapa semua siswa mengatakannya demikian? "Sebenernya dia bukan cowok gue, Sat. Dia cuma pelampiasan gue aja karena sampai detik ini gue akuin, gue emang cinta sama lo. Selepas putus dari lo gue belom pernah pacaran lagi, itu cuma akal-akalan gue doang bilang Rion cowok gue. Tapi sayangnya lo juga udah punya cewek, jadi salah kalo gue masih berharap sama elo!" Hati Wulan menjerit mengungkapkan semua kejujuran tentang perasaannya. Sambil berjalan, matanya seakan memerah menahan air matanya. Batinnya memang sungguh tersiksa dengan semua ini. Tapi apa daya? Apa yang Bisa do lakukannya kini. Wulan pun masih tidak terima jika teingat ia di jadikan bahan taruhan. Meskipun Alfi sudah meminta maaf padanya. *** Satheo, Alfi, dan Refal kini sedang duduk ngedeprok di sudut koridor yang berada di lantai tiga sekolahnya. Tempat itu cukup tenang, meskipun memang masih lebih nyaman di atap gedung sekolahnya. Namun kini waktu sedang menunjukan jam 12, pasti suasana diatas sana sangat menyengat panas. Alfi dan Refal sibuk mengobrol, sebenarnya Alfi dan Refal pun sudah mencoba mengajak Satheo mengobrol. Namun sepertinya Satheo tidak mood untuk ngobrol. Kini Satheo hanya sedang melamun sambil sesekali membalas sms dari Lani. Karena biar bagaimanapun Lani itu memang kekasihnya. *** Reza menggaruk kepalanya bingung, karena sedari tadi ia mencari Satheo tak juga ketemu. Reza tau pasti Satheo sedang bersama Alfi. Tapi dimana? Sudah lima kali Reza bolak-balik ke kelas Satheo, bahkan Reza pulan sudah mencari Satheo ke kantin, UKS, lapangan, serta taman. Namun Satheo tak kunjung terlihat. Sebenarnya ada yang ingin di katakan Reza pada Satheo. Sesuatu yang pastinya berhubungan dengan Satheo. Akhirnya, Reza pun memutuskan untuk meng-sms Satheo. Mengapa tidak dari tadi saja? Jadi Reza tak perlu capek mencari Satheo. Huft! Memang Reza ini. Tak lama kemudia smsnya pun dibalas, dan mengatakan Satheo sedang berada di lantai tiga. Dengan segera Reza pun berlari kelantai tiga menghampiri Satheo. "Satheo!!" Teriak Reza geram karena akhirnya menemukan Satheo juga. "Kenapa?" Saut Satheo singkat. Alfi menatap Reza yang kini di banjiri dengan keringat. Serta napas Reza yang juga tersenggal-senggal seperti habis lari maraton. "Abis di uber apaan, Za?" Tanya Alfi. "Gigilu di uber, gue bolak balik tau nyariin si Satheo ini." Reza pun ikut terduduk dan mengatur nafasnya. "Nah ini ketemu." "Iyalah gue sms." "Kenapa gak sms dari awal aja." "Gue lupa!" "Haha, dasar!" Alfi hanya tertawa melihat Reza yang masih ngos-ngosan. Rezapun teringat tentang tujuan awalnya hendak bertemu dengan Satheo. "Sat! Wulan mau nonton sama si Rino." Ucapan Reza langsung berhasil membuat Satheo menengok. "Terus? Mau diapain?" Satheo terlihat datar memberi tanggapannya. "Tau! Satheo kan udah punya pacar!" Alfi kini ikut berkomentar. "Iya gue tau, Fi. Tapi gue yakin Satheo masih cinta sama Wulan, lagian ternyata si Rino itu belom pacaran sama Wulan, dan gue denger Rino pengen nembak Wulan lagi pas nonton itu." Satheo langsung melotot tak percaya menatap Reza. Karena yang ia tau dan Wulan sendiri yang mengatakannya bahwa Rino itu pacarnya Wulan. "Serius, Za?" Reza mengangguk. "Satheo!" Alfi berteriak kesal mengingatkan Satheo. "Alfi, gue minta maaf. Tapi emang jujur gue masih cinta sama Wulan. Gue tau Lani temen lo, tapi mau di apain lagi, Fi. Perasaan nggak Bisa di paksain. Meskipun emang, perlahan gue mulai sayang sama Lani. Tapi gue nggak Bisa cinta sama dia." Wajah Satheo kini tampak serius. Refal sontak langsung menatap Satheo. Refal seakan hendak berbicara, karena ini hampir mirip dengan kisahnya. "Kalo lo cintanya sama Wulan, lo kejar Wulan, Sat. Dan cepet lo akhirin hubungan lo sama Lani, karena lo cuma ngerasa sayang doang sama dia. Dan nantinya akan nyakitin Lani dan Wulan, pilih yang bener-bener lo cintain. Jangan sampe lo nyesel." Refal yang semula diam akhirnya berbicara. Satheo dan Alfi pun langsung menatap Refal. Satheo tak percaya ternyata dibalik sikap dingin Refal, ternyata Refal cukup respect terhadapnya. "Tapi, Fal.." Alfi yang sepertinya masih tidak setuju berusaha berbicara lagi. Namun telunjuk Refal dengan cepat menutup mulut Alfi. "Syut.. Gue tau Satheo sahabat lo, tapi hidup dia bukan berarti hidup lo, Fi. Dia bebas nentuin yang mau dia pilih. Apa disaat hati lo milih gue, Satheo ikut campur? Enggak kan?" Alfi pun terdiam saat Refal berbicara seperti itu. Sedang Reza, ia masih terfikirkan perkataan Refal kepada Satheo. Reza seakan flashback kembali. Hatinya seakan langsung tersentuh ketika Refal bicara seperti itu. "Lo bener, Fal. Tapi kenapa dia nggak Bisa bersama gue? Dan seandainya lo tau alasannya." Batin Reza mengiyakan kata-kata Refal. "Kapan Wulan nonton?" Satheo yang tadinya terdiam memikirkan perkataan Refal akhirnya menanyakan itu. "Malem jumat." Ucap Reza dan langsung membuat Alfi melotot. Nggak salah tuh? Batin Alfi. "Kayaknya nonton malem jumat lagi trend yah, Fal. Kita kan juga mau nonton malem jumat." Alfi menengok pada Refal. Refal tersenyum sambil mengangguk.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD