8

7482 Words
Alana menarik napas, membuangnya perlahan. Menghitung domba di kebun rumah masa kecil ayahnya dulu, kemudian menghela napas, lagi. Entah, asalkan dia tetap tenang dan terkendali dengan baik. Matanya melirik Akira yang tertidur pulas di atas ranjang. Seperti anak berusia lima tahun yang terbangun karena mimpi buruk, begitulah Akira. Dia tidak mau melepas dirinya pergi, Alana melirik jam di ponselnya. Pukul dua belas malam. "Mati aku," bisiknya. Alana mendapati ponselnya bergetar. Dari ibunya. Dia menarik napas, membuangnya. Terlalu gugup. Dia berdeham pelan, berusaha agar Akira tidak bangun. "Ya, ibu?" "Ya Tuhan, Alana! Kau lupa pulang?" Alana menggigit bibirnya. Dia berdiri di depan pintu kamar mandi Akira dan menggeleng. "Tidak, aku ada di rumah bosku." Suara terkejut memekik dari sana. Alana menutup matanya, membayangkan pikiran ibunya yang melanglang-buana ke arah negatif. "Tidak, ibu tenang saja. Ini tidak seperti itu," "Apa urusan pekerjaan? Demi Tuhan, ini diluar jam kantor dan dia masih menyiksamu dengan pekerjaan tak jelas itu?" Alana mendesah panjang. "Aku akan pulang. Sebentar lagi, tolong, jangan khawatir," "Oke, berikan alamat rumah bosmu. Ibu akan menyuruh seseorang mengawal mobilmu ke rumah," Alana melotot. Dia mendesis dengan u*****n pelan. "Tidak perlu, oke?" "Alana!" Sambungan telepon terputus. Alana bergumam maaf berulang kali di dalam hatinya ketika dia kembali ke tepi ranjang, duduk di hadapan Akira yang tertidur pulas. Helaan napasnya memberat. Alana menerawang menatap langit kamar yang bersih. "Aku seperti kekasihnya dan bukan sekretarisnya," dia bergumam pendek. Mungkin ini alasan Akira tidak mau melepasnya pergi. Karena Alana akan selalu ada di saat-saat terendahnya. Seperti saat ini, ketika dia terluka dan butuh orang lain, Alana selalu ada untuknya. Mungkin menggantikan peran  Oki yang dulu sempat mengisi peran itu di hidup Akira kecil. Akira tidak jatuh cinta padanya, tapi rasa ketergantungan karena mereka sudah bersama ada. Dan membekas. Alana mungkin tidak apa jika Akira pergi dari hidupnya, tapi tidak dengan pria itu. Saat mereka di Osaka, Akira tinggal di rumah kayu bersamanya. Rumah kecil yang kosong yang ditinggali pemiliknya, dekat dengan bukit dan pemukiman penduduk. Yang terpenting, jauh dari pantai. Alana menghela napas. Matanya menelusuri Akira dalam pandangan lain. Dia mendesis, mengusap bibirnya. Mungkin euforia ciuman ini akan menghilang setelah dia tidur dan terbangun di esok pagi. Hanya saja, Akira yang mulai terbuka padanya membuatnya kebingungan. Pria itu bicara tentang ibunya. Tentang Sara. Walau masih belum jelas, Alana tidak bisa menangkap maksu dari pria itu karena sepotong-sepotong. Untuk apa  Kirei membunuh ibu Lay—Sara? Dan menyuruh Akira menikahinya? Apa karena rasa bersalah? "Memikirkan masalahmu jauh lebih berat dari ujian masuk universitasku," Alana berdecak sebal. Dia menatap wajah pulas bak malaikat yang sedang tertidur itu. Ingin menamparnya, tapi menampar karena apa? Menciumnya tiba-tiba? "Aishh," berujung pada cengkraman Alana di guling yang Akira peluk. Gadis itu berdiri, menatap Akira sekali lagi dan beranjak pergi setelah mematikan lampu kamar dan keluar, menutup pintu. *** Alana menatap Hiro dan Souma bersamaan dengan alis terangkat. Ekspresi gadis itu terlewat datar, sangat datar. Karena dua serangga ini menggangu acara makan siangnya bersama Haru dengan dalih 'talkshow bersama Souma dan Hiro.' Haru menatap Alana, kemudian pada dua atasannya dengan pandangan canggung. Itu biasa bagi Alana, anggap saja Alana sedang duduk di satu meja bersama Hirongan bisnisnya, orang kaya lama pantas saling menatap tajam seperti itu. "Kenapa kalian kemari?" Dia tersenyum, mengembalikan sikap profesional bekerja khas sekretaris yang taat aturan dan kompeten. Hiro berdeham. Dia memesan dua teh dingin pada pelayan dan tersenyum. "Aku datang karena Souma, tanyakan pada dia," "Ini sangat serius, Alana," katanya, memamerkan senyum lima jari yang lebar. Alana memutar mata. Senyumnya hampir saja lenyap. "Maaf?" "Kau semalam tidur di rumah Akira, apa kalian hanya tidur atau melakukan hal lain?" Alana membeo tak percaya. "Apa maksudmu?" Hiro mengangkat bahu. "Kami punya orang dalam yang sangat akurat dalam membagikan informasi," dia berkata angkuh dan Haru mendengus. Mendapati gadis pujaannya menatap bosan padanya, Hiro mendadak kalem, bertingkah ala bos dan duduk tegak. Alana menatap keduanya dengan alis terangkat. "Siapa pria bermulut ember itu, ya," dia mengernyit. "Apa Akira memberitahu kalian?" Souma menggeleng dengan senyum. "Tidak, Akira tidak bilang apa pun," katanya. Haru menatap Alana, dia berbisik di telinganya. "Siapa pun dia, pasti dia bercerita heboh tentangmu dan Akira semalam. Aku yakin, ada cerita yang dilebih-lebihkan tentang kalian," Alana mengangguk. Dia menatap Haru dengan tatapan yakin dan gadis pirang itu membalasnya dengan kepalan tangan yang saling beradu satu sama lain di bawah meja. Yel-yel mereka jika saling menyemangati satu sama lain. Alana berdeham berulang kali. Dia tersenyum. "Suasana panas terjadi di antara kami, dan waw, Akira menakjubkan semalam." Haru melotot tak percaya. Karena kalimat tak terduga Alana, dia pikir Alana akan mengatakan hal lain. Semacam pengelakan kalau mereka tidak berhubungan apa-apa. Hiro dan Souma ternganga lebar. Mereka terbatuk berulang kali, keduanya meminum teh dingin mereka bersamaan dan menatap Alana yang kini tersenyum bangga. "Misionaris atau Woman On Top?" Haru mengipaskan tangan ke lehernya. Dia berpaling, tertawa canggung dan menatap sekitarnya yang beruntung tidak mendengarkan mereka bicara. Ini memalukan. Hiro tertawa. Dia menyikut perut Souma agak keras. "Sudah kubilang, Akira tipe tidak suka didominasi di atas ranjang. Alana jelas kalah telak," Hiro melempar senyum mencelanya pada Alana yang tertawa beberapa kali dan mendelik sinis pada keduanya. Souma berdeham. Dia berusaha lebih serius kali ini. "Berarti hubungan kalian naik lima tingkat lebih serius," ucapnya, menebak-nebak. Alana hanya tersenyum, tidak menjawabnya. "Bisakah aku bertanya sesuatu?" Souma mengangguk dan Hiro mendorong piring pancake miliknya ke depan. "Kalian mengenal Sara?" Hiro menggeleng dan Souma mengangguk. "Aku dan Souma berbeda sekolah. Begitu juga dengan Akira. Sejak aku SMA, aku ikut ibuku ke Birmingham," jawab Hiro. Alana mengangguk. Dia berpaling ke arah Souma yang menghela napas. "Aku, Sara dan Akira ada di kelas yang sama sampai kelas dua di SMA Sina, setelah itu aku dibuang ayahku ke Berlin untuk melanjutkan studiku," kata Souma. "Dibuang?" Hiro tertawa. "Souma biang onar di sekolah saat itu. Dia terlibat perkelahian dengan anak SMP Sina yang salah satu dari mereka menginjak harga diri senior. Dia juga balap liar, ayahnya sangat malu. Membuang Souma adalah pilihan terbaik," Haru menahan tawa gelinya dan Souma membuang muka. Merasa malu. Dia mendengus tajam. "Aku sudah berubah sekarang. Lihat, aku lebih dewasa." Alana hanya mengangguk. Dia tersenyum. "Aku terkadang berpikir kalau masa remaja kita biasa saja, itu tidak membuat kenangan bagus di masa depan," katanya. Souma tersenyum lebar. "Setidaknya aku pernah nakal dan aku bangga," dia tertawa dan Hiro mendengus pendek. "Kau juga seharusnya beruntung karena ayahmu kaya. Semua bisa dikendalikan dengan mudah." "Pada akhirnya uang keluar sebagai pemenang," ucap Haru, memutar mata bosan dan Hiro tersenyum tipis padanya, merasa bersalah. "Sara dan Akira saling mengenal dan hubungan mereka lebih mendalam dari itu. Mereka berkencan," "Keduanya saling mencintai," timpal Hiro. "Walau aku tidak bersama Akira dan Souma saat itu, komunikasi di antara kami tidak pernah putus. Saat Akira kabur dari Tokyo ke Osaka, kami mulai berantakan. Kami tidak bisa mencari Akira karena jarak," ucap Hiro melanjutkan. "Kenapa Sara membenci Akira?" Alana menatap keduanya. "Apa karena Nyonya Kirei membunuh ibunya?" Souma dan Hiro membeku bersamaan. Haru melempar pandangannya pada Alana yang tersenyum lirih. Dia mengerjap, menundukkan kepala dan memilih memotong pancake di piring. "Aku rasa Akira sudah menceritakan beberapa hal rancu padamu," kata Souma. Dia menghela napas. "Keluarga kami bertiga sebenarnya berantakan. Aku punya masalah, begitu pula dengan keluarga Hiro, tapi kami bisa mengatasinya. Dan keluarga Akira sejauh ini paling hancur, Oki dan Akira adalah korban," ujar Souma pelan. Haru menatap Hiro yang menunduk. Raut senang dan angkuh dari pria itu menghilang dalam sekejap. Haru tersenyum penuh haru, ketika tatapan mereka bertemu, senyum manisnya mengembang dan Hiro hanya mampu terdiam, kembali menundukkan kepala dengan d**a berdebar nyeri. "Kami tidak yakin apa pantas menceritakan ini selain dari mulut Akira sendiri. Tapi kau sudah bersamanya selama tujuh tahun, aku rasa itu waktu yang lama terlebih Akira sangat bergantung padamu," kata Souma. "Dan aku berharap, hubungan kalian tetap berjalan, mengalir apa adanya sampai nanti. Sampai kau tidak lagi duduk menjadi sekretarisnya." Alana mengangguk dengan senyum samar. " Kun adalah seorang jurnalis saat muda. Kekayaan yang Akira dapatkan lahir dari ibunya.  Kirei masih berdarah biru, darah bangsawan Jepang yang berpuluh tahun silam lenyap karena usia." Alana diam mendengarkan. "Sejak muda,  Kirei memang memberontak. Dia dikenal bukan anak yang baik di keluarga. Dia serakah, banyak menuntut dan sering mengabaikan aturan keluarganya," Souma menatap Alana. "Tapi dia terkenal bertangan dingin dan cerdas. Orang tuanya tidak punya pilihan lain selain menurunkan bisnis super banyak mereka ke tangan ibu Akira." "Paman Kun sangat menyayangi Akira. Saat bibi Kirei memukulnya, Kun akan melindunginya. Membawa Akira pergi bersama Oki. Bibi Kirei tidak sungkan memarahi Akira di depan kami kalau dia berbuat salah, bahkan di hadapan orang tua kami," kata Hiro, melanjutkan ucapan Souma. Souma tertawa pahit. "Kau bisa bayangkan, bukan, anak sekecil Akira harus menerima tekanan itu dan dia begitu lemah, tidak tahu harus berbuat apa. Oki juga mendapat perlakuan sama, tetapi karena Oki anak yang penurut, ibunya tidak terlalu sering memukulnya seperti apa yang dia lakukan pada Akira." "Bukankah itu tidak adil? Mereka anak kandung, kan? Tidak seharusnya—" "Bibi Kirei marah pada keadaan yang menimpanya," Hiro menghela napas. "Dia dan paman Kun menikah karena keterpaksaan. Tetapi orang tuanya mengancam akan mengambil seluruh harta yang bibi Kirei punya kalau dia menolak," Haru mendesis tak percaya. Dia ada di posisi sulit sebagai pendengar masalah yang dialami anak-anak yang bisa dikatakan beruntung ini. Mereka memiliki masalah yang amat kelam dan begitu mengerikan. "Dan benar kalau dia berselingkuh?" Souma mengangguk. "Dia berselingkuh. Bertahun-tahun sejak Akira kecil. Dia kembali mencari cinta masa remajanya." Hiro menunduk, dia menatap Souma sebentar kemudian berpaling pada Alana. "Ayah Sara ... bibi Kirei punya hubungan terlarang dengannya." Alana menutup mulutnya tak percaya. Souma menunduk, tersenyum masam saat dia mengangkat kepala dan menatap Alana. "Sampai sini kau mengerti alasan kenapa Sara membenci Akira, bukan? Akira juga tidak tahu itu sampai dia membaca buku harian Sara yang dia temukan di loker SMA Sina." "Perubahan cinta ke benci cukup cepat dan membuat Akira terkejut hebat. Dia terpukul selama bertahun-tahun mengetahui fakta ini, ibunya bahkan lebih rendah dari iblis sekali pun," Alana mengerjap. Tangannya tanpa sadar saling meremas satu sama lain. Souma kembali bicara. "Akira bertahan sejauh ini adalah kemajuan. Saat aku mendengar dia bunuh diri di tempat lain, Oki tidak bisa tidur tenang. Dia selalu gelisah dan ketakutan karena Akira. Dan berulang kali menyalahkan dirinya sendiri." Hiro mendesah panjang. "Oki marah pada ibunya karena kematian paman Kun berkaitan dengan ini. Paman Kun merasa gagal sebagai ayah dan suami yang baik hingga dia sakit selama bertahun-tahun tanpa mau bibi Kirei membantunya berobat selain di tahap paling parah saat lalu," Alana menunduk, tidak sanggup mendengarkan lanjutan cerita dari mereka. Saat Haru berpaling, menggenggam tangan Alana di atas meja. Hiro menipiskan bibirnya dan Souma melempar pandangan ke arah lain. "Aku rasa sampai di sini saja cerita kita," dia tersenyum lebar, terselip rasa canggung yang amat sangat. "Ngomong-ngomong, nanti malam akan ada pesta mahal di Hotel Blues. Kalian datang, ya?" Alana mengangkat kepalanya. Mendapati senyum Souma dan Hiro yang memaksakan sedikit senyuman. Haru menggeleng, menolak ajakan mereka dengan sopan. "Aku rasa—" "Kau akan datang bersamaku," putus Hiro tanpa meminta persetujuan Haru. "Apa? Tapi—" gadis pirang itu menggeleng. "Tidak, Tuan Shimura. Aku bahkan tidak punya barang mahal untuk dipamerkan," dia mendengus. "Barang paling mahal yang kubeli adalah tas yang kutitipkan pada Alana di Paris, seharga lima juta. Selebihnya? Tidak ada." Hiro mengernyit. "Mereka tidak akan peduli tentangmu," Haru menatapnya tegas. "Tapi aku peduli dengan diriku sendiri. Terutama di mata mereka yang senang merendahkan derajat orang lain sesuai kasta." Alana menatap Haru yang memandang tajam Shimura Hiro yang tetap kekeh mengajaknya pergi. Gadis berambut gulali itu menghela napas. "Haru, kau bahkan punya cincin dan kalung berlian yang kubelikan saat ulang tahunmu ke dua puluh lima. Harga barang itu lebih mahal dari harga diri mereka yang senang merendahkanmu," kata Alana. Haru kembali menggeleng. "Tidak, itu hadiah. Kau memberikannya untukku, dan aku tidak membelinya dengan uangku." Alana tersenyum pada dua pria di depan sana. "See? Aku tidak akan datang jika Haru menolak. Persetan dengan acara itu, jika mereka membuatku naik darah, aku akan membuat mereka menyesal karena berurusan dengan putri keluarga ," ucap Alana. Dengan senyum bangga. *** Alana tidak mengerti untuk urusan apa acara ini diselenggarakan. Bagi kaum kelas atas, ini bukan masalah. Hanya saja, membosankan. Acara yang digelar di aula hotel terbaik di kelasnya, memakan ratusan juta dalam satu malam. Bergabungnya beberapa yayasan amal untuk membantu orang lain, memang menjadi misi yang bagus. Terkadang, para tamu yang hadir yang membuat Alana muak. Haru datang bersamanya. Setelah Souma dan Hiro berhasil membujuknya, dia mengalah. Meskipun Hiro berjanji akan memasang badan untuknya. Dan itu agak menggelikan, tetapi Alana ikut berbahagia untuk sahabatnya. Haru hanya perlu waktu untuk membuka hati bagi pria lain. Alana menatap ayah dan ibunya yang turut hadir sebagai tamu. Dia mendekat, bersama Haru di sampingnya. Saat  Hayate menyapa Haru, mengusap pipinya. "Lama tidak melihatmu," katanya. Haru tersipu malu. Dia mengangguk pelan. "Aku harap bibi tetap sehat dan bahagia," balasnya. Hayate tertawa pelan. "Tentu, tentu. Apalagi Alana tinggal bersamaku sekarang. Aku jauh lebih baik," katanya, menyenggol bahu putrinya yang memutar mata. Alana menoleh. Dia mendapati Hiro yang mencari-cari mereka di tengah ruangan. Alana menarik tangan Haru dan meninggalkan ibunya yang berulang kali memanggil namanya dan menyerah, bergabung bersama teman sosialitanya. Hiro tersenyum lega saat Alana menarik tangan gadis pirang yang mati-matian dia bujuk untuk datang. Hiro menatap penampilan Haru malam ini. Gadis ini tidak pernah gagal membuatnya kagum. Alana berdeham. Dia menatap Hiro dengan isyarat mata ketika tangannya masih memegang lengan Haru. Mengerti kode yang Alana berikan, Hiro mengambil tangan gadis itu, menggenggamnya. Membuat Haru terperangah dengan tindakannya. "Aku janji padamu, kan, kalau malam ini kau bersamaku," bisiknya dan Haru mengerjap, tertawa pelan kemudian membuang muka karena rona malu. Alana melambai pada Souma yang berjalan menghampiri meja mereka. Pria berkulit tan itu tersenyum bangga, menepuk bahu Hiro dan mengambil anggur dari tangan Alana. "Akira sedang dalam perjalanan," "Akira datang?" Souma menatap Alana. "Ya, dia datang. Saat aku bilang kau datang, dia bilang dia akan bergabung," "Siapa gadis yang digandeng Wakil Pimpinan Shimura Steel? Aku merasa asing," bisik-bisik dari meja sebelah sedikit mengusik mereka. Alana melirik dari tepi gelas anggur yang dia minum, sekumpulan gadis mulai bergosip tentang mereka. "Oh, aku pernah melihatnya. Dia pegawai biasa. Bekerja untuk Tuan Shimura. Hah, kurasa dia menjual dirinya sendiri ke pelukan bos tampan itu," "Aku berharap  Akira melajang sampai detik ini. Aku tidak bisa bayangkan siapa wanita yang pantas berdiri di sampingnya." "Lihat, gadis pirang itu. Gaunnya adalah gaun murahan. Aku pernah melihatnya di pasar murah," lalu, suara tawa mengejek meluncur bebas sampai ke telinga Alana dan yang lainnya. Haru menundukkan kepalanya semakin dalam. Hiro menoleh, menatap Haru yang memasang wajah murung dan sedih. Genggaman tangannya semakin erat, berharap Haru tahu kalau semua akan baik-baik saja. "Ka—" "Heh," Alana menoleh, menatap angkuh kepada lima gadis berpakaian minim yang menoleh ke arah mereka. Tatapan mereka sangat nakal dan menggoda pada  Souma yang mendesis, melipir ke sisi Alana. Hiro menahan bibirnya untuk bicara. Karena sepertinya,  Alana siap mengeluarkan taring harimaunya yang tajam. "Kalian tidak bisa bicara yang baik?" Alana tertawa sarkatis. "Kerjaan kalian hanya bergosip, bergosip dan bergosip. Kalian sadar kalau kalian bisa membuat usaha orang tua kalian bangkrut?" Gadis berambut hitam itu menatap Alana dingin. "Setidaknya kami bekerja untuk perusahaan dan menghasilkan uang. Tidak sepertimu yang bekerja sebagai sekretaris murahan dan dibayar sesuai upah rata-rata," balas mereka mengejek. Alana mendengus tajam. Souma yang mendengarnya hanya bisa bergidik. Haru menahan tangan Alana yang siap membuat keributan di aula yang ramai ini. " Alana, sayang sekali, namanya tidak seindah nasib hidupnya," mereka kembali tertawa. Alana mengambil dua potong roti yang seleHiro dia cengkram dengan kuat di tangannya. Hiro menatap ngeri ke arah Alana ketika gadis itu mendekat ke kumpulan para gadis, dan menjejeli roti itu ke mulut mereka. "Roti untukmu. Agar mulutmu bisa mengunyah sesuatu yang manis," balas Alana sinis. Dia menekan roti itu pada gadis berambut cokelat yang bertindak sebagai provokator di antara temannya yang lain. Bisik-bisik mulai terdengar ke arah meja mereka. Souma mencoba menarik tangan Alana, tetapi Hiro menahannya. Membiarkan Alana memberi pelajaran pada mereka. "Sialan, kau!" Alana tersenyum puas. Dia membasuh tangannya ke gaun mereka yang berteriak karena Alana mengotori gaun mahal mereka secara sembrono. "Perusahaan ayahmu adalah subkontraktor di  Group, kan?" Alana mengusap tangannya dan mendesis. "Apa aku salah?" Gadis itu terdiam dengan wajah berantakan karena krim kue. Dan gaun yang kotor karena tangan Alana. Alana tersenyum angkuh. "Jangan buat aku menyesali perbuatanku dengan menjadikan keluargamu gelandangan," bisiknya. Gadis itu pucat pasi. Alana meminta tisu dari Souma, dan pria itu segera memberikan tisu untuk sang nyonya. "Aku bisa melepehmu kalau aku mau. Menggunakan marga besarku untuk membuat kalian hancur," kata Alana, mengelap telapak tangannya dengan tisu. "Tapi, meh, kekanakkan sekali. Kau harus bersabar sampai aku duduk di posisi direktur utama. Bagaimana?" Alana tersenyum manis tapi terlihat kejam di mata mereka. Dia menepuk pipi gadis itu agak keras hingga gadis yang ikut bergosip dengannya bergetar hebat. "Pergilah ke kamar mandi. Ganti gaunmu, sayang," Alana berbalik dan meninggalkan tatapan tanya dan bingung dari para tamu undangan.  Kei dan Hayate menggeleng tak percaya dengan tingkah putrinya. Mereka tertawa pelan, saat Hayate berbisik pada suaminya. "Itu baru putriku!" Alana berbalik, tatapan matanya membeku kala dia mendapati  Akira bersandar pada meja di depannya. Tepat di belakang Souma yang membelakanginya dengan anggur di tangan. Souma menoleh, mengikuti arah pandang Alana dan dia ikut terkejut dengan adanya Akira di belakang punggungnya. Dia berbalik, begitu pula dengan Hiro yang menahan tawanya. "Sudah seleHiro dramanya?" Dia menatap Alana datar dan beralih pada gadis yang menangis di depannya. "Gaunmu kotor. Wajahmu berantakan. Pergilah," kata Akira, mengusir gadis itu dan dia berlari pergi menjauhi mereka dengan tangisan. Alana memutar mata seraya menghela napas panjang. Dia tersenyum pada Haru yang menatapnya lirih dan penuh ucapan terima kasih, hanya melalui matanya. "Tolong, hindari keluarga super kaya itu kalau kalian tidak ingin hidup miskin besok." Bisik-bisik itu mulai terdengar dan Alana hanya mengangkat bahu cuek, tidak peduli dengan omongan orang lain. Alana mengambil gelas anggur lain ketika dia berbalik, mengedipkan mata pada sang ibu yang bertepuk tangan dari kejauhan untuknya. Alana tersenyum canggung. Dia pikir ibunya akan memarahinya atau menyemprotnya dengan makian, nyatanya dia malah tersenyum bangga. Alana kembali memutar tubuhnya. Menggigit tepian gelas kaca dengan tatapan bingung. "Ya Tuhan, semoga ibuku tidak salah makan atau kepalanya terbentur pinggir wastafel saat mandi," bisiknya. "Amin." Alana menoleh, menatap Akira yang masih bersandar pada pinggiran meja, menatap lurus ke depan. "Bisakah aku tahu alasanmu menghindariku seharian ini?" "Aku tidak punya alasan untuk menghindarimu," balasnya singkat. "Aku benar-benar sibuk. Dan aku masih bekerja sesuai jam yang berlaku dan menuruti aturan. Ada yang salah?" Akira mencebik sebal di sampingnya. Kepalanya tertoleh, menatap Alana tajam. "Jangan bercanda, Alana. Kau tahu apa yang kumaksud," bisiknya dingin. Alana menggeleng dengan senyum. "Aku sungguh tidak tahu," balasnya. "Memang kenapa aku harus menghindarimu?" Akira mendelik padanya. "Karena aku menciummu semalam?" Alana membeku selama beberapa detik. Dia tertawa pelan. "Aku? Hahaha, tidak," dia berdeham. "Aku bahkan tidak ingat bagaimana ciuman kita—" Alana menutup rapat bibirnya saat mata tajam Akira menusuknya tepat di kedua manik hijaunya. Dia tersenyum kaku. "Lalu, kenapa kau kembali tengah malam?" Alana mengangkat alis. "Kau melihat dari CCTV rumahmu?" Akira tidak menjawab. "Ibu mencariku. Aku tidak mungkin membuatnya khawatir. Aku langsung kembali," jawabnya. "Tapi, kau membuatku cemas," Alana mengerjap mendengar kalimat Akira setelahnya. Pria itu berpaling, menegak anggurnya dan terdiam. "Hei, aku punya sesuatu yang menarik," Souma menepuk bahu Alana dan menarik Akira untuk mendekat. "Bagaimana kalau kita bertaruh?" Haru memekik tak percaya. "Tidak, aku tidak ikut," Souma menggeleng. "Aku belum seleHiro bicara," katanya. Alana melipat tangan di d**a. "Apa taruhannya? Mobil? Apartemen? Pesawat pribadi gratis?" Hiro mendecih pada Alana. "Tolong, sekretaris  jangan pamer di depanku. Di antara kami, hanya kau dan Akira yang memiliki pesawat pribadi," Alana tersenyum lebar. "Kalau begitu mobil? Atau berlian?" Souma menggeleng dengan senyum. "Kita akan bertaruh dengan Black Card milik masing-masing," Haru membelalak tak percaya. "Kalian gila? Aku bahkan tidak punya kartu premium itu!" "Khusus untukmu, hanya kartu kredit. Dan aku akan memotong tunjanganmu. Bagaimana?" "Hanya tunjangan?" Hiro mengangguk dengan senyum. Souma mendesis tak percaya dan menyangjung sahabatnya. "Ah, Hiro, baik sekali dirimu," Akira memutar mata. "Jika aku menang, tiap kartu kalian akan kupakai untuk berbelanja kesukaanku. Bebas. Apa pun yang aku inginkan. Tidak peduli dengan tagihan. Selama satu hari penuh," kata Souma. Alana mengangguk setuju. Hiro juga ikut menganggukkan kepala dan Haru mendesah panjang. Akira hanya diam. "Oke, semua setuju!" Souma menyiapkan gelas anggur yang kosong untuk dia putar di atas meja. Sebelum Souma sempat memutarnya, Alana menahan tangannya. "Aku punya usul. Bagaimana jika yang terpilih harus membayarkan tiket masuk premium ke Tokyo Land besok. Karena besok akhir pekan, tiket akan mahal." "Aku setuju!" Souma memekik senang. Dan Hiro ikut menganggukan kepala. Dan Haru mulai pucat pasi. Harga tiket Tokyo Land jika premium dan menghitung jumlah mereka, berarti setara dengan dua bulan gajinya. Saat Souma memutar gelas itu, meja mereka tampak heboh dan bisik-bisik kembali terdengar. Entah kenapa para anak orang kaya itu punya dunia mereka masing-masing yang membuat orang lain iri. "Waaaah!" Souma bertepuk tangan histeris dan Akira tersenyum samar. Mendapati gelas itu menunjuk pada Alana yang ikut tersenyum. Tentu saja, taruhan model apa pun bukan masalah untuknya. "Oke, oke. Karena kalian cuti besok di akhir pekan, aku akan menemui kalian jam delapan di depan Tokyo Land. Sepakat?" Haru menjerit tertahan. Dia mengepalkan tangannya di atas kepala dan tersenyum lebar. "Sepakat!" Jerit mereka bersamaan. Mereka tertawa bersama. Kecuali Akira yang membisu, menatap kedua sahabatnya dan Alana yang tertawa, matanya perlahan meredup, dengusan itu meluncur bebas. Dia ikut tersenyum. "Ya Tuhan, badai akan datang," bisik Hiro pada Souma dan pria berambut pirang itu menoleh, dia melotot tak percaya dengan  Kirei yang melangkah anggun ke meja mereka dengan menggandeng tangan Ara. Haru menatap Alana yang mendadak membeku. Bukankah Ara tunangan Rei dan mereka akan menikah? Hayate yang melihat ekspresi putrinya segera bergerak untuk mendekat. Dia meninggalkan Kei yang membeo kebingungan dengan tingkah istrinya. "Akira," Kirei menyapa putranya yang berdiri dalam tatapan datar. "Kenalkan, ini Ara," Kirei menoleh pada Souma. "Dia dan Souma ada di SMP yang sama, bukan begitu, ?" Souma menelan ludah dengan gugup. "Ya, bibi." Ara menatap mereka dengan senyum manis. Senyum yang sama sekali tidak bisa Alana balas. Haru mendekat ke arah Alana, berdiri di samping sahabatnya. Hiro melempar tatapannya pada Souma. Mereka yakin akan terjadi sesuatu. Tapi tidak tahu apa. Hayate semakin mendekat. Dia tidak akan membiarkan putrinya terluka karena berhubungan dengan Rei yang merusak hidup Alana bertahun-tahun yang lalu. "Ada apa ibu?" Akira berbisik pelan. Kirei menatap mata putranya yang memiliki kemiripan hampir sembilan puluh persen darinya. Dia tersenyum manis. "Ara dan Rei Rei sudah seleHiro. Ibu ingin mengenalkannya padamu," dia melirik Alana sinis. "Hitung-hitung, menjodohkanmu dengan Ara." "Apa?" Souma dan Hiro memekik bersamaan. "Bibi bercanda?" Kirei melempar tatapan dinginnya pada kedua sahabat kecil putranya. "Apa aku sedang melucu di hadapan kalian?" Ekspresinya berubah datar dan kaku. Hayate terkejut. Dia menatap Alana yang mendengus tak percaya dengan Haru yang mendesis di sampingnya. Sedangkan Akira berdiam bagai mayat hidup di tempatnya. Alana melirik pria itu, mendapati Akira yang berulang kali hampir kehilangan kesabarannya. "Aku tidak mau," Kirei menggeram. "Apa katamu?" "Aku tidak mau," Wanita paruh baya itu menatap Akira dan kemudian beralih pada Ara yang menunduk. "Mari, sayang, kita pergi ke mejaku. Kita harus bicarakan ini. Biarkan Akira sendiri. Dia hanya sedikit terkejut," kata Kirei, membawa Ara pergi bersamanya. Hiro menoleh, dia hampir kehilangan jantungnya karena Hayate berdiri di belakangnya dengan mengendap-endap. "Astaga, Nyonya ," kata Hiro tak percaya. Hayate menutup bibir Hiro dengan telunjuknya. Dia tertawa pelan. "Maaf, ya," kemudian beranjak pergi. Meninggalkan Hiro yang bergidik kebingungan. Souma tertawa hambar. Dia menatap Akira penuh iba. "Ibumu gila, Akira. Sialan," dia mengumpat. Akira menggeleng tak percaya. Ketika dia menoleh, dia mendapati tatapan Alana mengarah padanya. Tak terbaca. "Kurasa kau harus menikah. Entah pada siapa, yang jelas kau harus punya ikatan. Lawan iblis itu," bisik Hiro, dia merapatkan tubuhnya pada pinggiran meja. "Aku berpikir jika Akira adalah bos perusahaan, menikah dengan Alana yang menjadi sekretarisnya. Bagaimana dengan anak mereka?" Souma menatap Hiro. "Apa dia akan jadi pegawai magang?" Hiro mendesis. Dia memukul lengan Souma karena ini sama sekali tidak lucu. Alana menatap Akira, membuang mukanya ketika dia berjalan, menjauhi meja mereka dan bergabung bersama orang tuanya. Meninggalkan Akira yang terdiam, hanya mampu menatap punggungnya nanar. *** Souma turun dari Bugatti Veyron miliknya dan bergaya khas di depan pagar pintu masuk Tokyo Land yang tertutup rapat. Entah karena tutup atau mereka datang terlalu pagi. Mereka terlalu bersemangat. Haru hanya tertawa saat dia membungkuk sopan pada Souma yang menyeringai padanya. "Selamat pagi, Tuan ." "Souma saja, tolong. Kita ada di luar kantor," kata Souma, mengoreksi panggilan Haru. Gadis pirang itu tersenyum. "Oke, Nartuo," Souma melotot tak percaya. "Souma," "Maaf, lidahku terpeleset," Haru membungkuk padanya dan Souma tertawa pelan. Dia berkacak pinggang. Dengan pakaian santai dan kasual khas milik anak muda lainnya. Souma bergaya penuh enerjik pagi ini. Karena dia tidak terpilih untuk mengeluarkan uang, dia tampak lega. Hanya Souma dan Haru yang baru datang ke tempat yang Alana janjikan. Lalu, tak lama mobil mewah lainnya datang. Mengambil parkiran di samping mobil milik Souma. Pria itu menyeringai, berteriak pada si empunya mobil. "Si bodoh ini bisa parkir tidak? Mobilmu hampir menyerempet bodi mobilku!" Hiro tertawa nyaring. Dia melompat keluar dari Lamborghini Aventador miliknya dan melambai. Ditambah kacamata hitam yang menutupi iris gelapnya. "Tidak masalah. Aku akan mengganti cat barunya," dia mendekat dan tersenyum pada Haru yang juga tersenyum padanya. Souma memukul bahunya dan tertawa. "Tinggal Alana dan Akira yang belum datang," Haru menoleh ke belakang. Mendapati suasana Tokyo Land yang sepi. Dia kebingungan. "Ini akhir pekan? Kenapa sepi sekali?" Hiro dan Souma ikut menatap sekitar mereka. Sama-sama mengernyit karena mereka baru sadar kalau Tokyo Land biasa ramai di akhir pekan. Dan ini? Benar-benar mengejutkan. Tidak lama, mobil mewah lain masuk ke halaman parkir. Souma menyipit, kemudian menyeringai lebar saat tahu siapa yang datang kali ini.  Akira menutup pintu Mustang miliknya dan berjalan menghampiri Souma dan Hiro di sana. Haru membungkuk padanya dan Akira hanya mengangguk. "Jangan bilang Alana tidak datang?" Souma mencebik sebal. "Kalau dia tidak datang ..." "Bukan masalah, Akira bisa membayar semua yang kita inginkan hari ini," kata Hiro dan Souma mengangguk setuju. Alis Akira terangkat tajam. "Aku?" Hiro tertawa. Saat dia menoleh, mobil lain masuk ke dalam. McClaren itu parkir di samping Mustang yang berjejer rapi. Haru memutar mata. Hanya dia yang membawa mobil sedan biasa. "Ini seperti ajang pamer mobil mewah," gumam Souma menatap deretan mobil mewah mereka dan Hiro terkikik geli. "Alana!" Alana keluar dari mobilnya. Dia melambai, berlari dengan santai ke arah mereka yang sudah menunggu. "Nah, ayo kita masuk," dia berjalan, dan Souma menarik tangannya. "Kau gila? Mana tiketnya?" Alana menggeleng dengan senyum. "Aku menyewa tempat ini khusus untuk kita sampai malam. Tenang saja. Karena ini akhir pekan, pasti akan sangat padat dan aku tidak ingin mengantri walau kita pakai kartu premium," Haru ternganga tak percaya. Dia menepuk punggung gadis itu dan mendesis. "Kau benar-benar gila Alana," "Ayolah, kapan lagi kita begini? Aku ingin bersenang-senang," dia menatap Haru dan beralih pada Akira. Senyumnya timbul. Saat Souma dan yang lainnya masuk, Alana berbelok ke bagian kantor Tokyo Land, disana dia disambut baik oleh petugas kantor dan duduk. "Kalian bisa membuka ini untuk seratus orang pengunjung yang beruntung. Ingat, hanya seratus orang." Mereka mengangguk mematuhi perintah Alana. "Apa Tuan Lei sudah memberikan uang yang dibutuhkan? Ada kekurangan? Karena aku menyewa Tokyo Land sampai malam?" Mereka menggeleng dengan senyum sopan. "Semua sudah dibayar dengan lunas, Nona ." Alana tersenyum manis. "Terima kasih." Mereka balas membungkuk. "Selamat menikmati harimu," dan Alana berlalu pergi. Dia melihat Haru sudah histeris dengan permainan di Tokyo Land yang menyala seluruhnya. Gadis itu menjerit, menatap kora-kora dengan pandangan berbinar. Souma mendesis tak percaya. Akhirnya dia bisa menguji adrenalin lagi kesini. Setelah dia pergi berlibur ke luar negeri untuk mencari hiburan, Tokyo punya wahana ekstrim seperti ini. Alana menoleh. Menatap Akira yang bergidik bingung membayangkan kora-kora itu akan terayun kencang membawa mereka terbang. "Ayo, naik," Souma membawa dirinya masuk bersama Haru dan Hiro. Alana tersenyum, dia berjalan dan Akira membatu di tempatnya. Masih menatap tajam pada wahana kapal ini. "Kenapa kau diam?" Akira tersentak, merasakan tangan Alana menariknya masuk ke dalam kapal yang siap terayun itu. Setelah memasang sabuk pengaman, Alana terkikik. Merasakan sensasi yang sudah lama tidak dia rasakan karena terlalu sibuk bekerja. "Aaaaaaaah!" "Uuuuuuh!" "Aaaaaaaah! "Uuuuuuh!" Alana melotot tak percaya dengan Hiro di sampingnya yang tidak berteriak dan malah suaranya terdengar seperti desahan nikmat. Akira membeo bingung menatap sahabatnya, dan meraup wajah Hiro dengan telapak tangannya, agar pria itu berhenti mengeluarkan desahan aneh. Saat kapal ini terayun kencang. Akira sejenak bisa melupakan masalahnya dan perjodohan yang tiba-tiba itu di dalam kepalanya. Tidak apa, walau sejenak. Souma tidak berhentinya tertawa. Pria itu menikmati wahana yang disediakan Tokyo Land. Yang disulap seperti taman bermain pribadi mereka. Alana menoleh, saat pengunjung yang terpilih berhamburan masuk, dia tersenyum. Souma cemberut. "Kau yang menyuruh pihak di sini untuk membolehkan masuk?" "Hanya seratus orang," kata Alana. Dan dia berbelok ke arah penjual es krim. Akira menghentikan langkahnya. Dia menatap Alana yang membeli dua es krim dan Haru yang membawa tiga es krim di tangan. "Terima kasih," gumam Hiro dan anggukan kepala Souma saat Haru memberikan dua es krim vanilla pada mereka. Alana mengulurkan tangannya. Memberikan es krim di hadapan wajah Akira. "Kau mau?" "Ini manis," jawabnya datar. Alana mendengus lelah. Dia mengarahkan pucuk es krim itu pada ujung hidung Akira dan tertawa. "Cepat, sebelum mencair," mencari tisu di tasnya dan mengusap ujung hidung yang terkena es krim itu. Akira menatap es krim itu agak lama. Alana berdecak, dia memakan es krimnya dan berjalan. Meninggalkan Akira ketika dia bergabung dengan tiga lainnya menuju roller coaster. Pria itu mendengus.  Akira memandang Alana yang berhenti, menunggunya berjalan. Lalu, langkahnya kembali maju, dengan senyum lebar yang terasa ilusi, membekukan Alana di tempatnya. *** "Hati-hati!" Souma melambai pada mobil Haru yang berlalu di depan mereka dan McClaren milik Alana yang melesat meninggalkan ketiganya di depan gerbang masuk Tokyo Land yang tutup. Pukul delapan. Hiro menatap jam Rolex di pergelangan tangannya. Dia mengangkat bahu, memandang kedua sahabatnya. "Kalian lapar? Bagaimana kalau kita pergi ke bar untuk minum?" Souma menatap Akira. Dia menyetujui ide Hiro sebelum mereka kembali ke pekerjaan yang menumpuk dan itu pasti menyita waktu mereka lagi. Akira menunduk, menatap ponsel mahalnya. "Firasatku buruk kali ini," dia menatap kepergian mobil Alana yang sudah lebih dulu menjauh. Souma mengernyit. "Siapa?" Akira menatapnya bingung bercampur gusar. "Alana," dia bergegas kembali ke mobilnya dan Hiro tidak punya pilihan lain selain mengikutinya bersama Souma. Para pengunjung yang menatap kepergian tiga mobil mahal itu hanya bisa berdecak kagum. Mereka seperti melihat pawai mobil yang sanggup dibayangkan di dalam mimpi. Alana menekan klakson saat dia menyalip mobil Haru yang santai. Gadis pirang itu membalas menekan klakson dan melambai dari kursi kemudinya, kemudian menekan pedal gas semakin dalam. Mata birunya menyipit ketika lampu merah menyala, mobil Alana diapit oleh dua mobil silver asing di dekatnya. Haru mengernyit, dia memutar kemudinya saat mobil Alana hendak melaju, mobil itu merapatkan mobil miliknya hingga oleng ke samping. Haru menutup mulutnya. Dia meraih ponsel di tas, menghubungi seseorang dengan tangan bergetar. "Haru? Apa yang terjadi?" "Alana, tolong, Alana, astaga!" Sambungan terputus. Haru tidak sengaja melempar ponselnya ke belakang mobil dan mengejar mobil Alana yang memiliki kecepatan luar biasa. Hampir saja Alana tertabrak truk pengangkut paku bumi yang melintas karena dia menerobos lampu merah. Alana tidak punya pilihan lain ketika dia mencoba memundurkan mobilnya, seseorang menabrak pinggiran mobilnya hingga dia terhempas. Alana membelalak terkejut. Mendapati Haru mencoba membantunya dengan menabrakkan sedannya pada mobil silver yang menghalangi jalan mobilnya. Alana menepikan mobilnya, dan dia terkejut ketika Haru dipaksa keluar dengan tarikan di rambutnya. "Rei?" "Keluar kau!" Alana bergetar. Dia keluar dari mobilnya dan dia terdorong ke depan. McClaren mewahnya tertahan oleh orang asing yang berdecak mengagumi interior mahal di dalam mobilnya. "Sialan, dia benar-benar kaya. Mobil ini hanya ada dalam mimpiku!" Alana mendekat ke arah Haru yang menjerit pelan, merasakan anak rambutnya yang lepas dari akar kepalanya. Iris biru laut itu menggenang ketika Alana mendekatinya, Rei menepis tangannya dan Alana terhuyung ke belakang. Dia mendesis, mencoba menarik keluar pria yang mengambil alih kemudinya. Rei berhasil membuatnya ke tepian. Karena jalanan yang sepi, Alana tidak bisa berbuat banyak. Saat Haru ditarik dibawa menuju mobil lain, Rei mendekat ke arah Alana, bersiap menark tangan gadis itu dan Alana berlari, berteriak ketika pria itu ikut mengejar dengan tawa keras yang membuat Alana limbung akan kenangan masa lalunya. Rei meraih rambut panjangnya. Melepas ikatan di rambut Alana dan menyeret gadis itu ke aspal sebelum melemparnya ke bagasi, Alana memberontak hebat dan dia kalah. Haru berteriak. Dia juga mendapat pukulan karena mencoba menghalangi Rei untuk yang kesekian kalinya pada Alana. "Aku akan membunuhmu setelah ini, Yamanaka," desis Rei. "Dasar gila! Kau psikopat!" Bersama dengan McClaren itu, mereka membawa kedua korban itu mencari area kosong terdekat yang jauh dari jalan. Dan mereka mendapatkan rumah kosong yang tidak lagi dihuni dan hampir roboh. Alana yang lemas dan pucat karena kurang oksigen, terengah-engah. Dia menatap Rei yang melayangkan tangannya, menampar pipinya hingga memerah sempurna. "Aku dan Ara sudah seleHiro. Kau tahu karena apa?" Rei menarik rambut Alana, mencengkram rahang gadis malang itu. "Karena dia tidak bisa menutup mulutnya. Dia melaporkan kelakuanku pada maskapai tempatku bekerja. Dan kau tahu? Aku sangat marah. Tapi dia berlindung di bawah keluarganya dan nama ," Mata Alana melebar. Dia menatap Rei dengan mata menggenang dan pria itu kembali mendorongnya, menginjak pipinya. Haru mendesis menahan tangis. Dia menjerit dengan tangan terikat. Sama seperti Alana. "Hentikan, kau b******n! Kau bahkan tidak punya urusan lagi dengan Alana! Seharusnya kau berterima kasih karena Alana tidak menjebloskanmu ke penjara!" Satu tamparan dilayangkan Rei ke pipi Haru. Gadis itu tersentak menahan perih dan merintih. Alana terdiam. Ketika Rei menyeretnya dan membuatnya duduk, Rei berhasil meninggalkan lebam di wajah dan lengannya. "Mereka memberiku surat peringatan dan kau tahu? Aku terkena denda. Nama baikku tercoreng oleh gadis sialan itu. Dan itu artinya, aku tidak punya cukup uang di rekeningku. Aku tidak bisa berpesta, tidak bisa membeli barang yang kumau. Dan aku akan hidup sulit," Rei menatap Alana dengan seringai. "Dan aku tidak mau hidup miskin lagi. Kau akan menanggung semuanya. Kehidupanku, uang, segala apa pun yang kubutuhkan." Alana mendecih. Dia tertawa menahan sakit dengan sudut bibir dan pelipis yang robek. "Aku?" Dia mendengus. "Dalam mimpimu," Satu tamparan Rei layangkan pada Alana. Hingga gadis itu membentur lantai. Alana merasakan kepalanya pening. "Kau hancur karena dirimu sendiri, b******n," lirih Alana. "Kau tahu? Kau mencari mati dengan membuatku lebur seperti ini." Rei mendesis. Dia menarik rambut gadis itu dan Alana merintih menahan sakit. Beberapa anak rambutnya terbang ke atas lantai yang dingin dan kotor. "Bunuh aku kalau kau bisa," Alana meludahi wajah pria itu. "Dan aku akan menyeretmu ke neraka bersamaku." Alana menunduk, menahan sakit akibat luka robekan di bibirnya semakin lebar. Dia merintih dalam bisikan, membuat air mata Haru semakin deras mengalir. "Diam!" Rei membentak Haru dan Alana. Keduanya terdiam, bergeming tanpa lakukan apa pun. "Lempar mereka ke jalan, ayo," "Biarkan aku membawa mobil mahal itu, bos," Rei membawa Alana dengan menyeretnya masuk ke dalam mobil. "Terserah!" Dan dia lakukan hal yang sama pada Haru. "Alana," Haru mencoba memanggil nama sahabatnya yang terus menunduk. Hingga suara isakan mengalun keluar dari bibirnya, Alana tetap diam. "Sialan, kita kehilangan jejak mereka," Hiro mulai panik. Saat dia berhasil melacak ponsel Haru karena teriakan paniknya, yang dia dapatkan adalah kesia-siaan. Mobil Haru kosong, di tepi jalan. Souma berdecak. Dia mencoba menghubungi orang terbaiknya untuk mencari keberadaan Alana dan jejak mobilnya. "Disana!" Akira masuk ke dalam mobilnya ketika dia melihat dua mobil silver berjalan bersisian dengan McClaren milik Alana. Hiro melompat ke mobilnya. Begitu pula Souma yang tancap gas mengejar mobil itu tanpa perhitungan. Mereka tidak lagi peduli dengan kecepatan di atas rata-rata mobil sport yang seharusnya. Ada nyawa yang harus mereka selamatkan. Akira menekan pedal rem saat dia melihat tubuh Alana terlempar dari dalam mobil dan berguling ke jalan. Dia mundur, memutar kemudinya ketika Haru juga terlempar dari mobil yang sama ke jalan dan berguling. Akira belum memberhentikan mobilnya saat dia menatap McClaren itu terbang dalam kecepatan tinggi. Dia menekan pedal, melindungi Alana dari lindasan mobilnya sendiri saat Souma menekan pedal, menabrak sisi bodi mobil mewah itu dan sang supir kehilangan kendali, oleng dan menabrak pembatas jalan. Alana terbatuk-batuk di tengah jalan ketika Akira menekan pedal gas mobilnya semakin dalam, mengincar bagian depan mobil Alana dengan kecepatan penuh dan Akira melompat dari dalam mobilnya, membuat dua mobil mewah itu saling bertabrakan dan si pengemudi tewas di tempat. Hiro keluar dari mobilnya ketika dia menatap dua mobil silver yang berhasil lolos. Akira mengepalkan tangannya, menatap sosok yang sempat dia lihat mengemudikan mobil itu. "Rei Rei," Souma berlari ke arah Alana saat dia meraih gadis itu, Akira segera berlutut, membawa Alana yang masih sadar ke dalam pelukannya. "Bawa Alana ke rumah sakit," pinta Haru yang berlutut menahan sakit di tubuh dan wajahnya. Hiro mencoba menahan tangan gadis itu, tetapi Haru mencoba bangkit dan bertahan. "Tidak, aku akan membawanya ke rumah." "Jangan gila, Akira!" Souma menepis tangan Akira saat dia membawa Alana ke dalam gendongannya dan masuk ke mobil Hiro yang masih utuh. "Alana," Akira membawa mobil itu melaju menjauhi jalanan yang sepi dari pengguna jalan karena ini bukan jalan utama, dan jalan menuju perumahan yang jarang dilewati kendaraan bebas. Souma menjambak rambutnya. Dia berlari mengambil Haru bersama Hiro yang memutarbalik mobil Souma yang bagian depannya hancur. "Cepat ke rumahku. Sekarang!" Akira melempar ponselnya ke dashboard mobil. Dia melirik Alana yang masih merintih, menahan sakit dengan ringisan yang tidak sanggup Akira dengarkan. Dia mengulurkan tangannya, memegang tangan kurus gadis itu. "Sebentar lagi, bertahan," Akira membawa Alana ke dalam gendongannya. Dia menurunkan gadis itu ke atas ranjangnya bersama dokter pribadi yang sudah dia telepon untuk datang ke rumahnya. Dia menoleh, mendapati kedua sahabatnya bersama Haru tampak cemas di ambang pintu. Saat Tsunade membereskan luka Alana, dia berjalan keluar kamar. "Kumohon, Tuan , biarkan aku membawa Alana ke rumah sakit," Akira menggeleng pelan. "Pikirkan orang tuanya. Kau tidak berpikir kalau keluarga  akan melenyapkan Rei dan itu akan menyiksa Alana?" "Apa maksudmu?" Akira menatap Souma. "Jika Rei dipenjara dengan pasal berlapis, dia akan bebas dan bisa mencelakai Alana lagi. Kau tidak lihat, Rei memiliki anak buah, kemungkinan Alana terluka lebih besar lagi," Haru menangis. Dia bersandar pada dinding dan terjatuh. Tidak peduli lukanya sendiri, Hiro menatap Akira dan beralih pada Haru, dia memegang tangan gadis itu, mencoba menguatkannya. "Aku tidak tahu akan seperti ini. Rei adalah alasan Alana hidup dalam penderitaan," bisiknya. Souma dan Akira menoleh bersamaan. Dia mendengar Haru semakin terisak. "Alasan Alana pergi ke Osaka adalah pria itu. Dari Rei, dari semua mimpi buruknya selama di SMA," Akira menatapnya tajam. Dan Haru semakin bergetar di bawah tatapan pria itu. "Rei selalu melukai Alana. Alana mencintainya, dia selalu membantu Rei yang kesulitan selama hidupnya agar hidup lebih baik." "Apa? Rei kesulitan?" Haru menatap Souma nanar. "Rei berbohong tentang reputasinya sebagai orang kaya. Dia berasal dari keluarga miskin. Ayahnya pemabuk dan pemakai, ibunya pelacur." Akira mendengus tajam. "Dia lahir dari keluarga yang buruk." "Alana mencoba menahan keluarganya untuk tidak membawa Rei ke penjara, karena itu akan menyakitinya. Jika Rei keluar, Alana akan terus dikejar dan Rei akan membunuhnya. Dia tidak mau pria itu memiliki dendam padanya," bisik Haru dengan tangisan. "Hei, sudah, jangan menangis lagi," Hiro menatap luka di lengan dan wajah gadis itu. Haru menatapnya sendu dan Hiro mengulurkan jemarinya mengusap air mata gadis itu. "Rei hampir memperkosa Alana malam itu, saat orang tua Alana pergi untuk perjalanan bisnis ke Paris," Souma terkejut hebat. Dia menatap Akira yang membeku. "Aku tidak sadarkan diri malam itu dan Alana terbaring sekarat dengan pakaian terkoyak dan tubuh penuh luka. Rei tidak jadi memperkosanya karena Alana terus menjerit. Semenjak itu, Alana selalu menangis dan ketakutan. Dia pergi, meninggalkan kehidupannya untuk lari dari masa lalunya." "Akira," Akira menoleh pada Tsunade, dokter yang menangani Alana. Wanita itu mengangguk dan menatap Haru. "Aku akan mengobatimu juga," dia membawa Haru pergi ke kamar tamu ditemani Hiro. Souma menatap Akira yang membenturkan dahinya pada dinding yang dingin. Dia menahan bahu itu, mencoba menarik Akira dari rasa bersalahnya. "Dirimu yang tidak mau terbuka tentang masa lalumu, begitu juga dengan Alana. Jangan lakukan ini, kau masih punya kesempatan untuk merubah segalanya," dia menepuk bahu Akira. "Hubungi ibunya. Kita harus pikirkan cara untuk membuat Rei jera. Termasuk ibumu," setelah itu Souma berlalu dan pergi menyusul Hiro di kamar tamu. Pukul satu dini hari. Alana terbangun dengan napas memberat. Dia mendapati kamar ini gelap, dan betapa terkejutnya dia saat seseorang menekan saklar lampu dan ruangan ini menjadi terang. "Aku dirumahmu?" Alana tersadar dia ada dimana dan memekik takut. Saat Akira duduk di tepi ranjang, menahan tangannya untuk tetap diam. "Dengarkan aku," kata Akira. "Aku sudah menghubungi ibumu dan aku minta maaf karena berbohong padanya, karenamu," Alana mengerjap mendengar Akira bicara. "Kau mencoba melindungi Rei agar dia tidak membencimu, dan caramu salah," "Apa maksudmu?" "Ini alasan kau pergi ke Osaka, karena Rei Rei?" Mata Alana melebar. Tatapan Akira jatuh ke plester yang menutupi pelipis dan dagu gadis itu. Dia mengulurkan tangannya, mengusap bekas luka yang berubah menjadi lebam keunguan. "Haru menceritakannya. Jangan salahkan dia," bisik Akira pelan. Alana menunduk dalam. Dia meremas selimut sutera Akira kuat-kuat. "Dia dan Ara sudah seleHiro. Aku tidak tahu apa alasan ibumu menjodohkanmu dengan gadis itu. Rei menyiksa Ara, dan dia menghancurkan Rei dari dalam. Pria itu marah, dia dilindungi ibumu. Dan melampiaskannya padaku," mata Alana menggenang. "Apa kebaikanku disalahartikan, Akira?" Akira menatapnya. Membawa wajah memerah Alana untuk mendekat. "Kesalahanmu hanya satu, karena terlalu peduli," "Aku bilang pada ibumu kalau aku membawamu dinas ke luar kota untuk masalah yang mendesak. Aku akan menemuinya saat kau sudah membaik," dia menatap wajah gadis itu lekat-lekat. "Aku yakin ibumu akan hancur melihatmu seperti ini." Alana mengusap wajahnya dan meringis. Merasakan sakit di sudut bibirnya. Dia menatap lengannya yang ikut lebam. "Ada salep dan obat yang harus kau minum. Selebihnya, kau akan membaik," Alana menunduk dalam. "Terima kasih," "Aku tidak tahu apa yang ibuku rencanakan sekali lagi untukku," Akira berbisik. Dia menggenggam tangan Alana di atas selimut. "Aku tidak meminta banyak hal padamu, selain tetap di sisiku, kan?" Alana menatap tangan mereka yang saling bertautan dan mendengus geli, menahan senyum. "Kau bahkan berlutut agar aku mau jadi sekretarismu. Kau lupa?" "Agar aku tetap di sini, di sampingmu, benar?" Akira tersenyum samar. Dia mengiyakan dalam hati ucapan Alana. "Apa kau masih mencintai Sara?" Akira mengerutkan keningnya. "Kau masih peduli karena dia bagian dari masa lalumu. Dan itu tidak bisa dihapuskan dengan mudah, begitu juga dengan aku. Tidak lagi mencintai Rei, dan aku masih peduli karena dia bagian dari masa laluku." Akira mendesah panjang. Menatap langit-langit kamarnya yang terang. "Kita buat ibumu menderita," bisik Alana. Gadis itu tersenyum. "Kurasa dia membencimu karena aku selalu menempel padamu. Dulu sampai sekarang," Alana terkekeh pelan. Akira menatapnya dalam-dalam. "Kita berkencan. Kita buat berita ini menyebar ke publik," kata Alana. Akira diam mendengarkan. "Hanya pura-pura. Agar ibumu terpancing dan Rei yang dendam pada keluargamu karena dia melindungi Ara, ikut terpancing." "Satu umpan, dua ikan terpancing," Alana tersenyum padanya. "Setelah itu, kita bisa membalasnya. Sesuai kemampuan kita." "Kau mau melakukannya?" Alana tersenyum acuh. Dia mengulurkan kelingkingnya pada Akira. "Tentu. Aku akan membantumu," Akira menatap kelingking itu dan menurunkannya ke atas pangkuan, bergantian menggenggam tangan pucat itu. "Itu hanya sementara, dia akan membuat hubungan kita seleHiro secepat kilat," jawab Akira. "Ibumu tidak bisa menghancurkanku," Akira menggeleng. "Dia tidak akan mampu karena berhadapan dengan keluargamu." "Lalu?" "Anak," Akira menatapnya. Tepat memaku tatapannya dengan mata hijaunya yang membulat. "Seperti yang Oki lakukan. Anak. Dan aku bebas dari perjodohan ini. Walau resikonya," Akira tersenyum padanya. "Aku tidak lagi menjadi bosmu dan kau tidak lagi menjadi sekretarisku." Alana terdiam. Dia memandang wajah yang kembali hidup itu lekat-lekat. Sorot mata Akira berubah dalam hitungan menit. Alana mengulurkan tangannya, mengusap pipi itu. "Anak ..." Alana berbisik pelan. "Kau yakin?" "Aku bertanya padamu," balas Akira pelan. "Aku akan menghadapi amukan keluarga besarmu, selama kau baik-baik saja dan semua berjalan semestinya, akan kulakukan." Alana tersenyum padanya. Dia menurunkan tangannya, mengulurkan telapak tangannya pada Akira. "Aku tidak mau," alis Akira menekuk mendengar kalimat gadis itu. "Ada satu syarat yang harus kau penuhi sebelum aku menyetujuinya dan kita mencari solusi ini bersama." "Apa?" Senyum Alana semakin mengembang. "Jatuh cinta padaku," Oniks Akira melebar. "Kau harus mencintaiku," Alana terdiam menunggu jawaban pria itu. Detik demi detik berlalu. Bunyi jarum jam yang bergerak menambah suasana di malam hari yang dingin bertambah dingin. Sebuah seringai terukir di bibirnya. Akira menarik Alana agar lebih dekat dengannya, melingkarkan tangannya di sepanjang pinggang gadis itu dan Alana membeku karena pelukan mereka. "Aku suka idemu," Alana menutup mulutnya tak percaya. Senyumnya terbit kemudian ketika dia melingkarkan tangannya ke leher kokoh pria itu, memberikan kecupan ringan di bibirnya. "Kau tahu, aku bisa tetap menjadi sekretarismu walau kau tidak lagi menjadi bos di perusahaanmu," bisik Alana ketika Akira mengusapkan ujung hidungnya ke sepanjang pipi dan lebamnya. Akira menarik wajahnya. Menatap manik hutan itu dengan alis terangkat. "Dengan menjadi bos di perusahaanku?"
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD