Delapan

840 Words
"Hei!" Alfi nyengir kuda di depan meja kantin yang terdapat Satheo dan Reza. Reza hanya tersenyum menanggapinya, namun Satheo tak bergeming sama sekali. "Lo kenapa, Fi? Tumben cengengesan?" Tanya Reza yang melihat wajah Alfi begitu berbinar. Alfi pun tersenyum penuh arti pada Reza. "Gue udah jadian dong sama Refal!" Ungkap Alfi begitu ceria. Satheo yang tadinya tak peduli dengan Alfi, langsung menatap Alfi tajam. "Sumpah! Baru sadar gue kalo sahabat gue LICIK!!" Mata Satheo yang memerah itu terlihat kian membesar, matanya melotot begitu tajam menatap Alfi. "Maksud lo apa? Kok lo ngatain gue licik?!" Alfi yang bingung dan tidak terima itu langsung ikut menatap Satheo tajam. Meskipun Satheo tak menyebutkan nama Alfi disitu, tapi jelas sekali jika yang di maksudkannya itu Alfi. Karena mata Satheo memang langsung melotot pada Alfi. "Lo masih nanya? Gue kira lo itu pinter, Fi! Ternyata lo lebih g****k dari pada manusia i***t sekalipun!" Satheo balik melemparkan amarah kekesalannya pada Alfi. Alfi yang tidak terima di judge seperti itupun langsung emosi. Karena dia sendiri pun bingung dimana letak kesalahannya. "Ehh lo kok jadi nyolotin sih! Dan gue rasa yang i***t tuh elo! Marah-marah tanpa sebab, tau-tau diem dan sok cuek! Lu AYAN? Apa STRUK?!" Volume suara Alfi pun sudah tidak terkontrol lagi. Alfi meninggikan volume suaranya, sama seperti yang di lakukan Satheo. Kini seluruh mata yang berada di kantin pun menatap bingung pada mereka berdua. Namun Alfi dan Satheo seakan tidak peduli dengan itu. Justru malah Reza yang merasa malu karena Reza berada di meja yang sama dengan mereka, yang menjadi pusat perhatian di kantin ini. "Alfi, Satheo, STOP! Lo nggak pada malu ribut di depan umum kayak gini! Lo berdua tuh udah SMA!" Lerai Reza akhirnya, karena sudah merasa sangat risih dengan keributan mereka. Satheo pun terdiam, sama hal nya dengan Alfi. Satheo yang memang tadinya berdiri, karena emosi ribut dengan Alfi, akhirnya pergi meninggalkan kantin itu. Sedang Alfi hanya terduduk kembali, berusaha mengontrol emosinya yang tadi naik. "SATHEO PEA!! Kok gue Bisa sih punya sahabat kayak dia!!" Dumel Alfi saat Satheo telah pergi. "Satheo lagi galau, dan kesel banget sama elo!" Ucap Reza. Kesal dengan Alfi? Memang Alfi mengapa? Mengapa Satheo harus kesal dengan Alfi? Memang Alfi salah apa? Itulah yang sedari tadi terpikirkan oleh Alfi. "Kok kesel sama gue? Satheo nggak ngomong apa-apa tapinya ama gue?" "Dia nggak ngomong sama lo, karena dia kesel sama lo. Karena Wulan! Dan taruhan kalian! Gue percaya lo masih cukup pinter buat nganalisis itu semua!" Reza pun berdiri dan ikut meningalkan Alfi. Sedang Alfi? Ia terlihat berpikir keras tentang omongan Reza. Wulan dan Taruhan! Yaps! Alfi tau, mengapa Satheo sampai sekesal itu padanya. Tapi sepertinya jawaban yang di dapatny juga membuatnya kesal. Berarti, Satheo mencintai Wulan, makanya dia kesal dengan Alfi yang telah menyuruhnya untuk memutuskan Wulan demi membalaskan dendamnya! Tapi, sepertinya Alfi jauh lebih kesal. Mengapa Satheo harus mencintai Wulan? Mengapa harus Wulan? Orang yang sangat di bencinya? Padahal, masih banyak cewek cantik diluar sana selain Wulan. "Huaa!! More and more!! Always Wulan!!" Oceh Alfi kesal dengan aksen bahasa inggrisnya. "Pacarnya Refal.." Suara lembut itu tiba-tiba saja menggema di telinga Alfi. Alfi yang semula emosi langsung terkejut mendengar panggilan orang itu. Namun ia mengenal suara itu sepertinya. "Ehh?" Sahut Alfi bingung sambil menoleh pada asal suara. Seorang lelaki tersenyum manis pada Alfi sambil menunjukan sederet giginya yang rapi. Lelaki yang amat di kenalnya sekaligus di cintainya itu. "Refal, apaan sih?" Alfi pun salting saat mengetahui ternyata orang itu adalah Refal. "Kan emang bener lo pacarnya gue!" "Iyadeh! Fal, laper nih.." Alfi memegang perutnya seraya menunjukan bahwa ia lapar. Refal tersenyum melihat tingkah. "Jiah, spik minta di bayarin nih." Refal pun terduduk tepat di hadapan Alfi. Alfi hanya terkekeh. "Kan katanya gue pacarnya Refal.." Alfi tersenyum jail. Refal hanya terkekeh. Kekesalannya pada Satheo tadi seakan hilang setelah bertemu Refal. Hatinya seakan teduh kembali. Tapi, Alfi tidak sadar bahwa ada sepasang mata memperhatikannya. Menatap mereka dengan pandangan begitu benci. "Lo curang, Fi!" Umpat Satheo yang kini berada di depan perpustakaan yang lokasinya tepat berhadapan dengan kantin. *** Rembulan tampak bersinar begitu terang menerangi bumi, tak jauh bedanya dengan bintang yang bertaburan membentuk rasinya. Sungguh pemandangan langit yang indah, setidaknya seorang cewek yang kini sedang berdiri di atas beranda kamarnya terlihat lebih tenang. Alfi mendongkakan kepalanya, memperhatikan langit malam itu. Meskipun pikirannya sedang tidak tenang, namun pemandangan langit itu setidaknya dapat sedikit menenangkan hatinya. Drrttt... Handphone yang di letaknnya di sela-sela beranda kamarnya itu terlihat bergetar. Dengan segera Alfi pun mengambilnya. Di layar handphone nya tertulis jelas bahwa ada yang menghubunginya. Namun Alfi seakan enggan untuk menjawabnya. Alfi pun hanya membiarkan handphone itu terus bergetar tanpa di pencetnya sama sekali. "Sorry, Fal. Gue lagi nggak mood ngomong.." Ucap Alfi sambil melirik handphonenya. Mata Alfi kini melirik pada rumah yang cukup mewah yang tepat berada di sebelah rumahnya. Alfi menatap lirih rumah tersebut, berharap akan ada sosok sahabatnya yang akan muncul untuk sekedar mengobrol dengannya di malam hari ini. "Sat, udahan dong marahnya. Galau gue kalo marahan ama elo.." Suaranya memang terdengar pelan, namun sepertinya Alfi begitu lirih jika mengingat perkataan Satheo tadi siang. "Gara-gara cewek! Gue kira persahabatan kita nggak bakal tergoyahkan cuma gara-gara perasaan masing-masing." Lanjut Alfi. Alfipun langsung masuk kembali ke kamarnya untuk segera beristirahat. Karena memang jam pun sudah menunjukan jam 22:30.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD