Tak terasa hari ini adalah hari keempat tantangan Alfi-Satheo. Satheo sih sudah lumayan pendekatannya dengan Wulan. Malah kabarnya, mereka telah jadian. Dan hebatnya lagi, Satheo mampu menyuruh Wulan untuk memutuskan semua pacarnya. Huft, pake pelet apa ya kira-kira Satheo? Pelet makanan ikan kali ya?
Sedangkan Alfi? Masih seperti itu saja. Sulit sekali katanya untuk menaklukan Refal. Namun sejauh ini, sikap Refal sudah agak mendingan dengannya. Refal kini menjawab ketika Alfi bertanya atau berbicara. Yah, meskipun jawabannya singkat dan dingin. Setidaknya itu telah menunjukan perkembangan.
Ditatapnya lekat layar laptopnya itu. Ia tersenyum tipis saat melihat sebuah foto yang terpampang di layar monitor laptopnya. Terlihat dua orang remaja saling bergandengan dan tersenyum ceria di poto tersebut. Manusia yang tak pernah terlihat tersenyum itu kini ia tersenyum sendiri melihat fotonya itu.
Alfi yang baru datang dan berdiri ditangga pun langsung diam seketika melihat Refal tersenyum. Alfi memandang lekat seolah tak percaya dengan apa yang di lihatnya. Seseorang yang biasa dipanggil manusia es batu itu kini sedang tersenyum. Begitu manis memang, hingga Alfi sampai terkesima seperti itu.
Merasa ditatap seperti itu oleh Alfi, Refal pun menengok sekilas. Ia terkekeh melihat Alfi menatapnya sampai seperti itu.
"Biasa dong liatinnya." Ucap Refal geli. Alfi yang mendengar itupun langsung salah tingkah, ia menggaruk tengguknya bingung sambil tersenyum tidak jelas.
"Ehh, hehe. Gu..e.. ehh aku maksudnya cuma nggak biasa aja liat kamu senyum gitu." Jawab Alfi gelagapan. Ia seakan terkecoh dengan penggunaan bahasanya itu.
Refal tak mempedulikan jawaban Alfi. Ia kembali menatap monitor laptopnya itu. Alfi yang penasaran pun langsung berjalan menghampiri Refal yang sedang duduk ngedeprok diatas gedung sekolah itu, tempat biasa Refal merenung sendirian.
"Dia siapa?" Seolah ingin begitu tau, Alfi langsung to the point saat melihat foto Refal bersama cewek disebelahnya itu.
"Cewek gue." Jawab Refal singkat. Alfi mengerutkan kening seakan tidak mengerti dan tidak percaya.
Emang ada cewek yang mau sama manusia es batu ini? Pikir Alfi ngaco.
"Tapi udah nggak ada, dia udah pergi jauh. Setelah puas nyakitin gue!" Entah setan apa yang memasuki Refal, kini Refal mulai bercerita tentang kepribadiannya dengan Alfi.
"Nyakitin? Maksudnya?" Tanya Alfi tak mengerti. Memang tersimpan tanda tanya yang besar dibenak Alfi saat melihat foto itu. Alfi merasa, cewek itu adalah sebab dibalik sikap dingin Refal selama ini.
"Dia itu cewek yang terlalu baik, sekaligus jahat buat gue." Lagi-lagi Alfi semakin dibuat bingung oleh perkataan Refal yang begitu misterius. Mana Refal bicaranya nggak sekalian lagi.
"Aku nggak ngerti, kamu ngomongnya putus putus sih, coba jelasin yang panjang sekalian." Ungkap Alfi jujur karena memang ia tak mengerti dengan istilah istilah Refal itu.
"Nama dia Fika, dia pacar gue. Tapi udah meninggal, dia itu baik banget, dia rela ngorbanin perasaannya demi ngeliat gue bahagia. Tapi dia juga jahat, karena dia nggak pernah ngomong kalo dia itu nggak perna cinta sama gue. Orang yang di cintainya bukan gue, dan dia bilang itu diakhir hayatnya. Tapi gue nggak Bisa benci sama dia, sejahat apapun dia. Justru gue malah benci diri gue sendiri, kenapa gue nggak pernah peka sama hal itu!" Jelas Refal panjang. Alfi melongo mendengarkan kisah Refal itu. Jadi benar, cewek inilah penyebabnya. Cewek itu membuat Refal membenci dirinya sendiri sehingga ia menjadi seperti ini.
"Kamu nggak pernah cerita ini sama siapapun?" Tanya Alfi ketika Refal selesai bercerita. Refal menggeleng pelan tanpa menjawab.
"Kenapa kamu ceritanya sama aku, aku kan baru kenal kamu?" Tanya Alfi lagi. Refal langsung menatap Alfi lekat. Dipandanginya gadis yang baru dikenalnya itu. Memang jika dilihat dari penampilan fisik Alfi tidak sempurna. Tapi Refal melihat ada sesuatu yang beda dalam diri Alfi.
"Karena gue percaya sama lo. Lo nggak kayak mereka yang di luar sana, lo beda!" Suara Refal terdengar begitu pelan. Tapi memang Refal tidak pernah berbicara kencang.
"Beda? Aku kan sama aja sama mereka, sama sama manusia. Yah, emang aku beda. Aku kan cacat!" Alfi berusaha merenahkan diri palsunya itu.
"Cacat fisik bukan berarti cacat hati! Lo lebih sempurna dari mereka!"
***
Sebuah motor satria-f berwarna hijau berhenti di depan sebuah rumah yang bisa terbilang cukup mewah. Seorang gadis yang dibonceng dimotor itupun turun. Ia melepaskan helm yang tadi dipakainya, dan memberikannya pada si pengendara motor.
"Makasih ya, Za." Alfi tersenyum ramah pada Reza, yang belakangan ini setia mengantar jemputnya kesekolah selagi Satheo sibuk dengan urusannya.
"Sama-sama." Reza pun membalas senyuman Alfi.
"Asikk, tukang ojek baru nih, Fi?" Suara serak itu muncul dari atas rumah disebelah Alfi. Alfi yang mengenali suara itu hanya terkekeh.
"Haha, iyedong. Abis supir gue lagi sibuk katanya." Alfi berbicara berusaha meyindir Satheo dengan mengatainya supir. Satheo yang lagi memakan pilus pun langsung melemparkan pilusnya kearah Alfi.
Plukk!! Pilus itu tepat mengenai kepala Reza. Reza pun mengusap kepalanya yang terkena pilus lemparan Satheo. Reza langsung menatap ketas rumah Satheo, dan disitu ada Satheo yang tersenyum jail di balkon kamarnya.
"Sorry, Za. Gue mau lemparnya ke Alfi. Ehh kenanya elo! Kabur ahh.." Satheo pun langsung pergi dari balkon kamarnya setelah melempar pilus pada Reza. Reza hanya merunggut sebal sambil tersenyum sabar.
"Satheo emang sialan!" Gerutu Reza. Alfi hanya terkekeh melihatnya.
"Sarap ini itu anak mah!"
"Satheo sarap elo apa?"
"Ayan dong gue mah, haha! Udah pulang lo sono. Udah sore!" Alfi pun pergi meninggalkan Reza dan hendak memasuki pagar rumahnya.
"Aish, gue udah nganterin bukan tawarin masuk gitu yah, malah di usir." Komentar Reza sambil cemberut melas.
"Haha, kapan-kapan aja ya, Za mampirnya." Alfi pun tersenyum jail pada Reza. Reza pun membalas senyumannya.
Motor Reza pun melesat meninggalkan rumah Alfi. Semakin lama motor itu semakin menjauh dari rumah Alfi. Reza memang Bisa terbilang rajin karena mau menjadi tukang ojek Alfi belakangan ini.
***