"Kalo dia mau nembak lo, lo harus rekam pake ini!" Suara Satheo serasa terdengar dipikiran Alfi. Alfi pun langsung menengok kebawah, kearah tangannya.
Citt.. Alfi memencet sebuah alat perekam suara. Alat itu diberikan oleh Satheo karena untuk merekam suara pernyataan cinta Refal. Namun, memangnya sekarang Refal akan menyatakan cintanya? Jika di pikir menggunakan logika memang sepertinya tidak mungkin, tapi hati Alfi terasa begitu yakin.
"Gue nggak tau harus nyusun kalimatnya gimana. Yang jelas, gue sayang sama elo, Fi! I Think I Heart You.." Ungkap Refal terlihat begitu tulus. Mata sipitnya itu kini menatap lekat mata bening Alfi meskipun yang sebelahnya tertutup soflen.
"Meskipun gue baru kenal elo, tapi gue ngerasa lo itu bener-bener beda dari mereka." Lanjut Refal. Alfi terlihat begitu tersipu malu. Ingin rasanya Alfi mengatakan iya saat ini juga, tapi Alfi sudah bertekad pada dirinya sendiri akan menjawabnya keesokan harinya, ia ingin menjawabnya dengan menggunakan dirinya yang sebetulnya. Karena besok Alfi tidak akan berdandan seperti ini lagi.
"Beda? Jelas aku beda, aku cacat, mereka enggak." Alfi merendahkan diri palsunya itu. Refal tersenyum manis. Senyum itu, belakangan ini memang selalu muncul jika Refal sedang bersama Alfi.
"Bukan itu yang gue maksud, yang jelas dimata gue elo terlalu sempurna." Ungkap Refal lagi. Alfi pun kini tersenyum manis pada Refal. Mata indahny itu kini berusaha menatap Refal.
"Aku nggak Bisa jawab sekarang." Ucapnya lembut.
Refal mengangguk paham, lalu tangan kanannya itu mengusap sebagian rambut Alfi.
"Lo Bisa jawab kapan aja kok." Senyuman yang begitu manis lagi-lagi kini dilontarkan pada Alfi. Bisa-Bisa Alfi diabetes kalo melihat Refal seperti ini terus.
***
Dikemudikannya mobil berwarna hitam metalik itu dengan kecepatan sedang. Si pengendara terlihat sedang banyak pikiran, benar-benar terlihat dari matanya itu. Namun ia berusaha tetap konsen dalam menyetir mobilnya. Disebelahnya, terdapat seorang gadis yang sibuk memutar rekaman suara pernyataan cinta dari Refal. Yah, itulah Alfi dan Satheo.
Alfi tampak begitu senag dan bangga dengan hasilnya itu. Satheo yang merasa bosan karena sedari tadi rekaman itu terus di putar-putarnya langsung menoleh pada Alfi.
"Berisik, Fi! Matiin!" Omel Satheo ketus. Alfi pun langsung menoleh kaget.
"Apaan sih lo, Sat? Ngomel-ngomel gitu!" Balas Alfi yang juga kesal.
"Lagian lo berisik!" Bentak Satheo lagi. Alfi pun langsung terdiam saat Satheo berkata seperti itu.
Sebenarnya ada apa dengan Satheo? Padahal hari inikan hari terakhir taruhannya? Satheo hanya perlu membuat Wulan sakit hati. Tapi, segampang itukah bagi Satheo. Gampang memang jika Satheo tak mempunyai perasaan apapun pada Wulan. Hey! Berarti? Satheo pun mulai mecintai Wulan? Yaps, rasanya memang begitu. Jika tidak, Satheo tak mungkin terlihat seperti ini.
***
"Kita putus!" Suara pelan itu tampak seperti guntur yang menggelegar dihati Wulan. Telinga Wulan langsung mengaung seperti suara di dalam sebuah goa. Mata Wulan seakan kabur pandangannya. Dadanya pun seakan sesak tatkala mendengar itu. Tenggerokongnya sangat terkecat.
Kacau! Yang jelas keadaan Wulan begitu kacau saat mendengar dua kata itu. Ia tak percaya Satheo akan berkata seperti itu. Wulan menyangka, Satheo menyuruhnya ke cafe ini hanya untuk dinner biasa. Tapi ini?
"Ke.. kenapa? Emang gue ada salah sama lo?" Tanya Wulan dengan mata berkaca. Satheo yang tak mampu mengucapkan kata-kata lagi pun masih terdiam pada posisinya. Ia tak berani menatap Wulan, lebih tepatnya ia tak tega melihat Wulan hancur.
"Lo nggak salah sama Satheo! Tapi lo salahnya sama gue!" Denga tiba-tiba, Alfi datang dan ikut gabung di bangku mereka. Wulan langsung menoleh dan melihat Alfi tak percaya. Wulan mengenalnya rasanya.
"Masih inget guekan?" Dengan wajah cantiknya, Alfi bertanya. Memang saat ini ia sudah tidak harus berdandan seperti orang cacat lagi.
"Elo! Elo Alfia, iya elo Alfia! Mantannya Rian!" Ucap Wulan saat melihat Alfi. Alfi tersenyum licik saat mendengar Wulan menjawab seperti itu.
"Elo bener, Cantik! Gue emang mantannya Rian! Dan gue PUTUS SAMA RIAN GARA-GARA ELO!" Telonjuk Alfi langsung menunjuk Wulan dengan matanya yang melotot. Wulan pun langsung terkejut, dan kemudian matanya langsung mengarah pada Satheo.
"Terus? Apa hubungannya sama gue dan Satheo?" Tanya Wulan masih tak mengerti.
"Ohh iya, gue belom jelasin. Kenalin, gue Alfia Septiani, sahabatnya Wulan. Kemaren lo liat kan, di sekolah ada murid baru. Itu gue loh, gue ini lagi taruhan sama Satheo. Dan elo itu bahan taruhannya!" Alfi lagi-lagi menunjuk Wulan. Ia menjelaskan semuanya pada Wulan.
Degg.. Hati Wulan benar-benar hancur rasanya seketika mendengar itu. Nyatakah ini? Benarkah ini semua? Mungkinkah ini hanya mimpi? Atau ilusi semata Wulan? d**a Wulan benar-benar terasa sesak saat meyadari ini benar-benar nyata. This is real! Not dream!
"Jahat! Lo berdua jahat!" Wulan menunduk sambil menggelengkan kepalanya tak percaya.
"Sejahat-jahatnya kita, LO LEBIH JAHAT BUAT GUE!" Suara Alfi semakin lama semakin kencang.
"Lo yang jahat, Alfia! Jangan bilang lo juga maenin Refal! Gue denger lo di sekolah kan ngedeketin Refal!"
"Tau apa lo tentang gue sama Refal! Lo nggak ada hubungannya ya!"
"Sumpah demi apapun lo berdua bener-bener jahat!" Wulan pun berdiri dan langsung pergi meninggalkan Satheo dan Alfi.
Alfi tersenyum puas saat melihat wajah Wulan yang begitu kecewa. Namun Satheo? Sedari tadi Satheo hanya diam. Ia tak bersuara sedikitpun. Tampaknya ia tidak rela dengan keputusannya sendiri itu.
"Sat, lo kenapa? Kok diem aja?" Tanya Alfi bingung karena sedari tadi Satheo enggan bicara.
"Nggak papa kok," Jawab Satheo singkat sambil tersenyum.
"Ohh iya, jadi besok si Reza nraktir kita kan di kantin, yeye horee.." Alfi terliha girang dan bersemangat. Namun Satheo tak menghiraukan ucapan Alfi. Satheo masih pada posisinya, matanya benar-benar terlihat kacau.
***
Alfi turun dari mobil honda jazz berwarna merah miliknya itu. Kini ia sudah tidak perlu berdandan ala manusia antah berantah seperti kemarin lagi. Alfi-pun kini sudah mulai mengenakan mobilnya sendiri, ia sudah tidak perlu menebeng pada mobil Satheo lagi.
Dari parkiran, hingga kini sudah sampai ke koridor sekolah, seluruh mata tak lepas memandangnya. Dari ujung kepala hingga ujung kaki Alfi begitu diperhatikan mereka. Alfi hanya tersenyum menanggapinya.
"Hey," Sapa Alfi pada ketiga perempuan yang sedari tadi memperhatikannya juga.
"Hey juga, elo! Siapa yah?" Tanya salah satu dari mereka.
"Nggak inget gue, Desi, Niken, Lina?" Alfi menyebutkan satu-satu nama dari mereka. Mereka, yang waktu itu sempat menghina Alfi.
"Lo kok kenal kita?" Lina bingung saat Alfi menyebutkan namanya.
"Gue Alfi, Alfia Septiani, masa lupa?" Alfi pun langsung pergi meninggalkan mereka yang bengong tak percaya.
Mereka saling bertanya satu sama lain, benarkah itu Alfi? Itulah yang di pertanyakan mereka. Alfi pun tersenyum bangga, makanya jadi orang jangan saling menghina! Batin Alfi.
***
Di dalam kelasnya, Satheo hanya diam sendirian. Dari semalam ia tampak melamun sendiri. Pikirannya masih benar-benar tertuju pada kejadian semalam. Kejadian saat saat dirinya putus dengan Wulan. Sepertinya Satheo memang benar-benar tidak rela, lebih tepatnya sangat tidak rela.
"Mang Bro, ngapain ngelamun aja?" Suara itu tiba-tiba mengagetkan Satheo dari lamunannya. Satheo menoleh sejenak.
"Elo, Za! Gue kira siapa?" Jawab Satheo datar.
"Ehh, Sat. Sepanjang koridor nih, dari ujung ke ujung, orang pada ngomongin si Alfi semua loh. Anaknya kemanain tuh sekarang?" Reza pun terduduk disebelah Satheo. Satheo menggeleng sambil mengangkat bahunya pertanda tidak tahu.
***
Kaki Alfi langsung megantarkan dirinya pada sebuah tempat yang sangat bersejarah pada dirinya. Alfi tersenyum sumringah saat melihat seorang yang sudah menjadi peghuni tempat itu kini sedang berdiri sendirian membelakanginya.
"Ngapain kesini? Udah puas jadiin gue bahan taruhan!" Refal berkata dengan nada yang begitu sinis. Alfi langsung terkejut mendengarnya. Refal mengetahuinya ternyata.
"Elo? Kok tau?" Alfi melangkah takut mendekati Refal.
"Gue nggak kenal lo siapa? Alfi gue bukan kayak gini!" Refal pun langsung pergi meninggalkan Alfi.
"Refal tunggu! Gue bener-bener nggak maksud! Gue tau gue salah, tapi gue Bisa jelasin semuanya!"
Refal menghentikan langkahnya, ia menarik nafas sejenak. "Gue udah tau semuanya, jadi nggak ada yang perlu di jelasin!"