Kini mata Wulan pun kembali menatap Alfi curiga. Berusaha membaca apa yang ada di pikiran Alfi.
"Kepo! Udah intinya gini yah, lo mau maapin gue apa kagak?!" Wajah Alfi yang tadinya lembut, kini menjadi jutek kembali. Sepertinya Alfi sangat tidak Bisa berakting sebentar saja. Bagaimana mau di maafkan jika seperti ini? Tapi, Wulan pun bukanlah orang pendendam seperti Alfi.
"Oke, gue maafin lo, tapi gue nggak Bisa maafin Satheo!"
"Lah, kok gitu? Mendingan lo gak usah maapin gue lah, lo maapinnya Satheo aja dong!"
"Kan tadi lo minta maaf, gue maafin salah! Kan yang minta maaf elo, kenapa gue harus maafin Satheo?" Wulan pun mulai kesal dengan tingkah Alfi yang malah muter-muter. Memang langka sekali manusia macam Alfi ini, gak jelas apa maunya -_-
"Yah karna, maap lo buat gue mah gak penting-penting amat. Gue juga nggak ngarep banget di maapin elo! Yang penting mah lo maapin Satheo yah??.." Wajah Alfi kini terlihat memelas pada Wulan. Sedangkan Wulan malah bingung dengan perlakuan Alfi yang nggak jelas ini.
"Berarti benerkan elo di suruh Satheo?" Wulan kembali melontarkan pertanyaan ini.
"Kan udah gue bilang! Gak usah keppo! Yaudahlah intinya lo udah maapin Satheo kan? Yuadah gue pergi, Bye.." Alfi pun pergi begitu saja dari hadapan Wulan sebelum Wulan menjawab pertanyaannya. Sebenarnya ini cara minta maaf seperti apasih? Kok kayaknya maksa banget?
***
Dengan gaya dinginnya, Refal terus berjalan menyusuri koridor sekolahnya. Tak peduli oleh desas desus siswa lainnya yang sepertinya sedang membicarakan Refal. Dan yang pasti mereka sedang membicarakan tentang hubungan Refal dengan Alfi.
Di SMA Budi Perwira ini, Refal memang cukup terkenal. Siapa yang tidak kenal Refal, yang memiliki julukan Kakak Kelas terdingin ini. Ohh iya, Refal ini sudah kelas XII, memang berbeda satu tahun dengan Alfi. No problem..
Refal melihat wajah Alfi yang Bisa terbilang lucu itu.
"Lo kok tau, Fi? Yah sebenernya mah gue udah lama suka ama Refal, geu udah mendem perasaan ini lama banget, Fi! Tapi malah elo yang jadian.." Satheo malah menanggapi ledekan Alfi yang tadi. Satheo seolah berbicara dengan gaya alay nya.
"Ya ampun, lo bakat banget jadi maho! hahaha.." Alfi tertawa puas melihat tingkah Satheo yang seperti itu. Refal pun kini tak kuasa menahan tawanya melihat tingkah Satheo.
"Nanti kalo ada IMM lo ikut, Sat! Gue yakin lo di jamin lolos!" Reza yang berada di sebelah Satheo kini menengok, tampaknya Reza juga ingin meledek Satheo.
"IMM? Apatuh?" Tanya Satheo bingung.
"Indonesia Mencari Maho." Refal yang sedari tadi diam kini menjawab pertanyaan Satheo. Menjelaskan arti dari singkatan yang di ucapkan Reza.
Reza menatap sinis kearah Refal yang menjawab singkatannya itu. Tersirat rasa tidak suka terhadap Refal dari mata Reza.
"Mau aja!" cibir Reza dengan suara pelan. Suara Reza terdengar pelan bahkan hampir tak terdengar.
Ada apa sebenarnya? Mengapa Reza bersikap demikian? Refal kan tidak pernah sekelas dengannya? Apa Reza pernah memiliki masalah pula dengan Refal?
***
Detak jantung Satheo kini berdetak begitu kencang serta tak beraturan, darahnya berdesir seiringan dengan rasa gugupnya. Dengan yakin akhirnya Satheo melangkah pada satu meja di perpustakaan.
"Wulan.." Dengan suaranya yang terdengar bergetar, kini Satheo akhirnya berani menyapa dan menghampiri Wulan.
Wulan yang tadinya sedang membaca novel di perpustakaan pun menoleh sejenak, melihat siapa yang memanggilnya itu. "Ehh, Satheo? Ada apa?" Wulan meletakan novelnya pada meja yang terdapat di hadapannya.
"Gapapa, iseng aja. Eee.. emm, lo udah nggak marah kan sama gue?" Satheo menggaruk tengguknya yang tak gatal seraya bingung harus berkata apa? Wulan tersenyum simpul pada Satheo.
"Enggak kok, woles aja kali!"
Satheo terdiam, bingung harus bicara apa? Mengapa jadi seperti ini? Padahal awal Satheo mengobrol dengan Wulan tidak gini gini amat, Satheo dengan lancar dapat mengobrol dengan Wulan. Namun, seiring berjalannya waktu, seiring dengan perasaan yang tumbuh di hati Satheo terhadap Wulan, membuat Satheo bersikap salah tingkah seperti ini.
Suasana pun hening di antara mereka, Satheo bingung harus mengobrol apa dengan Wulan. Sedang Wulan malah kembali melanjutkan membaca novelnya. Satheo merutuki dirinya sendiri mengapa otaknya tak Bisa berpikir cepat tentang apa yang harus ia lakukan saat ini?
Drrtt.. Handphone yang tergeletak di meja Wulan kini bergetar, menandakan ada sms masuk. Dengan cepat, Wulan pun melihat handphonenya.
Wulan tersenyum sekilas seketika melihat layar handphonenya. Satheo bingung mengapa Wulan tersenyum seperti itu sehabis membaca sms?
"Sat, gue duluan yaa, cowok gue ada di depan nunggu. Bye.." Wulan berdiri lalu pergi meninggalkan Satheo yang masih terpaku dengan ucapan Wulan.
Degg.. Hati Satheo seakan langsung teriris mendengarnya. Cowok gue? Astaga, secepat itukah Wulan melupakan Satheo? Secepat itukah Wulan mencari pengganti Satheo?
Seandainya Satheo tau jika dampak taruhannya dengan Wulan akan seperti ini, mungkin Satheo tak akan pernah mau memutuskan Wulan kemarin. Satheo lagi-lagi di landa penyelasan. Memang benar kini Wulan sudah tak marah lagi dengannya! Tapi bukan berarti Wulan Bisa menjadi pacarnya lagi pula.
***
Dibukanya hendel pintu sebuah rumah minimalis itu, lalu tanpa permisi Satheo langsung saja nyelonong masuk ke rumah Alfi. Di sebuah ruang tamu yang tepat akan berada di balik pintu tampak seorang gadis kecil sedang memainkan laptop Alfi.
Gadis kecil itu mendongkakan kepalanya seketika mengetahui pintu terbuka. Gadis bernama Selqa ini menatap Satheo yang berjalan santai memasuki rumahnya.
"Ka Satheo nyari Ka Alfi ya?" Selqa berjalan menghampiri Satheo.
"Selqa sok tau deh, orang Ka Satheo nyari makanan kesini." Satheo pun berdiri setengah badan menyamai Selqa yang lebih kecil darinya.
"Selqa bingung deh, Ka Satheo tuh makan terus tapi nggak gede-gede!" Ungkap Selqa jujur.
"Aih, Selqa mah begitu. Ka Satheo kelitikin nih!" Satheo mengambil ancang-ancang untuk menggelitik Selqa. Sontak Selqa pun langsung berlari menghindari Satheo.
Satheo dan Selqa terus berlarian di dalam rumah Alfi. Selqa yang terus-terusan menjerit membuat suasana rumah itu menjadi gaduh. Sedang Satheo hanya tertawa melihat jeritan gadis kecil itu.
"AAAA.. Ka Satheo udahan!" Selqa yang kini tengah memasuki kamar Alfi langsung loncat pada tempat tidur Alfi. Alfi yang tadinya sedang membaca novel sambil tengkurap pun langsung kaget seketika Selqa menjerit.
"Astagfirullah, Selqa! Satheo!" Teriak Alfi terkejut akibat ulah adik dan sahabatnya itu.
Selqa dan Satheo langsung terdiam, saling bertatapan menyalahkan. Mereka berdua persis seperti kakak beradik yang sedang di omeli ibunya, ketakutan di omelin Alfi. Berarti Alfi jadi ibunya dong.
"Ka Satheo sih!" Selqa berBisik menyalahkan Satheo.
"Yeee! Selqa duluan tuh," Satheo malah gantian menyalahkan Selqa layaknya anak kecil.
"Lo berdua apa-apaan sih? Kayak bocah tau!" Alfi menekuk kedua tangannya di depan d**a. Lalu Alfi pun kembali membanting tubuhnya asal pada tempat tidurnya lagi.
"Lah emang Selqa bocah, Ka." Celetuk Selqa asal.
"Satheo kan juga bocah Kaka.." Satheo kini ikut duduk di sebelah Alfi, Satheo berbicara dengan nada bicara seperti anak kecil.
"Najis Satheo! Ada gitu bocah gede kayak elo! Lo juga Sel! Lo tuh udah kelas 6! Masih aja bilang bocah."
"Alfi! Kalo ngomong sama anak kecil itu yang lembut, jangan pake lo gue!" Protes Satheo yang melihat Alfi berbicara dengan gaya bahasanya.
"Iya, Pak." Cibir Alfi.
"Ohh iya, Sel. Bawain laptop Kakak yang tadi Selqa pinjem gih, Kakak mau ngerjain tugas dulu." Suruh Alfi pada Selqa. Dengan gesit Selqa pun langsung berlari keluar dari kamar Alfi. Anak itu memang begitu lincah.
Alfi pun langsung menatap Satheo yang kini hanya memainkan pandangannya keseluruh sudut kamar Alfi. Seolah Bisa membaca kondisi Satheo, Alfi langsung menatap Satheo tajam.
"Lo kenapa?" Tanya Alfi langsung. Sontak Satheo pun langsung menengok.
"Hah? Kenapa apanya?" Satheo kini mengalihkan pandangannya, enggan menoleh pada Alfi. Karena jika Alfi melihat matanya pasti Alfi akan tau tentang masalahnya.
"Gak usah sok nutupin gitudeh, Sat! Gue temenan sama lo dari TK tau!"
"Iya iya gue cerita, biasalah, Fi. Wulan sih udah nggak sinis lagi ke gue, tapi dia udah punya cowok." Cerita Satheo akhirnya. Kini kepala Satheo bersandar pada bahu Alfi.