Didalam kamarnya, Wulan tersenyum sendiri layaknya orang gila. Diangkatnya kaki belakangnya itu seperti MV Bunga Citra Lestari yang pernah muda. Wulan tersenyum jika mengingat kejadiannya dengan Satheo. Begitu indah memang, Satheo! Lelaki yang sudah lama di ketahuinya, namun baru dikenalnya, dan kini berstatus sebagai pacarnya. Huft, terasa seperti mimpi bagi Wulan. Seorang Satheo Karisma, anak pemilik yayasan Budi Perwira, yang ganteng, keren, pintar. Seperti mendapat durian runtuh! Itula yang dipikirka Wulan.
Tapi, rasanya Wulan mmang benar-benar jatuh cinta pada Satheo. Satheo selalu berhasil membuatnya tersenyum bahkan tertawa. Serta Satheopun dengan setia mengusap air matanya saat Wulan bersedih mengingat kedua orang tuanya yang sudah meninggalkannya duluan. Satheo selalu ada untuknya, itulah yang dipikirkannya.
"I Love you, Satheo Karisma!" Gumam Wulan sambil tersenyum begitu senang.
Wulan merasa memang dirinya kini benar-benar mencintai Satheo. Tapi, akan jadi seperti apakah nantinya Wulan saat tau Satheo hanya mempermainkannya. Wulan yang kini terlalu mencintainya, yang telah merubah sifatnya demi Satheo. Nanti akan disakiti oleh Satheo? Ommo! Akan jadi seperti apa hati Wulan? Akan hancurkah berkeping-keping? Atau akan menimbulkan dendam pada Satheo?
***
Angin berhembus melewati sebuah taman yang begitu indah. Di sore hari ini, angin itu terasa begitu kencang. Rumput, daun, dan pepohonan terdengar begitu bergemuruh karena tertiup angin. Angin itupun melewati Alfi dan Refal pula yang sedang terduduk diatas rumput ditaman tersebut.
Tak ada percakapan antara mereka, hanya sepi yang menjadi baground diantara mereka. Hening! Itulah keadaannya. Mereka sibuk dengan kesibukannya masing-masing. Refal tak tau kenapa sepulang sekolah mengajak Alfi ketaman ini. Masih dengan mengenakan seragam sekolahnya, mereka terduduk tenang diatas rerumputan nan hijau itu.
Dikorek- koreknya tanah dibalik rerumputan. Alfi begitu serius mengorek tanah itu dengan menggunakan sebuah sumpit. Terlihat kurang kerjaan memang, tapi Alfi tampak begitu asik dengan permainannya itu.
Sedang Refal? Refal sibuk dengan aktifitas melamunnya. Refal menatap kosong dengan pandangan lurus kedepan. Sejenak ia melihat Alfi yang masih sibuk dengan aktifitasnya. Ia terkekeh ketika menyaksikan Alfi mengorek-ngorek tanah.
"Kurang kerjaan deh lo!" Refal memperhatikan Alfi yang masih mengorek tanah tersebut. Alfi menoleh sejenak pada Refal.
"Seru tau!" Ucap Alfi antusias, kemudian ia kembali mengorek tanah tersebut.
Tak lama kemudian, wajah Alfi terlihat gembira dengan apa yang di dapatnya. Ia mengangkat sumpit itu dari dalam tanah, dan terlihatlah seekor binata kecil menempel disumpit tersebut.
"Fal, liat deh." Alfi menunjukan hasil pekerjaannya pada Refal. Alf menyodorkan sebuah sumpit dengan cacing yang menempel disitu.
"Fi! Jauhin itu gue bilang! Jauhin, Fi!" Refal berteriak begitu antusias ketakutan. Refal menyeret tubuhnya mundur kebelakang. Alfi melongo saat melihat Refal ketakutan dengan binatang kecil yang didapatnya tadi.
"Kamu takut?" Tanya Alfi sambil terkekeh geli dalam hatinya.
"Gue bilang jauhin!" Refal semakin berteriak histeris saat Alfi mendekatinya sambil membawa cacing itu.
"Ehh, ii..iiya aku jauhin!" Alfi pun melempar sumpit itu. Alfi menahan tawanya melihat wajah Refal yang begitu ketakutan.
Refal? Lelaki yang dikenalnya begitu cuek dan dingin, tenyata takut dengan binatang sekecil cacing? Haha! Alfi terus tertawa dalam hati. Ia tak kuasa menahan tawanya itu. Namun tidak enak juga jika ia harus tertawa didepan Refal nya.
***
"Haha, masa yah, Sat! Refal tuh takut tau ama cacing!" Cerita Alfi di dalam kamar Satheo. Satheopun ikut tertawa menanggapinya.
"Cius, Fi? Hahahaha! Masa manusia dingin begitu takutnya ama cacing?" Tawa Satheo pun ikut memecah suasana.
"Alay lo, Sat, Cius cius!" Alfi terdengar tidak suka saat Satheo berkata seperti anak alay itu.
"Hehe suka suki dong, gue suka kok elo keki."
"Yee! Alay tau!"
Dikamar Satheo juga ada Reza yang tampak asik dengan tablet milik Satheo. Ia sibuk sendiri dengan aktifitasnya. Namun Reza juga mendengar apa yang dibicarakan Satheo-Alfi.
"Za, kok lo gak ketawa sih! Padahal lucu tau Refal takut cacing?" Tanya Alfi dengan tampang polosnya.
"Pengen banget emang gue ketawa?" Saut Reza sambil terkekeh geli.
"Tau Alfi apaan sih? Masa orang kagak mau ketawa ditanyain?" Satheo menoyor kepala Alfi pelan. Namun Alfi tampak kesal dan langsung membalasnya.
"Satheo kurang ngajar! Yah kali aja gitu!" Tangan Alfi pun langsung mengenai kepala Satheo.
"Lagian apa yang mau di ketawain? Biasa aja kali, Refal takut ama cacing? Nggak menarik!" Ketus Reza. Alfi cuma cemberut melihat Reza yang begitu ketus.
"Ohh iya, Fi? Motiv lo nyuruh gue modusin Wulan apasih? Kayaknya lo kok dendam gimana gitu ama Wulan?" Satheo mengambil sebuah keripik kentang yang berada ditangan Alfi.
"Mau tau banget?" Goda Alfi dengan gaya bicaranya.
"Aish, Fi! Bener tuh kata Satheo. Lo kenapa sih ama Wulan? Menurut gue Wulan kan nggak pernah jahat sama lo?" Kini Reza ikut bergabung naik keatas tempat tidur Satheo, kemudian meletakan tablet Satheo diatas meja yang tersedia disitu.
"Ish, lo berdua kenapa jadi pada kepo gini sih?"
"Alfi! Udah cepetan gece bilang! Kenapa? Why? Kunaon? Waeyo?" Satheo berbicara dengan macam-macam Bahasa. Alfi pun tersenyum misterius.
"Karna gue benci sama Wulan! Lo bilang apa, Za? Wulan nggak pernah jahat sama gue? Lo salah! WULAN DENGAN SEENAKNYA NGEREBUT RIAN DARI GUE, DAN TERNYATA DIA CUMA MAENIN RIAN! Kan nyolot! Baru tau gue, masih ada manusia kayak gitu!" Alfi berbicara dengan nada sedikit kencang. Ia terlihat tampak begitu benci dengan Wulan.
"Jadi karna itu?" Satheo terlihat bengong saat melihat Alfi yang menyimpan dendam begitu dalam pada Wulan.
"Iyah, makanya lo bantuin gue ya, Sat!"
"Siap, besok kan hari terakhir! Kalo lo kalah lo nraktir gue kan?"
"Kalo gue Bisa, elo Bisa, siapa yang neraktir?" Tanya Alfi bingung. Namun tatapan mereka berdua tampak tertuju pada satu arah. Alfi dan Satheo tersenyum jail seperti ada yang di rencanakan.
"Reza!" Ucap Alfi dan Satheo kompak. Reza pun jadi bingung sendiri melihat kelakuan kedua temannya itu.
"Ehh kok gue? Gue neraktir lo berdua gitu! Kagak-Kagak! Gue kan nggak ngikut!" Tolak Reza karena merasa dirinya memang tidak ikut-ikutan.
Satheo dan Alfi hanya terkekeh melihat reaksi Reza.
***
Dihari minggu yang cerah ini, terlihat Alfi sedang menunggu seseorang diatas gedung sekolah. Memang hari ini hari minggu, tapi entah mengapa Refal malah mengajaknya ketemuan. Mungkinkah Refal akan..?? Ahh masa iya? Masa iya Refal suka dengan Alfi? Padahal kan jelas-jelas Alfi melihat bahwa foto pacarnya Refal itu cantik banget? Sedang Alfi? Alfi memang cantik, tapi Satheo kan sudah merombaknya hingga menjadi buruk seperti ini?
Refal yang baru datang pun langsung menghampiri Alfi. Refal tersenyum sekilas saat melihat Alfi telah menunggunya. Alfi pun menengok ketika mengetahui Refal datang.
"Ada apa?" Tanya Alfi langsung.
"Gue mau ngomong sama elo." Jawab Refal singkat.
Degg.. Jantung Alfi seakan berdetak begitu kencang mendengarnya. Mungkinkah ini? Mungkinkah dihari terakhir tantangannya Refal akan menyatakan cintanya pada Alfi? Tapi benarkah itu?