Mereka berjalan menyusuri koridor dengan telapak tangan yang saling berpegangan erat. Mereka terus mengobrol sambil berjalan. Tak peduli seluruh mata kini memandang mereka dengan tatapan iri, takjub, dan sebagainya.
"Fi, nanti nonton yuk." Ajak Refal di sela-sela obrolannya dengan kekasihnya itu.
"Ayuk, kapan?" Alfi menengok kearah Refal bersemangat. Karena ini adalah kali pertamanya Refal akan mengajaknya pergi disaat mereka resmi berpacaran.
"Malem jumat aja." Alfi pun sontak langsung menatap Refal tak percaya mendengar jawaban Refal ini.
"Malem jumat? Dimana-mana kalo orang pacaran itu jalannya malem minggu, elo kok malah malem jumat sih?" Tanya Alfi bingung. Refal pun terkekeh sejenak melihat Alfi yang sontak memberi respon seperti itu.
"Yah, biar unik aja gitu." Jawab Refal singkat. Alfi pun menggelengkan kepalanya seolah tak percaya bahwa kini ia benar-benar memiliki kekasih yang ama unik. Bukan hanya cuek, ternyata kekasihnya ini juga memiliki ide yang cukup gila.
"Ohh iya, kalo nonton lo suka film yang apa? Romance ya?"
"Bukan, gue suka yang perang-perangan itu loh."
Mereka pun akhirnya sampai di pinggir lapangan sekolahnya yang cukup luas itu, di lapangan tersebut terlihat beberapa siswa yang sedang bermain bola. Alfi dan Refal memutuskan untuk duduk di pinggirnya, duduk tak beralas. Karena posisi koridor dengan lapangan masih lebih tinggi lantai koridornya, sehingga jika mereka duduk di lantai koridor, otomatis kakinya menggantung di atas lapangan tersebut.
"Ohh action, biasanya cewek sukanya yang romance." Refal pun melanjutkan tentang obrolannya dengan Alfi seputar film.
"Tapi gue nggak suka, gue lebih suka yang perang-perangan." Sahut Alfi yang tetap bersikeras dengan omongannya.
"Ohh iya gue lupa, lo kan cebong." Refal mengedipkan sebelah matanya sambil tersenyum jail. Alfi menatap Refal bingung karena tak mengerti dengan ucapan Refal yang berkata 'Cebong'
"Apaan tuh cebong?" Tanya Alfi bingung.
"Cewek boong." Refal tersenyum jail pada Alfi. Alfi pun langsung melotot pada Refal.
"Ish! Dasar pacar durhaka! Masa gue yang cantik begini masih di bilang cebong!" Kedua tangan Alfi di tekukan pada pinggangnya seraya bertolak pinggang.
"Jiah, ngerasa cantik ceritanya." Refal terkekeh sambil terus menatap Alfi yang terlihat kesal. Wajahnya benar-benar terlihat polos, gadis di hadapannya ini memang sangat lucu dan selalu mampu membuat Refal tersenyum. Padahal sebelum mengenal Alfi, jangankan untuk tertawa seperti sekarang, tersenyumpun Refal sepertinya sangat jarang.
"Iya dong, kata Mama gue begitu soalnya." Saut Alfi dengan wajah polosnya itu.
"Haha, iyalah kata nyokap lo!" Refal tertawa sambil mengacak poni Alfi. Alfi pun malah meniupkan poninya kembali agar terlihat rapi lagi.
Alfi dan Refal terus mengobrol di pinggir lapangan tersebut. Terkadang mereka saling tertawa bersamaan. Namun meskipun berpacaran, mereka tetap menggunakan elo-gue dalam ucapannya. Karena Alfi yang tidak mau berbicara aku-kamu, atau sekalipun menyebut nama sendiri. Memang selama berpacaran Alfi tidak pernah berbicara aku-kamu pada pacarnya, bodo amat mau pacarnya marah kek, apa kek? Gue maunya begitu. Itulah yang selalu di ucapkan Alfi jika ditanya oleh orang lain.
Dari arah yang berlawanan, terlihat sepasang mata memperhatikan Alfi dan Refal dengan tatapan iri. Iri? Yaa, memang terlihat mata itu seolah sendu dan lirih, tapi rasanya ia tidak iri sama sekali. Matanya pun sama sekali tidak terlihat menyimpan kebencian terhadapan pasangan ini.
"Gue enggak benci sama kalian, justru yang gue benci kenapa gue harus jatuh cintanya ke elo! Dan berurusan lagi sama dia!" Desisnya sambil terus menatap Alfi dan Refal.
Sesekali ia mendengus sebal jika terus melihat pemandangan tidak enak itu. Hatinya seakan tak rela melihatnya, tapi mau di apakan? Mereka memang sepasang kekasih bukan?
Sedangkan ia? Siapa memangnya ia dimata Alfi?
Ia pun mengalihkan pandangannya untuk tidak menatap kearah itu lagi. Kini ia terlihat sibuk memetik-metik daun yang kebetulan berada di sisinya. Terlihat kurang kerjaan memang. Karena itu hanya menjadi pelampiasan perasaannya. Dari pada ia harus terus menatap Alfi dan Refal yang hanya membuat hatinya semakin perih. Namun, siapa sebenarnya dia?
***
Alunan lagu indah keluar begitu saja dari mulut Reza. Reza terus bernyanyi lagu Sammy simorangkir itu. Karena disitu ada Alfi dan Satheo pula, mereka pun langsung menggoda Reza yang terlihat begitu dalam menyanyikan serta menghayati lagu tersebut.
"Wih, galau, Za?" Ledek Alfi seketika Reza berhenti bernyanyi.
"Biasa aja ah, emang nggak boleh gue nyanyi. Hak dong." Reza menjawab dengan santai.
"Haha, setau gue Reza emang galau tiap hari tuh." Satheo pun ikut meledek Reza.
Reza pun melemparkan sebuah pilus yang sedang di makannya. Kini mereka sedang berada di sebuah cafe tempat biasa Satheo dan Alfi makan.
"Sok tau lo!" Reza mengalihkan pandangannya, sambil sesekali melemparkan pilus keatas lalu menangkapnya dengan mulutnya.
"Yah emang bener kan? Gara-gara sepatu lo kecebur ke kali lo jadi galau mulu!" Satheo kini melanjutkan omongannya ke sebab mengapa Reza galau.
Alfi pun bingung mendengar sepatu ke cebur kali yang membuat Reza galau? Unik sekali alasan Reza untuk galau? Tak adakah yang lebih dramatis seperti di novel-novel yang pernah di baca Alfi itu?
"Najis, Satheo! Masih inget aja lo! Gue mah udah lupa kemana-mana." Reza terkekeh geli saat Satheo mulai mengingatkannya tentang sepatunya itu.
"Apa-apaan sih? Kok jadi sepatu? Eh iya, Za. Kok gue nggak pernah denger lo cerita tentang cewek gitu?" Alfi kini menatap Reza penasaran sambil tangannya iseng-iseng mengaduk minuman miliknya.
"Gue lagi nggak pengen jatuh cinta." Jawab Reza singkat.
Satheo dan Alfi kini dengan penasaran saling menatap Reza. Alfi yang sepertinya begit tertarik dengan jawaban Reza yang cukup singkat itu mulai bertanya lagi.
"Loh? Kok Bisa gitu. Lo pasti punya pengalaman buruk ya sama mantan?" Kini Alfi menatap Reza lembut karena mata Reza terlihat sedang menerawang pada kisah hidupnya.
"Enggak! Gue nggak punya mantan?"
Jawaban Reza yang begitu singkat itu, mampu membuat Alfi tersedak karena saat itu ia sedang meminum minumannya. Alfi langsung menatap Reza tak percaya.
"Lo nggak punya mantan? Serius? Tapi kok gue liat dari mata lo, lo kayak trauma gitu, Za?" Lagi-lagi Alfi terus bertanya pada Reza begitu antusias.
"Trauma? Biasa ajadeh kayaknya, gue cuma lagi nggak mau jatuh cinta kok di bilang trauma. Yaa emang sih gue akuin, pertama kali gue jatuh cinta sama orang itu, gue rasa perasaan gue itu salah. Seharusnya rasa itu nggak pernah hadir, makanya sampe sekarang gue nyegah diri buat cinta sama orang. Gue takut perasaan gue bakalan salah lagi dan cuma bikin ancur hidup gue." Reza mulai bercerita panjang. Sedang Alfi tampak serius menyimaknya, namun sepertinya Satheo sudah tau tentang masalah ini, makanya ia hanya santai dengan makanannya.
"Ohh, yang waktu itu ya, Za." Komentar Satheo akhirnya di sela-sela cerita Reza.
Melihat Satheo yang sepertinya tau sesuatu, Alfi pun langsung menengok pada Satheo. Alfi menatap Reza dan Satheo secara bergantian.
"Satheo udah tau ya? Maksudnya gimana sih? Ceritain dong."
"Kepo lo ahh, udahlah gue males cerita lagian." Entah mengapa Reza akhirnya menghentikan ceritanya. Alfi pun tampak kecewa dengan keputusan Reza. Padahal Alfi terlihat begitu penasaran.
"Yah kok gitu, Sat lo aja deh yang ceritain." Kini Alfi meminta Satheo untuk menceritakannya. Namun mulut Satheo yang penuh dengan makanan itu memang sepertinya terlihat sibuk dengan aktifitasnya.
"Pamali lagi makan ngobrol!" Satheo berbicara layaknya orang tua jaman dulu. Alfi hanya terlihat kesal karena tak ada yang mau bercerita padanya.
Sedang Reza? Matanya kembali mengingat pada masalalunya, Reza seperti teringat kembali pada kejadian silam yang telah lampau itu. Namun rasanya hingga sekarang Reza masih merasakan dampaknya.
Tak lama kemudian, alunan lembut alat musik beriringan dengan nyanyian menjadi latar nuansa cafe ini. Lagu Avril Lavigne yang berjudul When You're Gone tampak sedang dinyanyikan oleh penyanyi di cafe tersebut.
Ditemani lagu itu, Reza tampak semakin dalam mengingat masalalunya. Lagu yang cukup cocok tentang pengalaman hidupnya.