Sepuluh

1472 Words
"Fi! Jangan konyol! Apa-apaan sih lo?!" Bentak Refal yang tiba-tiba saja datang. Alfi langsung menatap Refal kesal. "Elo yang apa-apaan?! Ribet tau nggak!" Bentak Alfi tak kalah ketus. "Jangan konyol! Jaga sikap, lo! Lo masih baru disini!" "Bodoamat!" Alfi menarik tangannya yang tadi di genggam Refal. Alfi pun langsung berputar arah membelakangi Refal. Tanpa di sadari keduanya, ternyata Wulan sudah tidak ada di tempat itu. Hanya ada Refal dan Alfi disitu. Alfi yang masih kesal dengan Refal, sama sekali tak berbicara sedikitpun pada Refal. "Ambekan banget sih lo!" Refal pun langsung pergi meninggalkan Alfi sendirian. Alfi melirik sekilas pada Refal yang bejalan menuruni anak tangga. "Pergi aja lo semuanya! Biarin gue sendirian!" Kesal Alfi sambil sekilas mengingat semua kejadian yang meurutnya di sebabkan oleh Wulan. *** Berkali-kali, Alfi mengelap keringat yang mengucur di keningnya. Alfi terlihat kepanasan karena kini Alfi sedang menunggu kendaraan yang akan di naikinya untuk pulang ke rumahnya. Karena kebetulan hari ini Alfi tidak membawa mobil. "Udah kagak bawa mobil, mau naek taksi duit tinggal 5.000, punya pacar lagi ngambek, sahabat lagi pea, angkot kaga lewat-lewat! Ya ampun, lengkap banget penderitaan gue!" Dumel Alfi pada diri sendiri. Wajahnya benar-benar terlihat kesal karena sudah kepanasan, memang sepertinya Alfi sudah berdiri di depan gerbang sekolahnya itu kurang lebih selama 10 menit. Tak lama kemudian, sebuah motor ninja berwarna merah melintas tepat di hadapan Alfi. Alfi yang merasa kenal dengan orang itu langsung memicingkan matanya, memperjelas penglihatannya. Ternyata benar! Dia Refal! Huft, lewat begitu saja tanpa menoleh sedikitpun. Batin Alfi. Tak lama dari itu, sebuah mobil berwarna hitam metalik yang amat di kenali Alfi kini melintas di hadapannya. Sama hal nya dengan yang di lakukan Refal, mobil itu pun melintas begitu saja. Tanpa berhenti untuk memberi tumpangan pada Alfi. "Sahabat sama pacar sama aja! Sama-sama durhaka! Ini Refal lewat, orang berhenti dulu kek, bilang gini atuh, 'ehh Alfi, gak bawa mobil yah? Bareng aja yuk sama gue'. terus si Satheo juga samanya, orang mah kalo lewat terusada guenya disini stop dulu kek, nawarin bareng gitu, ngomong gininih 'Fi, kita kan rumahnya searah, bareng aja yuk' kan enak tuh!" Alfi mengceh panjang lebar, pertama meniru gaya bicara Refal, lalu gaya bicaranya Satheo. Tak sadar bahwa kini dirinya sedang di perhatikan oleh para siswa yang melewatinya karena sedari tadi Alfi berbicara sendiri. "Ehh! Kayak orang gila lo ngomong sendiri gitu! Galiat apatuh dari tadi orang lewat ngeliatin lo semua!" Tiba-tiba saja si pengendara motor satria-f berwarna hijau menghentikan motornya di dekat Alfi, menegur Alfi sambil sedikit terkekeh melihat Alfi yang berbicara sendiri. "Bodoamat! Mungkin gue kece makanya di liatin.." Sahut Alfi santai. Alfi pun menengok pada pengendara tersebut, ternyata dia adalah Reza. Melihat Reza, Alfi langsung tersenyum sumringah. Dengan gerakan cepat, Alfi langsung naik pada motor Reza. "Reza, anterin lagi yah." Pinta Alfi. Sebenarnya jawaban Reza itu tidak terlalu penting, toh Reza jawab iya atau tidak, Alfi akan tetap maksa untuk minta di antarkan. Buktinya, lihat saja Alfi telah duduk di jok belakang motor Reza. "Tadi aja gue gak usah berhenti, ketemu elo mah gue kayak tukang ojek!" Keluh Reza. Reza memberikan sebuah helm yang tadinya tergantung di depan untuk Alfi. Alfi hanya nyengir kuda. *** Wulan melirik sekilas pada sebuah meja yang terdapat di kamarnya. Terpajang sebuah bingkai yang terdapat foto Wulan bersama Satheo. Wulan pun meraih bingkai tersebut. Di perhatikannya foto itu dengan teliti, tangan kanannya mengusap gambaran Satheo yang ada di foto itu. Wulan memandang lirih foto tersebut. "Gue sayang sama lo! Tapi lo udah jahat sama gue!" Ucap Wulan pelan. Wulan pun mendekap foto tersebut, lalu ia merebahkan tubuhnya di tempat tidurnya. Memejamkan kelopak mata sayunya itu. Foto itu begitu erat di dekapnya, seakan takkan di lepaskannya. Meskipun Wulan sedang bersikap mengacuhkan Satheo, namun hatinya tak dapat di bohongi bahwa memang Wulan amat menyayangi Satheo. *** "Za, menurut lo gue salah nggak sih?" Alfi menoleh sekilas pada Reza, lalu mengalihkan kembali pandangannya pada laptop yang kini berada di depan matanya. "Salah banget!" Jawab Reza singkat. Alfi pun langsung menghentikan aktifitasnya yang tadinya mengerjakan tugas. "Kok gitu sih! Lo belain gue kek! Masa semuanya nyalahin gue sih?" Alfi menatap Reza kesal, saat Reza mengatakan salah. "Karena lo emang salah, nggak mungkin kan gue bilang bener kalo lo itu salah. Dengerin gue ya, Fi! Jangan egois, kalo lo nggak mau kehilangan orang yang elo sayang. Kontrol emosi lo, jangan terlalu kebawa suasana!" Alfi terdiam saat Reza mengoceh padanya. Alfi berusaha mencerna nasihat Reza tersebut. Kini, Alfi dan Reza sedang berada di rumah Alfi. Alfi meminta Reza untuk membantunya mengerjakan tugas. Untungnya, Reza yang terlalu baik itu mengiyakannya. Karena memang Reza tak Bisa menolaknya. *** Satheo terus memainkan stik play station nya, matanya begitu terfokus pada layar tv yang menampilkan permainan play station nya. Matanya sama skali tidak b*******h untuk memainkan game tersebut, entah mengapa Satheo terlihat begitu lelah dengan semuanya. "Arghh!!" Satheo membanting stik ps nya, lalu menyenderkan kepalanya pada tempat tidurnya yang kebetula ada di belakang tubuhnya. Alfi dengan santai memasuki kamar Satheo tanpa izin. Melihat Satheo terkapar tak jelas seperti itu, Alfi pun menghampirinya. Alfi terduduk di dekat Satheo. "Sat, sorry, maaf, mianhe, hampura," Ucap Alfi dengan berbagai aksen bahasanya. Satheo menoleh sekilas, melihat Alfi yang telah terduduk di sebelahnya. Satheo menatap Alfi dingin, benar-benar terlihat seperti bukan Satheo jika bersikap seperti ini. "So iye!" ketus Satheo. "Satheo udahan ahh marahannya! Oke gue tau gue salah, gue minta maaf! Gue janji deh nggak bakalan egois lagi. Terus, sekarang lo maunya apa? Bilang aja, gue janji bakal nurutin!" Wajah Alfi terlihat begitu penuh harap pada Satheo. Namun Satheo langsung menatapnya tajam. "Serius?" "Iyah!" Satheo pun tersenyum penuh arti pada Alfi. Alfi yang penasaran pun langsung menanyakannya. "Kok senyam-senyum gitusih! Kayak orang gila lo! Emang lo mau nyuruh gue ngapain?" *** Ia tersenyum sendiri jika mengingat semua tentangnya yang telah di lalui bersama Alfi. Meskipun belum lama, namun ia tampak sangat gembira. Hatinya seakan begitu damai dan tenang, atau mungkin telalu nyaman? Cinta! Satu kata yang penuh teka-teki itu, yang telah lama sudah tak di jumpainya, benarkan kini hadir kembali? Dan itu di peruntukan pada Alfi? Namun, ia pun tau bahwa Alfi baru saja jadian dengan orang lain. Namun, tak ada salahnya bukan jika ia memiliki perasaan ini? "Gue cinta ama elo, tapi gue gak mau berurusan ama dia lagi!" Desisnya. Matanya menerawang tentang kejadian dalam hidupnya, mengingat-ingat tentang seseorang yang di panggilnya dia tadi. *** Di kelas XI IPA 2, terlihat Satheo, Reza, dan Alfi sedang mengobrol bareng. Sepertinya Satheo memang sudah tidak marah dengan Alfi, namun Satheo menyuruh Alfi untuk melaksanakan sesuatu, yaitu mengakui kesalahannya di hadapan Wulan. Makanya mereka kini sedang berada di kelas Reza, yang kebetulan sekelas dengan Wulan. Namun pagi ini, sepertinya Wulan belum juga datang ke sekolah, karena sedari tadi belum terlihat. "Lama banget Wulan datengnya!" Keluh Satheo yang saat ini sedang duduk di bangku yang berada di depan tempat duduk Reza. "Nggak masuk kali.." Jawab Alfi asal, dan terdengar cuek. Mata Alfi pun melirik pada pintu kelas tersebut, dan kini ia mendapati seorang cewek yang sedari tadi di nanti Satheo itu baru saja muncul dari arah pintu. "Dateng noh.." Kepala Alfi di tenggakan dan mengarah pada Wulan, seraya menunjukan bahwa Wulan sedang berada di pintu. Satheo dan Reza pun menengok mendengarnya. "Yaudah! Cepetan sono, Fi!" Satheo mendorong tubuh Alfi yang masih duduk di bangku. "Ihh, yaudah sih nggak usah dorong-dorong!" Alfi yang merasa kesal pun langsung berdiri dan berjalan pelan menghampiri Wulan. Alfi yang tadinya sudah setengah jalan malah balik lagi ke tempat Reza dan Satheo. "Ehh, gue mendadak sakit perut.." Dengan memasang tampang melasnya, Alfi memegangi perutnya. "Nggak ada alesan! Udah cepetan sono!" Satheo lagi-lagi mendorong Alfi. Sepertinya alasan Alfi yang sudah kuno itu tak mempan untuk Satheo. Alfi pun berjalan kembali menghampiri Wulan, wajahnya masih terlihat ragu untuk meminta maaf, karena memang pasalnya, Alfi sangat enggan sekali untuk meminta maaf pada seseorang yang di bencinya. Namun ini? Yaa baiklah, demi persahabatan! Pikir Alfi. "Emm, Wu.. Wul..an.." Suara Alfi terdengar tak karuan seketika Alfi meghampiri Wulan. Wulan melirik sekilas, menatap Alfi dengan tatapan sinisnya. "Ada apa?" Tanya Wulan dingin. Mata Wulan menyelidik pada Alfi yang sepertinya ingin melakukan sesuatu padanya. "Biasa kek liatinnya, gue gak bakal ngapa-ngapain kok!" Kedua tangan Alfi di sedekapkan di depan dadanya. Wulan masih saja terus menatap Alfi seperti itu. Dari tempat duduk Reza yang berada di pojok, Reza dan Satheo terus memperhatikan Alfi yang niatnya hendak meminta maaf pada Wulan. "Liat deh, si Alfi mau minta maap apa ngajak ribut sih? Gayanya songong banget tuh anak.." Mata Reza melirik pada Alfi yang sedang berhadapan dengan Wulan. Mendengar itu Satheo hanya terkekeh pelan. "Ck! Baru tau lo kalo si Alfi songong." Tak beda dengan Reza, Satheo pun masih terus memperhatikan Alfi-Wulan. Sedangkan di tempat Alfi dan Wulan, mereka hanya berdiam diri seperti itu saja. Alfi belum juga mengucapkan sepatah katapun pada Wulan. Begitupun dengan Wulan. Segitu beratkah rasanya meminta maaf bagi Alfi? "Sorry!" Suara Alfi terdengar begitu pelan, bahkan mungkin hampir tak terdengar. Namun telinga Wulan masih Bisa menangkap apa yang di ucapkan Alfi. "Buat apa?" Tanya Wulan datar. "Buat semuanya! Gue minta maaf kalo kemaren gue udah bikin lo kesel, sakit hati, dan sebagainya. Satheo gak tau apa-apa disini, itu semua gue yang nyuruh." Ungkap Alfi akhirnya. Kalimat itu akhirnya terucap dari mulut Alfi dengan lancar.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD