Itu bukan hal yang tidak biasa, seperti apa yang di katakan Alfi tadi. Satheo-Alfi sudah berteman dari TK, jadi jika cuma bersandar kepala itu sudah biasa bukan? Ingat kan kalian saat Satheo baru putus dengan Nadya? Mereka berdua bersama-sama menenangkan dirinya di batu besar pinggir pantai.
***
Gemuruh angin sore kian begitu kencang bertiup. Awan terlihat menggelayut berwarna biru tua. Mendung pun sudah di ambang mata, namun di tengah jalanan pinggir kota, Satheo dan Alfi sedang bersepeda bersama. Alfi sepertinya sedang menghibur Satheo yang sedang di landa galau itu.
"Mau kemana sih, Fi?" Tanya Satheo pada Alfi yang mengowes sepedanya. Tak beda halnya dengan Satheo pula.
"Bikin lo move on dari Wulan!" Jelas Alfi singkat. Alfi pun kemudian mempercepat gowesannya mendahului Satheo.
Satheo hanya mengikutinya dari belakang, karena Satheo sendiri tak tau Alfi hendak kemana dan maksud perkataannya tadi apa.
***
Lima belas menit Alfi dan Satheo menempuh perjalanan dengan sepeda pixie nya itu, akhirnya Alfi menghentikan sepedanya di depan sebuah rumah yang cukup mewah. Alfi tersenyum menatap rumah tersebut, sedang Satheo malah bingung.
"Lo mau ngapain sih, Fi?" Satheo menatap Alfi bingung. Alfi pun menengok.
"Gue mau ngenalin lo sama temen gue di SMA gue yang dulu ituloh, lebih cantik kok daripada Wulan." Satheo langsung menatap Alfi dengan tatapan tajamnya. Alfi pun mengalihkan pandangannya, karena tak mau di tatap Satheo seperti itu.
"Gue cerita Wulan ke elo bukan karena minta di cariin cewek lain, Fi. Gue cintanya ama Wulan, kenapa lo malah nyuruh gue kenalan sama temen lo sih?!" Omel Satheo karena kesal. Alfi pun seolah tak memperdulikannya dan langsung masuk ke pekarangan rumah mewah itu seketika gerbang di buka.
"Ikutin gue sekali ini aja, nanti terserah lo mau gimana? Gue cuma gak mau liat lo galau gara-gara Wulan." Alfi memohon kepada Satheo, Satheo pun akhirnya menyutujuinya karena tak tega melihat Alfi memohon seperti itu padanya.
Alfi memencet bel rumah mewah tersebut, tak lama kemudian pintu pun terbuka. Terlihat seorang cewek sepantaran Alfi langsung tersenyum seketika melihat Alfi disana.
"Alfi?" Cewek itu langsung terlonjak gembira dan memeluk Alfi.
"Aduhh, Lani gue engap di peluk begini!" Alfi yang terlihat sulit bernapas langsung berusik dari pelukan cewek bernama Lani ini.
"Ish lo mah, gue kan kangen sama lo! Lagi lo ngapain pindah sekolah sih, masa cuma gara-gara putus sama Rian aja lo sampe pindah. Lebay tau!" Cerocos Lani begitu panjang. Alfi hanya terkekeh melihat sahabat di SMA nya yang dulu ini masih saja tetap bawel.
"Lo bawel gak ilang-ilang ya? Mending suruh gue masuk dulu deh, pegel nih kaki gue gowes sepeda."
"Ohh lo naek sepeda, yaudah masuk masuk. Ehh? Ini temen lo, Fi?" Mata Lani kini langsung menoleh pada Satheo yang berada di belakang Alfi. Alfi tersenyum sambil mengangguk.
Alfi pun menarik Satheo untuk masuk ke rumah Lani itu. Mereka di persilakan duduk di ruang tamu yang cukup besar itu. Satheo sedari tadi hanya terlihat tak b*******h. Tapi Satheo pun memang tak Bisa mengungkiri jika Lani ini memang cantik. Rambut panjangnya yang di biarkan terurai, serta model poninya yang di belah dua. Wajah polos tanpa make-up namun terlihat begitu alami.
"Gimana, Sat? Cakep kan temen gue?" Tanya Alfi ketika Lani sedang ke dapur mengambilkan minuman untuk mereka.
"Cuma orang g****k yang bilang dia jelek, Fi."
"Yaudah coba dulu ya, Sat. Anaknya asik kok, barang kali lo Bisa move on dari Wulan." Lagi-lagi Alfi terlihat memohon pada Satheo. Satheo pun tersenyum sambil mengangguk.
"Iya Alfi sayang." Tangan Satheo kini merangkul pundak Alfi dan mendorong kepala Alfi hingga menempel di bahunya.
"Yee!! Makasih Satheo gue." Sorak Alfi girang masih dalam dekapan Satheo.
"Satheo elo? Emang gue punya lo apa?"
"Iyadong! Pokoknya meskipun lo punya pacar, atau istri sekalipun! Lo tetep punya gue!!" Alfi pun mendongkakan kepalanya yang tadinya berada di bahu Satheo.
"Dih, maksa gitu." Satheo memencet hidung Alfi dengan tangannya. Alfi pun langsung melotot.
"Sakit Satheo!" Teriak Alfi dengan tampang kesalnya. Satheo hanya terkekeh melihatnya.
"Upss, sorry ganggu." Lani yang baru datang sambil membawa nampan berisi dua gelas minuman pun merasa tidak enak, karena melihat Alfi dan Satheo seperti orang pacaran.
"Hah? Ganggu apaan, Lan?" Alfi terlihat bingung dengan omongan Wulan.
"Kalian pacaran." Jawab Lani dengan tampang polosnya.
"Yaampun? Masa gue di kira pacaran sama elo, Sat?" Kepala Alfi yang tadi di dekap Satheo kini bangkit dan menatap Satheo.
"Emang kita pacaran kan?" Balas Satheo cuek sambil mengedipkan matanya jail.
"Aish! Lo mah becanda mulu ahh, gue bilangin Refal loh!"
"Hahha, iya iyadeh pacarnya Refal! Lagi siapa juga yang mau pacaran ama cewek bawel kayak elo!" Jari telunjuk Satheo kini menoyor kepala Alfi.
"Ish! Biarin, yang penting gue cantik, weekk!" Alfi pun berdiri dari duduknya sambil menjulurkan lidahnya.
"Lani, ikut gue bentar yuk! Satheo biarin aja sendirian." Alfi pun berjalan menghampiri Lani dan menarik Lani yang masih bingung dengan tingkah Alfi dan Satheo.
"Ehh nanti dulu ini minumannya." Lani menunjuk pada nampan yang di pegangnya. Lani pun menaruh minuman itu dulu kemudian ia mengikuti Alfi.
Alfi menarik Lani untuk mengobrol di ruangan lainnya yang berada di rumah Lani. Alfi pun hendak menjelaskan tujuannya datang ke rumah Lani ini.
"Jadi gitu, Lan. Satheo sempet nekat bunuh diri gara-gara itu cewek. Please lo bantuin gue ya supaya Satheo Bisa move on dari itu cewek." Ucap Alfi setelah bercerita tentang karangannya itu. Yap, Alfi mengarang cerita tentang Satheo agar Lani hendak menolongnya. Ia bercerita sekenanya saja, apa yang terlintas di pikirannya itu yang di ucapkannya.
"Ya ampun, kasian juga ya Satheo. Gue kira dia cowok lo, gataunya sahabat lo yang sering lo ceritain itu toh." Lani yang fokus mendengar cerita Satheo pun seperti ikut terbawa dengan suasana cerita itu.
"Lo mau ya, Lan tolongin gue. Gue harap sih lo Bisa bikin Satheo ceria lagi dan lupa sam cewek itu, lo single kan?" Mata Alfi terlihat begitu menggantungkan harapan pada Lani.
"Iyasih gue single, tapi.. Ehm okelah, lagi Satheo lumayan kok." Lani yang tadinya sempat berpikir akhirnya mengiyakannya.
Yess!! Alfi pun berlonjak girang dalam hati. Karangannya itu akhirnya mampu meluluhkan hati Lani. Tinggal Satheo, semoga saja Satheo Bisa suka dengan Lani. Pikir Alfi.
***
Hari demi haripun berlanjut, akhirnya rencana Alfi pun berhasil. Satheo dan Lani kini sudah resmi menjadi sepasang kekasih. Tak perlu waktu yang lama untuk masa penjajakan. Karena akhirnya setelah di dorong setiap hari oleh Alfi, Satheopun menyatakan perasaannya pada Lani. Meskipun perasaan Satheo belum terlalu tumbuh untuk Lani, hatinya dari kemarin hingga kini masih sama, masih tetap untuk Wulan.
Tetapi, karena kehadiran Lani yang hampir tiap hari mengisi hari-harinya, setidaknya dapat membuat Satheo tidak terlalu memusingkan permasalahannya dengan Wulan. Meskipun hingga detik ini Satheo tidak tau tentang tipudaya Alfi pada Lani.
Mobil berwarna hitam metalik milik Satheo berhenti di depan gerbang sebuah SMA yang bertuliskan SMA Lesa Niaga. Satheo pun keluar dari dalam mobilnya, matanya menyusuri setiap siswa yang keluar dari gerbang tersebut. Mencari seorang siswi yang statusnya kini menjadi kekasihnya.
"Kakak udah lama?" Suara Lani akhirnya menggema di telinga Satheo, Satheo pun menengok pada cewek yang memanggilnya Kakak ini.
"Ehm, baru nyampe kok, De." Balas Satheo sambil tersenyum dan menunjukan sederet gigi berbehelnya.
Satheo dan Lani menggunakan panggilan Kakak-Ade dalam hubungannya. Saat sedang berdiri bersama Lani, Satheo seperti teringat sesuatu.
"De, bentar yah Kakak mau beli tisyu dulu." Satheo pamit meminta ijin untuk ke warung sebentar. Lani pun mengangguk sambil tersenyum manis.
Setelah membeli tisyu, Satheo kembali ke tempat mobilnya terparkir lagi. Disitu masih terdapat Lani yang beridiri diluar mobilnya.
"Loh, kok enggak masuk?" Satheo menatap Lani lembut namun bingung melihat Lani yang masih berdiri di luar mobilnya.
"Nungguin Kakak." Balas Lani yang lagi-lagi di iringi senyuman manisnya.
"Panas yah, Kak." Lani mengipas-ngipaskan wajahnya yang penuh dengan keringat dengan tangan kanannya.
"Iyatuh, kamu sampe keringtan. Sini Kakak elapin." Satheo mengambil sebuah tisyu yang baru di belinya.
Satheopun mengusapkan tisyu itu dengan tangannya ke wajah Lani. Lani hanya tersipu malu dengan sikap Satheo yang perhatian dengannya.
Bersamaan dengan itu, sebuah motor melintas tepat di hadapan Satheo. Dan otomatis Satheo sempat melihat siapa yang berada di motor itu. Satheo terdiam sejenak melihat seorang cewek yang di bonceng di motor tersebut, dan kebetulan pula cewek itu menengok menatap Satheo. Wulan memperhatikan Satheo yang tadi sedang mengusap wajah Lani dengan tisyunya, namun Satheo yang melihat Wulan pun langsung menengok. Tepat! Mata mereka bertemu di satu titik, sempat terjadi adegan bertatapan selama beberapa detik, namun akhirnya motor yang di naiki Wulan semakin lama semakin hilang dari pandangan Satheo.
"Loh? Kakak liatin apa?" Tanya Lani bingung karena Satheo masih terlihat memandangi arah motor tersebut melaju. Tangan Satheo yang masih menempel di wajah Lani pun langsung di tarik Satheo.
"Ehh? Enggak kok, De. Tadi Kakak serasa kenal sama yang naik motor tadi." Dusta Satheo karena tak mau menyakiti hati Lani.
"Ohh yaudah, ayuk pulang, Kak." Ajak Lani. Akhirnya mereka pun memasuki mobil Satheo.
***
Wulan yang masih berada dalam boncengan motor kekasihnya itu masih terus teringat kejadian tadi. Saat ia melihat Satheo sedang bersama cewek yang tidak di kenalnya.
"Ternyata lo udah punya cewek lagi, Sat." Batin Wulan. Entah mengapa hatinya seakan tidak rela melihat itu. Padahal Wulan pun kini sedang di bonceng oleh kekasihnya. Apalgi adegan disaat mereka sempat saling memandang, entah mengapa itu terasa begitu menyakitkan untuk Wulan. Karena disitu Wulan melihat Satheo sedang bersama cewek lain.