Tujuh

1189 Words
Refal menghentikan langkahnya, ia menarik nafas sejenak. "Gue udah tau semuanya, jadi nggak ada yang perlu dijelasin!" Alfi menunduk lesu, melihat sikap Refal yang kembali dingin padanya. Refal pun menengok pada Alfi, matanya seolah takjub melihat diri Alfi kini. Karena sedari tadi Refal memang belum melihat Alfi. "Gue bener-bener nggak kenal elo! Elo siapa? Lo bener-bener beda!" Refal kembali menatap Alfi dengan dirinya kini. Cantik sekali memang, rambut panjang Alfi dibiarkan terurai, namun terlihat pita yang menghiasi rambutnya. Alfi tidak mengenakan make-up sedikitpun, hanya mengoleskan bedak tipis diwajah putihnya itu. "Gue bener-bener minta maaf, Fal. Ini semua permainan Satheo awalnya, tapi gue setuju. Dan akhirnya gue jatuh cinta beneran sama elo." Dari jarak yang lumayan jauh, kira-kira dua meter, mereka berinteraksi. "Gue nggak peduli itu!" Desis Refal dingin. "Wulan! Pasti lo tau dari Wulan kan? Iyakan?!" Kini Alfi mengangkat kepalanya, berteriak begitu lancang seketika ia mengingat Wulan. "Iya! Gue emang tau dari Wulan, kenapa?" Mendengar itu, Alfi seakan semakin benci terhadap Wulan. Matanya kini menatap langit disampingnya. "Wulan lagi? Kenapa sih? Kenapa selalu dia yang ngacauin hidup gue! Kenapa harus ada dia sih? Dulu, cowok gue direbut sama dia! Sekarang, orang yang gue cinta akan ngebenci gue karena dia juga. Dan gue ngeras, Satheo pun akan ngejauh dari gue gara-gara Wulan! Kenapa selalu dia sih?!" Alfi mengoceh panjang lebar tentang tentang kekesalannya pada Wulan. Matanya semakin menyimpan sebuah dendam besar pada seseorang bernama Wulan itu. Mendengar ocehan Alfi, Refal pun terdiam mendengarkan itu semua. Refal benar-benar tak menyangka bahwa Alfi dan Wulan ada masalah seperti itu. Alfi menarik panjang nafasnya, berusaha untuk tidak menangis. Meskipun mata beningnya itu sudah terlihat agak sayu, tapi Alfi tetap berusaha menahan air matanya agar tidak terjatuh. "Sebenci itukah elo sama Wulan?" Refal menatap Alfi tajam, berusaha menyelidik mata bening Alfi itu. "Bahkan lebih dari ini!" Penuturan kata Alfi barusan terdengar begitu tajam, mulutnya seakan terlalu bosan untuk membicarakan cewek yang sangat di bencinya itu. Refal tak menjawab, Refal hanya terdiam sambil menatap Alfi lebih dalam. Ia ingin meyakinkan tentang perasaannya. Benarkah rasa itu cinta! Dan jika iya, siapa yang di cintainya? Alfi yang kemarin, dengan diri palsunya yang buruk rupa? Namun berhasil mengubah sifatnya. Atau Alfi yang kini sedang ada di depan matanya? Yang begitu cantik dan simple, namun Refal tak mengenalnya. Tapi, debaran jantung Refal seakan sama seperti kemarin tatkala bersama Alfi. Dan itu berarti, Refal memang mencintai Alfi karna hatinya. Bukan karena rupa atau fisiknya, tak peduli Alfi cantik atau buruk, namun hatinya tetap tenang jika bersama Alfi. It's so sweet :D "Refal!" Panggil Alfi kemudian saat Refal masih sibuk menatap mata Alfi. Refal pun langsung salting dan berusaha bersikap seperti biasa. Refal tak menyahut, hanya saja matanya seolah berkata bahwa ia bertanya 'Kenapa?' "Gue mau jadi pacar elo!" Ungkap Alfi jujur. Tak peduli dengan sikap Refal yang sedari tadi dingin. Memang ini yang ingin di ungkapkannya sedari tadi. Refal terkekeh, mendengar kalimat Alfi tersebut. "Emang kapan gue nembak elo?" Tanya Refal dengan gaya bahasanya. "Kemaren kan!!" Alfi berbicara dengan sedikit ngotot. Refal pun seakan tak tahan menahan tawanya. Melihat bibir Alfi yang sudah maju, dan lagi wajahnya yang begitu kesal mendengar pernyataan Refal. "Yang gue tembak itu, Alfi yang pake kacamata, matanya buta sebelah, pake tongkat, rambutnya di kep.." Sambil berangan-angan menggambarkan penampilan Alfi kemarin, ucapan Refal langsung di potong oleh Alfi. "Stop! Udah gak usah di lanjutin! Penampilan gue kemaren emang mirip alien? Tapi elo kan demen." Potong Alfi. Refal pun langsung tersenyum pada Alfi. Alfi maju beberapa langkah, mendekati posisi dimana Refal berdiri. Tanpa basa-basi, tanpa ijin, tiba-tiba saja Alfi langsung memeluk Refal. Memeluk sosok lelaki itu begitu erat. Tak peduli dengan Refal yang terlihat shock saat di peluk Alfi. Begitulah Alfi! Terlalu frontal, ia akan mengatakan suka dengan apa yang benar-benar di sukanya. Karena dia tak ingin bersikap munafik. Kemunafikan hanya akan membuat batinnya tersiksa, setidaknya sikapnya seperti ini ia tidak harus berbohong untuk menutup-nutupi perasaannya. Sedang Refal, ia terlihat bingung. Haruskah Refal menuruti perasaannya? Tapi bagaimana dengan kasus di bohonginya oleg Alfi. Tapi, ini benar-benar saat yang langka di temukan di kehidupan Refal. Refal mencintai Alfi, Alfi pun mencintainya! Apa yang harus di tunggu. Cinta Refal kali ini tidak bertepuk sebelah tangan! Tidak seperti sebelumnya bukan? Setidaknya ini tak akan menyakitkan untuknya. "Bodo amat lo mau ngomong apa kek? Yang penting, judulnya gue mau jadi pacar lo!" Ucap Alfi di pelukan Refal. Ucapan itu memang terdengar begitu memaksa. Refal pun lagi-lagi terkekeh oleh omongan yang di lontarkan cewek yang berada di pelukannya ini. Perlahan, kedua tangan Refal menggapan pinggang Alfi. Refal pun membalas pelukan Alfi. Alfi yang merasa Refal membalas pelukannya pun langsung tersenyum bahagia dalam hatinya. *** Dentuman bunyi detak jarum jam terdengar begitu lambat di telinga Satheo. Teriakan seorang guru yang sudah lelah menjelaskan pun seakan tak terdengar oleh Satheo. Pandangannya kini hanya tertuju pada satu arah! Jam dinding yang ada di depan kelasnya. Satheo terus memperhatikan jam itu. Berharap jarum jam tersebut cepat-cepat menujuk angka sepuluh, tepat waktu jam istirahat pertama. Alfi yang duduk tepat sebangku dengan Satheo pun bingung, mengapa sedari tadi Satheo seperti melamun dan tak peduli sekitar. Matanya seolah kosong, seperti tak bernyawa. Alfi pun menjadi merinding melihatnya. Kringg... Waktu yang di tunggu-tunggu Satheo pun akhirnya tiba. Bel istirahatpun barusan di kumandangkankan. Satheo pun langsung bernafas lega dan dengan cepat langsung berdiri. "Mau kemana?" Tanya Alfi saat Satheo hendak berjalan keluar kelas. "Kepo!" Balas Satheo singkat lalu melanjutkan jalannya. Alfi pun bingung sendiri melihat tingkah Satheo. Mengapa hari ini benar-benar aneh? Tadi pagi Refal sempat bersikap dingin padanya? Namun semua itu sirna saat Alfi yang dengan frontal mengungkapkan apa yang di rasakannya. Mereka pun kini sudah resmi menjadi sepasang kekasih. Namun kini? Malah Satheo? Sahabat Alfi! Yang berubah sikap menjadi begitu ketus dan aneh. Alfi pun semakin bingung dengan keadaannya kini. Sebenarnya ada apa? What happen? *** Di depan sebuah kelas, Satheo terlihat berdiri mematung di dekat pintu kelas tersebut. Sepertinya Satheo sedang menunggu seseorang yang berada di kelas itu. Tak lama kemudian, beberapa siswa berduyun-duyun keluar dari kelas itu, kelas yang bertuliskan XI-IPA 3. Satheo memutar bola matanya, meneliti satu persatu siswa yang melintas di hadapannya. Matanya pun berbinar ketika ia melihat orang yang di carinya itu. "Wulan!" Tangan kekar Satheo, menarik lembut tangan Wulan. Wulan mendengus kesal, saat mendengar suara serak yang amat di kenalnya itu barusan terdengar begitu jelas di telinganya. "Lepasin!" Ucap Wulan ketus, matanya memandang lekat pada tangan Satheo yang masih menggenggam tangan kanannya. "Nggak akan! Sebelum lo dengerin penjelasan gue!" Satheo semakin mempererat genggaman tangannya. Dengan kasar, Wulan pun langsung menarik tangannya. "GAK USAH SOK DRAMATIS!" Bentak Wulan begitu ketus dan kencang. Di tariknya tangan Wulan yang sedari tadi di genggam Satheo dengan kasar. Lalu Wulan pun pergi meninggalkan Satheo yang masih mematung pada posisinya, memperhatikan Wulan yang sudah berjalan menjauh darinya. Satheo terdiam, meresapi setiap kata yang tadi di ucapkan oleh Wulan. Terdengar begitu singkat memang, namun nada bicaranya amatlah ketus, bahkan terdengar begitu benci. Satheo pun menunduk, matanya terlihat begitu menyesal karena telah menuruti Alfi untuk mempermainkan Wulan. Sampai Satheo tak sadar bahwa ternyata Satheo memang sungguhan mencintai Wulan. "Heh! Ngapain lo majang tampang melas gitu, di depan pintu kelas gue!" Reza menepuk bahu Satheo yang kebetulan masih mematung di depan kelas Wulan, yang tepat sekelas dengan Reza. "Gapapa.." Jawab Satheo singkat dengan wajah tak bersemangatnya. "Sepertinya Anda galau." Reza berbicara dengan bahasa formalnya. Terkesan lucu memang, namun Satheo tak tertawa sedikitpun, bahkan tersenyumpun enggan. ***
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD